
Calista mengurai pelukannya, ia menghapus air mata. "Kak, aku harus pergi dulu. Bukannya aku tak rindu tapi aku ada tugas yang sedang menunggu."
"Kamu mau kemana?" tanya Jhon meneliti penampilan adiknya.
"Aku sekarang sudah menjadi dokter, Kak. Ini cita-citaku dari dulu." Dengan bangga Calista memperlihatkan name tag nya.
"Dr. Calista Anggraeni" ucap Jhon dan di angguki oleh Calista.
"Aku pamit dulu, Kakak istirahat saja di dalam!" titah Lista lalu naik ke motor Dimas. "Kak, anterin aku ke rumahnya Kak Ara sebelum ke rumah sakit?"
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Sekalian ada yang ingin Kakak bahas dengannya." Dimas pun menyalakan stater nya. "Do, kita berangkat dulu." Pamit keduanya kepada Nando yang bengong terdiam.
****
Keluarga Syafira sudah pulang, dan sekarang tinggal Bella dan Elsa yang duduk di ruangan tengah. Sedangkan Hasna sedang tidur dan kepalanya di rebahkan di kaki Bella.
"Bel, apa kakimu sudah tidak merasakan sakit lagi?" Elsa masih khawatir dengan keadaan kaki Bella.
"Tidak, Mah. Dokter bilang kakiku sudah sembuh total, kan waktu itu Mama juga ada menyaksikan bahkan mendengarkan keadaan kakiku?"
"Iya, tapi Mama takut kaki kamu masih merasakan sakit."
Semenjak terbangun dari tidur panjangnya, Bella langsung berkonsultasi ke dokter untuk melakukan pemulihan mengenai kakinya. Dia ingin cepat-cepat bisa berjalan normal lagi demi sang putri. Hasilnya, hanya dalam kurun waktu 7 bulan kaki Bella sudah pulih seperti sedia kala bahkan saat ini ia sudah bisa berlari
Ting-tong
Bel rumah kembali berbunyi.
"Sebentar, Mama kedepan dulu," kata Elsa beranjak menuju depan setelah di angguki oleh Bella.
"Hai, Kak. Maaf aku datangnya kesorean."
__ADS_1
"Tidak apa, pasti kamu sibuk mengurusi pasien kamu dulu. Silahkan duduk!" Bella mempersilahkan kedua tamunya.
"Hasnanya tidur, padahal aku udah siapin hadiah untuknya." Gadis itu cemberut, niat hati ingin mengikuti acara ultah Hasna namun ia malah datang kesorean dan acaranya telah selesai.
"Jangan cemberut, jelek tahu." Celetuk Dimas kepada Calista.
"Apaan sih, jelek-jelek gini banyak yang naksir aku," sahut Calista.
"Masa? kok aku tidak pernah lihat kamu punya pacar ya?" tanya Dimas lebih tepatnya meledek.
Calista tak menjawab, dia kesal kalau di tanya soal pacar oleh Dimas. Calista hanya bisa memendam perasaannya kepada pria yang sering menjadi bodyguard nya.
Calista merupakan salah satu dokter yang menangani Bella saat kecelakaan waktu itu. Dia juga yang memeriksa keadaan mata Bella saat Bella tersadar dari tidur panjangnya.
Calista merupakan murid teladan nan sangat pintar. Saat SMA, ia loncat kelas sehingga ketika lulus SMA umurnya 17 tahun. Dan ketika kuliah kedokteran, ia mampu menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran di usia yang ke 22 tahun. Dia termasuk salah satu siswa kedokteran yang paling pintar dan paling tercepat dari siswa lainnya.
Seperti kuliah pada umumnya, untuk menjadi seorang dokter harus menyelesaikan pendidikan sarjana dalam kurun waktu 3,5 hingga 4 tahun. Selama menjalani perkuliahan, mahasiswa kedokteran akan diasah kemampuannya melalui skill lab, pendalaman materi histologi, mikrobiologi, hingga anatomi.
Untuk mendapatkan gelar dokter, seorang sarjana kedokteran harus melalui program profesi. Program profesi ini sih biasanya disebut sebagai koas. Tahapan sebagai koas dilakukan di rumah sakit dalam kurun waktu 1,5 hingga 2 tahun. Pada program ini kamu akan dihadapkan dengan ilmu kedokteran yang sebenarnya. Di sini kamu akan berhadapan langsung dengan pasien. Jadi kamu harus selalu sigap dan sabar.
