Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Rasa yang masih ada )


__ADS_3

Nando sudah sampai di depan rumah Bella. Tidak ada topik pembicaraan yang mereka bicarakan selama di perjalanan. Bella enggan bicara dan Nando malu berkata. Entah kenapa melihat Bella yang sekarang membuatnya mati kutu dan malu hanya untuk bertegur sapa.


"Makasih sudah mengantarkan aku pulang. Maaf merepotkan mu." Bella melepaskan seat belt nya seraya memegang gagang pintu mobil siap untuk membukanya.


"Sama-sama, dan sampaikan maafku pada suamimu karena mengantarkanmu pulang." Nando memandang wanita yang ada di sampingnya.


Bella menoleh, dadanya terasa sesak, matanya berkaca-kaca belum percaya suaminya sudah tiada tiga bulan yang lalu. Dia mengerjapkan matanya untuk menahan tangis. Dia pun berusaha tersenyum di tengah kesedihannya. "Nanti aku sampaikan."


Bella pun keluar mobil namun Nando tidak bisa melepaskan pandangannya untuk tidak menatap wanita dewasa yang semakin terlihat cantik di usianya dan semakin terlihat anggun akan penampilannya.


"Assalamualaikum." pamit Bella, sedangkan Nando mengernyit.


"Wa-walaikumsalam." balas Nando terbata.


Bella masuk kedalam rumah sedangkan Nando pulang.


"Mama udah pulang? aku dan Devano khawatir. Handphone Mama tidak aktif, kami memutuskan untuk mencari Mama dan syukurlah kalau Mama tidak apa-apa." Cerca Hasna bernafas lega setelah melihat Mamanya sudah pulang.


Gadis remaja itu memeluk Bella takut terjadi sesuatu pada wanita yang telah mengandungnya.


"Iya, Mah. Untung kami tidak melaporkannya ke polisi atas kasus hilangnya Mama," timpal Devan yang juga khawatir dan memeluk Bella.


Bella tersenyum penuh haru di berikan tiga malaikat yang ia lahirkan dari rahimnya. Dia mengusap kepala anak-anaknya dan mengecupinya.


"Maafkan Mama sudah membuat khawatir kalian. Mobil Mama mogok di tengah jalan dan untungnya ada Nando membantu Mama."


Hasna dan Devano melepaskan pelukannya, keduanya saling lirik. "Mama sudah ketemu dengan Ayah?" tanya keduanya secara bersamaan. Bella mengernyit.


"Kalian juga sudah tahu?"


"Beliau menjadi guru BK sekaligus guru olah raga di sekolah kami," ucap Devan.


"Ayah juga mengantarkan aku pulang," timpal Hasna. Sedangkan Bella hanya beroh ria.


"Eh, mana Ferdi?" tanya Bella mencari keberadaan anak bungsunya yang baru masuk sekolah TK.


"Ferdi sudah tidur di temani Nenek," jawab Hasna dan Bella mengangguk.

__ADS_1


"Mama masuk dulu ya sayang, kalian jangan malam-malam tidurnya. Ingat, besok sekolah!"


"Siap, Mah."


Bella tersenyum lalu mengecup kening kedua anaknya yang sudah menjadi rutinitas di malam hari sebelum mereka tidur. Diapun beralih ke kamar putra bungsunya.


"Mah." Bella membangunkan Elsa.


"Hmmmm eh, kamu sudah pulang? Mama ketiduran di sini. Mama ke kamar dulu ya, masih ngantuk." Elsa turun dari kasur kemudian melangkah menuju kamarnya.


Bella duduk di tepi ranjang mengusap sayang kepala putra bungsunya, mengecup keningnya sembari memejamkan mata. Dia meneteskan air mata tak kuasa melihat anak sekecil ini sudah kehilangan sosok Papanya.


"Doakan Mama agar Mama mampu melewati semuanya, sayang." Batin Bella menjauhkan tubuhnya kemudian ikut berbaring di samping Ferdiansyah Ramadanu lalu memeluk tubuh mungil itu berharap esok hari dia kembali ceria sebelum kehilangan suaminya.


***********


Nando terlentang menatap langit-langit, dia tidak bisa melupakan bayangan wajah Bella di pikirannya.


"Mentari, apa salah jika ku masih mencintai Bella? aku juga mencintaimu tapi perasaanku kepada Bella ternyata masih ada dan aku tidak bisa menghilangkan perasaan itu."


