
Assalamualaikum Readers kesayanganku.
Kembali lagi denganku Arion Alfattah dari Cianjur.
Hanya sekedar info untuk mampir ke ceritaku yang baru.
Mungkin ceritanya sedikit membosankan. Tapi, coba dulu ya. Semoga kalian suka.
Cuplikan Bab 1
"Bian, kalau nanti Ibu tiada, kamu harus menjadi wanita kuat, mandiri, jangan mudah di tindas, dan janganlah kamu merendahkan orang lain, jaga tutur katamu, jaga kesopanan mu dan jaga kehormatanmu sebagai wanita."
"Janganlah kamu ikuti jejak ibu yang terpaksa harus menjadi pe*la*cur. Maafkan Ibu yang tidak bisa memenuhi kebutuhan materi kamu," tutur seorang wanita berusia 40 tahun tapi masih terlihat cantik.
"Ibu mau kemana sampai bilang tiada segala? Dan untuk pekerjaan yang Ibu lakoni, bisakah Ibu berhenti saja! Aku tidak mau Ibu terus-terusan menjadi wanita panggilan sedangkan uangnya Paman yang nikmati," pinta Bian gadis berusia 23 tahun berkulit hitam bagaikan kedelai malika yang hanya terlihat putih mata dan giginya saja.
"Ibu tidak bisa berhenti, Bi. Kalau Ibu berhenti, kamu yang akan di jadikan penggantinya dan Ibu tidak akan membiarkan itu terjadi. Biarlah Ibu yang menanggung semuanya asalkan hidupmu baik-baik saja tanpa harus mengikuti jejak Ibu."
Bian menggenggam kedua tangan sang Ibu bersimpuh di depan kakinya. "Kita pergi saja dari sini ya, Bu. Kita pergi jauh dari Paman yang jahat itu. Aku tidak mau Ibu kerja seperti itu terus," lirihnya meneteskan air mata kesedihan.
"Tidak, Nak. Ibu tidak bisa pergi sebab Ibu sudah terikat janji padanya. Kalau Ibu pergi, dia akan menjual kamu dan Ibu tidak mau itu terjadi."
__ADS_1
"Tapi, Bu..."
"Udah, jangan banyak bicara! Ibu berangkat dulu, pasti Pamanmu sudah menunggu di depan." Rebecca beranjak pergi meninggalkan putrinya sendiri. Dan Bian mengikutinya sambil menatap sendu Ibunya, dia ingin sekali Ibunya berhenti bekerja dan mencari pekerjaan halal.
"Rebecca, buruan keluar! Nanti kita telat, Rebecca, keluar!" Teriak pria bersuara serak yang tak lain dan tak bukan ialah Pamannya Bian lebih tepatnya adik dari Bapaknya Bian.
Ibunya Bian membukakan pintu rumahnya.
"Maaf, saya tadi sedang berpamitan dulu sama Bian." Rebecca melangkah duluan.
"Paman, aku minta untuk tidak memperkerjakan Ibu di tempat terlarang itu! Aku mohon, paman!" Bian mencekal tangan Paman Austin memohon untuk tidak membawa ibunya bekerja.
Rebecca menoleh, "Bi, kamu jangan seperti itu sayang. Jangan mohon-mohon begitu nak."
"Tidak, bu. Aku tidak mau Ibu bekerja jadi pe*la*cur lagi, Bu. Paman, ku mohon lepaskan Ibu."
"Akan ku lakukan apapun demi Ibu asalkan Ibu tidak bekerja di tempat seperti itu lagi!" lirih Bian menangis.
"Bian! Ibu bilang kamu jangan melakukan ini! Biar ibu yang bekerja membayar hutang-hutang Ibu," sentak Rebecca.
"Sudahlah, anak hitam dekil seperti mu tidak akan laku di jual. Kau tidak akan berhasil menggaet pria kaya. Entah anak siapa dirimu sampai seluruh kulitmu hitam semua,, mungkin kau anak salah satu dari pria yang sudah meniduri Ibumu," sindir Austin menghina Bian dan Ibunya.
Deg...
__ADS_1
Bian dan Rebecca terdiam membenarkan ucapan Austin. Mereka tidak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya karena ayah kandung Bian bukanlah adik dari Austin.
"Buruan berangkat! Madam Rosa sudah menunggumu di sana." seret paksa Austin memasukan Rebecca ke mobil.
"Bu, tolong berhenti dari kerjaan ini Bu! Paman ku mohon lepaskan Ibuku!" pinta Bian mencegah Ibunya bekerja.
"Diam! Jangan ikut campur urusanku atau Ibumu akan ku habisi!" ancamnya menjauhkan Bian dari mobilnya kemudian ia masuk dan pergi meninggalkan Bian yang menangis mengejar Ibunya.
Rebecca menatap nanar sang anak. "Maafkan Ibu, sayang."
"Ibu... Jangan kerja seperti itu lagi! Ku mohon Bu berhenti! Paman, jangan jual Ibuku lagi!" teriaknya mengejar mobil Austin sampai menjauh tak terkejar.
Bian Almeta, gadis berusia 23 tahun memiliki kulit hitam bagaikan Malika harus menelan pahit dikala ia mengetahui bahwa dia bukanlah anak kandung dari sang ayah.
Gadis itu juga hanya tinggal dengan Ibunya yang bekerja sebagai wanita panggilan di salah satu dis*kotik terkenal di negara Amerika.
Sebenarnya, Rebecca bukanlah wanita seperti itu. Tapi, ia terpaksa bekerja seperti itu setelah suaminya meninggal akibat sakit kanker stadium akhir enam bulan lalu. Rebecca juga harus membayar utang-utang yang yang digunakan untuk berobat suaminya.
Bian Almeta, gadis yang sering dirundung warga akibat perbedaan kulitnya, gadis yang sering di bully oleh teman-teman sekolahnya, gadis yang hidup di lingkungan kotor para pendosa seperti pemabuk, pejudi, bahkan pe*la*cur.
Meski Bian tinggal di lingkungan para pendosa, dia bukanlah wanita seperti mereka yang rela menjajakan tubuhnya di mana saja. Bian juga bukanlah wanita pemabuk apalagi pejudi melainkan wanita yang taat pada agamanya sesuai didikan kedua orang tuanya.
Meski Bian bukan anak kandung dari Ayahnya, namun sang Ayah memperlakukan Bian layaknya mutiara. Kasih sayang sang Ayah sungguh tulus, kasih sayang sang Ayah begitu luar biasa. Mendidik, mengajari, mengayomi sampai Bian menjadi wanita baik Budi pekerti, sopan santun, dan terhormat.
__ADS_1
Terbukti dari para penduduk yang tinggal di sekitarnya tidak pernah mengolok-olok Bian terkecuali jika Bian keluar dari dari zona nyamannya maka mereka akan menghina dan mencemoohnya.
Bian tertunduk menangisi kepergian Ibunya berharap kalau sang Ibu berhenti dan hidup sederhana jauh dari tempat kotor ini.