
"Kenapa Ayah pergi tidak pamitan sama aku, mah? Ayah ingkar janji pada Hasna, Mah. Ayah janji tidak akan pergi lagi tapi kenapa Ayah malah pergi lagi? Apa Hasna memang anak yang tidak di inginkan oleh Ayah?" cerca gadis kecil berumur lima tahun kepada sang Mama.
Gadis itu menangis memeluk Mamanya dari samping. Bella yang menjadi ibu kandungnya merasa sedih, baru saja Hasna merasa bahagia dan menerima Ayah kandungnya dekat dengan dirinya, tapi sekarang malah di tinggalkan lagi tanpa pamit.
"Hasna sayang, mungkin Ayah lagi terburu-buru dan tidak sempat pamitan sama kamu. Ayah pergi untuk berobat, Nak. Ayahmu pasti akan kembali lagi setelah sembuh." Ucap Bella mengusap punggung anak sulungnya berusaha menjelaskan agar Hasna tidak membenci Ayahnya.
"Tapi kan Ayah bisa telpon Hasna, atau Mama, atau Papa. Kalau memang Ayah sayang sama Hasna pasti akan berpamitan meski hanya lewat telpon." Gadis kecil yang baru saja berusia lima tahun tersebut sudah memiliki pikiran yang dewasa.
Bella menatap Alex dan Elsa secara bergantian. Mereka baru tahu Nando pergi ke Paris dari salah satu dokter yang ada di rumah sakit milik Alex. Dan di saat Hasna mengejar berharap bisa berpamitan dengan Ayahnya malah terlambat sebab pesawat jurusan Paris sudah lepas landas.
"Apa Hasna mau menemui Ayah di Paris?" tanya Alex.
"Apa boleh, Mah?" tanya Hasna mendongakkan wajahnya.
"Boleh, sayang. Mama tidak akan mungkin melarang Hasna bertemu ayah Hasna sendiri termasuk Papa," jawab Bella tersenyum.
"Kita juga akan sekalian liburan di sana," sahut Alex.
"Apa Mama boleh ikut?" celetuk Elsa tertarik mengenai rencana liburan di Paris.
"Tentu, Mah. Kita sekeluarga akan liburan sekalian babymoon sebelum Bella melahirkan."
"Tapi aku mau jalan-jalan ke tempat wisata di sana," timpal Hasna berubah ceria mendengar semua orang yang ia sayangi akan ke paris.
"Tentu, sayang. Di sana Hasna boleh jalan-jalan kemanapun Hasna mau. Tenang Papa yang akan membayarnya," ucap Alex sedikit sombong.
"Mama juga mau belanja, bolehkah?" celetuk Elsa jiwa matre nya keluar lagi.
"Mah," tegur Bella tak enak hati.
Alex tersenyum. "Tidak apa-apa, Bee. Mama boleh belanja apapun yang Mama mau dan kamu juga Hasna boleh membeli apapun yang kalian inginkan. Aku bekerja juga demi kalian," tutur Alex tak keberatan dengan permintaan Elsa.
"Aaaaa menantu pengertian," ujar Elsa senang.
******
Sementara di belahan dunia lain, Nando sedang melakukan fisioterapi di temani sang adik yang sedang mengambil cuti satu bulan.
__ADS_1
Kaki Nando di periksa, dan di pijat secara lembut. "Apa kakinya merasakan sesuatu?" tanya perawat fisioterapi.
"Iya, kali ini kaki saya merasakan pijatan dari Anda," jawab Nando.
Calista dan Nando tersenyum senang, pengobatannya berjalan lancar dan sudah mulai menunjukan hasilnya.
Dengan fokus dan semangat yang tinggi Nando berharap bisa segera pulih dan pulang menemui putrinya.
*******
Setelah pulang dari rumah sakit, Calista, Nando dan Dimas duduk di ruang tamu.
"Kak, aku akan mencari perawat yang akan membantumu dalam melakukan apapaun dan kalau kamu merasa tidak cocok, kakak bisa memecatnya."
"Baiklah, Kakak ikut saja yang terbaik menurutmu dan yang pasti kakak ingin segera pulang ke rumah," ucap Nando.
