Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Pendekatan


__ADS_3

Calista sudah sampai di depan rumah Bella dan langsung mengantarkan Bella ke depan teras. "Kak, aku pamit dulu karena ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongan. Salam buat Hasna ya."


"Aku juga pamit karena sebentar lagi aku mulai bekerja," timpal Mira. Mira bekerja di rumah sakit yang Calista tempati sebagai perawat dan kebagian shift sore.


"Kalian hati-hati. Kakak doakan semoga kalian sukses dunia akhirat," doa tulus dari Bella untuk keduanya.


"Aamiin," dan di amiinkan oleh kedua gadis tersebut.


Jhon terus memperhatikan sampai dimana Calista dan Mira pergi dari rumah Bella. Setelah di rasa aman, Jhon pun segera memencet bel rumah Bella.


Baru saja Bella duduk, bel rumah sudah kembali berbunyi. "Bi, tolong lihat siapa yang bertamu!" pinta Bella ramah.


"Bi Sri nya sedang belanja ke supermarket, Bel. Biar Mama saja yang buka." Elsa yang baru keluar dari kamar Hasna pun berjalan ke arah pintu.


"Ma, Hasna mana? apa dia tidur?"


"Hasna ada di kamar sedang belajar menggambar," jawab Elsa sambil membukakan pintu. Seketika tubuhnya mematung, matanya menatap tak percaya melihat pria yang membuat Bella melahirkan Hasna. Namun kali ini Jhon memakai kacamata bulatnya.


"Jhon...!" gumam Elsa terkejut.


"Sore, Tante. Apa kabar?" sapa Jhon gugup, dia mengulurkan tangannya kepada Elsa namun malah di tepis secara kasar.


"Pergi kamu dari sini! Kami tidak ingin bertemu denganmu lagi!" tolak Elsa tegas.


"Tante, aku mau minta maaf sama Bella dan tolong izinkan aku bertemu dengannya." Jhon berharap Elsa mau memberikan kesempatan untuk menebus setiap kesalahan yang pernah ia lakukan dulu. Dia tidak mau hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah.


"Saya tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Bella!" tunjuk Elsa menatap tajam Jhon.


"Ma, siapa yang bertamu? kenapa tidak di suruh masuk?" Bella menghampiri keduanya menatap kosong ke depan.


"Aku Nando, Kakaknya Calista," Jhon berkata jujur.


"Kamu, ada apa? saya rasa tidak ada yang terlalu penting kayaknya?" Bella mengkerutkan dahinya merasa bingung kenapa Nando ada di rumahnya.


"Aku ingin mengajak kamu makan malam, jangan salah faham dulu, aku di suruh Calista mengajak kamu," ucap Nando. "Maafkan Kakak meminjam namamu, Dek." batin Nando.

__ADS_1


"Kok, Calista tidak bilang apapun, ya? padahal barusan kita bareng."


"Karena barusan Calista menelpon saya, jadi saya memberitahukan nya ke kamunya sekarang," balas Nando meyakinkan Elsa dan Bella untuk percaya. Padahal ini hanya akal-akalan Nando saja.


"Oh, gitu. Nanti aku datang bareng Hasna. Tolong sampaikan terima kasih ku kepada adikmu karena sudah mengundang kami." Bella tak curiga sedikitpun kepada Nando. Kalau Calista baik, Kakaknya pasti baik begitu pikiran Bella.


Jhon tersenyum tipis merasa senang Bella mau di ajak makan malam. "Nanti aku jemput kamu, kalau gitu saya pamit dulu, Tante, Bella." Jhon pun pamit setelah mencium tangan Elsa.


Elsa sempat bingung dengan perubahan Jhon yang terlihat semakin sopan kepadanya. "Bel, apa kamu percaya sama pria tadi? bisa saja dia punya niat jahat sama kamu."


"Kata Calista, Kakaknya sangat baik dan jujur, aku yakin dia juga tidak berbohong atau punya niatan buruk kepadaku."


"Kamu tidak tahu saja kalau dia adalah Jhon," batin Elsa menuntun Bella masuk ke dalam.


"Semoga apa yang kamu katakan benar, tapi Mama minta kamu jangan terlalu percaya sama orang terutama pria."


"Iya, Ma. Aku pasti akan berhati-hati dan akan ingat nasehat Mama."


