Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Pertemuan )


__ADS_3

"Hasna!" Nando terpaku melihat anak gadisnya yang kian beranjak dewasa. Wajahnya sangat mirip dengan Bella namun mata, hidung, dan alisnya mirip dirinya.


"Ayah, ehh, maksud Zahra Pak Nando, kita ketemu lagi di sini," ucap Zahra tersenyum.


"Kalian sekolah di sini?" Nando tidak tahu menahu dimana Keponakan dan anaknya sekolah. Dia hanya tahunya kalau Zahra, Devano, dan Hasna sekolah di sekolah yang sama.


"Ihhh, Pak Nando mah suka gitu, masa tempat anak sendiri sekolah tidak tahu? kemana saja nih?" celetuk Devan menyindir.


Nando melirik pada anak laki-laki di hadapannya. Batinnya berkata, "Wajahnya sangat mirip Alex. Bagaimana kabarmu, Bella?" tiba-tiba pikirannya tertuju pada wanita yang masih bersemayam di relung hati terdalam.


"Mending kita masuk kelas saja yuk? nanti kena hukum lho, oleh bapak BK." Ujar Hasna melirik kedua kurcacinya lalu melirik lagi wajah Ayah kandungnya.


Bukan Hasna tidak merindukan Ayahnya, tapi dia harus profesional jika saat ini mereka ada di sekolah. Sekolah milik Ayahnya sendiri, itulah sebabnya Hasna dan Devan memilih sekolah di sini berharap bisa bertemu dengan Nando.


Nando memperhatikan Hasna, "Ayah rindu kepadamu."


Hasna membalasnya dengan senyuman. "Ini sekolah, Hasna ingin profesional. Di sini kita murid dan guru, di luar kita Ayah dan anak. Tapi tetep, Ayah terbaikku Papa Alex Ramadanu." Hasna masih menganggap Alex lah Papa terbaik dan terhebatnya. Berkat didikan Alex juga, dia bisa menjadi Hasna yang sekarang.


Hati Nando sedikit teriris mendengar putrinya membanggakan Alex. Dia sadar kalau dia tidak ada di saat pertumbuhan putrinya. Dia juga sadar kalau dirinya telah meninggalkan Hasna dalam jangka waktu lama.


"Udah, Kak. Ayo kita masuk!" ajak Devan menarik tangan Hasna dan juga menggandeng tangan Zahra.


"Pak, kami permisi dulu." kata Zahra dan Nando mengangguk memperhatikan ketiganya yang mulai menjauh.


Karena waktu pelajaran sudah habis, semua murid pun berhamburan membubarkan diri untuk pulang. Untuk sekolah dasar, pulang pukul 1 siang. Untuk sekolah menengah pertama, pulang pukul 2 siang dikarenakan mereka hanya sekolah dari Senin sampai Jumat.


Hasna melangkah menyusuri koridor sekolah di temani Riri teman sekelasnya.


"Hasna." Hasna yang merasa di panggil pun menoleh.


"Pak Nando, ada yang bisa saya bantu?" tanya Hasna masih menggunakan Pak sebab masih banyak murid yang berlalu lalang di sana.


"Dek, bisa saya pinjam Hasnanya sebentar? saya perlu bantuan dia," pinta Nando pada Riri.


Riri sempat bingung namun ia menganggu, "Iya, Pak. Na, aku pulang duluan ya."


"Iya, Ri."

__ADS_1


"Ayah antar kamu pulang ya?" ucap Nando setelah tidak ada murid di dekatnya.


"Tidak usah, kan ada supir." Tolaknya sembari melangkah menuju gerbang sekolah.


"Ayah menyuruh pak sopir untuk tidak menjemputmu karena Ayah yang akan mengantarkanmu pulang. Ayah ingin mengobrol banyak bareng kamu."


Hasna berpikir, lalu dia mengangguk. Dia dan Nando memang sering berkomunikasi menggunakan sambungan telpon. Tapi tiga bulan ini, Hasna belum pernah menelpon lagi di karenakan keluarganya masih berduka atas kepergian Alex.


********


"Bagaimana kabar Mama, dan Papamu?" tanya Nando setelah mereka berada di dalam mobil.


"Hmmm entahlah, Mama tidak sedang baik-baik saja." Hasan menjawab sembari memejamkan mata, dia merasakan kantuk karena mungkin akibat semalam bergadang mengerjakan tugas latihan tengah semester.


Nando mengernyit, "ada apa emangnya? apa sedang ada masalah?" tanyanya penasaran tentang Bella.


