
Di ruangan yang serba putih di temani seorang pemuda bos ojek online, seorang gadis tengah duduk memegang makan sambil terus memakannya sedikit-sedikit untuk memulihkan tenaga nya.
Pemuda itu duduk di kursi menatap terus sang gadis. Matanya tak bisa berhenti berpaling dari apa yang ia lihat, senyumnya yang manis pun tak pernah pudar dari bibirnya.
"Kenapa kamu lihatin aku terus? ada yang salah ya sama muka aku?" Calista memegang wajahnya meraba-raba takut ada sesuatu atau belek.
"Terima kasih," hanya ucapan terima kasih yang keluar dari mulut Dimas. Matanya menatap lekat-lekat mata Calista. Dia berdiri dan kemudian membawa tubuh Calista kepelukan ya, mengecup pucuk kepalanya.
Jantung Calista berdebar menerima perlakukan Dimas.
"Terima kasih kamu sudah mendengarkanku dan mau menjadi pendonor untuk Hasna. Maaf kemarin aku membentakmu, memarahimu."
"Aku yang salah, Kak. Aku tidak memikirkan kesehatan Hasna, yang ku pikirkan hanya perasaan Kak Nando saja," Calista meneteskan air mata penyesalan. Seandainya ia mengikuti hawa nafsu, mungkin saat ini Hasna sedang kritis.
"Tidak mengapa, aku mengerti kalau kamu ingin yang terbaik untuk Kakakmu."
FLASHBACK
Di saat semua orang melakukan tes, Calista juga melakukannya dan hasilnya sumsum tulang belakang milik Calista cocok dengan Hasna.
Sedangkan hasil dari yang lain, tidak ada satupun yang cocok. Awalnya Calista berniat memberitahukan perihal kecocokan tersebut kepada yang lainnya.
Namun, niatnya malah berhenti di tengah jalan saat Kakaknya Nando meminta izin padanya untuk mempersunting Bella.
"Dek, Kakak ingin menikah dengan Bella. Apa kamu mengizinkan Kakak melamarnya dan menjadikan dia istri Kakak?" tanya Nando duduk di sofa ruang tamu.
"Aku setuju banget, Kak. Aku juga sangat berharap bisa menjadi adik ipar Kak Bella." Calista begitu antusias mendengar perkataan dari Kakaknya. Dia memang sudah ada niatan untuk menjodohkan sang Kakak dengan wanita pilihannya yaitu Bella.
"Jadi kamu setuju?" tanya Nando memastikan.
"Sangat setuju, aku akan merestui kalian. Oh, ya, dengan Kakak menikahi kak Bella, Kakak bisa secepatnya membuatkan Hasna adik. Karena dengan transplantasi sumsum tulang belakang dari saudara kandung kemungkinan akan jauh lebih berhasil dan kebanyakan cocok untuk jadi pendonor. Kalau gitu Kakak secepatnya nikahin kak Bella ya?"
"Benarkah? jadi hanya saudara kandung yang dapat menolong Hasna saat ini?" Calista mengangguk.
__ADS_1
"Kalau gitu Kakak akan segera menikahi Bella."
Saking antusiasnya, Calista sampai lupa tujuannya untuk memberitahukan soal hasil tes dia. Bahkan ia sampai berbohong bahwa hasil tes tidak cocok demi Nando bisa menikahi Bella.
Sampai suatu hari keadaan Hasna semakin memburuk, dia sendiri yang memeriksanya.
Calista duduk termenung di kursi kebesarannya, ia membuka laci mengambil kertas dan melihat kembali hasilnya.
"Calista, bagaimana keadaan Hasna?" seorang pria begitu saja menerobos masuk saking khawatir nya mendengar Hasna kembali masuk rumah sakit padahal sudah beberapa bulan tidak terdengar kerumah sakit lagi.
Calista terlonjak kaget, ia sampai buru-buru memasukan kembali kertas yang ia pegang ke dalam laci. Namun sayang, kertas itu malah jatuh ke bawah dan Dimas memicingkan mata melihat gelagat Calista.
"Kertas apa yang kamu pegang?" Dimas mendekat.
Calista gelagapan, "Bu bukan apa-apa, hanya ke kertas biasa saja," jawabnya gugup ingin memasukan lagi ke dalam laci.
Dimas tidak percaya, dia bisa melihat gelagat aneh dari Calista dan secepat kilat ia mengambil kertasnya dari tangan Calista.
"Kak Dimas...!" kejutnya melotot.
"Balikin kertasnya, Kak!" Calista mendekat berusaha mengambil kertasnya dari tangan Dimas.
