
Sementara di tempat lain, Bella tengah menunggu kedatangan Nando. Dia sesekali melihat arlojinya yang sudah menunjukan pukul 10: 30 pagi dan sebentar lagi Ferdi akan keluar.
"Katanya mau jemput, kenapa jam segini belum juga datang?" Gumamnya memperhatikan jalan berharap mobil Nando kelihatan. "Tunggu saja, Bella. Nando pasti datang menjemput kau dan Ferdi. Dia sudah janji padamu dan menyuruhmu menunggu."
Entah kenapa dia berharap Nando datang seperti perkataannya yang akan menjemput. Bella sudah memberikannya kesempatan untuk membuktikan perasaan Nando padanya berharap pria itu tidak mengecewakannya.
Bel pulang berbunyi sebagai tanda sekolah TK mulai bubar. Para orangtua yang menunggu putra putri mereka segera menghampiri kelas menjemput anak-anaknya. Dari jauh Bella sudah melihat keberadaan Ferdi begitupun dengan Ferdi.
"Mama." Ferdi sedikit berlari menghampiri Bella. Mencium tangan Mamanya bergelayut manja menggenggam tangan Mamanya. "Mah, ayo pulang."
"Bentar ya sayang. Kita nunggu Ayah Nando dulu. Tadi dia bilang akan jemput kita dan menyuruh kita untuk menunggu. Tidak apa-apa kan kalau menunggu dulu? Mama tidak mau ingkar janji, Nak."
"Tidak apa-apa, Mah. Ferdi akan ikut kata Mama. Kita nunggu di dekat pos satpam saja. Kemungkinan Ayah Nando sedang dalam perjalanan."
Bella tersenyum, keduanya saling bergandengan tangan berjalan beriringan menunggu Nando di dekat pos satpam duduk di bawah pohon kersen rindang.
*********
Di sana menunggu, di sini pun sedang menunggu. Nando menunggu pemeriksaan pada perempuan yang menambrak mobilnya. Entah ia yang menabrak atau mobilnya yang di tabrak. Siapapun yang salah Nando harus membawanya kerumah sakit.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Nando setelah dokter memeriksa keseluruhan kaki wanita itu.
"Kakinya terbentur keras membuat kakinya keseleo. Untuk luka-lukanya juga tidak terlalu serius. Mungkin untuk luka sekitar dua atau tiga Minggu akan sembuh. Untuk rasa sakit keseleonya membutuhkan waktu sekitar dua mingguan sampai 12 Minggu sampai benar-benar sembuh total. Saya akan memasang gips untuk menahan bagian tubuh yang sakit tetap stabil dan tidak mengalami benturan sehingga mempercepat penyembuhan," jelas dokter.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Saya akan bayar semuanya."
Wanita itu hanya dia tanpa banyak bicara. Dia lebih memperhatikan Nando yang ternyata jauh lebih tampan dibandingkan yang ia lihat dari foto. Dia adalah ibunya Devi, Ibu Riska. [ Ganteng, jauh lebih ganteng dibandingkan di foto. Bayu benar kalau bos nya sangat tampan. Cocoklah denganku yang masih berusia 40 tahun. ]
__ADS_1
Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter itu pamit keluar dan Nando pamit kepada Rizka untuk membayar semua administrasi nya.
"Mbak Riska, apa yang terjadi padamu?" sergah seorang pria tergesa membuka pintu ruang pemeriksaan. Dia mendapatkan telpon dari Kakaknya jika Riska kecelakaan dan sedang berada di rumah sakit.
"Mbak tidak apa-apa, Bayu. Hanya kecelakaan sedikit."
"Sedikit? sampai kaki Mbak di gips begitu. Aku mau tuntut orang yang sudah membuat Mbak begini. Mana dia?" Bayu marah dia mencari orang yang membuat Kakaknya seperti ini namun matanya terbelalak melihat bosnya ada di sana baru membuka pintu dan Nando .sempat terkejut mendengar pria itu ingin menuntutnya
"B-bos Nando! Anda di sini?" Bayu pria berusia 37 tahun itu sungguh tidak mengerti dan tidak tahu apapun. Dia terlalu khawatir pada Kakaknya.
