
Bismillahirrahmanirrahim
Jangan lupa Vote, like, dan komen nya ya. Makasih sudah bersedia mampir, semoga Allah balas dengan beribu kebaikan aamiin.
*******
Nando mendongak tersenyum memandangi Bella yang masih terlelap dalam tidurnya. Wanita anak tiga itu duduk menyenderkan punggungnya dengan tangan tak sengaja berada di pipi Nando. Semalam, Bella beralih duduk di atas kepala Nando agar memudahkannya mengecek suhu badan Nando.
"Kalau di perhatikan, seperti punya istri" Gumamnya masih memandangi wajah Bella. Diapun beranjak duduk membangunkan Bella sangat lembut. Punggung tangannya terulur mengusap pipi putih cantik yang masih terlihat seperti umur 30 tahun padahal usia Bella sudah mau kepala 4.
"Bella, bangun, sayang! Sudah waktunya shalat sepertiga malam." Dengan suara lembut penuh perasaan, Nando berusaha membangunkan Bella.
[ Izinkan aku memperjuangkan mu lagi ]
Bella yang merasakan sebuah sentuhan lembut di pipinya, perlahan membuka mata. Sayup-sayup terdengar suara pria berkata sayang padanya. Namun, Bella justru terkejut membuka paksa matanya setelah melihat siapa pria itu dan dalam keadaan memegang pipinyanya.
"Nando, kau...!" Bella terkejut sontak menjauhkan kepalanya dari tangan Nando seraya berdiri mundur tapi, kakinya melah terbentur meja sehingga membuat tubuhnya ingin jatuh dan Nando yang juga terkejut segera menarik kencang tangan Bella kedepan.
Alhasil, Bella terjatuh di tubuh Nando dan tubuh Nando ikutan mundur sampai punggungnya bersandar kesofa. Sehingga mereka saling berhadapan dalam keadaan cukup intim. Sedikit lagi, bibir mereka saling bersentuhan kalau tidak di halangi hidung mancung mereka yang saling bersentuhan.
Deg..deg...deg..deg
Untuk sejenak, keduanya terdiam saling beradu pandang. Sedetik kemudian, Bella tersadar dan langsung terburu-buru berdiri.
"Ma-maaf." Bella manunduk menyembunyikan wajah yang sudah terlihat memerah akibat malu, gugup, merasa bersalah juga.
"Lain kali, jika ingin melangkah mundur lihat dulu sekitar supaya kau tidak jatuh terjenggal!" ujar Nando ikutan berdiri berusaha menghilangkan kecanggungan di antara keduanya dan juga berusaha menormalkan perasaannya agar bisa mengontrol debaran jantungnya.
Bella semakin menunduk malu. "Maaf."
Nando mengerutkan alisnya. Dia heran kenapa bela yang sekarang sangatlah berbeda dengan bela yang dulu pertama kali bertemu. Bella yang dulu tidak malu ketika melakukan hal seperti tadi.
"Sudah, jangan dipikirkan. Aku juga minta maaf menarikmu tanpa permisi. Sekarang kita shalat malam dulu."
Bella tersadar lalu mendongak sehingga mata mereka membali beradu tapi Bella malah menunduk lagi. Nando merasa gemas, tangannya replek mengusap kepala Bella yang berhijab. Kemudian, pergi ke kamarnya. Langkahnya terhenti, "Kita shalat berjamaah.
"Tolong bangunkan anak-anak! Suruh mereka berkumpul di mushola!" titahnya seenak udelnya saja sambil berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Hah!" Meski terkejut, tak urung dia ingin membangunkan anak-anaknya. Namun, baru juga ingin melangkah, semua anak-anaknya sudah menghampiri dan sudah terlihat rapi mengenakan pakaian ibadahnya.
********
"Yah, mumpung hari libur, aku mau ikut ke perkebunan ya?" pinta Hasna mengawali pembicaraan di meja makan.
Bella lebih dulu pulang karena dia harus mengurusi toko pakaian yang ia tinggalkan semalam. Ferdi juga ikut pulang bareng Bella atas inisiatifnya sendiri. Kalau Devan, dia akan ikut Kakak wanitanya untuk menjaga Hasna.
"Ayah tidak akan keperkebunan. Tapi Ayah akan mengajak kamu jalan-jalan ke mall menghabiskan waktu untuk bermain, menonton bioskop, apapun itu asalkan bersama kamu. Ayah ingin menggantikan waktu yang sempat hilang setelah 5 tahun belakangan," jawab Nando sambil membereskan piring bekas makan.
Devan diam menyimak obrolan ayah dan anak itu. Tak di pungkiri hatinya juga merindukan Papanya yang juga sering mengajak mereka weekend. [ Andai Papa masih ada? ]
"Aku setuju. Devano, Ferdi dan Mama juga harus ikut. Dimana Hasna jalan-jalan maka keluarga Hasna juga harus jalan-jalan merasakan kebahagiaan. Meskipun kami masih kepikiran Papa," lirih Hasna menunduk sedih.
