
Bugh...
Pukulan keras mendarat di pipi kiri Adit sampai Adit menolehkan wajahnya kesamping.
"Astaga....!" pekik Bella membekap bulutnya terkejut. Dia bisa mendengar jelas kalau ada seseorang memukul.
"Jangan pernah kau memaksa Bella menerimamu, ataupun mengatakannya murahan, brengsek!" sentak Nando menunjuk Adit.
"Nando..!" gumam Bella.
"Siapa kau yang berani mengatur hidukpu? terserah saya mau memaksa atau tidak karena dia memang muarahan," balas Adit tak mau kalah.
"Jaga ucapanmu!" bentak Nando.
"Adit benar, Jhon. Bella memang murahan!" kata seorang wanita menghampiri ketiganya.
Nando menoleh, dia terbelalak melihat Tiara ada di sini, dan Bella menajamkan pendengarannya untuk mendengar jelas siapa pemilik suara itu.
"Tiara..!" ucap Nando.
"Ternyata dunia pernovelan sempit, ya. Kita berjumpa lagi di sini, di kota ini." Tiara duduk dan melipatkan kedua tangannya di dada.
"Apa tujuanmu mengatai Bella murahan?" sentak Nando.
"Aku hanya bicara apa adanya, kok. Apa kau tidak ingat kalau dia pernah beberapa kali tidur denganmu, Jhon. Apa kau tidak ingat kalau dia sering melayani Om-om ketika di kota J, Jhon?" ucap sinis Tiara.
Kepala Bella semakin sakit saja berusaha mengingat-ngingat yang terjadi.
"Cukuuup...! Jangan kau pernah ungkit masalalu Bella!" sentak Nando tak terima.
"Kenapa? bukankan kau juga ikut menikmati tubuhnya, Jhon!" Tiara menekankan kata Jhon mengingatkan Bella akan nama itu.
"Kau yang menghamilinya, kau juga yang tidak mau mengakuinya, Jhon. Apa kau ingat itu?"
Bella semakin memegang kepala yang terasa semakin sakit, "Jhon...Jhon...Jhon..." Bella semakin pusing saat nama Jhon terus berkeliaran di benaknya.
"Jhon tolong aku..! aku tidak ingin menjadi pelayan Papaku."
"Dia anakmu, Jhon. Aku yakin dia anakmu."
__ADS_1
"Tidak mudah bagiku melupakan yang terjadi, Jhon."
"Anggap saja tidak terjadi sesuatu diantara kita, Jhon." Ingatan demi ingatan terus berputar di kepalanya. Setiap peristiwa yang terjadi di play kembali mengingatkan memori-memori yang sempat hilang.
"Aaaaaaaa sakiiiit....." teriak Bella sampai terhunyung ke belakang.
Nando yang melihat Bella ingin jatuh langsung merangkul pinggangnya. "Bella kamu kenapa? jangan buat ku khawatir, Bel." Nando sangat khawatir akan keadaan Bella.
Tiara sudah menyeringai, perlahan ia mundur dan menarik Adit dari sana meninggalkan keduanya tanpa pamit.
"Bel, kita kerumah sakit, ya." Nando ingin membawa Bella namun tubuhnya malah di dorong secara kasar membuat Nando mundur beberapa langkah.
"Bella...!" Nando ingin mendekat.
"Stop..!! Jangan mendekatiku lagi..!! Pergi kamu dari ini! Aku tidak ingin bertemu denganmu..!" pekik Bella sudah mengeluarkan air mata.
"Bel, kamu kenapa?" Nando bingung.
"Aku bilang pergi, ya pergi..!! Jhon Vernando, aku mohon pergi! Jangan kau kembali hanya untuk menyakitiku lagi!" Sentak Bella lantang menangis memohon.
Nando mematung, menatap Bella prustasi. "Apakah kau mengingatku?" lirih Nando pelan, matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku mengingatnya, aku ingat semua tentang Jhon, aku ingat semua hal yang menyakitkan dalam hidupku, sekarang aku mengingatnya. Tolong kamu pergi dari hadapanku!" Bella sampai menangkupkan kedua telapak tangannya memohon Jhon pergi.
Dia sadar kalau dia pernah membuat Bella terluka terlalu dalam, dan sekarang dia juga sadar semua yang terjadi pada Bella adalah ulahnya. Nando pergi meninggalkan Bella menangis sendiri, untuk saat ini ia ingin Bella tenang dulu dan dia akan kembali ketika situasinya mulai dingin.
****
Rumah sakit
"Dokter, Calista!" panggil salah satu dokter spesialis kedokteran kehakiman (dokter forensik). Semua dokter kehakiman ini memiliki kemampuan yang seimbang dan sudah bersertifikasi dalam melakukan tindakan tes DNA ini sehingga semua direkomendasikan.
