
"Mentari, apa kamu mau ikut aku ke Indonesia?" tanya Nando sedang mengemasi barang-barangnya.
"Kemanapun kamu pergi, aku akan ikut karena kamulah tujuanku." Jawab Mentari membantu mengemasi barang-barang Nando.
"Terima kasih karena kamu sudah bersedia menemaniku sampai aku benar-benar pulih. Dan sekarang aku ingin memperbaiki hubunganku dengan anakku. Aku tidak ingin Hasna terus berpikir kalau aku tidak menginginkan nya. Aku ingin menebus setiap waktu yang ku lewati dengannya. Apa kamu tidak keberatan?"
Sudah satu tahun lamanya Nando berada di Paris untuk berobat dan sekarang ia sudah bisa berjalan lagi. Semuanya tak luput dari bantuan sang istri yang benar-benar telaten membantu dia dalam menjalani pengobatan.
Mentari tersenyum, ia menggenggam tangan Nando dan menatap tulus mata suaminya. "Aku tidak pernah keberatan, Mas. Hasna anakmu dan dia juga anakku, apapun yang kamu lakukan demi kebaikan kalian aku akan mendukungmu."
"Terima kasih, aku mencintaimu." Jawabnya mengungkap perasaan dia.
Mentari berkaca-kaca, setelah sekian lama menunggu akhirnya kata cinta keluar dari mulut suaminya. Kebersamaan mereka mampu melupakan masa lalunya dan mampu melupakan perasaan yang dulu sempat berada di hatinya.
Benar kata orang, cinta datang karena terbiasa, dan cinta hadir ketika kita selalu bersama dan itu mampu membuat Nando serta mentari saling mencintai.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Jawab Mentari memeluk suaminya.
Dan merekapun kembali bersiap-siap pulang ke tempat kelahirannya Indonesia.
*******
Nando dan Mentari sudah sampai di bandara. Mereka tersenyum saling bergandengan tangan dan mereka akan kembali memulai hidup yang baru di tempat ini.
"Aku harap Hasna mau memaafkan ku dan menerima kehadiranku."
"Kita berdoa saja, Mas. Semoga Hasna mau memaafkanmu," balas Mentari menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.
Tujuan utama Nando ialah sekolah Hasna. Dia ingin sekali bertemu dengan putrinya dan ia mendapatkan alamat sekolah Hasna dari Alex.
Tak berselang lama keduanya sampai di sekolah Hasna. Nando menunggu waktu bubar sekolah dasar. Meski dia merasakan lelah namun, ia tetap semangat demi bertemu putrinya.
Sekarang Hasna sudah sekolah kelas 1 SD. Dan setelah menunggu beberapa saat, bel pulang pun berbunyi.
"Sayang, aku mau ke sana dulu ya. Kamu mau ikut atau tunggu di taksi?" tanya Nando.
"Aku mau ikut kamu, Mas."
Keduanya pun keluar mendekati gerbang sekolah Hasna. Nando sudah celingukan mencari putrinya dan matanya menatap haru melihat gadis kecilnya tampak cantik berpakaian merah putih berjalan riang tertawa lepas bareng teman-teman.
"Hasna," lirih Nando.
Dia bisa melihat Hasna sedang menunggu seseorang di dalam sana dan Nandopun mendekati Hasna yang sedang duduk di dekat pos security.
"Hasna." Panggil Nando berada tak jauh dari tempat duduk Hasna.
__ADS_1
Hasna menoleh ia terkejut ada Ayahnya di sana. "Ayah," ucapnya berdiri dari duduknya. Ia bersiap untuk lari memeluk sang Ayah tapi ia teringat kembali bahwa Ayahnya pergi begitu saja.
Gadis kecil berusia tujuh tahun itu memundurkan langkahnya dan berlari untuk menghindari Nando.
"Hasna jangan lari, Nak." Pekik Nando mengejar Hasna. Berhubung langkah Hasna tak selebar Nando, jadi Nando bisa menangkap Hasna.
"Kenapa kamu lari, sayang. Maafkan Ayah baru menemuimu," ucap Nando mensejajarkan tubuhnya dengan Hasna.
"Aku tidak mau ketemu Ayah, Ayah jahat ninggalin aku tanpa pamit." Pekik ya berkaca-kaca.
"Ayah lakuin itu karena ada alasannya."
"Apapun alasan ayah setidaknya Ayah kasih tahu Hasna."
Nando memeluk tubuh sang anak. "Ayah minta maaf tidak berpamitan sama kamu, ayah minta maaf tidak melibatkan kamu dan ayah minta maat tidak memberikan kabar sama kamu."
"Ayah fokus untuk berobat sayang, ayah ingin sembuh supaya bisa berlari lagi sama kamu. Ayah ingin sembuh agar Ayah bisa jagain Hasna. Kalau Ayah terus berada di kursi roda bagaimana Ayah bermain bareng Hasnanya dan bagaimana Ayah jagain Hasna?"
