
Rentetan acara telah selesai di gelar. Dari pagi sampai siang semuanya telah beres. Alam pun mulai mendung menandakan akan adanya turuh hujan.
Tinggal menunggu pembagian hadiah bagi mereka yang menang. Pemenang lomba terus di sebutkan oleh panitia dan tim Ferdi juga menang dalam perlombaan makan kerupuk, perang bantal di atas air, balap sarung pakai helm.
"Tuhkan apa kataku bilang, kalau kita akan menang dan tim kita yang menang terbanyak." Ferdi begitu girang atas pencapaiannya. Ini hal pertama bagi dirinya mengikuti lomba tujuh belas Agustus di sekolahnya karena memang Ferdi baru masuk TK.
Nando dan Bella tersenyum kala melihat kebahagiaan di wajah Ferdi.
[ Semoga kamu selau bahagia, Nak. Tetap tersenyum seperti itu ] batin Bella.
"Berhubung acaranya sudah selesai, aku antar kalian pulang ya?" ajak Nando menawarkan jasa supir dadakan.
"Tidak usah!"
"Mau, Om." Ibu dan anak itu menjawab secara berbarengan dengan kata yang berbeda.
"Mah, kenapa tidak usah? Bukankah mobil Mama mogok saat datang kesini? Mending kita ikut Om Nando saja, boleh kan Om?" ujar Ferdi mendongak menatap Nando.
[ Entah kenapa mobilku mendadak tidak bisa jalan saat berangkat? ] Bella juga bingung kenapa mobilnya tidak menyala sehingga dirinya terpaksa memesan taksi.
"Tentu boleh, dong. Dengan senang hati Om akan mengantar kalian kemanapun kalian pergi," jawab Nando semangat 45.
"Tidak perlu. Saya akan menunggu mobil online." Tolak Bella sehalus mungkin. Dia enggan menerima bantuan Nando atas dasar tidak mau terlalu memberikan harapan kepada pria itu untuk mendekatinya. Bella belum siap.
Nando memandang wajah Bella dengan tatapan sulit di artikan. "Aku tahu kamu menghindari ku, Bella. Jika memang kehadiranku membuatmu tidak nyaman, aku akan menjauh darimu. Tapi, jangan halangi ku untuk bertemu dengan anak-anak."
Bella terdiam tak berani menatap wajah Nando. Entahlah, terasa sulit menerima kenyataan kalau suaminya sendiri memintanya untuk menerima Nando lagi. Jika mengingat kembali peristiwa yang dulu terjadi diantara Bella dan Nando membuat Bella ingin menangis. Sakit, tapi dia berusaha berdamai dengan masalalunya.
"Permisi, dengan saudara Bella?" tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan Bella.
__ADS_1
Bella menoleh. "Iya, Pak. Saya Bella. Pasti Anda driver yang saya pesan?" tanya Bella sopan. Pria paruh baya itu mengangguk seraya memandangi Bella dengan tatapan sulit di artikan.
"Ferdi, ayo sayang. Kita pulang." Bella menggandeng tangan putranya mengajak masuk ke dalam mobil. Ferdi sempat menoleh ke arah Nando.
"Om, aku sama Mama tidak bisa ikut Om Nando. Maaf ya." Mata bening Ferdi memancarkan sinar bersalah.
"Tidak apa-apa, Fer. Lain kali Om bisa mengantarkan kalian. Kan masih ada banyak waktu." Nando tersenyum tulus membalas tatapan Ferdi. Meski hatinya sedikit kecewa karena tidak bisa mengantarkan Bella namun, ia tak bisa memaksakan wanita itu untuk menerima tawarannya. Semuanya hak masing-masing.
Anak lelaki tampan berusia 5 tahun itu melambaikan tangannya seraya memasuki mobil hingga hilang di balik pintu. Nando memperhatikan mobil tersebut sampai hilang dari pandangan matanya. Dia juga pergi dari sana.
"Mah, kenapa Mama tidak membiarkan Om Nando mengantarkan kita? Kenapa Mama juga begitu tidak menyukainya? Bukankah Om Nando orangnya baik?" tanya Ferdi.
