Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Mall


__ADS_3

Sepanjang jalan koridor kampus, wajah Bella murung dan melamun. Dia sampai tak mendengar teriakan Amel yang terus memanggil dirinya.


"Bella," pekik Amel. "Bel, tunggu..!!" Amel sampai sedikit berlari mengejar sang teman. Dia sampai merangkul tubuh Bella.


Bella terkaget, "Mel, ngagetin saja! Kenapa tidak memanggilku? biasanya juga suka teriak."


"Ni orang aneh banget. Dari tadi gue udah teriak-teriak manggil loe, loenya aja yang tidak mendengar panggilan gue. Ada apa sih? tidak biasanya loe seperti ini?" Amel menatap dan menelisik wajah Bella yang terlihat murung.


"Tidak apa-apa, gue hanya lelah saja. Semalaman gue nonton drama Korea sampai malam." Bella berusaha menyembunyikan masalahnya. Batinnya berkata, "Semalaman gue sama Jhon...." Bella menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Oh, gitu. Pantesan wajah loe terlihat murung."


Bella hanya tersenyum tipis merasakan sakit luar dalam.


Jam pulang pun telah tiba.


"Mel, kita nonton yuk! Gue bosen di rumah tidak ngapa-ngapain." Ajak Bella sambil membereskan buku-bukunya. Dia ingin menghibur dirinya sendiri.


"Boleh, tapi gue harus izin Abang gue dulu soalnya dia yang antar jemput gue sekarang."


"Bukannya Abangmu lagi kuliah di Jogja ya?" tanya Bella, dan keduanya berjalan menuju parkiran.


"Udah selesai kali, kamunya saja yang tidak pernah lagi main kerumah ku, jadi kamu belum tahukan Abangku sudah menyelesaikan kuliahnya?"


"Iya, kamu benar. Sudah hampir satu tahun tidak main kerumahmu."


"Ya iyalah, kau sibuk dengan dunia barumu. Permodelan." Sindir Amel, dan Bella hanya tersenyum tak membantah karena memang itu kenyataannya.


****


"Halo, Jhon. Tolong kau handle pertemuanku dengan pemilik PT. Kencana karena saya tidak bisa menemuinya. Mereka ingin membeli bahan bangunan untuk pyoyek mereka."


Di sebrang telpon, Jhon mengiakan.


"Ingat, kau harus bikin mereka terpikat dan bikin mereka bekerjasama dengan kita."


"Siap, akan ku pastikan itu, Bos."


Mahendra mematikan panggilannya dan berbalik lagi menuju ranjang dimana ada Tiara di sana.


"Aku sudah menyuruh Jhon untuk menghandle pertemuannya. Dan sekarang kau harus kembali melayaniku sampai ku benar-benar puas. Pelayananmu sungguh luar biasa Baby, Elsa saja kalah olehmu." Hendra sudah membaringkan tubuhnya.


Tiara menyeringai, "Baiklah, Om."


Batin Tiara berkata, "Elsa, kau harus membayar atas apa yang telah kau lakukan dulu kepada ibuku."


Setelah selesai dengan kegiatannya, Hendra langsung mengirimkan sejumlah uang. "Saya sudah mentransfer uang nya. Itu sebagai hadiah karena kau mampu memuaskan ku." Diapun langsung pergi gitu saja meninggalkan Tiara.

__ADS_1


Tiara mengecek handphone nya, matanya terbelalak sebab uang yang di kirimkan Hendra nominalnya sangat besar. "Gila, ini gede banget. Mereka mah kalah besar dari ini. Ok, saatnya shopping."


****


Amel dan Bella sudah berada di dalam mall, mereka ingin menonton bioskop dan mereka mampir dulu membeli popcorn.


"Bel, gue saja yang beli popcorn nya. Kau beli tiketnya, kita bagi tugas supaya tidak kelamaan menunggu," kata Amel.


"Baiklah, itu jauh lebih baik daripada harus kelamaan ngantri. Gue tunggu loe di sana."


"Iya, siap."


Bella memisahkan diri dari Amel dan berjalan ke tempat pembelian tiket. Saat sedang mengantri, ia tak sengaja bertemu Haikal dalam antrian.


"Haikal, kamu di sini juga?"


Haikal menoleh kebelakang. "Eh, Bel. Kamu juga di sini? sama siapa?" Haikal melihat-lihat mencari orang yang ia kenal selain Bella.


"Aku sama Amel, dia sedang membeli popcorn."


"Oh, kalau gitu kita barengan saja nontonnya biar seru, iya gak Jer?" ajak Haikal dan bertanya kepada temannya Jeri.


"Bener, biar tambah rame."


"Hmmmm, baiklah." Bella pun membeli tiketnya dan mereka menunggu Amel.


"Gila Filmnya seru banget, ketawanya ada, sedihnya ada, tegangnya juga ada." Kata Amel.


