Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Sekolah )


__ADS_3

"Kak, apa kau yakin akan mengajar di sekolah harapan kasih? menjadi apa?" tanya Calista sambil memasangkan dasi pada putrinya bernama Az-zahra khorunnisa.


"Kakak yakin, dek. Kakak mengajar sebagai guru olah raga dan Bimbingan konseling. Kau kan tahu sekolah itu milik Kakak jadi memudahkan ku masuk sebagai apapun di sana. Cuman kepala sekolahnya saja yang tahu, yang lain mah belum tahu." Jawab Nando mengancingkan kancing kemejanya.


Semenjak keluar dari penjara, Nando membangun usaha perkebunan kelapa sawit dengan nama PT. perkebunan Nusantara. Uangnya ia dapatkan dari hasil kerja kerasnya ketika di penjara milik Syafira. Yang dimana di penjara itu di ajari cara menanam berbagai macam tanaman, cara panennya, sampai cara penjualannya pun di ajarkan.


Dia juga membangun sekolah dasar dan SMP dalam satu lingkungan tanpa orang tahu jika dirinyalah sang pemilik sekolah dan perkebunan itu.


"Apapun keputusanmu, aku mendukung Kak Nando dan mendoakan yang terbaik." Calista tersenyum mengusap pipi putrinya yang sudah terlihat rapi.


"Kalau gitu, Kakak pamit dulu. Dimas mana?" Nando berpamitan pada Calista dan Zahra.


"Aku di sini." Sahut Dimas menuruni tangga sambil menenteng tas kerjanya.


"Zahra, kau mau bareng Papa atau Ayah?" tanya Dimas pada putrinya.


"Bareng Papa saja."


"Ok, kalau gitu kita let's go." Dimas juga berpamitan kepada Calista, begitupun dengan Zahra yang juga mencium tangan Mamanya.


"Kalian hati-hati ya."


"Ok." Jawab mereka bertiga berjalan saling beriringan dengan si cantik Zahra di tengah-tengah.


Calista tersenyum penuh haru bisa berkumpul lagi dengan Kakaknya. Sekarang, giliran dia yang bersiap-siap untuk kerja di salah satu klinik milik sendiri. Calista sudah resign dari rumah sakit dan membuka klinik tak jauh dari rumahnya atas izin dari suami dan juga pemerintah.


***********


Sekolah SDN dan SMPN harapan kasih.


Mobil yang di kendarai Dimas tiba di parkiran sekolah elit tersebut. "Sayang, belajar yang rajin, jangan nakal, jangan sombong, ok!"


"Ok Papa! Zahra akan selalu ingat pesan Papa." Gadis cantik kelas 4 SD itupun menyalami Papanya kemudian turun dari mobil dan melambaikan tangannya ketika mobil Dimas beranjak pergi.


"Zahra." Panggil Devano menghampiri Zahra.


"Abang Devan, Kak Hasna." balas Zahra tersenyum melihat Kakak sepupunya.


Hasna dan Devano pun baru sampai sekolah. Mereka langsung menghampiri Zahra saat melihatnya melambaikan tangan.


"Kita masuk yuk!" ajak Hasna gadis kelas 3 SMP melangkah beriringan bareng dua kurcacinya.

__ADS_1


"Oh, iya. Akan ada guru BK dan olah raga, Kak. Gurunya tampan dan masih gagah, Kak. Pasti Kak Hasna akan seneng dan langsung suka," sahut Zahra.


"Ah, masa sih? kan kita belum tahu wajah dan penampilannya seperti apa?" timpal Devan.


"Udah, kita lihat saja nanti," sahut Hasna dan mereka pun berpencar. Hasna ke arah timur, Devan dan Zahra ke arah barat.


*********


Nando juga sudah berada di ruang kepala sekolah. Kepala sekolahnya mengenali siapa Nando dan kepala sekolah yang bernama Bonar itu menyambut kedatangan pemilik sekolahnya.


"Pak Nando, senang bisa bertemu dengan Anda. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertegur sapa langsung dengan pemilik sekolah ini."


Nando tersenyum ramah. "Anda bisa saja pak Harto. Saya minta Anda tidak membocorkan identitas saya kepada siapapun! Saya hanya ingin mengajar dengan tenang tanpa ada kehebohan di sekolah."


"Baik, Pak. Saya mengerti maksud Anda. Kalau begitu, mari saya antar ke lapangan untuk memberitahukan perihal guru baru BK dan olahraga kepada anak-anak." Ajak Pak Harto mempersilahkan Nando berjalan duluan.


Nando mengangguk, kemudian berdiri lalu berjalan duluan ke arah lapangan. Bel tanda berkumpul pun di bunyikan sampai para murid berhamburan keluar kelas menuju lapangan.


