Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Rindu )


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim


Assalamualaikum man teman, jangan lupa untuk LIKE, KOMEN, dan kasih VOTE nya ya.


************


Hampir setengah hari Bella berada di toko pakaiannya. Dia yang sedang mengecek stok baju-baju di gudangnya melihat jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam setengah sebelas."


Bella memanggil salah satu karyawan yang ia percayai. "Intan, tolong kamu lanjutkan pengecekan barang yang ada di gudang. Saya mau menjemput Ferdi dulu."


"Baik, Mbak. Siap laksanakan."


Berhubung ini hari Jum'at, Bella sendiri yang akan menjemput anak-anaknya. Setiap hari Jum'at, hampir semua murid di pulangkan di jam sama yaitu pukul 11.


*******


Bella sudah menunggu di tempat para orang tua menjemput.


"Jeng Bella, pria yang tadi pagi siapa? pacar barunya ya?"


"Husstt, jangan bikin gosip deh jeng Erna. Mana mungkin Jeng Bella punya pacar baru kan suaminya baru meninggal." Timpal ibu-ibu lainnya.


"Siapa tahu pria itu pacar barunya Jeng Bella. Kan sekarang dia itu JANDA pasti mudah baginya mendekati pria lain kan?" jawab Erna.


Bella menghelakan nafasnya. Inilah yang dia takutkan, gosip murahan yang akan semakin menyebar tanpa mereka tahu kenyataannya seperti apa.


Teet.. teeettt..


Untungnya bel sekolah berbunyi membuat Bella bernafas lega. "Bu, sudah bel. Saya mencari anak saya dulu ya." Bella tergesa masuk ke dalam sekolah setelah gerbang di buka.


Matanya mengedarkan pandangan mencari cocok anak lelakinya.


"Mama." Pekik Ferdi berlari menghampiri Bella mengecup tangannya.


"Bagaimana sekolahmu? seru?" tanya Bella menggandeng tangan Ferdi berjalan menuju mobil


"Seru, Mah. Mah, ada undangan dari guru." Ferdi melepaskan genggamannya dan mengambil secarcik kertas dari sekolah di dalam tasnya.


Bella menyuruh Ferdi masuk dulu, setelah keduanya masuk barulah Ferdi memberikan kertas itu.


Bella membuka dan membacanya. "Undangan untuk berpartisipasi merayakan kemerdekaan republik Indonesia pada tanggal 18-20 Agustus."


"Iya, Mah. Tapi, yang membuat Ferdi bingung kita harus datang bareng orang tua." Anak TK itu menunduk sedih, matanya berkaca-kaca.


Bella memejamkan mata menahan tangisnya. Dia memeluk putra bungsunya memberikan kekuatan.

__ADS_1


"Kan ada Mama sayang. Mama pasti datang." Bella merasakan bagi Ferdi terguncang menangis di pelukan Bella. Hati ibu mana yang tidak sakit mendengar putranya menangis. Apalagi menangis mengingat orang tuanya tidak lengkap.


"Aku rindu Papa, Mah. Di saat aku masuk sekolah, kenapa Papa tidak ada? Ferdi ingin ketemu Papa." Isak tangis Ferdi terasa pilu.


Hati Bella tersayat perih, dia juga merasakan kerinduan kepada mendiang suaminya. Pria terbaik yang mau menerima segala kekurangannya dan mau membimbing dirinya untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi.


Bella mengecup pucuk kepala Ferdi, mengusap punggung mungil anaknya. Berharap duka mereka terobati.


"Jangan menangis, kita doa kan semoga Papa tenang di syurganya Allah. Sekarang kita jemput kakak-kakak kamu ya?" Bella mengurai pelukannya menghapus air mata di wajah Ferdi.


"Iya, Mah."


**********


"Zahra, kamu akan di jemput Om Dimas?" tanya Devano sedang duduk di kursi terbuat dari tembok yang ada di depan kelas menunggu Hasna keluar.


"Papa sedang ke luar kota. Aku menunggu Ayah Nando saja."


"Emangnya Ayah Nando pulangnya bareng murid ya? setahuku para guru akan pulang setelah Dzuhur."


"Ini hari Jum'at, Devan. Kemungkinan semua guru pulang bareng sebelum Dzuhur."


Di saat kedua murid SD itu sedang berbincang, Hasna menghampirinya. "Kalian udah nunggu lama? yuk kita pulang! Maaf, tadi Kakak piket dulu."


"Tidak lama, Kak. Baru sebentar."


"Itu mobil Mama," tunjuk Devan.