"Tapi dia bukan hanya akan menjadi perawat saja, dia juga akan menjadi istri Kak Nando."
Dimas dan Nando mengernyit heran. "Menikah?" tanya keduanya.
"Tapi, Dek. Kamu tahukan kalau Kakak tidak bisa melupakan Bella? mana mungkin Kakak menikah di saat hati Kakak masih menjadi miliknya?"
"Di coba dulu saja, Kak. Hanya dengan cara ini Kakak bisa melupakan kak Bella. Siapa tahu dengan adanya istri Kak Nando mulai bisa membuka hati untuk orang lain."
"Yang di katakan Calista benar, Do. Menikahlah, hanya dengan menikah perlahan kamu bisa move on." Timpal Dimas menyetujui usul istrinya.
"Tapi...."
"Mau, ya." pinta Calista memelas.
Nando menghelakan nafasnya secara kasar, mungkin ini saatnya dia move on. "Baiklah, Kakak bersedia menikah dengan wanita pilihanmu."
"Tapi, dia janda. Kakak tak keberatan kan?" tanya Calista hati-hati takut Kakaknya menolak."
"Tidak masalah, asalkan dia perempuan bukan setan," jawab Nando.
Calista tersenyum lega. Wanita pilihannya merupakan kakak temannya yang ditinggalkan mati oleh suaminya. Calista dan temannya menjodohkan kedua Kakaknya sebab Kakak mereka memiliki hal yang serupa yaitu susah move on.
__ADS_1
*******
Sedangkan Bella beserta suami dan anaknya sedang menyiapkan apa saja yang akan di ke Paris.
"Sayang, jangan bawa baju banyak-banyak, nanti kita beli saja!" ucap Alex memeluk tubuh istrinya dari belakang saat memilih pakaian yang akan di bawa.
Tangan Alex mengusap perut buncit istrinya yang sudah memasuki usia kandungan 4 bulan. Mereka sudah melakukan pemeriksaan terhadap kandungan Bella apakah bisa bepergian ke luar negri dan dokterpun mengizinkan mengingat kandungan Bella Dangan kuat dan sehat.
"Kan sayang Mas uangnya kalau kita beli terus."
"Kalau bukan kalian yang habisin uang aku siapa lagi? aku bekerja buat kalian semua karena ku hanya memiliki kalian di hidupku." Balas Alex mengecup pipi Bella dari samping.
Bella tersenyum bahagia, dia membalikkan tubuhnya kemudian mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
"Aku bahagia bisa memilikimu sebagai suamiku. Kamu tidak pernah sedikitpun mempermasalahkan apa yang Mama pinta, yang aku mau, dan yang Hasna inginkan. Tapi sayang, alangkah baiknya kita juga harus menghemat apa yang kita miliki dan menyimpan sebagian uang yang kamu punya untuk masa depan kita karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."
"Untuk masa depan kalian dan anak-anak aku sudah menyiapkannya, sayang." Bisik Alex mengecup pelan bibir istrinya.
******
Hari ini Calista akan memperkenalkan Kakaknya dengan wanita yang akan di jodohkan dengan Nando.
Mereka bertiga sudah sampai di salah satu restoran yang terkenal di sana.
"Calista," panggil seseorang.
Calista dan yang lainnya menoleh ke arah suara. "Hai, Sisy. Apa kabar? silahkan duduk!" tanya Calista memeluk sahabatnya saat kuliah dan Calista juga menyaalmi Kakanya Sisy.
"Aku baik, oh iya, ini kakak Ku kak Mentari." Jawab Sisy memperkenalkan Kakaknya.
"Mentari." Ucap Mentari menyalami Nando, dan Dimas.
Dan merekapun berbincang-bincang mengenai maksud dan tujuannya mengadakan pertemuan. Setelah selesai, mereka memutuskan untuk mempercepat pernikahan keduanya. Nando dan Mentari pun menyetujui keputusan adik-adiknya berharap bisa melupakan masalalu mereka.
"Berarti acara pernikahannya akan di langsungkan satu Minggu lagi, dan semuanya aku yang akan mengatur," ujar Dimas.
Batin Nando berkata, "Semoga ini awal yang baru untuk masa depanku." Batinnya menatap wanita yang akan menjadi calon istrinya.
__ADS_1