
"Ada apa, katanya mau bicara?" Bella memasang pendengarannya ingin tahu apa yang akan di bicarakan Alex
Keduanya sedang berada di tempat makan yang ada di sebrang jalan rumah sakit. Bella menitipkan Hasna kepada Mamanya dulu.
Alex tiba-tiba menghadapkan Bella ke hadapannya dan menggenggam kedua tangan Bella.
"Mungkin kamu akan terkejut saat mendengarnya. Tapi, aku juga tidak ingin memendam perasaanku terlalu lama. Sebelum aku kembali ke kota J, aku ingin mendengar jawaban dari kamu."
"Bella, aku hanya mau kamu tahu bahwa kamu sangat spesial di hatiku. Dan satu-satunya alasan aku memberitahumu adalah karena aku tidak yakin ada yang sudah pernah memberitahumu sebelumnya."
"Bella, aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?" ungkap Alex langsung pada niat nya.
Deg...
Bella terpaku di tempat, hatinya bertanya-tanya benarkan Alex mencintainya? benarkah barusan ia di tembak? kenapa hatinya merasa senang saat Alex mengungkapkan perasaannya?
Alex menunduk membuang nafasnya secara kasar. Ia sudah tahu kalau Bella pasti akan menolaknya. Dia kembali mendongak menatap wajah Bella dengan sedih.
"Aku tahu kamu pasti akan menolaknya, karena ku tahu siapa pemilik hatimu." Alex melepaskan genggaman tangannya.
"Maafkan aku yang sudah lancang mencintaimu, maafkan aku yang sudah mengungkapkan perasaanku."
"Kenapa kamu mencintaiku? padahal kamu tahu aku dulu seperti apa?" Bella cepat-cepat bertanya ingin tahu alasan Alex menyukainya.
"Aku juga tidak tahu kenapa aku mencintaimu sebab cinta itu datang secara tiba-tiba. Cinta juga tidak memiliki alasan meski ku tahu seperti apa kehidupanmu dulu. Aku tidak melihat masa lalumu melainkan melihatmu yang sekarang."
"Alex... aku..." cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya siap meluncur kapan saja.
"Kamu tidak perlu menjawab! Aku sudah tahu kalau hatimu memilih dia. Ayo! Aku antar kamu ke ruangan Hasna! Aku juga akan pamit kepada Hasna dan Tante Elsa bahwa aku akan kembali ke kota J hari ini juga. " Alex enggan mendengar penolak dari Bella. Ia melihat jam tangannya menghitung waktu berapa lama lagi jam terbangnya.
__ADS_1
Alex sudah berdiri. Tapi, Bella mencekal tangannya.
"Apa kamu akan kembali lagi kesini?" Bella takut Alex tidak akan menemuinya lagi.
"Aku tidak tahu, karena mungkin saja di saat aku kesini kamu sudah menikah dengan Nando sesuai permintaan Hasna."
"Aku tidak akan menikah dengannya, Lex. Hatiku sudah tertutup rapat dan enggan menerima dia kembali. Hati kecilku menginginkan kamu berada di dekatku. Aku mohon jangan pergi! Kalau kamu pergi kembalilah kembali hanya untukku dan Hasna!" ucap Bella mengungkapkan apa yang ia rasa.
Dua hari tak bertemu membuatnya merindu pada sosok pria yang menjadi guru ilmu bela dirinya. Selama dua hari pula Bella merenungi perasaannya memastikan benar-benar apakah ia menginginkan Alex atau Nando. Dan hatinya memilih Alex, orang yang selalu menemaninya di kala susah, senang, dan selalu membuatnya tertawa.
"Kehadiran kamu mampu mengobati rasa sakit yang ku rasa, kehadiran kamu membuat ku mengerti arti dicintai dan di hargai, kehadiran kamu bisa membuatku kembali tertawa tanpa beban. Kini aku sadar bahwa 'ternyata aku mencintaimu' aku mau menerima kamu menjadi pendampingmu. Tapi, aku aku yakin kamu akan jijik tentang masa lalu ku yang...." ungkap Bella meneteskan air mata.