Nando menutup matanya menggunakan tangan berharap bayangan Bella menghilang dari pelupuk matanya. Namun, dia tidak bisa menghilangkannya yang ada dia semakin gelisah tidak menentu berguling sana guling sini berharap bisa tidur.


Nando beribadah, berdoa di sepertiga malamnya meminta sang pemilik hati dan semesta untuk membuang rasa cintanya. Pria dewasa itu menengadahkan tangannya berdoa khusu.


"Ya Allah ya Tuhanku, hanya kepadamu hamba mengadu, hanya kepadamu hamba meminta. Kenapa kau memberikan rasa cinta di saat situasi yang tidak tepat? aku hanya meminta agar engkau menghapuskan rasa ini untuknya. Kabulkanlah permintaan hamba jika ini memanglah salah."


Nando mengusap kedua tangannya ke wajah, bibirnya berucap kalimat-kalimat asma Allah yang membuatnya terasa lebih tenang.


********


Kediaman Bella.


"Ferdi, kamu bareng Mama ya sekolahnya. Sekalian mau ke toko baju." Ucap Bella merapikan rambut putra bungsunya.


"Iya, Mah." Ferdi lebih irit bicara dan tidak mudah bergaul. Dia juga terkadang judes pada orang yang belum ia kenal.


"Anak yang pintar." Bella menuntun Ferdi ke bawah bergabung bersama yang lainnya.

__ADS_1


Bella menghelakan nafasnya secara kasar. Setiap kali makan, ia selalu teringat suaminya yang selalu menyambutnya penuh senyuman. Kini semua telah berbeda, hidupnya terasa hampa.


Hasna menyenggol Devan memberikan kode untuk melihat Bella. Keduanya ikut sedih dan mereka tahu jika Mamanya sedang sedih.


"Selamat pagi, Mama Bella yang cantik." Devan berdiri menghampiri Bella dan membawanya duduk.


"Pagi juga sayang."


"Mama mau makan apa? Devan ambilkan ya?" Devan sudah menuangkan makanan ke piring Bella dan Bella hanya tersenyum melihatnya.


"Van, Kakak juga mau dong!" pinta Hasna menyodorkan piringnya.


"Aku juga mau dong, Kak." timpal Ferdi ikutan menyodorkan piring.


"Kenapa kalian jadi ikutan minta di layani? ambil saja sendiri!" ucap Devan duduk kembali.


"Ishhh, kita juga pengen di layani olehmu, iya kan, Dek?" ujar Hasna pada Ferdi dan Ferdi mengangguk.


"Sudah, sudah, biar Nenek yang menuangkan buat kalian." Sahut Elsa menengahi mereka. Dia juga tahu jika cucu-cucunya mengalihkan kesedihan Bella.


********


Kediaman Nando.


Seperti biasanya, Nando menyiapkan segalanya sendiri. Dia kembali bersiap menuju sekolah untuk memulai mengajari murid kelas 5 SD.


Semalam, dia pulang kerumahnya sendiri. Rumah hasil dari kerja kerasnya selama menjadi pemilik perkebunan kelapa sawit.


Di dalam perjalanan, Nando kepikiran dengan mimpinya. Mimpi yang dimana ia melihat seorang wanita berhijab menangis tersedu di sebuah pemakaman. Namun, dia tidak bisa melihat nama siapa yang ada di hadapan wanita itu. Saat dia menyapanya, wanita itu menoleh dan alangkah terkejutnya saat tahu jika wanita itu Bella.


"Apa maksud dari mimpiku? kenapa Bella menangis di sebuah pemakaman? dan siapa yang meninggal?"


"Kenapa juga Alex hadir di mimpiku menitipkannya padaku untuk membahagiakan Bella? maksudnya apa?" Nando di buat bertanya-tanya dengan mimpinya.


"Aku memang masih mencintainya tapi tidak mungkin bagiku membahagiakan Bella jika masih ada Alex yang menjadi suaminya. Perasaan ini juga kenapa masih ada? sulit sekali menghilangkannya."


Nando sulit menghilangkan rasa yang tersimpan untuk Bella. Sungguh wanita itu sangat sulit di hilangkan dari relung hatinya terdalam. Mungkin banyak kejadian dari masa lalu yang membuatnya sulit melupakan kenangan itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2