Devan mengusap tangan Kakaknya memberikan kekuatan. Nando menghelakan nafas. Dia juga merasa kehilangan meski tidak terlalu dekat dengan Alex.
"Kamu ajak mereka. ajak temen-temen kalian juga boleh. Asalkan kalian bahagia."
"Beneran, Yah?" Pekik Hasna dan Devan berbarengan. Nando tersenyum mengangguk.
"Kalau gitu, Aku mau mengajak teman-teman panti. Iyakan Devan?" tanya Hasna meminta persetujuan anak lelaki yang masih setia mengunyah apel merah.
Di setiap ada kesempatan jalan-jalan, mereka tidak melupakan anak-anak panti tempat dimana Alex menjadi donatur tetap di panti itu. Mereka akan membawa anak panti secara bergantian untuk menikmati hari liburan seperti yang lainnya.
********
Mall
"Kenapa Mama harus ikut, sih? Mama banyak kerjaan sayang." Protes Bella setelah tiba di mall yang di maksud Hasna.
"Mama jangan kerja terus. Nanti cepat tua kalau kebanyakan kerja," protes Hasna.
"Mama emang sudah tua, buktinya sudah memiliki kalian bertiga."
"Tapi kamu masih kelihatan cantik kok," celetuk Nando bersidekap dada sambil menunggu pesanan McDonald's
Bella mengernyit. "Cantik di lihat dari sedotan kali," celetuk Bella.
__ADS_1
"Di lihat dari manapun kamu memang cantik, Bella. Apalagi setelah memakai hijab, aura kecantikanmu semakin terpancar bak purnama menerangi bumi. Dan aku menyukai sinar purnama itu. Sungguh keindahan yang nyata," balas Nando tetap memandangi Bella penuh cinta.
Ketiga kurcaci yang ada di sana saling lirik. Mereka hanya berdiam menonton dua orang dewasa di hadapannya.
"Apaan sih, jangan gombal seperti itu. Aku tidak akan mempan oleh rayuanmu. Aku tahu, kau hanya iseng kan?" ujar Bella lalu menyeruput minumannya.
"Aku bukan raja gombal apalagi tukang rayu. Aku hanya bicara mengenai fakta bahwa kau keindahan yang sempurna," balas Nando menopang dagu tersenyum penuh pesona.
Bella melirik sebentar menatap Nando, lalu menunduk memainkan handphone nya. Bella merasakan sensasi yang berbeda di dekat Nando yang terlihat seperti terang-terangan menyukainya.
"Eaaaaaa..." sahut ketiga kurcaci di sana.
"Usaha turuuus Om! Ojo kasih kendor! Kalau kendor ya, kencengin lagi supaya tidak lepas," sahut Ferdi menenton video seorang pria sedang berusaha mengikat domba yang sering lepas tanpa videonya di suarai.
Bella mengernyit menggeleng kepala. Nando melirik sebentar tapi kembali lagi memandangi Bella.
"Ada apa di ponsel mu? Apakah ada yang lebih menarik dari kencan kita?"
"Kencan?" Dahi Bella mengkerut mendongak.
"Iya, kencan bareng keluarga kecil kita." Balas Nando menaik nurunkan alisnya. Berusaha terus sampai Bella ia dapatkan kembali. Bella kembali menunduk malu, sungguh, dia merasa geli akan rayuan Nando yang menurutnya tidak sesuai umur.
"Anak-anak, coba tebak! Kencan-kencan apa yang bikin Ayah terpesona?" tanya Nando pada putrinya tapi masih memandangi Bella yang sedang menunduk memainkan ponselnya.
"Kecantol Mama," jawab ketiga kurcacinya.
"Hmmm boleh juga jawabnya. Tapi jawaban Ayah adalah kecantikan Bella yang mempesona."
"Uhuuuyyy..." sorak Ferdi heboh masih melihat video di hp. Telingan mendengar namun mata ke handphone, itulah Ferdi.
Bella memutar jengah matanya. Dia memasukkan ponselnya kedalam tas ingin pulang karena merasa tidak enak dengan rayuan Nando.
"Apaan sih. Rayuanmu gak lucu, Nando. Mending aku pulang saja dari pada di sini bareng orang aneh sepertimu."
"Eh, jangan pergi! Kalau kau pergi hatiku kan terasa sepi tanpa kehadiranmu disini," Cegah Nando masih sempat-sempatnya ngegombal.
Bella menatap aneh pada pria di hadapannya. "Apaan sih, gak jelas."
__ADS_1
"Bella.." kali ini suara Nando terdengar tegas wajahnya pun juga serius. Dia sudah berdiri memandang Bella. "Dari sekian wanita yang pernah dekat denganku, hanya kamu yang sulit ku lupakan. Aku mencintaimu."
Deg...