Alex tersenyum bahagia, teranya orang yang ia cintai menerimanya. Dia langsung memeluk tubuh Bella mengecup pucuk kepalanya penuh perasaan.
"Aku menerima kamu apa adanya, aku juga menerima masa lalumu yang kelam itu. Aku tak mempermasalahkan semua itu karena aku mencintaimu dengan tulus tanpa tapi," balas Alex menyakinkan Bella bahwa dia benar-benar menerima Bella dan masa lalunya.
"Lalu bagaimana dengan Hasna? apa kamu akan membiarkannya meninggal begitu saja?" kata seseorang yang dari tadi mendengar ungkapan hati Bella.
Deg...
Bella kembali terdiam menunduk bingung. Baru saja hatinya bahagia, sekarang ia harus kembali kecewa. Ia lupa bahwa Hasna sedang membutuhkan pertolongan.
"Kamu tahu kan hanya sumsum tulang belakang adik kandungnya yang bisa menolong Hasna?" Nando mengingatkan kembali Bella akan hal itu.
Mata Bella kembali meneteskan air mata. Hatinya sudah sangat berharap namun di patahkan dengan kenyataan yang ada.
******
Sementara di dalam rumah sakit, Elsa terus memegang tangan mungil cucunya. Ia ikut mendorong brangkar mengikuti kemana suster membawa sang cucu.
__ADS_1
Elsa sempat kaget saat keadaan Hasna kembali melemah. Kanker yang di derita Hasna begitu cepat menyebar sehingga dapat membahayakan nyawanya.
Dia semakin terkejut saja saat suster memindahkan ke brangkar dan membawanya ke ruangan operasi.
"Suster, kenapa cucu saya di bawa ke ruangan operasi? apa yang terjadi dengannya, sus?" tentu saja Elsa panik takut cucunya kenapa-kenapa.
"Ibu tenang saja, cucu Anda akan segera mendapatkan Transplantasi sumsum tulang belakang. Sekarang orangnya sudah berada di dalam ruangan. Ibu berdoa saja semoga Operasi nya berjalan dengan lancar," tutur suster menyetop Elsa untuk tidak ikut masuk.
"Ja jadi cucu saya akan bisa sembuh?" tanya nya terharu bahkan sudah meneteskan air mata bahagia.
"Kemungkinan 90% akan sembuh. Ibu berdoa saja ya, kami harus melakukan tindakan secepatnya!"
Dengan antusias, Elsa mengangguk. Dia begitu bersyukur ada pendonor untuk Hasna. Cucunya akan sembuh, Hasna akan kembali sehat, Bella pasti senang jika anaknya akan sembuh.
Ia menghapus air matanya mencari handphone, dan ternyata ia lupa bahwa ia meninggalkan tasnya di ruangan inap Hasna.
"Aku lupa tasku ada di sana. Tuhan, siapapun orang yang bersedia mendonorkan sum-sum tulang belakang, saya harap dia di berikan kesehatan dan rezeki yang semakin berlimpah." Doanya dalam hati.
Elsa pun duduk di depan ruang tunggu operasi. Tak lama kemudian Dimas datang menghampirinya.
"Tante, bagaimana dengan Hasna?"
Elsa mendongak. "Dim, dari mana kamu tahu Hasna ada di sini?" setahunya Elsa belum memberitahukan siapapun mengenai operasi Hasna.
"Ah, ta tadi saya sempat keruangan Hasna dan ternyata kosong. Saya tanya ke suster yang lewat bahwa Hasna di bawa kemari. Jadi saya langsung kemari," jawabnya gugup. Iapun ikut duduk di samping Elsa.
Elsa mengangguk-ngangguk mengerti karena penjelasan Dimas masuk akal juga.
"Maafkan saya, Tuhan. Saya telah berbohong," batin Dimas menatap ruangan operasi yang masih berlampu merah.
__ADS_1
Siapakah dia? siapa orang yang sudah bersedia menjadi pendonor? Lalu apakah Bella akan kembali bersama dengan Nando sesuai harapan Hasna?
Bersambung....