"Ya udah ayo." sahut Hasna.


"Zahra," panggil seseorang. Lalu mereka bertiga malah menoleh ke belakangan dan mereka bertiga memberhentikan dulu langkahnya.


"Kamu Pulang bareng Om saja, Mamamu sempat berpesan kepada Om," ajak Nando.


"Oh, baiklah. Kak aku tidak jadi ikut kalian," ucap Zahra.


"Tidak masalah." Jawab Hasna.


Nando melihat wanita yang terlihat masih cantik di usianya yang tidak muda lagi sedang berjalan menghampiri mereka.


"Sayang, ayo kita pulang. Ferdi sudah menunggu, katanya rindu Papa," ucap Bella memberikan kode kepada kedua anaknya.


Hasna dan Devan mengerti. "Baik, Mah." jawab Devan dan Hasna bersamaan.


"Kami duluan ya Zahra, Ayah." Hasna menyalami Nando begitupun dengan Devano dan Zahra yang juga menyalami ketiganya.

__ADS_1


Bella melirik Nando dan tersenyum menganggukan sedikit kepalanya. "Kami duluan, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Zahra sedangkan Nando justru tak menjawab saking terhipnotis oleh senyuman Bella yang teramat manis sampai membuat jantungnya berdegup kencang.


Zahra mengernyit heran, dia menggoyangkan lengan Nando menyadarkannya. "Ayah, ayo!"


Eh..


"Iya, ayo" Nando dan Zahra pun meninggalkan area sekolah.


Mobil Bella dan mobil Nando keluar dengan beriringan. Namun Nando merasa heran melihat mobil Bella berbelok ke arah kanan sedangkan rumah mereka harusnya ke arah kiri. Kalau kanan, arah pulangnya Nando.


"Hmmm Zahra, apa kau tau mau kemana mereka? bukankah itu bukan arah pulang ke rumah Tante Bella ya?" tanya Nando sembari menyetir.


"Sepertinya mereka mau kepemakaman, deh. Kata rindu yang di ucapkan Tante Bella merupakan kode untuk mampir dulu ke pemakaman."


"Pemakaman? siapa yang meninggal?" Nando belum ngeh dengan semuanya. Namun, matanya tak henti memperhatikan mobil depan dan mobil itu ternyata belok kanan menuju pemakaman. Nando penasaran, diapun ikut belok kanan.


"Lho, Ayah! Kenapa malah menuju pemakaman?" tanya Zahra mengernyit heran.


"Ayah mau lihat makam siapa yang akan mereka kunjungi."


"Pasti makamnya Om Alex, Ayah."


Deg...


Jantung Nando tertegun, dia terkejut atas ucapan Zahra. "Apa maksud kamu?" rasa penasaran, takut, khawatir,dan tak percaya menjadi satu.


"Emangnya Ayah tidak tahu kalau Om Alex sudah meninggal 3 bulan yang lalu akibat penyakit jantung koroner?"


"Apa?!" Nando semakin terkejut. Tubuhnya mendadak lemas. Dia memberhentikan mobilnya saat melihat Bella dan ketiga anaknya turun dan berjalan ke pemakaman.


Sedangkan Bella dan ketiga anaknya berdoa penuh khusus. Bella kembali tak kuasa menahan air mata begitupun dengan Ferdi, dan Hasna. Kalau Devan, dia berusaha tegar untuk tidak menangis meski dadanya sesak atas kepergian Sang Papa.


"Pah, Ferdi rindu pada Papa. Kenapa Papa ninggalin kami semua? hidup kami merasa tidak lengkap tanpa adanya Papa di antara kami." Ucap Ferdi menangis memeluk batu nisan Papanya.


Batin Bella juga berkata, "Mas, aku dan anak-anak sangat merindukanmu. Kami belum siap kehilangan mu. Tapi Allah lebih sayang padamu, maafkan kami yang sering menemuimu di sini."


"Papa, aku dan Devan berjanji akan membuat Mama bahagia kembali seperti permintaan terakhir Papa," batin Hasna.


"Kami rindu Papa," ucap batin ketiga anaknya Bella.


"Aku merindukanmu, Mas." lirih Bella menangis tanpa suara sembari mengusap batu nisan bertuliskan nama Alex Ramadanu.


Nando mematung tang percaya, dia melihat dengan jelas namanya dan mendengar apa yang mereka ucapkan. Perlahan dirinya mundur menjauhi tempat itu tanpa di ketahui oleh ke empatnya karena mereka memunggungi jalan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2