Nando tahu jika pria itu anak salah satu pegawainya di perkebunan. "Maaf, saya yang telah membuat Mbak mu seperti itu. Saya akan menanggung semua biaya pengobatannya sampai benar-benar sembuh." Tutur Nando merasa bersalah.
"Jadi Anda?! ah, maaf. Anda tidak perlu repot-repot pak Bos. Saya sudah bersyukur Mbak saya di bawa kerumah sakit. Saya pikir yang menabraknya bukan Anda makanya saya marah."
"Tidak apa-apa, saya mengerti. Berhubung sudah ada keluarganya. Saya pamit dulu." Nando mengambil dompetnya kemudian mengambil semua lembar uang merah yang ada di dompetnya dan menyerahkannya ke Bayu.
Apa yang dilakukan Nando di perhatikan oleh Riska. [ Astaga! black card. Bukan ada satu tapi juga ada tiga. Sungguh sangat kaya. ]
Bayu melihat uang itu yang mungkin sekitar 1 juta. Dia melirik Riska dan Riska memberikan kode untuk menerimanya. "Tapi pak..."
"Saya mohon terimalah." Pinta Nando memohon. Bayupun menerimanya setelah dapat paksaan dari Nando.
"Makasih, Pak. Semoga rezeki ini bermanfaat."
Nando tersenyum tulus tidak dengan kedua Kakak beradik itu yang merasa kurang. Namun mereka terima. [ Lumayanlah buat jajan ke club ] batin Bayu.
[ Lumayan buat nyewa pisang satu malam ] batin Riska.
__ADS_1
Setelahnya Nando berpamitan pergi. Keduanya memperhatikan kepergian Nando.
"Bagi uangnya, Bay!" pinta Riska setelah Nando tidak ada.
"Kita bagi dua, Mbak." Bayu membagi uangnya Gope-gope. "Lumayan kan, dia itu orang kaya. Mbak harus bisa dapetin dia supaya hidup kita lebih terjamin lagi. Aku capek harus kuli terus," keluh Bayu.
"Mbak juga sama capek kerja di salonorang lain. Di tunjuk-tunjuk mulu. Dia memang kaya terlihat dari kartunya. Dia juga sangat tampan tidak terlihat seperti umur 44 tahun. Mbak ingin dia menjadi suami Mbak."
"Harus itu, aku akan bantu Mbak dapatkan Pak Nando." Keduanya tersenyum smirk.
********
"Mama katanya Ayah Nando akan jemput, ini udah siang banget." Rengek Ferdi kesal menunggu.
"Tunggu sebentar ya sayang. Mungkin sedang terjadi sesuatu sehingga dia belum jemput kita." Bella memberikan pikiran positif untuk anaknya. Padahal dirinya sudah kesal menunggu dari tadi. Bella kembali melihat jam tangan dan rupanya sudah mau setengah dua siang.
Bella menghelakan nafasnya secara kasar. [ Kamu ingkar janji, Nando. Padahal aku baru saja membuka hati untukmu tapi kau sudah membuatku kecewa menunggu selama ini. ]
Karena tidak kunjung datang, Bella memilih menelpon sopirnya saja. Baru saja ingin mengambil ponsel di tas, sebuah mobil berhenti di depannya.
"Bella, Ferdi, maafkan terlambat menjemput kalian. Tadi aku mengalami kecelakaan sampai terlambat kesini." dengan rasa bersalah Nando menatap Bella penuh penyesalan.
"Ayah Nando kecelakaan di mana? apa Ayah Nando baik-baik saja? mana yang terluka?" cerca Ferdi khawatir.
"Ayah baik-baik saja. Tapi orang yang tak sengaja Ayah tabrak harus di tangani kerumah sakit." Nando menatap Ferdi lalu beralih menatap Bella. "Maaf membuatmu menunggu."
Bella memperhatikan mobil Nando apakah benar atau tidak. Dan rupanya mobil bagian depan tergores sedikit penyok. "Yang penting kamu baik-baik saja. Meski aku kesal kelamaan menunggu. Tadinya mau ku batalkan kesempatan mendekatiku..."
__ADS_1
"Jangan dong, sayang. Aku kan tidak sengaja." Nando tidak ingin Bella menarik kesempatan itu.
"Hmmm iya." Bella mengangguk.