
"Kau tahu apa yang telah kau lakukan?" Nando menatap tajam gadis remaja di depannya dengan tangan ia lipatkan di meja.
"Sa-saya tidak salah," ujar Devi tak ingin mengakui.
"Masih saja kau mengelak kesalahanmu, hah? Baiklah, mungkin saya harus tegas kepadamu dan orangtuamu. Antarkan saya kerumah orang tuamu sekarang juga!" ujar Nando dingin kepada Devi.
"Ta-tapi, Pak.."
"Sekarang juga!" Nada bicara Nando sudah naik satu oktaf membuat Devi terlonjak kaget. Sungguh, guru di depannya terdengar menyeramkan.
"Ba-baik, Pak." Devi menunduk mencekal erat tali tas selempangnya. Dia lebih memilih mengiakan daripada kena bentak jauh lebih mengerikan.
Nando belum memberikan keputusan. Dia ingin bicara kepada orangtuanya Devi dan disanalah dirinya akan memutuskan sesuatu.
Keduanya berjalan dengan Devi berada di depan dan Nando di belakang. Banyak pasang mata memperhatikan keduanya begitupun dengan Hasna, Riri, Devano, dan Zahra.
"Sepertinya saat ini dia berada dalam masalah."
"Salahnya sendiri membuat onar."
"Aku ingin tahu hukuman apa yang akan Pak Nando berikan selaku pemilik yayasan ini?"
"Entahlah, mungkin di keluarkan, atau si skorsing sementara memberikan efek jera."
"Tapi, kalau di keluarkan kenapa Devi di bawa ke mobil? Mau kemana mereka?"
"Pak Nando kan guru BK, bisa jadi beliau langsung menegurnya ke orangtuanya."
"Hmmm ada benarnya juga katamu."
Begitulah para murid membicarakan Devi. Mereka yang sempat termakan ucapan Devi segera meminta maaf pada Hasna. Apalagi sekarang mereka sudah tahu membuatnya lebih hati-hati berucap pada anak Pemilik yayasan sekolah ini.
*******
__ADS_1
Konveksi tas
"Mbak Erna, tolong siapkan barang-barang yang sudah siap di pasarkan. Hari ini barang tersebut harus sampai ke pembelinya." Bella tengah sibuk mengecek tas untuk di pasarkan keseluruh konsumen yang ada hampir di seluruh kota.
"Baik, Bu."
Bella menghitung kembali barang-barang nya swteliti mungkin. Takutnya, ada barang yang kurang. Kalau lebih satu tidak membuat Bella keberatan. "Hmmm semuajya sudah siap. Tolong masukkan barang-barangnya ke mobil!"
"Siap, Bu." Jawab para karyawan yang bertugas mengangkut barang ke dalam mobil khusus kantor.
Nanti, barang tersebut akan di sebarkan keseluruh kota sesuai mobil yang bertujuan kesetiap kota.
Merasa semuanya sudah beres Bella memilih pulang. Di perjalanan ia tak sengaja melihat mobil Nando. "Nando, kok jam segini sudah pulang? Mau kemana dia?"
Awalnya Bella acuh, tapi ia malah penasaran ketika melihat seorang gadis remaja yang tidak ia kenal membuatnya ingin mengikuti.
********
"Iya, Pak."
Keduanya turun dari mobil berjalan menuju rumah minimalis satu tingkat yang terlihat indah. Tidak jelek, tidak mewah, sedang-sedang saja.
"Ibu..." panggil Devi pada Ibunya.
"Devi, kau sudah pu...lang.." Ibunya menjawab menoleh kebelakang tapi, perkataannya melemah terkejut ada bos adiknya.
"Mbak Riska! Anda rupanya Ibunya Devi. Kebetulan sekali ya?" Nando menatap melotot seakan terkejut.
"Pak Nando, silahkan duduk, Pak." ucap Riska ramah lalu melirik Devi mengangguk.
"Hmmm." Nando duduk.
"Saya senang Anda datang kesini. Pasti Anda mau menjenguk saya kan?" Riska seakan kegeeran jika kedatangan Nando untuk menjenguknya.
__ADS_1
"Kedatangannya saya kesini untuk berbicara kepada orangtuanya Devi. Dan kebetulan sekali jika itu adalah Anda. Saya hanya memperingati kepada Anda untuk mendidik Devi dengan baik supaya tingkah lakunya tidak merugikan orang lain!" ucap Nando langsung pada intinya. Dia merasa ada gelagat aneh di depannya saat melihat penampilan Riska sedikit terbuka dan tidak terlihat seperti sedang sakit kaki.
Riska berpindah duduk menjadi di samping Nando. "Memangnya apa yang telah anak saya lakukan, Pak?"
Nando merasa risih, dia menggeser duduknya sedikit menjauh dari Riska. "Dia sudah menyebarkan berita hoax. Maka dari itu saya mengskorsing anak Anda selama satu Minggu. Ini surat skorsing." Nando menyimpan surat dari sekolah di atas meja.
Tapi Riska, dia malah menarik kerah baju Nando ke samping membuatnya terjatuh menindih Riska.
Apa yang Riska lakukan membuat Nando terkejut panik. "Hei.. apa yang kau lakukan, hah? lepaskan saya!" Nando berusaha melepaskan cekalan Riska dari kemejanya secara kasar sampai berhasil ia lepaskan lalu berdiri namun, kemeja bagian belakangnya di cekal lagi oleh Riska.
"Saya tahu jika kau kesepian. Aku siap menjadi istrimu."
"Saya tidak sudi menjadikan kau istriku!" pekiknya sambil berusaha melepaskan tangan Riska dari bajunya.
"Kau harus menjadi milikku, tidak akan ku biarkan orang lain memilikimu."
Keduanya saling tarik-menarik, Nando berusaha pergi, Riska berusaha menggoda Nando sampai kemeja bagian belakangnya terkoyak.
"Toloooong... toloooong saya..." pekik Riska tiba-tiba karena kehabisan akal sulit menaklukan Nando.
"Apa yang kau lakukan, Pak?" pekik Devi dari dalam menghampiri.
"Hiks hiks Devi, gurumu berusaha melecehkan ku."
"Apa?!" pekik seseorang. Nando dan yang lainnya menoleh. "Kurang ajar sekali kau..!" sentak Bayu menarik kerah baju Nando menyeretnya keluar rumah.
"Saya tidak melakukan apapun. Dia sudah menuduh saya," ujar Nando membela diri dengan berusaha tenang meski jantungnya berdebar takut orang-orang percaya.
"Dia bohong, Bay. Dia sudah berusaha melecehkan ku. Devi saksinya." Riska semakin menjiwai perannya. Padahal ini adalah idenya Riska untuk mendapatkan Nando. Kapan lagi bisa menemukan orang kaya pemilik perkebunan pula. Bayu dan Devi tidak tahu menahu rencana Riska.
"Kau harus bertanggungjawab atas apa yang telah kau lakukan, Pak. Tindakanmu itu tidak senonoh," sergah salah satu warga yang kebetulan mendengar suara ribut-ribut minta tolong.
"Tunggu...!"
__ADS_1