
POV BELLA
Akhir-akhir ini aku merasakan lelah, letih, lesu, lemah, lunglai dan terkadang juga kepala sering pusing ingin muntah. Seperti halnya hari ini, saat menemani Nenek Saras membeli perhiasan badanku terasa lelah, pusing dan perutku terasa sakit.
Aku dan Nek Saras terus berkeliling Mall untuk berbelanja menghilangkan rasa stress yang ku rasa. Saat ini pikiranku sedang kacau dan hatiku sedang dalam keadaan rapuh atas apa yang ku lihat di kantor Papa.
Aku mengabaikan rasa sakit dan pusingku sebab ku memiliki riwayat sakit maagh dan aku berpikir itu adalah gejala sakitku. Akan tetapi, setelah sampai rumah perutku semakin tambah sakit. Aku bertanya keberadaan Mama kepada asisten rumah tangga paruh waktu.
"Bi, Mama dimana?" aku menghampiri ART ke tempat penggosokan baju dan bertanya mengenai Mama.
"Tadi sih Ibu bilangnya mau ketemu teman-teman sosialitanya, Non." ART yang sedang menyetrika sejenak memberhentikan kegiatannya.
"Oh, ya udah, makasih ya, bi."
"Sama-sama, Non." ARTpun kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dalam perjalanan menuju kamar, tanganku terus memegang perut. Entah kenapa rasanya semakin sakit dan terasa keram. Aku bingung karena tidak biasanya perutku sesakit ini. Aku tak bisa melanjutkan langkahku dan malah menyenderkan punggungku ke dinding.
"Bi, tolong aku..! Perutku sakit, bi...!" aku terus memegang perutku dan berteriak meminta tolong kepada orang yang ada di rumah.
"Bi....tolong...!"
"Astaga, non! Apa yang terjadi?" bibi menghampiriku dan berusaha membantu.
"Aku tidak tahu, perutku sakit, bi..." ringisku mencengkram kuat perutku.
"Kita kerumah sakit saja, non. Bibi takut sakit maagh non semakin parah." Ajak bibi sambil memapahku dan membawaku kerumah sakit untuk memeriksa lebih lanjut penyakitku ini.
Akupun tak memiliki pikiran negatif dan mengiakan ajakan bibi. Aku dan bibi berangkat menggunakan taksi karena kebetulan ada taksi lewat depan rumah kami.
Ketika sampai rumah sakit, bibi mendaptar sedangkan aku langsung dibawa oleh suster untuk di tindak lanjuti.
"Halo, Bu. Anu...non Bella sedang di rumah sakit. Perutnya katanya sangat sakit, Bu." Bibi langsung menelpon Mama memberitahukan perihal keberadaanmu.
"Ya, sudah. Aku kesana sekarang. Bibi pulang saja dulu dan lanjutkan pekerjaannya biar Bella saya yang urus." Jawab Elsa di sebrang telpon.
"Baik, Bu. Kalau gitu saya tutup dulu." Bibi mematikan telponnya dan sempat izin padaku sebelum aku benar-benar di periksa lebih lanjut.
Saat bibi sudah pergi, datang seorang dokter perempuan dan mulai memeriksa keadaanku. Aku tak bisa berkata apapun ketika mengetahui hasilnya. Dokter bilang, kalau aku hamil tiga Minggu. Akibat kelelahan serta sedang banyak pikiran menyebabkan kram di perut.
__ADS_1
Aku bingung harus bicara apa? aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.
"Selamat ya Bu, Anda sedang mengandung buah hati Anda. Sekarang usianya baru 3 Minggu. Keram perut terjadi akibat anda terlalu banyak beraktifitas dan banyak pikiran sehingga membuatnya kelelahan. Untungnya janin anda kuat sehingga masih bisa terselamatkan. Saya harap Anda dan suami Anda harus lebih ekstra menjaganya." Tutur sang dokter wanita setelah memeriksa Bela setelahnya dokter itu pamit keluar.
Bela diam, dia masih syok kala dirinya dinyatakan hamil. Dia tidak menyangka bahwa apa yang telah dilakukannya membuahkan hasil.
POV BELLA END
"Anak siapa dia Bela?" tanya Elsa baru saja masuk dan dia mendengar semua yang di bicarakan oleh dokter. Elsa datang setelah mendengar laporan dari asisten rumah tangganya bahwa anaknya di bawa ke rumah sakit.
Deg...!
"Ma Mama!" Bela semakin terkejut melihat ibunya berada di sana. "Apa Mama mendengar perkataan dokter tadi?" batin Bella panik sebab orang tuanya tidak tahu apapun mengenai dirinya.
