
Elsa terus mondar-mandir bagaikan setrikaaan. Dia terus menatap keluar berharap Nando pulang. Sudah pukul 9 malam namun belum juga ada tanda-tanda kepulangan Bella. Ibu mana yang tidak merasakan cemas saat tahu anak dan cucunya belum pulang. Di sepanjang ibadahnya dia selalu mendoakan agar Bella dan Ferdi selamat.
"Nek, ini sudah malam. Kenapa Mama dan Ferdi belum pulang juga? Hasna khawatir, Nek." Hasna dan Devan juga sudah mengetahui jika Mamanya belum pulang dari sore.
"Apalagi ada Ferdi, Devano takut kalau mereka di culik orang tak di kenal, Nek."
"Nenek juga khawatir, Hasna, Devan. Nenek tidak tahu dimana mereka berada, Nando sedang berusaha mencarinya. Namun, ponselnya juga mendadak tidak bisa di hubungi. Calista juga tidak tahu keberadaan Kakaknya dimana."
"Lalu kita harus apa, Nek? aku takut Mama dan Ferdi sedang dalam bahaya."
"Kita berdoa saja semoga saat ini mereka tengah bersama Nando dan sedang berada di tempat aman." Elsa juga menceritakan jika Nando akan mencari Bella dan Ferdi. Hati kecilnya berkata kalau mereka sedang bersama namun tidak tahu dimana.
"Aamiin, semoga mereka baik-baik saja."
********
Di tengah kesadaran, Bella tidak bisa tidur. Dia mencari posisi ternyaman untuk memejamkan mata. "Ya Allah, kenapa sulit tidur sih?"
Lebih tepatnya, dia memikirkan perkataan Ferdi sebelum tidur.
"Mah, kata Papa, Ayah Nando orang baik, dia juga menyayangi Mama dan kami. Papa ingin Ayah Nando bersama kita. Jangan biarkan dirinya pergi jauh, itu kata Papa."
"Kapan Papa bicara seperti itu?" tanya Bella sembari mengusap punggung putranya.
"Waktu kemarin malam. Papa datang kedalam mimpiku menyuruh Ferdi memberitahukan itu pada Mama. Papa juga bilang, untuk percaya pada pilihan Papa karena itu yang terbaik untuk kita."
Bella menghelakan nafasnya secara kasar. [ Lagi dan lagi kamu datang kedalam mimpi anak-anak kita. Jika ini yang terbaik untuk kita, aku akan ikhlas menerima dia kembali. Tapi, aku butuh waktu dulu untuk memastikan perasaannya terhadapku dan ketulusannya kepada anak-anak, Mas. ]
Bella melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukan pukul setengah 11 malam. Sedangkan Ferdi tengah terlelap dalam lautan mimpi tidur sangat nyenyak. Diapun turun dari ranjang berjalan mendekati kaca.
Matanya melihat cahaya seperti api lalu ia mengintip di balik tirai. "Nando, sedang apa malam-malam begini di luar?" tanyanya penasaran. Meski Nando membelakangi, ia tahu postur tubuhnya pria itu.
Saking panasaran dan juga tidak bisa tidur, Bella ingin menghampiri Nando. Dia sudah berdiri di teras kayu. "Kenapa belum tidur?"
__ADS_1
Nando merasa ada yang bicara menoleh ke belakang. "Bella, kau belum tidur?" Nando kembali menatap kedepan memperhatikan panggangannya.
"Aku tidak bisa tidur. Kau sendiri kenapa belum tidur?" Bella berjalan menuruni tangga kayu kemudian duduk di pijakan ke dua memperhatikan Nando yang sedang membelakanginya.
"Aku belum ngantuk." Nando melihat panggangannya lalu memberikan jagung matang itu ke Bella. "Kau mau?"
Bella sekarang tahu jika pria di hadapannya sedang membakar jagung. Dia mengambil jagung bakar tersebut. "Terima kasih jagungnya."
Nando tersenyum, sambil mengambil lagi miliknya lalu menghadap Bella sehingga keduanya saling berhadapan. "Sama-sama. Pasti kau sedang memikirkan diriku sampai sulit untuk tidur."
Bella mengernyit, "Tidak, siapa bilang memikirkanmu. Geer sekali." ujarnya menyangkal padahal memang benar kalau dirinya tidak bisa tidur akibat memikirkan Nando.
