
Cairan bening menetes membasahi pipi putih Bella. Ia teringat kembali perjuangan mempertahankan Hasna di saat dokter mengatakan kalau dia terkena kanker rahim.
"Dimana kau saat Bella mempertaruhkan hidupnya demi melahirkan anakmu? dimana kau saat Hasna sakit? dimana kau saat Hasna membutuhkan sosok Ayah?"
"Dan sekarang kau datang menyalahkan Bella atas sakitnya Hasna? Seharunya pertanyaan itu kau tunjukan kepada dirimu sendiri. Sudah mampukah kau membahagiakan Hasna? sudah berhasilkah kau menjaga Hasna? dan bisakah kau menjaga Hasna supaya tidak sakit?"
Nando menunduk terdiam membenarkan setiap perkataan Alex.
"Jawab Brengsekkk..! Apa kau juga mampu menjaga Hasna supaya dia tidak sakit?" bentak Alex mendorong bahu Nando sampai mundur beberapa langkah.
"Kau tidak bisa menjawabnya bukan?"
Bella menangis tersedu-sedu. "Aku memang tidak becus menjadi Ibu, Alex. Dia benar, aku tidak bisa menjaga putriku sendiri. Aku tidak becus."
Alex menoleh, dia memeluk tubuh Bella yang lemah. "Tidak, Bee. Kamu sudah berusaha menjaga Hasna semampumu. Kamu Ibu yang hebat, kamu Ibu yang kuat, sakitnya Hasna bukan karena kesalahanmu melainkan karena Tuhan sayang sama kamu dan Hasna sampai Tuhan memberikan cobaan ini untuk kalian berdua."
Alex menenangkan Bella yang masih menangis, ia kembali menoleh ke arah Nando. Matanya memerah, rahangnya mengeras. "Kau melakukan hal sama, Jhon. Sekarang, jangan salahkan aku merebut hati Bella dari mu."
Alex dan Dimas, kedua pria tersebut selalu ada dari awal Bella pindah ke kota M. Dimas bertugas menjadi tukang ojek mengantarkan kemanapun Bella pergi sekaligus menjaga Bella. Dia juga bekerja secara profesional tanpa menggunakan hati.
Alex bertugas membantu Bella mengajarinya ilmu bela diri berharap jika ada hal apapun bisa melawan. Namun beda dengan Dimas, Alex menggunakan hati sehingga membuatnya jatuh cinta kepada Arabella.
Berawal dari iba, sering berjumpa, hingga menimbulkan benih cinta. Dia akan melakukan apapun demi kebahagiaan Bella meski ia tahu seperti apa dulunya kehidupan Bella.
Alex juga selalu berada di saat-saat Bella membutuhkan perlindungan, pertolongan, dia juga ada di saat Bella berjuang melahirkan putrinya.
******
Beberapa hari telah berlalu, keadaan Hasna lebih membaik dari pada kemarin-kemarin. Tiga hari yang lalu Hasna sempat demam tinggi sehingga di sarankan untuk rawat inap dan sekarang Hasna sudah mulai bersedia makan banyak.
Bella begitu telaten menyuapi putri kecilnya, ia juga mengelap bibir putrinya menggunakan tissue takut ada makanan yang menempel.
"Aaaa satu lagi!" menyodorkan satu suapan yang tersisa. "Aaammm, habis, Hasna hebat makannya banyak."
"Iya dong, Ma. Hasna kan mau pulang harus makan banyak. Hasna bosan tidur di sini terus, Hasna rindu main bareng Papa, kangen jalan-jalan sama Ayah."
__ADS_1
Bella tersenyum menyimpan piring di meja samping pembaringan. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan sang putri meski ia tidak ingin bertemu Nando namun ia berusaha untuk tidak menunjukannya di hadapan Hasna.
"Kalau gitu Hasnanya cepat sembuh, ya." Sahut Alex dari pintu masuk.
"Papa..." Hasna girang melihat Papanya datang.
"Papa membawakan ayam crispy untuk Hasna," Alex memberikan satu box ayam ke Hasna.
"Papa tahu saja kalau Hasna bosen makan bubur terus, rasanya tidak enak," jawabnya cemberut.
Dan pintu kembali terbuka, mereka menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Ayah..." ucap Hasna tersenyum melihat Ayah kandungnya datang.
Nando membalas senyuman Hasna mendekatinya, ia sempat melirik ke wajah Bella. "Dia masih dingin," batinnya.
"Kata Calista, hari ini hasil tes pemeriksaan keluar. Kita di suruh dia untuk menemuinya ke ruangan dokter," ucapnya memberitahukan info yang ia terima dari Calista.