Belum berhenti sampai program profesi saja. Setelah menjalani program profesi, seorang dokter muda harus melalui tahap Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI). Pada tahapan ini menentukan dokter muda untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR).
Setelah berhasil mengantongi STR, seorang dokter wajib untuk mengikuti program magang atau internship. Seorang dokter internship akan mengikuti rangkaian praktek pada tempat yang sudah mendapatkan Surat Izin Praktek (SIP), seperti Rumah Sakit tipe C (Kabupaten) maapun seluruh puskesmas di Indonesia. Pada program internship ini dilakukan hingga kurun waktu 1 tahun.
"Mama," lirih Hasna terbangun dari tidurnya.
"Sayang, pasti kamu terganggu sama suaranya om Dimas ya?" kata Calista langsung mendudukan Hasna ke pangkuannya.
"Lah, malah nyalahin orang lain, situ sendiri yang berisik. Aku yang di salahin," elak Dimas.
"Sudah, kenapa kalian berantem terus? nanti kalian malah berjodoh, lho." Bella melerai kedua manusia yang sering berdebat.
__ADS_1
"Tidak mungkin aku sama dia jodoh, dia bukan tipe ku," balas Dimas mendelik tajam.
Calista membuang nafasnya secara kasar. "Lalu seperti apa tipe wanita yang kamu sukai?"
"Aku juga penasaran tipe wanita yang Dimas sukai?" sahut Bella.
Calista sangat penasaran dan ingin tahu tipe pria yang di taksirnya. Bella juga penasaran karena Dimas tidak pernah menceritakan wanita yang ia sukai.
"Seperti kamu," Dimas memberhentikan sejenak ucapannya dan itu membuat Calista salah sangka. Wajahnya sudah bersemu merah dan tersenyum tipis. Namun senyumnya lenyap di saat Dimas melanjutkan ucapannya.
"Seperti kamu, Bella. Kamu kuat, kamu hebat, kamu juga cantik, pintar, dan pastinya keibuan. Aku suka wanita seperti kamu." Dimas menatap lekat-lekat wajah Bella yang sudah bersemu merah.
Calista menunduk sedih, ia berusaha untuk tidak menunjukan rasa sedihnya di hadapan mereka. "Wah, bagus dong. Kalian cocok kok kalau bersatu," ucap Calista tersenyum getir.
"Aku sih siap, tapi Bella nya mau tidak?" timpal Dimas masih terus menatap Bella.
Bella tak menjawab dia hanya tersenyum mendengar ucapan Dimas.
"Tuh, kan. Kak Bella tersenyum, berarti dia juga suka tuh sama kamu," ujar Calista berusaha ikhlas kalau memang Dimas memilih Bella dan keduanya saling suka.
"Aku menurut apa kata Hasna saja, kalau dia mau akupun mau, kalau dia menolak akupun menolak. Kebahagiaan Hasna merupakan yang utama bagiku," balas Bella.
"Hhmmmm aku nunggu Ayah pulang, Ma." Hasna tak ingin berbohong bahwa ia merindukan Ayahnya, dia sudah tahu wajah sang Ayah dari Syafira dan juga Elsa. Mereka ingin Hasna mengetahui Ayah biologisnya dan tidak mau menyembunyikan siapa Ayah kandung Hasna.
Mereka terdiam, Elsa yang mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu dapur pun ikut terenyuh atas keinginan cucunya. "Nenek berdoa semoga kamu di pertemukan dengan Ayahmu secepatnya. Syafira bilang kalau Jhon sudah bebas dan sudah pulang ke kota M dan semoga kamu cepat bertemu dengannya," batin Elsa.
"Oh, iya, aku kesini mau memberitahukan bahwa kerja sama kamu dengan pihak konveksi pembuatan tas di setujui. Mereka akan mengirimkan barangnya ke toko kamu untuk kamu jual baik online maupun langsung." Dimas mengalihkan pembicaraan karena ia tidak mau membuat Hasna maupun Bella bersedih.
"Benarkah?" wajah Bella tampak girang, ia ingin sekali menjual tas-tas wanita di tokonya.
"Iya, beneran."
__ADS_1
Bersambung....