Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
Gelap


__ADS_3

"Awaaaaas....!!"


Ssssssttttt.... brraaakkkk


Kecelakaan pun tak dapat terhindarkan. Gadis yang di tolong Bella terduduk mematung menyaksikan tubuh wanita yang menolongnya terpental jauh dengan darah mengucur dari.


Orang yang ada di sana segera membawa Bella, para pegawai pun ikut membantu mengantar bos nya ke rumah sakit.


"Dek, kamu ikut juga kerumah sakit. Takutnya kamu juga ada yang terluka," ucap salah satu pegawai Bella.


Gadis itu mengangguk menatap kosong dan segera kerumah sakit untuk memastikan keadaan wanita yang menolongnya.


****


"Intan, dimana Bella? bagaimana keadaannya? bagaimana dia bisa tertabrak? lalu dimana orang yang telah menabraknya?" Elsa baru saja tiba dan langsung bertanya penuh kekhawatiran.


"Bella masih di dalam sedang dalam pemeriksaan, Bu."


Gadis yang Bella tolong diam tertunduk takut. Ia telah di periksa dan tidak terluka sedikitpun. Elsa melihat gadis yang tidak di kenalnya dan menghampiri lalu duduk di sampingnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Elsa sudah tahu kejadiannya dari Intan.


"Ma maafkan saya Tante, karena menolong saya dia kecelakaan," dia masih menunduk takut, namun matanya sudah berderai air mata.


"Ini sudah takdir, yang penting kamu baik-baik saja." Elsa menenangkan gadis muda itu padahal hati dan pikirannya begitu khawatir akan kondisi sang anak, sampai dimana sang dokter keluar dari ruangan operasi.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Elsa segera berdiri dan langsung bertanya, para pegawai Bella juga merasa penasaran.


Dokter membuang nafasnya secara kasar. "Sebelumnya saya minta maaf, kecelakaan yang anak anda alami membuat tulang kaki kirinya retak berkeping-keping dan kemungkinan berjalan normal sangat minim. Sedangkan benturan keras di kepalanya menyebabkan kornea mata anak Ibu rusak, dan kemungkinan yang terjadi anak Ibu tidak akan bisa melihat."


Elsa membekap mulutnya tak percaya, "Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan untuk putriku?" batin Elsa.


Gadis itupun merasa bersalah karenanya Bella harus celaka.


Setiap hari Elsa dan Hasna senantiasa berkunjung untuk melihat perkembangan Bella. Begitupun dengan gadis yang telah di tolong Bella sering berkunjung.


"Tante, aku benar-benar minta maaf."

__ADS_1


"Tidak apa, Mira. Ini murni kecelakaan dan kalaupun Bella tidak menolongmu pasti sekarang kamu yang sedang terbaring di sini."


Tangan Bella bergerak, Hasna sempat melihatnya. "Nenek, tangan Mama bergerak..!" Hasna segera menghampiri Bella dan terus melihat pergerakan tangan Mamanya.


"Bella..!" Elsa dan Mira juga mendekat.


Bella perlahan membuka matanya, namun ada yang aneh dengan penglihatannya.


"Bella, kamu sudah sadar sayang?" kata Elsa bahagia.


"Mah, aku kangen Mama," sahut Hasna.


"Mah, apa di sini mati lampu?" tanya Bella.


Elsa dan Mira saling lirik, keduanya bingung. "Tidak, Nak. Di sini terang sekali bahkan di luar panas," ucap Elsa.


"Mah, tapi kenapa aku tidak melihat apa-apa?" Bella sudah panik, dia meraba-raba keberadaan Elsa dan Hasna. "Hasna, kamu dimana sayang?"


"Aku di sini, Mah." Hasna memegang tangan Mamanya. "Nek, Mama kenapa?" Hasna sudah berkaca-kaca.


Elsa dan Mira berkaca-kaca, "Tante," ucap Mira takut.


Elsa mengusap pundak Mira dan berkata, "Kita panggil dokter..!"


Setelah beberapa lama, Dokter telah selesai memeriksa keadaan Bella. "Benturan keras di kepala mengakibatkan kerusakan pada kornea mata sehingga menyebabkan kebutaan. Kemungkinan melihat lagi sangat sulit dan jika ingin melihat lagi hanya bisa dilakukan dengan donor mata."


"Ya Tuhan...!" Elsa meneteskan air mata, begitupun Mira. Gadis itu semakin bersalah karena dirinya Bella sampai seperti itu.


