Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( persiapan lomba )


__ADS_3

"Mah, hari ini sekolah Ferdi mengadakan lomba agustusan yang dimana para orang tua juga harus ikut berpartisipasi dalam merayakannya. Mama tidak lupa kan?" tanya Ferdi menatap sedih mamanya.


Bella yang ingin menyuapkan makanan tertahan di udara. Dia melupakan itu. Elsa, Hasna, dan Devano saling lirik sembari memakan sarapan pagi. Sendok berisi makanan itupun Bella taruh kembali di atas piring.


"Mama tidak lupa, kok. Mama pasti datang ke sekolah kamu bareng nenek."


"Sekolah menyuruh kedua orang tuanya, Mah. Kalau hanya Mama lalu siapa yang akan mewakili sebagai Papa Ferdi?"


"Kenapa harus ada prianya? Mama doang bisa kan?"


"Akan ada perlombaan balap bakiak raksasa satu keluarga. Akan ada lomba pukul bantal di atas air yang di wakili setiap pria dewasa di setiap keluarga. Akan ada lomba balap sarung pakai helm yang dimana anak dan Papa yang memainkannya. Ketiga perlombaan itu membutuhkan pria dewasa kalau bisa orang tua." Tutur Ferdi murung merasa keluarganya kurang lengkap.


Bella dan yang lainnya terdiam meraskan kesedihan Ferdi. Elsa yang duduk di dekat Ferdi mengusap kepala cucu bungsunya.


"Ajak Ayah saja, Fer. Pasti Ayah Nando bersedia menghadiri acara kamu." Hasna memberikan solusi supaya adiknya tidak merasakan kesedihan.


"Tidak, Mama tidak suka Nando memanfaatkan kalian!" tolak Bella masih belum menerima niat Nando mendekatinya.


"Mah, untuk saat ini hanya Ayah Nando yang bisa membantu Ferdi. Kasihan Ferdi," timpal Devano memperhatikan raut wajah adiknya yang masih menunduk sedih.


Bella juga memperhatikan putra bungsunya. Dia merasa tidak tega namun ia tidak suka Nando memanfaatkan ini semua. Bella berpikir kalau Nando akan mengambil kesempatan memanfaatkan anak-anaknya untuk bisa menjangkau tujuannya.


"Kalau Mama tidak suka tidak apa-apa, Kak. Ferdi tidak usah ikutan lomba saja. Mungkin Ferdi bisa mengikuti lomba yang sendiri saja. Meski memang semua murid di haruskan," tutur Ferdi mendongak menatap Bella.


"Itu lebih baik daripada harus ada Nando. Kamu memang pengertian," ucap Bella tersenyum ramah.


"Tapi Mah...."


"Kalian berdua tidak usah melibatkan Nando dalam segala hal! Mama tidak suka itu!" sergah Bella tegas tak ingin lagi ada bantahan.


"Bella..." Elsa ingin membujuknya demo Ferdi tapi Bella memotong ucapanya.


"Cukup, Mah! Jangan bujuk aku untuk mengikuti keinginan kalian! Ayo kita berangkat ke sekolah, Mama antar kalian," Bella berdiri mengajak anak-anak dan dia sampai tak menghabiskan makanannya.


********

__ADS_1


Sepanjang langkah menuju kelas langkah Hasna dan Devano terasa gontai. Mereka kasihan kepada adiknya.


"Apa yang harus kita lakukan, Kak? Aku tak tega melihat Ferdi bersedih. Pasti di sekolahnya dia akan merasakan kesedihan karena tidak bisa mengikuti lomba. Pasti juga Ferdi akan mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-temannya."


"Itu dia yang Kakak pikirkan. Tapi Mama sungguh keras kepala kekeh tidak mau bantuan dari Ayah Nando." Hasna menghelakan nafasnya. Gadis menuju remaja itu duduk di salah satu taman depan ruangan para guru.


"Aku pun sama, Kak." Devan berpikir sambil mengayunkan kakinya.


Nando yang baru saja tiba di sekolah mengernyit bingun melihat kedua saudara itu terduduk melamun. Bagaimana tidak kelihatan tamans sekolahnya berada di depan ruan g guru. Nando mengjampirin.


"Kalian kenapa? Wajahnya kusut sekali?" Tanya Nando berdiri di hadapan keduanya. Hasna dan Devan mendongak.