Tidak ada jawaban, Nando menoleh, dia menggelengkan kepala melihat putrinya sudah tertidur. Tidak berselang lama, mereka sampai di kediaman Bella. Gerbang rumahnya pun terbuka otomatis sampai membuat mobil Nando bisa masuk ke dalam.


Nando menggendong putrinya dan di depan juga sudah ada Mama Elsa. Wanita paruh baya itu terkejut melihat Nando. "Nando, kenapa Hasna pulang bareng kamu? Hasna kenapa? kapan kau balik ke Indonesia?" cerca Elsa menghampiri Nando melihat Hasna.


"Hasna tertidur, aku tidak tega membangunkannya. Dimana kamarnya Hasna?"


Mata Nando mengedarkan penglihatannya mencari keberadaan pemilik rumah, Alex dan Bella. "Dimana mereka?"


"Sedang bekerja, kalau Devano lagi les belajar. Oh iya, kau belum menjawab pertanyaan Mama. Kapan kau pulang? duduk dulu, Do."


"Tiga hari yang lalu, tidak usah. Aku mau langsung mengecek perkebunan dulu. Titip salam buat Bella dan Alex." Pamit Nando menyalami Ibunya Bella.


Elsa mengerutkan keningnya merasa heran dengan pertanyaan Nando. "Apa dia tidak tahu kepergian Alex?" batin Elsa.


"Alex sudah..." belum juga selesai bicara, Nando sudah lebih dulu masuk mobilnya. Elsa mengangkat bahunya, "Aneh."


*********


Baru pulang dari sekolah, Nando sudah langsung mengecek pekerjaannya. Dia bertanya tentang perkembangan kelapa sawit, pemasaran, dan lain sebagainya. Waktu pun semakin petang dan dia memutuskan untuk pulang.


Lain halnya dengan Bella yang sedang kebingungan akibat mobilnya mogok di tempat sepi. Jika ditanya bensin, baru di isi full.

__ADS_1


"Aduhh, ini gimana ya? mana sudah pukul setengah tujuh malam lagi. Tempatnya juga terasa sepi, aku takut. Handphone ku juga habis baterai dan lupa membawa cassan." Gumamnya sembari mencak pinggang meneliti setiap mesin yang ada di depannya.


"Ya Allah, tolong kau kirimkan seseorang untuk membantuku." Doanya dalam hati.


Dan ternyata, doanya di kabulkan. Ada mobil yang hendak melewati jalan tersebut bersebrang arah dan pengendaranya mengerutkan dahinya melihat seorang wanita berhijab sedang berdiri di depan mobil.


"Sepertinya dia sedang membutuhkan pertolongan?" dia menepikan mobilnya di jalan sebelah kiri kemudian turun lalu menghampirinya.


"Mobilnya kenapa, Mbak?"


Bella yang sedang serius melihat mesin meski tidak mengerti terkejut mendengar seseorang mengagetkan dirinya. Dia berdiri namun kepalanya malah kejedug kap mobil.


"Innalilahi!" pekiknya seraya memegang kepala.


"Mbak, kau tidak apa-apa? maaf saya mengagetkan Anda." Nando merasa bersalah sudah mengagetkan wanita itu. Dia belum tahu jika dia adalah Bella.


"Tidak ap..." wajahnya menoleh ke samping namun ia malah tertegun melihat wajah itu, Ayah dari putrinya. Begitupun dengan Nando yang juga tertegun melihat penampilan baru Bella yang terlihat anggun mengenakan gamis serta hijab, menambah aura kecantikan di dalam diri Bella.


Tiba-tiba dada Nando berdisko ria. Matanya tak bisa berpaling dari wajah Bella yang masih terlihat cantik dan justru malah bertambah cantik, menurutnya.


"Nando, kau kah itu? syukurlah, aku sangat takut kau orang jahat." ucapnya penuh syukur bernafas lega.


Nando malah masih terbengong memperhatikan wajah itu. "Kau semakin cantik saat berhijab," batin Nando.


"Heii.. ada apa denganmu?" Bella menjentikkan jarinya sampai berbunyi di depan wajah Nando sehingga menyadarkannya dari keterpesonaan.


"Hah! Ti-tidak, mobilmu kenapa?"


"Mogok."


"Boleh ku lihat?" tanya Nando menatap Bella dan Bella mengangguk.


Nandopun memeriksanya, dan ternyata aki mobilnya bermasalah dan harus di ganti. Bella bingung pulangnya bagaimana?


"Begini saja, aku antarkan kamu pulang. Biar mobil ini bengkel kepercayaan Dimas yang urus."


Bella berpikir dulu, daripada menunggu lama mending dia ikut Nando. Toh dia kenal baik dengannya dan Bella pun mengiakan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2