"Calista berhenti..!!" sentaknya. Calista diam mematung mendengar bentakan Dimas yang sangat mengerikan baginya.
"Kenapa kamu menyembunyikan ini dari kami, hah? kau tahu bukan keadaan Hasna semakin memburuk? tapi kenapa kamu malah diam saja?"
"Bukannya menolong malah membiarkan Hasna kesakitan. Kamu itu bibinya, Hasna keponakanmu, dan kau juga seorang dokter, seharusnya kau melakukan yang terbaik buat Hasna malah menginginkannya mati!!" sentak Dimas menggelengkan kepala dan menatap kecewa.
"Tidak ada niatan sedikitpun untuk menyembunyikan ini, Kak. Hasna pasti akan sembuh kalau dia mendapat donor dari saudara kandungnya. Lagian kak Nando akan menikahi kak Bella jadi, kita bisa tunggu Hasna memiliki adik," jawab Calista menunduk.
"Kamu ini dokter, tapi bodoh. Apa kamu pikir umur Hasna akan sampai? kita tidak tahu umur seseorang, Calista. Tapi, setidaknya kita masih bisa berusaha selama ada peluang bukan? tapi kamu, kamu malah menambahkan beban derita Hasna tanpa berpikir bahwa saat ini Hasna membutuhkan bantuan."
"Apa semua ini kamu lakukan demi Kakakmu? kamu tidak ingin menjadi pendonor karena berharap Nando dan Bella bersatu dan bisa memiliki anak untuk mendapat pendonor yang cocok?"
__ADS_1
Calista mengangguk meneteskan air mata. Dimas mengacak rambutnya kesal dengan pikiran Calista.
"Bodoh, itu sama saja kau membunuh Hasna secara perlahan. Lalu apa gunanya pangkat seorang dokter kalau kau tak melakukan yang terbaik? aku kecewa sama kamu, Calista. Kau dokter terbodoh yang pernah aku temui. Lanjutkan saja niatmu, tapi kalau sampai Hasna tiada karena terlambat dapat penanganan, itu semua karena kamu! Karena kamu!" sentak Dimas melemparkan kertas ke tubuh Calista dan pergi meninggalkan Calista yang nangis tersedu-sedu.
FLASHBACK END
*******
Sementara di koridor rumah sakit, Bella berlari mengejar Alex tanpa memperdulikan orang-orang yang ia tabrak. Derai air matanya terus mengalir deras takut Alex benar-benar pergi tak lagi kembali.
"Alex, jangan pergi..!" pekiknya menggerakkan tongkat mencari jalan.
Bruk...
Bella tak sengaja menubruk pas bunga yang ada di sana. Namun ia kembali melanjutkan pencariannya setelah tangannya meraba pas tersebut baik-baik saja.
"Alex...!" lirih menangis memanggil nama Alex
Bruk...
Lagi dan lagi ia menubruk pilar koridor sampai keningnya terbentur meninggalkan memar. Orang yang ada di sana tak ada satupun yang membantu. Mereka malah menonton menatap iba wanita buta menangis memanggil nama Alex.
"Bee..! Kamu tidak apa-apa?" Alex segera menghampiri Bella memegang kedua pundaknya meneliti apakah Bella baik-baik saja. Matanya terbelalak melihat kening Bella memar. Berati Bella menubruk pilarnya kencang.
"Astaga, Bee...! Kening kamu memar..! Kenapa kamu tidak diam di dalam ruangan, hah! Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana? Kalau kamu sampai jatuh bagaimana? kamu itu stupid, sudah tahu tidak bisa melihat malah berlarian. Kamu membahayakan diri kamu sendiri, Bee!" cerca Alex memarahi Bella lebih tepatnya khawatir dan kesal dengan kecerobohannya.
Bukannya marah di katai stupid, Bella justru mematung bahagia bahwa Alex masih ada. Matanya kembali mengeluarkan cairan bening berasa asin membasahi pipinya. Bela langsung menghambur memeluk Alex, tangisnya kembali pecah di saat orang yang ia kejar belum pergi.
"Jangan pergi..! ku mohon jangan tinggalkan aku..! aku tidak ingin kehilangan kamu, Lex." ucapnya di sela tangisnya.
Alex membalas pelukan Bella. "Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, Bee. Aku mencintaimu," balasnya mengecup pucuk kepala Bella yang berada di dadanya.
Tadinya Alex akan ke bendara, tapi tak jadi karena penerbangannya tertunda akibat hujan angin petir menerjang daerah sana. Diapun memutuskan memutar balik arah menemui Hasna kembali.
__ADS_1
Bersambung....