"Alex..." wajah Bella mendadak pucat takut.
******
Calista yang menelusupkan wajahnya ke lipatan tangan di atas meja mendongak, matanya terlihat sembab seperti habis menangis. Sebisa mungkin ia kuat untuk memberitahukan penyakit keponakannya.
"Dek, kamu nangis?" tanya Nando khawatir.
Calista menggeleng, ia mengatur nafas kemudian perlahan mulai berbicara.
"Hasil tes darah sudah keluar dan sudah bisa mengetahui hasilnya," Calista menjeda sejenak ucapannya.
Bella memegang tangan Alex takut hasilnya menyakitkan. Dan Alex terus merangkul pundak Bella memberikan kekuatan supaya Bella lebih tenang.
Nando mengepalkan tangannya, ia melepas paksa tangan Alex yang ada di pundak Bella.
"Lalu apa penyakit yang di derita Hasna?" tanya Bella harap-harap cemas.
__ADS_1
"Hasna...."
"Iya Hasna sakit apa?" desak Nando.
"Hasna mengidap kanker darah akut atau sering di sebut leukimia akut," tutur Calista sedih.
"Apa?!"
Mereka bertiga syok, terkejut, Bella membekap mulutnya tak percaya, cairan bening merembes jatuh membasahi pipinya.
"Iya, leukemia akut berkembang cepat dan biasanya diidap anak berusia 3 - 5 tahun. Gejala leukemia akut bisa diamati sejak awal perkembangannya."
"Kanker darah terjadi akibat adanya mutasi atau perubahan sifat genetik pada sel darah putih, sehingga sel-sel ini tumbuh secara tidak terkendali."
Calista kembali menjeda ucapannya, mengatur kembali nafasnya. Dia melihat Bella sudah menangis di pelukan Alex dan Nando menunduk menumpukan kedua sikutnya di atas meja, tangannya memegang kepala mendengarkan apa yang Calista ucapkan.
"Lanjutkan, Dok!" titah Alex berusaha tenang dan terus mengusap punggung Bella.
"Kanker darah dapat menyebabkan penurunan sel darah merah atau eritrosit. Rendahnya jumlah sel darah merah dapat memicu anemia dan menimbulkan beraga, gejala dan salah satunya adalah wajah anak tampak pucat."
"Saat menderita leukemia, sel darah putih yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi jumlahnya meningkat. Meski begitu, sel-sel ini tidak berfungsi secara normal. Hal inilah yang menyebabkan anak menjadi lebih rentan terkena infeksi. Gejala infeksi yang biasanya timbul adalah demam."
"Anak yang menderita leukemia juga mudah mengalami perdarahan. Hal ini terjadi karena adanya penurunan jumlah trombosit. Jumlah trombosit yang rendah akan mengganggu proses pembekukan darah, sehingga perdarahan lebih mudah terjadi. Gejalanya berupa mudah memar, gusi berdarah, dan sering mimisan."
"Nyeri pada tulang dan sendi sering dirasakan oleh anak yang mengalami leukemia. Kondisi ini disebabkan oleh penumpukan sel-sel darah putih yang abnormal di area persendian."
"Selain nyeri sendi, kanker darah pada anak juga bisa memengaruhi kelenjar timus. Karena letaknya di leher, pembengkakan pada kelenjar ini dapat menekan saluran pernapasan dan membuat anak sulit bernapas. Kesulitan bernapas juga dapat terjadi akibat adanya penumpukan sel-sel abnormal di pembuluh darah paru-paru."
"Bila sel abnormal menumpuk di hati, ginjal, atau limpa, organ-organ tersebut akan membengkak dan menekan organ lainnya. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri pada perut dan rasa tidak nyaman. Pada anak yang mengalami leukemia, nafsu makannya juga sering menurun akibat pembengkakan organ tersebut."
"Sel-sel darah putih pada anak yang menderita leukemia juga sering menumpuk di kelenjar getah bening. Hal ini bisa menyebabkan pembengkakan pada kelenjar tersebut. Gejalanya bisa berupa benjolan di leher, dada, ketiak, atau pangkal paha," jelas Calista meneteskan air mata.
"Se semua itu ada di Hasna. Hasna....dia...." ucapnya tersendat-sendat tak mampu lagi berkata.
"Alex, Hasna....putriku.... kenapa ini terjadi keapadanya, Lex? ke...kenapa bukan aku saja yang sakit? ke...kenapa Tuhan selalu memberikan cobaan seberat ini kepadaku dan Hasna, Lex? kenapa..?" Bella histeris di pelukan Alex.
__ADS_1
Bersambung....