
Waktu terus berlalu, siang berubah malam, matahari berganti bulan dan bintang, dan di setiap malam Minggu, Bella selalu ke club malam mencari mangsa lelaki tampan dan juga mapan. Dua bulan sudah, wanita yang sudah tak gadis lagi menjadi pemuas lelaki hidung belang.
"Terus cantik..! sssttt...ah...," kata sang lelaki yang Bella layani.
Bella semakin mempercepat pergerakannya sampai dimana lelaki itu mengeluarkan sekental mayonaise. Dia langsung saja turun dan secepatnya berlalu meninggalkan pelanggannya setelah sang pria terlelap.
Di dalam kamar mandi, Bella terus membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower sesekali menggosok badan. Dia kembali menangis diam dan mengingat kembali setiap perlakuan Jhon kepadanya. "Tuhan, aku tidak ingin seperti ini terus. Aku ingin mengakhirinya, aku ingin hidup damai tanpa bayangan dia, tanpa menjadi Bella sang wanita malam," jerit batinnya.
Lelah hati, lelah pikiran, lelah badan, itulah yang Bella rasakan. Hati terasa lelah terus berharap dan terus mengejar cinta dari pria yang sudah menyakitinya. Pikiran pun ikut lelah di kala terus memikirkan cara keluar dari dunia malamnya dan cara untuk melupakan sang pemilik hati. Badan juga tak kalah lelah di saat harus dipaksa keadaan melayani sang pelanggan.
Hidup yang ia pilih terasa hampa dan tidak tenang, hidup yang ia jalani tak seindah kenyataan yang selama ini ia bayangkan.
Setelah selesai menjalankan ritual mandinya, Bella bergegas pergi menemui pemilik club. Dia sudah memutuskan untuk keluar dari dunia malamnya, dia berharap dengan berhentinya jadi sang wanita panggilan akan sedikit meringankan beban pikiran.
Tok..tok..tok
Jari lentik milik Bella mengetuk pintu ruangan dimana sang pemilik tempat hiburan malam berada.
"Masuk!" kata seorang wanita dari dalam.
Bella memberanikan diri masuk kedalam meski ia gugup dan takut jika permintaannya tidak di kabulkan.
"Bella, ada apa kau kemari?" wanita yang sering di sebut madam pun memberhentikan hisapannya dan mematikan sekuntung rokok.
Bella duduk terlebih dulu mengatur napas dan memikirkan setiap kata yang ingin ia utarakan kepada sang Madam.
"Ada apa? bicaralah!"
Bella membuang nafasnya secara kasar. "Sebelumnya aku ingin minta maaf, aku ingin berhenti dari pekerjaanku ini, Madam." Kata Bella mantap dengan keputusannya.
"Saya tidak bisa mencegah kamu lebih lama lagi di sini, saya juga tidak berhak mengatur hidupmu. Ini pilihanmu dan ini keputusanmu, maka dari itu, saya membebaskanmu dari sini. Semoga setelah keluar dari sini hidupmu mendapat ketenangan dan kebahagiaan." Pemilik club tidak memaksa Bella karena sebelum Bella bekerja, Bella sudah menjelaskan niatnya dan juga bercerita kenapa dia memilih menjadi wanita bayaran.
Hati Bella terasa lega setelah mendengar penuturan sang Madam, senyum kebahagiaan kembali terpancar di wajahnya. Meski sudah keluar dari sini, ia harus menghadapi resiko kedepannya. Bella sudah tahu apa resiko yang akan terjadi setelah keluar dari dunia malam. Tapi, sebisanya Bella akan menyembunyikan perihal masa lalu dirinya dari semua orang.
"Terima kasih, Madam. Kalau gitu aku pamit dulu, ada janji ketemu Mama di mall bareng teman arisannya." Bella berpamitan dan dia langsung memeluk sang Madam sebagai ucapan terima kasih karena sudah membebaskannya.
"Sama-sama, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan dan mendapatkan cinta yang tulus menerima kamu apa adanya," doa Madam tulus dari hatinya.
__ADS_1
"Amiin." Bella tersenyum lalu pergi dari sana.
****
"Mah, maaf telat. Di jalan macet soalnya." Bella menghampiri tempat dimana Elsa berada dan bergabung bareng teman arisan Elsa.
"Tidak apa, kami juga tahu kalau kota J selalu macet," balas Bu Ratih.
"Ini Bella anak kamu, Sa?" tanya seorang wanita lebih berumur dari Elsa.
