
Deg...!
"Hasna..!" lirih Bella berada di ujung tangga mendengar setiap kata dari bibir putrinya.
Hasna langsung berlari menghampiri Mamanya memegang erat tangan sang Ibu. "Ma, bilang kepada Om itu aku tidak mau punya Ayah yang tidak menginginkan aku!"
"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu, Nak?" Bella berjongkok menjejajarkan tubuhnya dengan Hasna.
"Tadi, saat Mama pulang menangis aku sempat dengar pembicaraan Mama dama Nenek. Mama bilang, kenapa dia hadir di saat semuanya membaik. Dulu dia menolak Mama dan kehadiranku, tapi sekarang, dia kembali membuat Mama menangis lagi."
"Itu artinya Ayah tidak ingin Mama dan aku ada di dekatnya kan? aku juga tidak ingin dia berada di dekatku kalau hanya membuat Mama sedih. Lebih baik aku tidak punya Ayah seperti dia daripada luka hati Mama kembali tersuat!" entah kenapa Hasna begitu pintar dalam menyimpulkan setiap perkataan. Gadis kecil itu seperti mengerti tentang keadaan Mamanya.
Bella memeluk putrinya, mengelus punggung menenangkan sang anak untuk tidak bersedih. "Jadi anakku mendengar semuanya?" batin Bella.
Nando semakin sesak saja, ia bahkan menumpahkan air mata penyesalan mendengar penolakan dari Hasna. " Apa ini karma untukku? di saat aku ingin memperbaikinya justru mereka menolak keberadaan ku. Dulu aku menolak kehamilan Bella dan sekarang, Putriku Hasna menolak keberadaan ku. Tuhan, sesakit ini saat seseorang yang kita sayangi menolak?" batin Nando.
Hujan petir diluar seolah merasakan sakit mereka. Alam yang tadinya cerah mendadak mendung menyaksikan mereka.
"Hasna masuk dulu bareng Nenek, ya! Mama mau bicara sama Ayahmu."
"Dia bukan Ayahku!" tolak Hasna dan langsung berlari ke kamarnya.
Elsa menepuk-nepuk pundak putrinya. "Selesaikan masalah kalian! Hasna biar Mama yang urus." Bella mengangguk.
"Kamu dengarkan, Hasna menolak kamu. Dan kamu memang bukan Ayahnya. Jadi tolong sekarang kamu pergi dari kehidupan kami! Aku mohon biarkan kami bahagia tanpa kamu!"
"Aku tidak akan pergi sebelum kalian memaafkan ku, Hasna anakku, Bella. Aku ingin memperbaiki semuanya bersama kamu, bersama anak kita."
"Setelah sekian tahun kamu baru ingin memperbaiki nya? dimana perasaanmu dulu ketika ku memohon untuk meminta pertanggungjawaban darimu? yang ada kamu menolakku dan anakku. Jadi sekarang, kamu pergi dari sini karena aku tidak ingin kamu ada di sini!" Bella berjalan menghampiri Nando ingin mengusirnya malah kakinya tersandung meja.
"Bella...!" Nando segera menangkap Bella.
Bella meraba meja dan menarik tangan Nando membawanya keluar. "Ku mohon pergi!" mata Bella sudah berair.
"Tidak, Bel. Aku tidak akan pergi sebelum kalian memaafkan ku."
__ADS_1
"Pergi, Jhon! Ku mohon pergi...!" Sentak Bella mendorong tubuh Nando keluar rumah dan menutup pintunya.
"Aku akan tetap di sini sampai kalian mau memaafkan ku, Bella. Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal," teriak Nando berdiri di bawah derasnya hujan.
"Aku tidak peduli! Bagiku kamu sudah tiada, Jhon," balas Bella dari dalam. Hati Bella sakit mengatakan hal seperti itu, dalam hati kecilnya masih tersemat rasa cinta untuk lelaki yang telah menyakitinya terlalu dalam.
Sudah satu jam Nando menunggu di depan rumah Bella, tubuhnya sudah menggigil kedinginan, wajah dan bibirnya sudah pucat. Namun Nando tak sedikitpun berniat pergi dari sana, ia ingin berjuang untuk mendapatkan maaf dari Bella.
Elsa selalu mengintip di balik jendela, ia merasa khawatir akan kondisi Nando. Dia menghampiri Bella yang berada di kamarnya.