"Iya nih, Pak. Adik saya membutuhkan bantuan seseorang untuk mewakili perlombaannya sebagai Papa. Kasihan Ferdi, takutnya di bully teman-temannya karena tidak memiliki Papa." Hasna membicarakan permasalahannya.


"Emangnya lombanya hari ini?" Nando sempat mendengar cerita Ferdi mengenai perlombaan di sekolah TK.


"Iya, tadi pagi aku sudah menyarankan Ayahku untuk mewakilinya tapi Mama malah marah tidak menyukai." Devano menimpali.


Nando menghelakan nafas. Dia merasa kalau Bella masih marah padanya atas kejadian kemarin. "Bapak pergi dulu, makasih sudah memberitahukan. Biar Ayah yang bergerak sendiri," bisik Nando supaya mereka tidak mendengar.


*******


"Ferdi, kenalin ini Ayah aku dan itu Mama aku." Sapa gadis cantik yang selalu mendekati Ferdi yaitu Citra.


Ferdi memberenggut kesal selallu di ganggu oleh anak itu. Namun, dia menyalami orang tua citra. "Ferdi, Om, Tante. Teman sekelas Citra."


Orang tuanya Citra tersenyum ramah. "Jadi ini anak lelaki yang sering Citra ceritakan?" kata Mamanya Citra, gadis kecil itu mengangguk. "Pantesan, ganteng sekali," Papanya Citra memuji tulus


Ferdi memicingkan mata menatap Citra penuh curiga. "Memangnya apa saja yang sering di bicarakan citra mengenaiku, Tante?"


Citra hanya senyum-senyum memandangi wajah tampan Ferdi.


"Citra bilang Ferdi tampan, pintar, suka menolong, tidak sombong," kata Ayahnya Citra.


Ferdi menghelakan nafasnya. Dia sebenarnya merasa tidak suka di dekati gadis kecil yang selalu bilang suka padanya. Ferdi mencari keberadaan Mamanya. "Om, Tante, Ferdi ke Mama dulu ya. Mau daftar lomba. Permisi, Assalamualaikum." Anak TK berusia 5 tahun itu ngacir meninggalkan keluarga Citra.

__ADS_1


"Sopan sekali, tampan juga."


Ferdi menggandeng tanga Bella mengagetkannya yang sedang berbincang-bincang dengan salah satu panitia lomba. Bella tersenyum pada putranya.


"Maaf, Bu. Kami sudah mendaftarkan setiap murid untuk mengikuti lomba ini. Jika Papanya Ferdi sudah tidak ada bisa di gantikan oleh Om, Kakak, Kakek, atau saudara yang lainnya. Kami juga tidak bisa membatalkannya karena pihak sekolah yang menentukannya."


"Tapi, Bu. Ferdi tidak mungkin ikutan sebagian lomba yang berpasangan dengan Papanya."


"Ferdi akan ikutan." Sahut seseorang menimpali pembicaraan mereka. Mereka menoleh.


Panitia yang masih berumur 30 tahun itu bengong terpesona melihat rupa Nando yang sangat terlihat tampan dan berwibawa.


Bella melotot tak percaya Nando datang ke sekolah Ferdi. Ferdi sudah tersenyum lebar berpikir akan menyenangkan jika ikutan semua lomba bareng Om Nando.


"Kau, ngapain kesini?" ucap Bella dingin dan juga ketus.


"Mau ikutan lomba bareng Ferdi lah. Masa mau lomba dapetin hati kamu. Kan gak seru hati di jadikan perlombaan." Balas Nando tak kalah sewot sembari mengusap kepala Ferdi.


"Aku ti..."


"Kapan lombanya di mulai, Bu?" sahut Nando memotong ucapan Bella.


Panitia itu tak menjawab, dia masih betah memandangi wajah Nando. Ferdi menatap tidak suka pada gurunya yang terlihat menyukai calon Ayahnya.


"Ngedip, Bu. Tuh mata nanti copot." Pekik Ferdi menyadarkannya.


Eh..


"I-iya, Pak?" Guru itu terkesiap menyadari keterpesonaannya.


"Kapan lombanya akan di mulai? Saya dan keluarga kecil saya sudah tak sabar mengikuti lombanya."


"Se-sekitar setengah jam lagi."


Bella mengerutkan alisnya memicingkan mata pada Nando. [ Ck, tebar pesona. ]

__ADS_1


__ADS_2