Bella diam mendengarkan setiap penuturan dari Dokter, "Aku buta. Apa ini hukuman darimu adas dosa-dosa ku dulu, ya Tuhan? jika itu benar, aku ikhlas menerima hukuman ini," batin Bella berusaha tabah.


FLASHBACK END


"Mama, Abang Felix jahat. Kelinci aku di ambil." Pekik Hasna membuyarkan lamunan Bella. Dia bisa mendengar Hasna sedang berlari mengejar Felix.


"Ini punya Abang, Abang bawa pulang saja ke rumah, ya?" Dengan isengnya Felix memangku kelinci Hasna dan pura-pura ingin membawa kelincinya.


"Itu punya aku, Abang sendiri yang ngasih sebagai hadiah ultah aku tahun kemarin. Abang balikin, ih!" Hasna terus mengejar, wajahnya cemberut lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


Para orang tua hanya tersenyum melihat keisengan Felix. Sedangkan Anin terus menatap Bella dari jauh. "Semoga ini bisa menghilangkan rasa sedih yang Mama rasakan." Anin dan Felix bisa mengetahui kesedihan Bella, makanya Felix berbuat iseng pada Hasna untuk sedikit menghibur Bella.


****


Jhon perlahan mengetuk pintu rumahnya yang dulu, sudah beberapa kali tidak ada yang jawab dan rumahnya terlihat kosong.


"Calista, Kakak pulang, Dek! Buka pintunya..!" Jhon terus mengutuk pintu. Lagi dan lagi tidak ada yang menjawab.


"Nando, ini kamu?" ucap Dimas salah satu teman baik Jhon.


"Dim, iya, ini gue Nando. Hmmm Adek gue kemana ya, kok dari tadi tidak di jawab?" Nando langsung saja bertanya di karenakan sudah penasaran.


"Emangnya loe tidak tahu kalau Calista sudah pindah dari sini?"


"Pindah?! gue saja baru pulang, mana gue tahu dia pindah. Sudah hampir satu tahun gue tidak komunikasi sama dia." Nando bingung dan cemas dimana keberadaan adiknya.


"Ck, Kakak macam apa kau ini. Membiarkan adeknya sendirian di dunia yang penuh pro dan kontra. Untung ada si Bos melindunginya, jadi adekmu aman terkendali." Dimas mencibir Jhon, dia tahu kemana Jhon selama ini karena Dimas salah satu anak buah Syafira.


"Jangan banyak ngoceh, Dim. Mending loe bawa gue ke rumah Calista sekarang juga!" ajak Jhon menaiki motor Dimas dan menepuk-nepuk pundaknya. "Jalan!"


"Iya, ya, gue jalan." Dimas pun menjalankan motornya menuju perumahan dimana Calista berada.


"Kita gak salah masuk, ini perumahan elite?"


"Kagak, ini udah bener jalur kerumah Calista." Dimas memberhentikan motornya di depan rumah minimalis modern dua tingkat bernuansa putih dan hijau. "Sudah sampai, masuk gih! Gue ada urusan dulu."


Baru saja Dimas mau berangkat Calista keburu keluar. "Kak Dimas mau jemput aku ya?" suaranya memelan saat matanya tertuju kepada pria yang ia kenal.


Matanya berkaca-kaca, ada rasa rindu menyeruak ke dalam relung hati melihat pria yang selama ini ia tunggu. "Kak Nando..!" bibirnya bergetar hanya menyebut namanya saja.


Sama halnya dengan Jhon yang juga berkaca-kaca melihat gadis manis berpakaian jas putih. "Calista, Abang pulang, Dek."


Calista langsung saja berlari dan memeluk tubuh Kakak yang sangat ia rindukan. "Aku merindukanmu, Kak. Kenapa Kakak baru pulang sekarang? kemana saja selama ini? kenapa hanya uangnya saja yang pulang? Bahkan Kak Nando tidak datang di hari perpisahan dan di hari wisudaku. Kakak jahat, Kakak tidak sayang sama Lista, Kakak pergi ninggalin Lista sendirian di rumah." Calista menumpahkan rasa kesal, marah, rindu, dan rasa kecewa kepada Kakak satu-satunya. Gadis itu sudah menangis tersedu di pelukan sang Kakak.


"Maafkan Abang, Dek. Maaf." Jhon tak dapat berkata apapun sebab ia salah telah meninggalkan adiknya demi misi yang tidak masuk di akal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2