"Bel, apa kamu tidak kasihan kepada Nando? dia masih bertahan di bawah air hujan menunggu kamu keluar." Elsa mengusap kepala putrinya yang terbaring tidur namun enggan memejamkan mata.
"Biarin saja, Mah. Dia sendiri yang ingin bertahan di sana."
"Temui dulu dia, Nak. Kasihan, walau bagaimanapun dia adalah Ayahnya Hasna."
Bella menghelakan nafasnya secara kasar, dia beranjak dari tempat pembaringan dan menghampiri di mana Nando berada.
Dengan menggunakan tongkat dan payung, dia berjalan memukul pelan kaki Nando menggunakan tongkat.
"Bella, aku minta ma maaf." Bibirnya bergetar, dia sudah tidak bisa lagi menahan pusing dan rasa dingin yang mendera kesekujur tubuhnya dan Nando ambruk di hadapan Bella.
"Jhon..!" Bella menggoyangkan tubuh Jhon menggunakan tongkat. "Kau kenapa, Jhon?" Dia menjadi panik.
"Mama tolong...!" teriak Bella memanggil Mamanya.
****
Calista terus mondar-mandir mengkhawatirkan sang Kakak yang belum pulang padahal jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Dia terus melihat ke luar berharap hujan segera reda.
"Kemana kamu Kak? mana hujan lagi?" gumam Calista khawatir.
Handphone nya berdering, ia mengangkatnya. "Halo, Kak Bella."
"Halo, Calista, kamu cepat kemari! Kakak mu pingsan di depan rumah!"
__ADS_1
"Iya, iya, aku segera kesana sekarang juga!" Calista panik, ia segera mengambil kunci mobil langsung menuju ke rumah Bella.
"Ya Tuhan, semoga Kakak ku tidak kenapa-kenapa."
****
"Calista akan segera datang kemari, Ma." Tak bisa di bohongi, wajah Bella terlihat sangat khawatir dan panik. Elsa bisa melihat kalau putrinya masih memiliki perasaan kepada Nando.
"Bella, aku minta maaf," gumam Nando menggigil kedinginan, namun matanya terpejam.
"Jhon," Bella meraba kening Nando. "Ya Tuhan, dia panas sekali, Mah."
"Sebentar, Mama ambilkan air hangat untuk mengompres dia." Elsa segera ke dapur mengambilkan air hangat.
Tak lama kemudian Elsa sudah kembali membawa mangkuk berisi air dan lap.
"Aku saja, Mah. Dia begini karena aku." wanita ibu satu anak itu menyesali sikapnya yang terlalu egois membiarkan Nando di luar dalam air hujan.
Bella mencelupkan lapnya, memeras, dan menempelkan ke kening Nando.
"Dingin...Bella aku minta maaf." Nando terus bergumam meminta maaf meski dalam keadaan tak sadarkan diri.
Hati Bella merasa tersentuh atas apa yang telah di lakukan Nando demi kata maaf darinya. Tapi, dia masih belum bisa menerima Nando.
****
Calista sudah selesai memeriksa Nando dan menuliskan resep obat untuk Kakaknya. "Demamnya sangat tinggi, dia pingsan akibat kelamaan terkena hujan dan akibat perutnya kosong." Jelas Calista menatap Kakaknya iba.
Bella yang berdiri menunduk sedih, "Maaf, karena ku Kakakmu jadi seperti ini."
Calista mendongak dan mengusap tangan Bella. "Ini bukan salahmu, dia sendiri yang ngeyel ingin meminta maaf kepadamu. Pasti dia seperti ini karena menyesal telah membuat mu terluka. Aku minta maaf atas perlakuan Kakakku terhadapmu."
"Calista...aku..."
"Aku sudah tahu semuanya, Hasna adalah keponakanku dan anak dari Kakakku. Kami sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok. Aku mengerti kenapa kamu tidak mudah memaafkan Kakakku, pasti lukanya terlalu dalam dan aku tidak akan memaksa kamu untuk memaafkannya. Berikan dia pelajaran supaya dia mengerti arti kamu dan Hasna untuknya!" Calista tak akan membela Kakaknya, dia akan membiarkan Bella melakukan apapun untuk menguji sang Kakak.
__ADS_1
Bersambung....