"Oh, aku kira kau memikirkanku.Ternyata cuman aku doang yang selalu memikirkanmu. Mungkin cintaku terlalu dalam padamu sampai sulit bagiku melupakan kenangan kita."
Bella melirik sebentar wajah Nando yang tengah menggigit jagung. "Tukang bual."
Nando mendongak, kemudian membalikan badannya membalikkan lagi jagung. "Aku serius. Ngapain bohong, tidak ada gunanya. Hati bukan untuk di permainkan."
Sontak Nando menoleh terkejut Bella membahas masa lalu. Masa dimana dirinya begitu bodoh membuat wanita yang kini masih ada di hatinya menderita. Masa dimana dirinya begitu tega menyuruh Bella melupakan segalanya setelah apa yang ia lakukan. Merenggut kehormatannya dan tidak mengakui anak di dalam kandungannya.
Pria itu menunduk menghelakan nafas secara kasar. "Maafkan aku yang dulu, Bella."
Eh...
Kini Bella yang terbelalak tersadar dari ucapannya. [ Kenapa aku jadi bahas masalalu dengannya? ]
"A-aku sudah memaafkanmu. Berkat masa lalu sekarang aku jauh lebih bahagia dan akupun bersyukur karena adanya masa lalu membuatku menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Bella menunduk merutuk kebodohannya mengungkit masalalunya.
Nando kembali menatap Bella begitu dalam. "Ya, sekarang kau jauh lebih berbeda. Meski umurmu menginjak kepala 4 namun wajahmu masih terlihat cantik dan masih muda. Aku semakin menyukaimu."
Bella mengernyit, "Matamu rabun kali, wajah tua berkeriput gini di bilang masih muda? fix inimah rabun."
"Entah mataku memang rabun atau terlalu cinta kamu sampai kau terlihat masih cantik dan muda." Nando semakin gencar mendekati Bella dan apa yang di ucapkannya memang kenyataan.
__ADS_1
"Ishh, mending aku masuk ke dalam, tidur, daripada dengerin modus kamu." Bella beranjak berdiri siap melangkahkan kaki menaiki tangga. Namun, kakinya menginjak ujung kayu membuat tubuhnya terhunyung kebelakang.
Nando yang melihat Bella ingin jatuh dengan sigap menangkap Bella dari belakang. Untuk beberapa saat keduanya saling memandang menatap dalam manuk mata mereka. Jantung Bella tiba-tiba berdisko ria. Diapun segera berdiri tegak.
"Ma-makasih sudah membantuku." Ucapnya menunduk gugup ketika tatapan penuh cinta ia rasakan dari sorot mata elang itu.
"Lain kali kalau jalan hati-hati. Jangan ceroboh, jangan gegabah, santai saja."
Bella mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam sembari menahan sakit di kaki. Nando yang bisa melihat jika Bella kesakitan berinisiatif membopongnya.
"Nando..." pekik Bella tiba-tiba tubuhnya melayang di udara akan aksi Nando yang seenaknya menggendong ala bridal style.
"Aku tidak mau kakimu semakin sakit saat berjalan. Jadi, lebih baik ku gendong sampai kamar." Dengan tampang dingin tak berdosa Nando membawa Bella ke kamar yang di tempati Ferdi.
Dia mendudukan Bella di tepi ranjang. Bella tak berkutik dan ia malah tak protes. Sungguh aneh kan?
"Istirahat, besok kita akan pulang. Pasti keluargamu sangat khawatir. Aku tidak bisa menghubungi mereka, di sini sudah sinyal."
Bella menunduk mengangguk menyembunyikan wajahnya yang sudah terasa panas karena malu.
Nando tersenyum, ia mengusap kepala Bella. "Aku mencintaimu, Arabella. Semoga kau mau memberiku kesempatan untuk membuktikan jika aku benar-benar serius dengan perasaan ini. Aku permisi dulu."
Nando beranjak keluar namun, langkahnya terhenti kata Bella memanggilnya.
"Nando," panggil Bella memandang pria di hadapannya.
Nando menoleh, "Iya."
"Yakinkanlah aku untuk bisa menerima kamu lagi. Aku memberimu kesempatan itu."
Nando terpaku, sedetik kemudian senyuman kebahagiaan serta ketulusan terpancar di raut wajahnya. "Aku akan berusaha, makasih sudah memberikanku kesempatan."
Bella mengangguk membalas senyuman Nando.
__ADS_1