Elsa menghampiri anaknya dan mencengkram kuat kedua bahu sang anak. "Jawab Mama! Anak siapa yang kau kandung? siapa pria itu?" Elsa bertanya penuh penekanan dan Bella menggeleng.
"Maksudmu menggelengkan kepala apa?" Suara Elsa semakin meninggi menatap tajam sang anak satu-satunya.
Bella menunduk tak berani menatap wajah mamanya. Mata dia sudah ingin menangis menahan cengkraman yang semakin kuat.
"Jawab, Bella! Kau punya mulut untuk bicara lalu kenapa kau malah diam saja, hah?" bentak Elsa menggoyangkan tubuh Bela.
Elsa syok, cengkraman nya melemah dan terlepas dari pundak Bela. "Ka kamu tidak tahu siapa ayahnya? bagaimana bisa? apa kamu melakukannya bukan hanya dengan satu pria?" tanya Elsa mulai mencurigai anaknya.
Bella hanya diam tidak menjawab, namun air matanya sudah mulai berjatuhan.
Keterdiaman Bella membuat Elsa yakin jika sang anak sering melakukan dengan banyak pria.
Plak....
Tiba-tiba saja Elsa menampar pipi Bella. "Mama tidak pernah mengajarkanmu menjadi wanita liar! Mama selalu menyuruhmu menjaga kehormatanmu untuk suami mu kelak. Tapi kau, kau malah seperti ini?" bentak Elsa merasa gagal menjadi ibu dan menjaga anaknya.
Sejahat-jahatnya Elsa, seliciknya dia, prinsip nya satu kehormatan wanita untuk suaminya.
"Maafkan aku, Mah. Aku menyesal." Lirih Bela menyesali perbuatannya
"Percuma kau meminta maaf, maafmu tak akan mengembalikan semuanya. Mama terlanjur kecewa padamu."
Bella menangis sesegukan, dia tidak tahu harus bagaimana lagi. "Aku harus bagaimana dengan anak ini? aku tidak mau dia lahir tanpa ayah yang jelas," lirih Bella di sela tangisannya.
__ADS_1
"Siapa orang yang terakhir kali tidur denganmu?" tanya Elsa melemah.
Bella diam, namun masih sesegukan. Dia mengingat siapa orangnya. "Jhon, terakhir kali aku melakukannya dengan Jhon saat di pantai. Dan aku sudah berhenti selama tiga bulan dari duniaku. Aku yakin ini anaknya Jhon" batin Bella.
"Kamu mengingatnya?" tanya Elsa lagi.
Bla mengangguk, ia ragu untuk mengatakannya.
"Siapa dia? jawab jujur pertanyaan Mama!" desak Elsa.
"Jhon. Se selama dua bulan ini a aku melakukannya hanya dengan Jhon saja." Dengan gugup dan terbata, Bella berkata jujur.
Elsa memejamkan mata menarik nafas dan membuangnya. "Kita minta pertanggung jawaban padanya. Walau bagaimanapun juga janin yang kau kandung adalah anaknya. Kita ke kantor Papa sekarang!"
"Tidak, Mah! Jangan ke kantor Papa! Aku tidak mau Papa tahu dan marah," cegah Bela. Bela yakin Mahendra akan murka jika tahu dirinya hamil.
Pembicaraan mereka sempat di dengar oleh Tiara. Tadi dia berniat ke kantor namun di jalan malah melihat Elsa tergesa dan ngebut menjalankan mobil. Tiara penasaran lalu mengikutinya dan dia syok mendengar apa yang barusan keduanya bicarakan. Tiara menyeringai, dia sudah merencanakan sesuatu.
****
Kantor
Jhon memberikan barang-barangnya dan bersiap pulang ke Apartemen.
"Jhon."
Jhon mendongak, "Kau, ngapain kau kemari?" tanya dia dingin.
"Lihat ini..!" Bukannya menjawab, Tiara malah menaruh beberapa lembar foto di atas meja Jhon dan Jhon menatap fotonya.
Seketika rahangnya mengeras, darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Foto itu menunjukan Bella sedang berada di club malam dan sedang berci*man, bahkan ada juga yang sedang tidur bareng beberapa pria yang berbeda.
Tiara mendapatkan semua itu dari detektif yang ia sewa.
"Dia sangat murahan bukan? dan saat ini Bella sedang hamil anak salah satu pria teman ranjangnya dan dia akan menjadikanmu kambing hitam untuk mempertanggungjawabkan kehamilannya," Tiara menyeringai.
Dan ada panggilan masuk ke handphone nya. Dia mengangkat panggilan dari Elsa lalu menentukan tempat mereka bertemu.
Bersambung....
__ADS_1