"Benar, nyonya. Dia putriku satu-satunya."
"Cantik sekali, cocok buat cucuku Reyhan." Balas Saras teman arisan Elsa dan Ratih.
"Emangnya cucu nyonya Saras belum menikah?" kali ini Ratih yang bertanya.
"Belum, padahal sudah berusia 27 cukup matang buat menikah. Entah sampai kapan cucuku jomblo terus." Saras sedikit bercerita mengenai Reyhan dan berniat akan menjodohkan cucunya dengan Bella.
"Apa Bella sudah punya pacar?" Saras bertanya, matanya menatap penasaran.
Batinnya berkata, "Aku harus buat Reyhan bertekuk lutut. Dia tampan dan juga mapan, dan aku harus bisa menaklukannya."
"Kebetulan sekali, gimana kalau Rey sama Bella kita jodohkan, Elsa?" usul Saras kepada Elsa.
"Hmmm saya setuju, Nyonya Saras. Rey pasti beruntung mendapatkan Bella. Sudah cantik, body-nya bagus, pernah jadi model, anak orang kaya, dan yang pasti masih gadis. Iya, kan, jeng Elsa?" timpal Ratih.
"Iya, dong, jeng Ratih. Anak saya memang yang terbaik untuk di jadikan mantu," kata Elsa membanggakan diri.
Bella sendiri hanya diam, dalam hati tersenyum sinis menertawakan dirinya sendiri. "Ku sudah tak gadis lagi," batin Bella sambil terus bermain handphone.
"Eh, tapi kalian harus hati-hati terhadap janda muda yang ada di kampung saya. Dia janda murahan suka menggoda pria kaya dan dan juga pelakor." Ratih memberitahukan perihal janda muda yang mengontrak di rumah pak RT.
"Harus hati-hati, tuh. Sekarang memang banyak pelakor," ucap Saras.
Dan mereka mengobrol ngaler ngidul kesana kemari membahas apa saja. Saras pamit duluan meninggalkan ketiganya sedangkan mereka bertiga berkeliling untuk shoping.
Saat sedang berjalan, tak sengaja tubuh Bella di tubruk oleh seorang anak kecil dan ice cream yang di bawa anak itu mengotori bajunya.
__ADS_1
Bruukkk....
"Maaf Tante!" ucap anak kecil menyesal.
Muka Bella sudah merah karena marah, dia mengibaskan pakaiannya yang ternoda pakai tangan.
"Maaf maaf, ini baju gue jadi kotor, jalan yang bener," bentak Bella tak terima baju mahalnya ternoda.
"Anak siapa sih nih? bandel banget," tanya Elsa.
Sampai dimana seorang wanita muda berparas cantik bak boneka hidup seputih susu menyebut anak kecil itu anaknya.
Bella sampai terpesona melihatnya, meski dia perempuan namun dia mengakui kecantikan wanita itu.
Bella, Elsa, dan Bu Ratih malah membuat keributan di mall dan terus mengatai bahkan menghina penampilan janda muda itu. ( part keributan ini ada di bab 20 BUKAN JANDA BIASA (Hanya status) )
****
Di kantor, Mahendra terus marah-marah. Perusahaannya mulai mendapatkan masalah karena sebagian para investor menarik kerjasama nya. "Ini pasti ulah Aurel," bantinnya.
"Jhon, Pokoknya saya ingin kamu menghabisi Syafira secepatnya. Saya tidak mau dia lebih lama lagi berada di kota ini, kehadirannya membahayakan perusahaan milik saya."
"Sebenarnya kenapa Anda begitu ingin melenyapkan dia, Bos?" tanya Jhon memberanikan diri karena penasaran tentang masalah Mahendra dan Syafira.
"Jangan banyak tanya kamu! Lakukan saja perintah saya atau adikmu akan saya jadikan wanita malam!" Mahendra kembali mengancam menggunakan adik Jhon.
Mau tak mau Jhon harus mengikutinya demi keselamatan sang adik. "Baiklah, saya akan melakukan perintah Anda. Tapi saya mohon jangan Anda sentuh adik saya!" pinta Jhon.
"Hmmmm." Hendra menjawab dengan deheman dan mengibaskan tangannya menyuruh Jhon pergi.
Hati Hendra berkata, "Ampuh juga, padahal sekarang saya tidak tahu keberadaan adiknya dimana."
Bersambung....
Bingung ya?
Sama, saya juga bingung sendiri. 🤦
__ADS_1