"Eh, lain kali kita nonton bareng lagi, ya." ajak Haikal kepada para cewek.


"Ide yang bagus tuh," sahut Amel.


Bella hanya menanggapi mereka dengan senyuman, tidak ada binar kebahagiaan di wajahnya. Bella berubah jadi murung setelah kejadian semalam.


"Duuhh, gue ke toilet dulu ya, perut gue tiba-tiba saja pengen BAB." Amel memegang perutnya dan berdiri langsung ngacir meninggalkan mereka bertiga.


"Ada-ada saja tuh Amel. Tapi lucu juga sih." Jeri menggelengkan kepalanya dan memakan spaghetti yang ada di hadapannya.


Handphone Haikal berdering, dan diapun mengangkatnya lalu mematikan kembali setelah selesai bicara.


"Sorry, gue harus cabut dulu soalnya nyokap gue minta di jemput." Haikal berpamitan kepada Bella dan Jeri.


"Oh, gak papa, mending cepat jemput takut nyokap loe kelamaan menunggu," kata Bella.


"Kalau gitu, gue pamit. Salam buat Amel." Haikal langsung pergi meninggalkan Bella dan Jeri.


"Tinggal kita berdua, gak seru." Jeri memberengut kesal.

__ADS_1


"Mau gimana lagi." Bella pun meminum minumannya.


"Amel kemana sih? lama banget ke toiletnya?"


"Entahlah, tapi ini udah lama juga." Jeri juga ikut membenarkan.


"Apa gue susul aja ya? takutnya malah ilang tuh anak."


"Ya sudah, gue tunggu kalian di sini. Sayang makanannya kalau tidak di habiskan."


Bella sudah berdiri dan ingin melangkah. Namun ketika mulai merjalan, kakinya tak sengaja tersandung kaki kursi sehingga membuat tubuh Bella oleng ingin jatuh. Jeri yang kebetulan duduk dekat Bella segera menarik tangan Bella kebelakang. Bukannya berdiri, Bella malah jatuh kepangkuan Jeri.


Tanpa di sadari, seseorang mengepal, rahangnya mengeras melihat Bella duduk dengan seorang pria. Hatinya mendadak panas melihat kedekatan keduanya. Amarahnya mulai memuncak ketika Bella duduk di pangkuan pria itu.


"Lihatlah, dia murahan sekali." Celetuk seseorang tak lain dan tak bukan ialah Tiara. "Dia itu murahan bukan. Di tempat ramai seperti ini saja sudah berani bermesraan seperti itu apalagi kalau sepi, pasti dia sudah tidur bareng tuh pria," kata Tiara mengompori.


Tiara kebetulan sedang shopping dan berniat makan, kebetulan juga dia melihat ada Bella serta Jhon yang baru saja menyelesaikan meeting nya. Tiara memperhatikan raut wajah Jhon, dia mempunyai ide untuk membuat asisten Mahendra itu marah.


Benar saja, perkataan Tiara membuat Jhon semakin marah, dan tanpa banyak ucap dia berdiri langsung menarik tangan Bella.


Bella yang sudah berdiri dari pangkuan Jeri terkejut tangannya di cekal seseorang. "Jhon..!"


"Ayo ikut..!" Jhon menarik paksa Bella.


"Aaaww, sakit Jhon..!!" cekalan Jhon sangat kencang membuat pergelangan tangan Bella kesakitan. "Lepasin..! Ini sakit.." Bella meringis kesakitan.


"Hei, jangan kasar sama perempuan..!" Jeri mencegahnya.


"Diam kau! Ini bukan urusanmu..!" Jhon mendorong tubuh Jeri sampai terduduk kembali lalu menyeret paksa Bella.


****


Kali ini Jhon membawa Bella ke apartemennya. Amarahnya masih terus menguasai jiwa, dan dia terus menarik Bella untuk mengikuti langkahnya.


Bella menghempaskan cekalan tangan Jhon secara kasar dan keras, barulah cekalannya terlepas.


"Mau kamu itu apa? aku lagi makan malah main tarik paksa saja." Pekik Bella kesal.


Jhon menatap penampilan Bella, di matanya hari ini Bella terlihat sangat cantik. Rambut tergerai berponi, blazer jeans setengah badan dipadukan dengan tanktop crop berwarna hitam, serta rok jeans di atas lutut membuat Bella terkesan manis.


Secara tiba-tiba, Jhon menghapus lipstik yang di pakai Bella secara paksa menggunakan bibirnya. Bella terkejut, dia berusaha mendorong Jhon namun Jhon semakin rakus menyesapnya. "Apa ini? apa kau ingin setiap pria terpesona oleh kecantikanmu, hah?"


"Dan apa ini?" Jhon memutar tubuh Bella memperhatikan pakaiannya. "Kau ingin menggoda para pria dengan memperlihatkan tubuhmu? Ck, murahan sekali dirimu ini." Jhon mencebik sinis.


Plak....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2