Teett... teettt... teettt...


"Kira-kira akan ada pengumuman apa ya? aku jadi penasaran," ujar murid SMP.


"Sama, aku juga penasaran. Ya udah, yuk, kita kelapangan?"


Lalu Hasna juga berjalan menuju lapangan. "Kayaknya yang dikatakan Zahra bener, deh."


"Emangnya sepupu kamu bilang apa?" tanya Riri teman satu bangku Hasna.


"Katanya, akan ada guru BK dan guru olahraga baru di sekolah ini. Entah mengajar di SMP atau SD aku tidak tahu."


"Hmmm menurutku yang jadi masalah itu guru BK, takutnya dia sangar."


"Semoga saja orangnya tidak galak, kalau galak ya, aku kerjain dia," balas Hasna terkekeh.


"Emangnya kau berani mengerjai guru? entar kau si skorsing lagi."


"Kagaklah, aku kan anak baik, anak cerdas, anak teladan, mana berani berurusan dengan guru BK." Kedua gadis beranjak remaja itu terkekeh akan pembicaraan mereka sampai keduanya tiba di lapangan namun, berada pada barisan belakang.


Merasa semua murid dan guru sudah ada di lapangan, pak Harto sebagai kepala sekolah mulai berbicara.


"Selamat pagi anak-anak."

__ADS_1


"Pagi, Pak." Mereka semua menjawab berbarengan.


"Bapak mengumpulkan kalian semua ingin memperkenalkan guru BK sekaligus guru Olahraga yang baru. Perkenalkan, dia adalah Pak Jhon Vernando, guru baru kalian."


Deg...


Hasna dan Devano termangu mendengar nama itu. Kedua orang itu merasa tidak asing dengan namanya. Hasna yang berdiri paling belakang kepalanya celingukan ke depan ingin memastikan pendengaran dan penglihatannya. Matanya terbelalak melihat seseorang yang ia kenal dan juga rindukan namun tak pernah pulang.


"Ayah..!" gumam Hasna pelan.


Begitupun dengan Devano yang juga terkejut mendengar nama itu. Anak laki-laki mirip Alex yang tadinya menunduk segera mendongak melihat ke arah depan. Matanya melotot tak percaya bisa melihat wajah Ayah kandung dari Kakaknya.


"Ayah..! Jadi Ayah Nando yang di maksud Zahra tadi." Gumam Devan pelan yang sudah tahu siapa pria di hadapannya dari Alex dan juga Bella.


Bisik-bisik mulai terdengar dari kalangan anak SMP yang mengagumi ketampanan dan juga kegagahan Nando. Meski usianya sudah 44 tahun, Nando masih terlihat muda dan tampan.


"Pak Nando yang akan mengurusi kalian-kalian yang suka berbuat onar. Dia juga akan mengajar di beberapa kelas, baik SD ataupun SMP. Untuk Pak Nando, silahkan jika ada sepatah dua patah kata yang ingin di sampaikan!" ucap Pak Harto mempersilahkan Nando.


"Terima kasih, Pak Harto. Saya tidak pandai berkata cuman, saya ingin meminta kerjasama dengan kalian semua untuk mematuhi tata tertib sekolah ini. Salam kenal dari saya, sekian dan terima kasih."


Setelah sesi perkenalan keseluruh siswa siswi, mereka semua di persilahkan untuk kembali ke kelas masing-masing. Namun, Hasna, Devano, dan Zahra belum beranjak dari sana.


Zahra di barisan kelas 4 menghampiri Devan di barisan kelas 5. "Kak, Ayah Nando yang aku bicarakan tadi."


"Kakak tahu, ayo kita ke kak Hasna." Ajak Devan menarik pergelangan tangan Zahra dan berlari mendekati wilayah anak SMP.


Hasna menatap lekat-lekat pria di depan yang sedang berbincang-bincang dengan guru lainnya. Sepertinya Nando sedang berkenalan dengan yang lainnya.


"Na, ayo balik kelas!" ajak Riri.


"Bentar, Ri."


"Kak Hasna." Panggil Devan dan Zahra bersamaan mendekati. Hasna menoleh ke arah dua kurcacinya.


"Kalian kenapa kemari? sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai."


Devan dan Zahra tidak menjawab. Mereka berdua menarik tangan Hasna mengajaknya kedepan.


"Ayah Nando." panggil Zahra berteriak. Nando yang di panggil menoleh kebelakang.


Deg...

__ADS_1


Matanya terpaku pada sosok gadis remaja yang sedang di tarik oleh dua anak kecil. "Hasna."


Bersambung....


__ADS_2