Calista yang baru selesai memeriksa pasien pun menoleh, "Iya, dokter Heni. Ada apa?"
"Saya ingin memberikan hasil tes DNA kakak Anda." Dokter Heni menyodorkan map coklat yang masih tertutup rapat. "Ini masih baru dan belum saya buka," lanjutnya.
Tangan Calista ragu dan gemetar, namun tak urung mengambil map tersebut. "Terima kasih dokter, kalau tanpa Anda mungkin saya harus menunggu lama hasilnya. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama."
__ADS_1
Sebenarnya membutuhkan waktu lama untuk mengetahui hasil tesnya. Namun karena Calista merupakan orang kepercayaan, jadi dia di utamakan oleh pihak rumah sakit.
Calista langsung saja menelpon Kakaknya. "Halo, Kak. Hasil tes sudah keluar dan Kakak segera datang kemari!"
****
Nando yang baru saja keluar Cafe mendapat telpon dari adiknya. "Baik, Kakak akan segera kesana sekarang juga."
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Nando sudah berdebar, takut, gelisah, dan keringat dingin pun sudah mulai bercucuran.
****
"Dek, mana hasilnya?" Nando langsung masuk keruangan adiknya dan langsung menanyakan hasil tes.
Calista yang sedang mencatat pun menunjuk map yang ada di atas meja. "Itu, aku belum membukanya dan aku juga penasaran akan hasilnya.
Nando langsung saja mengambil dan membuka mapnya secara terburu-buru. Dia sudah tidak sabar mengetahui hasilnya. Matanya terus membaca setiap kata dari atas sampai bawah dan seketika dia tertegun, tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca. Hasil dari tes menyatakan bahwa Nando merupakan ayah biologis Hasna dan mereka 99,9% positif.
Nando sampai tertunduk lemas di kursi depan Calista. Calista juga penasaran dan ia segera merampas kertasnya melihat hasil. Matanya terbelalak, "Kakak..! Kau...!"
"Hasna anakku, dia benar-benar anakku." Nando tersenyum sakit. Antara bahagia dan menyesal menjadi satu.
Dia kembali teringat saat-saat dulu ia bersenggama dengan Bella, dia ingat kalau dialah yang mengambil kehormatan Bella, dia juga ingat saat terakhir kali tidur dengan Bella.
Dadanya semakin sesak mengingat penolakan kehamilan Bella dan menuduh Bella hamil anak orang lain. Tapi nyatanya, Hasna adalah anaknya, anak kandungnya. Sekarang dia sadar bahwa pada saat itu Bella tidak berbohong mengenai kehamilannya. "Bodoh, kau bodoh, Jhon. Kau telah menyakiti Bella sampai berkali-kali."
Plak...
Tamparan keras di layangkan Calista kepada Kakanya. Calista geram dan marah atas kelakuan sang Kakak "Jadi kau orang yang sudah membuat Kak Bella hamil? jadi kau juga yang tidak mau mengakui dan bertanggungjawab atas kehamilannya? jadi kau pria yang sudah membuat Kak Bella berubah sampai menjadi wanita bayaran?" sentak Calista. Matanya memerah menandakan kalau ia marah dan kecewa.
Elsa pernah bercerita mengenai kehidupan Bella dari dulu sampai saat ini kepada Calista.
"Dek...!" Nando tak berkutik sedikitpun karena ia sadar ialah penyebab segalanya.
"Aku tidak menyangka Kak Nando sejahat itu. Bagaimana kalau hal tersebut terjadi kepadaku Kak? apa kau tidak memikirkan hal itu sedikitpun? Ibu selalu mengajarkan kita untuk bertanggungjawab dan Ibu juga selalu bilang untuk tidak merusak wanita..! tapi kau...!" Calista menangis mengingatkan kembali ucapan Ibunya.
"Kau sudah membuatku dan Ibu kecewa atas perbuatanmu. Aku benar-benar kecewa," Calista terduduk lesu di kursi kebesarannya.
"Apa yang harus ku katakan sama Ibu dan Ayah kalau putra kesayangannya sebaj*ngan ini?" lirih Calista menunduk menangis. "Bahkan di saat terakhir ibu bernafas, beliau membanggakan anak lelakinya tapi nyatanya, kau brengsek, kau bajing*n, kau pria bejat yang tidak punya hati..!" bentak Calista mengumpat Kakaknya sendiri.
__ADS_1
"Dek, maaf." Nando menyesali setiap perbuatannya terutama perlakuan dia kepada Bella.
Bersambung....