Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Kemarahan )


__ADS_3

"Hasna? menggodaku?" Nando tentu di buat terkejut. Dia tidak mengerti kenapa para guru berfikiran seperti itu tentang putrinya sendiri.


"Benar, Pak. Ini sudah keterlaluan. Bapak harus ambil tindakan kepada gadis itu. Baru SMP saja sudah berani menggoda gurunya. Orangtuanya sungguh tidak bisa mendidik dia."


"Kecil-kecil sudah menjadi pelakor. Dasar murahan ya?"


Nando mengepalkan tangannya tidak terima Putrinya di tuduh seperti itu. "Diam! Jangan sekalipun mulut busuk kalian memfitnah Hasna. Dia tidak seperti yang kalian ucapkan! Siapa, siapa yang telah membuat opini jelek seperti itu, hah?" sentak Nando murka menatap tajam guru-guru yang tadi mengatai putrinya.


Para guru itu seketika terdiam terkejut dan takut melihat kemarahan Nando seakan ingin menerkam mereka.


"Jawab! siapa yang telah membuat berita itu?"


"Ka-kami hanya mendengar dari anak-anak, Pak." Jawab salah satu guru dengan gugup.


Braaaak...


Nando membanting buku-buku yang ada di atas meja guru. Kemudian beranjak keluar ruangan mencari Hasna.


Di sepanjang jalan koridor, Nando memberhentikan langkahnya kala mendengar murid-murid menyebut Hasna murahan berusaha menggodanya dan berusaha menjodohkan Ibunya dengan Nando. Rahangnya mengeras tak terima orang-orang yang ia cintai di tuduh seperti itu.


[ Brengsek... berani-beraninya mereka mengatai Hasna murahan. ]


Begitupun dengan Hasna, Devano, Zahra, dan Riri yang juga menyusuri koridor sekolah menuju ruangan guru. Mereka tidak peduli soal bisik-bisik tetangga yang mulai terdengar ketika Hasna lewat. Apalagi Devano terlihat dingin seraya menggandeng tangan Kakaknya. Tinggi Devano yang hampir sama dengan Hasna tidak terlihat seperti kakak adik tapi, terlihat seperti kekasih yang sedang marah.


"Wah gak nyangka ya ternyata Hasna seorang pelakor. Murahan sekali berusaha menggoda Pak Nando," celetuk Devi.

__ADS_1


"Iya, aku pun tidak menyangka. Tampang polos tapi pikirin kotor."


Devano yang mendengarnya memberhentikan langkahnya menoleh menatap tajam orang-orang yang telah memfitnah Kakaknya. "Kau.. jaga mulut sampah mu itu! Siapa di sini yang kau sebut murahan? siapa yang kau sebut penggoda? Kakakku? asal kau tahu, orang yang kalian fitnah adalah anak dari Pak Jhon Vernando. Akan ku pastikan siapapun dari mereka yang telah menyebarkan berita hoax ini akan menanggung akibatnya." Tunjuk Devano tak sedikitpun takut.


"Ck, anak kecil sepertimu jangan ikut campur. Cukup diam di bawah ketiak ibumu." Sergah Devi tak takut. Sikap Devi membuat Devano semakin marah, dia tahu jika wanita ini tidak menyukai Kakaknya.


"Hahaha lebih mending diriku yang tidur di bawah ketiak Ibuku daripada kau yang mulai tidur di bawah ketiak pria bukan muhrim. Masih kelas 3 SMP sudah berani tidur bareng pria lain. Cuihhhh, menjijikan. Murahan seperti Ibumu..." sentak Devano mendorong bahu Devi.


Suasana semakin memanas antara Devi dan Devano. Jangan sebut keturunan Alex Ramadanu jika dia tidak mengetahui apapun orang di sekitarnya. Apa yang Alex miliki telah di wariskan kepada keturunannya. Hasna juga diam menbenarkan perkataan adiknya.


"Hei... kau.. kurang ajar sekali menuduhku tanpa bukti. Akan ku laporkan prilakumu ke pihak sekolah agar kau di keluarkan. Jangan mentang-mentang kau kaya seenaknya menuduhku tanpa bukti."


"Berhenti...! Jangan ada lagi perdebatan di sekolah ini!" pekik Nando melihat keributan di koridor sekolah.


Seketika murid-murid terdiam menunduk tak berani menatap guru BK tersebut.


"Kau sama telah menuduh Kakakku murahan suka menggoda Pak Nando. Aku tidak terima itu." Sentak Devano berdiri paling depan membela Kakak. Zahra dan Riri berdiri di sisi Hasna.


Nando memperhatikan Devi. "Kalian semua kelapangan sekarang juga. Saya rasa kalian harus tahu yang sebenarnya siapa Hasna, Devano, Zahra, sebelum kalian bicara omong kosong!"


"Umumkan saja supaya mereka tahu telah berhadapan dengan siapa, Ayah." Jawab Devano menekankan kata Ayah membuat para murid yang membicarakannya terdiam penuh keterkejutan.


********


Semua murid SD, SMP beserta seluruh guru telah berada di lapangan. Mereka ingin tahu kenapa kepala sekolah mengumpulkannya. Sedangkan orang-orang yang tadi sempat mendengar Devano menyebut Ayah tertunduk takut kala mata setajam elang milik Nando memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Saya berdiri diri ingin bertanya, siapa dalang yang telah menyebarkan berita hoax mengenai Hasna?" tanya Nando dingin sedingin es, tajam setajam elang, dan seram seperti ingin menerkam.


Tidak ada yang menjawab. Mereka malah saling berbisik.


"Saya tanya siapa yang telah menyebarkan berita hoax ini atau kalian akan amsuk penjara?" ancamnya ingin membuat para murid jera.


Devi tubuhnya gugup ketakutan. Dia terus menunduk merasa tatapan itu menuju dirinya.


"Meskipun diantara kalian tidak ada yang mau mengaku, saya sudah tahu siapa orang itu. Saya berdiri di sini tidak terima atas tuduhan yang telah ia lontarkan terhadap putri saya Hasna."


"Apa?! putri?!"


"Apa Hasna anak dari Pak Nando?"


"Harus kalian ketahui, baik untuk seluruh murid maupun guru disini. Afsheen Hasna Lanika adalah putri kandung saya dengan Arabella. Sebelum Mamanya menikah dengan Alex Ramadanu dia pernah menikah dengan saya dan Hasna adalah anak kami. Siapapun yang telah menuduhnya menggoda saya, menyebutnya wanita murahan akan saya beri hukuman tanpa terkecuali. Lalu, apa salahnya jika saya dekat dengan kedua anak saya? Hasna dan Devano? apa salahnya saya dekat dengan keponakan saya Zahra?"


Deg...


Sungguh, mereka terkejut dan berdebar tak menyangka jika Hasna dan Devano anak Nando. Mereka yang mengatainya menunduk gemetar ketakutan.


"Dan untuk sipenyebar hoax, Devi. Kau keruangan saya!" lanjut Nando tegas menatap Devano.


Seolah mengerti, Devano menarik Hasna dan Zahra maju kedepan menghampiri Nando. Nando memeluk Hasna, Devan, dan Zahra di depan semua orang. Sedangkan pak kepala sekolah menambahkan ucapan Nando.


"Pak Jhon Vernando adalah pemilik yayasan ini. Siapapun yang berusaha mengusik keluarganya akan mendapatkan hukuman. Baik itu guru ataupun murid."

__ADS_1


Duarrr....


Lemas sudah kaki para guru yang mengatai Hasna. Begitupun murid yang sering berbuat jahat kepada mereka.


__ADS_2