Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Olah raga )


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, KASIH HADIAH DAN VOTE NYA YA, karena itu yang membuatku semangat.


********


Perjalanan menuju sekolah terasa lama bagi seorang Nando. Entah kenapa dia yang tadinya semangat mengajar mendadak galau setelah bertemu Bella. Tapi, dia harus profesional dalam memberikan pembelajaran. Masa baru masuk mengajar sudah bolos lagi? Kan enggak lucu. Begitulah pikiran Nando.


Di tengah perjalanannya, Nando melihat Bella menggandeng seorang anak laki-laki memasuki gerbang sekolah TK yang kebetulan sekolahnya berada di pinggir jalan. "Bella."


Instingnya mengatakan untuk menemui wanita dewasa itu. Dia sampai menepikan mobilnya tepat di hadapan Bella sampai membuat wanita cantik meski tak muda lagi terlonjak kaget memegangi dadanya.


"Astaghfirullah, ini mobil berhenti tidak tahu aturan sekali." Gerutu Bella kesal kepada pengendaranya yang sudah menghalangi langkah mereka.


Nando turun, dia menghampirinya. "Bella, maaf mengagetkanmu." Ujar Nando memandang wajah cantik wanita dewasa di hadapannya. Lalu, dia beralih memandangi anak lelaki yang di gandeng Bella. "Mirip Bella, pasti dia putra kedua dari Alex," batinnya.


Nando mendengar jika Bella memiliki dua anak dari pernikahannya dengan Alex cuman dia tidak pernah bertemu secara langsung dengan putra keduanya di karenakan dirinya jarang pulang, jarang mampir, dan hanya bisa melihat lewat video call saat sedang bareng Hasna.


Ferdi memperhatikan wajah yang terasa tidak asing lagi untuknya. "Sepertinya kita pernah bertemu, Om? Tapi di mana ya? aku lupa." Anak lelaki bermata indah itu terlihat berpikir.


Nando tersenyum mengusap lembut kepala Ferdi. "Handphone, kita sering video call ketika bareng Kakak kamu."


"Ahaa, iya, aku ingat. Om kan yang sering Kak Hasna panggil Ayah? Kata Kak Hasna dan Papa, Om adalah Ayah kandung Kak Hasna."


"Sayang, kamu masuk gih! Nanti Mama jemput kamu ya?" Bella menyuruh Ferdi masuk di karenakan dia sudah mendengar bel tanda masuk. Dia juga mulai tidak nyaman dengan pandangan orang.


"Ok Mama, aku masuk dulu. Dah Mama." Ferdi menyalami Bella kemudian Menyalami Nando.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Bella dan Nando bersamaan.


"Aku juga pergi dulu, Assalamualaikum."


"Bella, tunggu dulu!" Nando mencekal pangkal lengan Bella. Wanita dewasa itu merasa risih apalagi melihat tatapan berbeda dari ibu-ibu yang juga mengantarkan anaknya.


"Eh! Maaf." Nando melepaskannya. "Mobil kamu sudah selesai di ganti aki. Kamu boleh mengambilnya di bengkel langganan Dimas."


"Iya, terima kasih untuk infonya. Saya pergi dulu, assalamualaikum." Bella menunduk pamit.


"Waalaikumsalam." Nando memperhatikan Bella sampai wanita itu masuk ke dalam mobil melaju melawan arah.

__ADS_1


*******


Sekolah


"Hasna, kemarin Pak Nando menyuruh apa?" tanya Riri penasaran.


Hasna bingung mau menjawab apa. Dia tidak pernah cerita mengenai Ayah kandungnya. Mereka tahunya jika Alexlah Papanya.


"Beliau memintaku untuk memantau kelas kita. siapa yang suka bolos, bandel, pakai baju tidak sesuai aturan haru laporkan kepadanya," kata Hasna. "Ya Allah, ampuni hamba telah berbohong," batinnya.


"Oh, untung aku salah satu murid teladan."


"Udah, ah. Ayo kita olah raga." Ya, pelajaran pertama di awali dengan pelajaran olah raga. Begitupun kelas yang di singgahi Devan juga olah raga. Namun mereka berbeda guru.


Setibanya di lapangan, baik murid SMP maupun murid SD tengah melakukan pemanasan.


Nando yang kebetulan mengajar di kelas Devan sempat melihat putrinya juga sedang olah raga. Nando mendekati guru yang lain kemudian berbisik dan guru lainnya mengangguk-angguk.