****


"Dim, gue mau bicara soal Bella sama loe!" Nando menghampiri Dimas di tempat pangkalan ojek.


"Darimana loe kenal Bella? kenapa kalian begitu akrab dan kenapa kalian terlihat seperti memiliki hubungan?" tanya Nando penasaran.


Dimas menaruh handphone nya di samping kemudian mendongak menatap Nando. "Dia wanita yang Syafira titipkan kepada gue. Gue harus jaga dia dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Kemungkinan besar orang yang dulu ingin menyakiti Bella akan kembali menemukan Bella. Maka dari itu gue usahakan selalu ada untuknya. Gue hanya menjalankan tugas saja, tidak lebih." Jawab Dimas secara jujur.


"Maksudnya loe jadi bodyguard Bella dengan dalih sebagai tukang ojek atau partner kerja? lalu siapa yang ingin menjahati Bella?" tanya Nando bingung.


"Ya, gue bodyguard Bella dan gue bekerja di bawah naungan Syafira. Kalau untuk orang yang ingin menjahati Bella, gue sendiri tidak tahu siapa orangnya karena Syafira hanya bilang tolong jaga Bella. Gitu katanya," jawab Dimas kembali mengambil handphone nya.


"Nando, apa kau tahu pria yang di sukai adikmu?" tanya Dimas tiba-tiba.


Nando mengernyit, "Mana gue tahu, loe yang selama ini dekat dengannya pasti loe juga tahu pria itu."


Dimas membuang nafas secara kasar, "Dia sulit di tebak."

__ADS_1


"Kalau loe suka dia, kejarlah! Gue dukung loe!" Nando menepuk-nepuk pundak Dimas mendukung penuh hubungan keduanya.


****


"Ma, emangnya kita mau kemana?" tanya Hasna sudah cantik dan siap pergi.


"Kita di undang makan malam sama Tante Calista, sayang. Kamu mau kan ikut Mama?" Bella dan Calista sedang menunggu jemputan.


"Iya, Ma. Aku mau ketemu Tante Dokter," jawab Hasna riang.


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Bella, dan Bella yakin kalau itu adalah jemputannya. "Om Nando sudah datang sayang, ayo kita ke depan!" ajaknya menuntun Hasna. Elsa pun mengikuti langkah keduanya dari belakang. dan ternya benar, itu adalah Nando.


Hasna menatap wajah Nando begitupun sebaliknya. Hasna langsung menyembunyikan tubuh kecilnya ke belakang Bella antara enggan dan rindu bertemu sang Ayah.


"Sayang, kenapa ngumpet ke belakang?" tanya Elsa dan di balas gelengan oleh Hasna.


"Wajah anak ini seperti diriku, apa mungkin dia? aku harus memastikannya," batin Nando penasaran. Ada rasa yang sulit di jabarkan saat melihat wajah anak kecil yang ada di hadapannya. Hatinya terasa menghangat dan ada rasa sakit secara bersamaan.


"Kita berangkat, apa kamu mau Om gendong?" Nando berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Hasna. Hasna tak menjawab melainkan menatap rindu sosok Ayah yang hanya bisa di pandang lewat Foto.


Elsa tahu keinginan cucunya, dan Bella, dia masih belum menyadari atau lebih tepatnya tidak mengingat siapa Ayah Hasna.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan. Hasna berat lho," ucap Bella tak dapat melihat situasi yang terjadi.


"Apa boleh, Nek?" Hasna menatap Elsa polos. Gadis kecil itu begitu ingin di gendong Ayahnya.


Elsa menjadi tidak tega dan ia mengangguk.


"Aku mau di gendong Ayah," lirih Hasna takut masih menyembunyikan tubuh kecilnya di belakang Bella.


"Hasna....!" Bella merasa tidak enak hati terhadap Nando. "Maafkan kelancangan putri saya, Tuan. Mungkin dia sedang merindukan Ayahnya sampai menyebut anda Ayah."


Entah kenapa Nando merasakan sesak, ia merasa tidak terima ada pria lain yang mendekati Bella. Nando mengulurkan kedua tangannya meminta Hasna mendekat.


Perlahan Hasna mulai mendekati uluran tangan Nando dan tanpa di duga gadis kecil itu langsung menghambur kepelukan Nando.

__ADS_1


Nando tertegun, "Perasaan ini....?"


Bersambung....


__ADS_2