Mentari yang berada tidak jauh darinya ikut terharu dan berkaca-kaca melihat Ayah serta anaknya bisa bertemu kembali.
"Lalu kenapa Ayah baru datang menemuiku dan kenapa Ayah tidak pernah pulang kesini?." Tanya Hasna mulai luluh.
Nando senang Hasna tidak seperti tadi yang menolaknya. Dia melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak Hasna.
"Di saat Ayah ingin menemuimu, Ayah ingin dalam keadaan baik-baik saja dan lihatlah, Ayah sekarang udah bisa jalan lagi, semua Ayah lakukan supaya Ayah bisa leluasa jalan bareng Hasna."
"Iya, Ayah udah sembuh."
"Kalau Ayah sembuh berati Ayah tidak akan ninggalin Hasna lagi?"
"Iya, sayang. Untuk kali ini Ayah janji tidak akan ninggalin Hasna lagi." Nando antusias mengangguk, dan ia sudah memutuskan untuk tinggal di tempat kelahirannya demi Hasna dan juga ingin menebus setiap kesalahan yang ia lakukan kepada putrinya.
Sontak Hasna langsung memeluk Ayahnya, Ayah yang sering ia rindukan. "Dimana Ibu?"
Nando mengernyit heran, "Ibu? siapa?" tanya Nando.
Hasna mengurai pelukannya. "Kata Mama dan Papa, aku punya tiga Mama. Satu Mama Bella, dua Bunda Syafira, dan tiga Ibu Mentari. Mereka semua Mama Hasna kan?"
"Apa kamu menerima Ibu Mentari?" Nando terharu putrinya mau menerima istrinya.
Hasna mengangguk. "Asalkan Ibu mentari janji tidak akan bikin Ayah pergi ninggalin Hasna. Kalau sampai ninggalin Hasna lagi, aku akan membenci Ayah dan Ibu Mentari selamanya."
Mentari yang mendengar setiap ucapan Hasna tersenyum kemudian mendekat. "Ibu janji tidak akan bikin Ayahmu pergi lagi. Kalau sampai Ayah pergi ninggalin kamu, Ibu juga akan membencinya dan akan ninggalin Ayah sendirian," sahut Mentari.
Hasna mendongak. "Janji..?" Gadis berusia tujuh tahun mengangkat jari kelingkingnya.
__ADS_1
Mentari menautkan jari kelingkingnya dan Nandopun ikutan. "Janji."
*******
Kediaman Alex
"Ciluuk...ba..." Alex mengajak bermain ciluk ba putranya yang berusia 8 bulan.
Balita tampan yang sedang belajar merangkak itu tertawa di ajak bermain oleh Papanya. "Papapapa," celotehnya menggemaskan.
"Mas, kamu tidak menjemput Hasna?" tanya Bella membawa MPASI untuk makan siang si kecil.
Alex yang sedang ikutan tengkurappun mendudukkan tubuhnya kemudian memangku Devano. "Hasna sudah ada yang jemput, sayang."
"Lho, siapa? bukannya supir sedang pulang kampung," tanya Bella mengernyit bingung dan menyuapi Devano.
"Nanti juga kamu akan tahu siapa orangnya, yang pasti dia adalah bagian dari putri kita."
"Aku takut...." belum juga selesai bicara, suara putrinya sudah terdengar.
"Mama, Papa, aku pulang," pekiknya riang.
Bella dan Alex berdiri menghampiri pekikan Hasna masih dengan Devano berada di gendongan Alex.
Saat sudah sampai di dekat ruang tamu, Bella terkejut ada Nando. Dia menoleh ke arah Alex dan Alex hanya mengangguk.
"Mah, Ayah pulang," ucap Hasna berdiri di hadapan Bella.
Bella tersenyum mengusap pipi putrinya.
"Bella, apa kabar?" sapa Nando berdiri dari duduknya.
"Aku baik, jadi kalian yang di maksud mas Alex?"
"Iya, aku yang memberitahukan alamat sekolah Hasna, tidak apa kan?" tanya Alex.
"Tidak Mas. Nando adalah Ayahnya, dia berhak tahu mengenai Hasna. Oh, iya, silahkan duduk lagi!"
Nando dan Mentari pun duduk. Tak lama kemudian Elsa datang membawa cemilan sebab tadi ia yang membukakan pintunya.
"Maaf seadanya saja," ucap Elsa.
"Tidak usah repot-repot, Tante." balas Mentari.
Semuanya pun berbicara ngaler ngidul layaknya keluarga. Tak ada rasa dendam sedikitpun, tak ada lagi rasa canggung di antara mereka, tak ada rasa sakit lagi. Semuanya berubah dengan seiringnya waktu.
__ADS_1
TAMAT.....