"Kamu tidak akan mengerti, sayang. Ini masalah hati dan kamu tidak akan tahu hati orang dewasa seperti apa."
"Apa perlu Ferdi dewasa dulu baru aku akan tahu perasaan orang dewasa? tapi Ferdi juga udah dewasa kok, Mah. Ferdi tahu kalau Mama belum mau menerima Om Nando karena Papa kan?"
Bella terdiam membenarkan perkataan anak lima tahun itu. Dia hanya tersenyum mengusap kepala putranya. Pembicaraan mereka di perhatikan oleh sopir driver lewat kaca spion. Lebih tepatnya memperhatikan Bella. Di saat Bella lengah, dia membelokan mobilnya ke arah jalan yang berbeda.
Lalu Bella, dia mengerutkan dahinya saat menyadari jalan pulang terasa berbeda. "Hmm pak, kok ini bukan jalan menuju rumah saya ya? Ini jalan menuju perkebunan kelapa sawit."
"Masa sih Bu? tapi petunjuk di ponsel saya jalannya memang kesini."
Bella memperhatikan kembali jalannya. Dia yakin ini menuju perkebunan kelapa sawit. "Ini bukan jalan pulang ke rumah saya, Pak. Putar balik lagi!" Bella risau, dia takut jika pria itu akan berbuat sesuatu.
"Ini benar jalannya, Bu. Saya tidak salah." Sopir itu kekeh dengan pendiriannya.
Mobil yang di tumpangi Bella kian tambah masuk ke area perkebunan sehingga membuat jalan kian meremang minim pencahayaan.
"Mah, kenapa kesini?" Ferdi tidak mengerti.
__ADS_1
"Pak, putar balikkan mobilnya!" Bella berucap tegas.
Sopir itu memberhentikan mobilnya ditengah hutan belantara. Dia menodongkan senjata tajam ke belakang membuat Bella dan Ferdi terkejut. Ferdi memeluk tubuh Bella namun, matanya menatap tajam pria itu.
"Serahkan harta berharga kalian atau nyawa kalian akan melayang!" ujarnya penuh ancaman.
"Mah..!"
"Kamu tenang sayang, ada Mama di sini." Tak ada ketakutan dari diri Bella. Dia sudah di latih untuk tidak takut kepada mereka yang ingin berbuat jahat.
"Anda mau harta saya? lepaskan dulu kami baru akan saya serahkan apa yang ada di dalam tas saya!" ucap Bella menawarkan penawaran.
"Serahkan harta kalian sekarang juga!" pekiknya.
Bella menangkap pergelangan tangan pria itu memutarnya sampai senjata yang ia pegang terlepas.
"Aaaaa.." jerit sopir itu kesakitan pergelangan tangannya di patahkan. Kemudian Bella keluar mobil menarik Ferdi dan menggendongnya seraya berlari kabur.
Sementara Nando baru saja tiba di depan rumah Bella. Belum juga turun, Elsa lebih dulu keluar dan kaget ada Nando.
"Do, syukurlah kau kemari." Elsa nampak panik.
"Ada apa Tante?"
"Bella, Do. Dia belum pulang."
"Apa? kenapa bisa? setahuku Bella pulang dari tadi dan seharusnya sudah sampai. Aku sempat menawarkan diri untuk mengantarkan mereka pulang. Tapi Bella menolak karena sudah menyewa taksi online. Makanya aku kemari untuk memastikan apakah Bella sampai atau belum. Tapi ternyata.."
Elsa tambah panik. "Do, tolong kau cari Bella dan Ferdi! Tante khawatir dia kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Baik Tante, aku akan berusaha mencari Bella dan Ferdi. Kalau begitu, aku pamit dulu. Mohon doanya Tante," ucap Nando yang juga sangat khawatir. Pria itu pun segera menjalankan mobilnya setelah mendapatkan doa dan restu dari Elsa.
Dia menyusuri jalan mencari keberadaan mobil yang sempat ia perhatikan tadi. "Bella, Ferdi, kalian dimana? ya Allah, tolong lindungi mereka dimanapun mereka berada." doanya dalam hati sambil matanya celingukan mencari.