"Anak-anak, berhubung sedang olah raga. Kita akan bergabung dengan kelas yang lain. Baik SD maupun SMP akan bersatu." Ucap guru yang di bisiki oleh Nando.


"Tumben sekali, pak? Emangnya kita akan olah raga apa?"


Nando tersenyum ke arah Hasna menaik nurunkan alisnya. Hasna memicingkan mata berbisik ke Nando. "Aku tahu Ayah ingin bareng aku kan? Makanya bikin permainan seperti ini."


Nando menunduk tersenyum membenarkan ucapan putrinya.


"Ayah Nando, kalau kangen kita kan bisa di luar sekolah. Professional dong," sindir Devan berbisik pula.


Tingkah mereka di perhatikan oleh salah satu murid kelas Hasna yang tidak menyukai gadis itu. Dia merasa kembali mendapat saingan untuk menjodohkan Ibunya.


"Tidak akan ku biarkan kau menjadikan Pak Nando pengganti Papamu! Pak Nando harus menjadi Papaku." Gumam gadis itu menatap tidak suka pada Hasna.


"Ok, anak-anak, kalian berdiri pada posisi masing-masing! Sebagai tim yang menang, kalian akan di kasih hadiah uang tunai masing-masing 100 ribu rupiah dari pak Nando termasuk gurunya. Dan yang kalah akan mendapatkan uang 50 ribu. Lumayan kan buat jajan seblak," ujar pak Arul terkekeh.


"Jadi kita dapat uang nih pak?"


"Iya, itu sebagai penyemangat buat kalian. Baiklah, kita akan mulai permainannya sekarang juga. Siap pada posisi masing-masing!" ucap Nando bersiap menyalakan peluit.


Tim Nando yang pertama lari estafet adalah Riri, kedua Weni, ketiga Hasna keempat Heru, ke lima Devano. Masing-masing tim terdapat 3 murid SMP dan dua murid SD.


"Satu... dua... tiga... Priiiiitttttt...."

__ADS_1


Merekapun mulai berlari mengelilingi lapangan membawa kayu estafet kemudian memberikannya kepada yang lain. Namun, ketika Hasna yang kebagian lari, orang yang tidak menyukai Hasna berlari kencang menyenggol Hasna sampai Hasnapun terjatuh.


Bruukk...


"Hasna..."


"Kak Hasna..." pekik tim Hasna khawatir apalagi Nando. Namun Hasna mengangguk seolah dirinya baik-baik saja dan kembali berdiri menyelesaikan tugasnya membawa kayu sampai ke peserta terakhir.


Permainan pun selesai dan di menangkan oleh tim pak Arul.


"Yes.. tim kita menang." Ucap Devi orang yang menyenggol Hasna.


"Kau menang karena kamu curang, Devi. Coba kamu tidak menyenggol Hasna mungkin tim kami yang menang," sindir Riri.


"Sudah, mungkin Devi tidak sengaja. Lagian aku tidak apa-apa, kok." Tutur Hasna tidak ingin terjadi masalah.


"Kau tidak apa-apa? ada yang sakitkah? apa perlu saya antar kamu ke rumah sakit?" cerca Nando khawatir.


"Tidak usah, Pak. Saya baik-baik saja." tolak Hasna tak enak hati melihat tatapan bingung murid dan guru.


"Tidak usah di bawa kerumah sakit, Pak! Hasna cuman caper," celetuk Devi.


"Ssstt... jangan ada lagi yang protes. Kau Devi, keliling lapangan sebanyak 5x sebagai hukuman karena kamu sudah sengaja menyenggol Hasna. Saya melihat dan memantau kalian semuanya," ucap Nando tegas.


"Tapi, Pak..."


"Atau hukumannya saya tambah?"


Devi menghentakkan kakinya kesal, dia lupa kalau Nando guru BK dan pasti matanya akan teliti memperhatikan sekitar.


puk..puk..


Hasna menoleh, Devan memberikan kode supaya Hasna menunduk.


"Sepertinya orang itu tidak menyukai Kak Hasna." Bisik Devano berjinjit ke telinga Hasna.


"Sepertinya begitu." Jawab Hasna memperhatikan pergerakan Devi.


Bersambung....


Di sini, perjuangan Nando bukan hanya bisa mendapatkan hati Bella kembali tapi juga harus bisa mendapatkan hati ketiga anaknya supaya merestui hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2