Ternyata Aku Mencintaimu

Ternyata Aku Mencintaimu
TAM Season 2 ( Mengintip )


__ADS_3

Bismillahirrahmanirrahim


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara Vote, like, hadiah dan kasih komentar supaya tambah semangat ya.


********


Langit terlihat mendung semendung keadaan hati Nando setelah mengetahui sebuah fakta mengejutkan dari wanita yang masih bertahta di hati terdalamnya. Nando seakan mengerti arti sebuah mimpi yang pernah ia dapatkan setelah shalat malamnya. Ternyata, mimpi itu adalah suatu pertanda bahwa Bella tidak sedang baik-baik saja. Alex yang juga hadir ke dalam mimpinya seolah menjadi sebuah amanah sekaligus petunjuk yang harus Nando lakukan kedepannya.


Nando menunduk menumpukan kedua sikutnya di atas pada dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. "Ya Allah, rencana apa yang tengah engkau persiapkan untuk kita? Kenapa bisa semua ini terjadi?" Sungguh, Nando merasa tidak percaya atas apa yang telah ia lihat di pemakaman.


"Kak, itu di depan ada mandor perkebunan. Katanya..." Calista tak melanjutkan ucapannya ketika melihat sang Kakak terlihat menunduk sedih dan juga kacau. "Kau kenapa, Kak? Ada masalah kah?" Calista ikut duduk di samping Nando. Dia juga sampai melupakan kalau ada orang di depan sedang menunggu.


"Tadi kau bilang ada mandor perkebunan?" Nando membahas mengenai perkataan pertama yang keluar dari mulut adiknya.


"Ah, iya, dia sedang menunggu Kakak. Katanya ingin memberikan laporan penjualan kepala sawit."


Nando mengangguk, dia kedepan terlebih dulu menemui pegawainya dan berbincang-bincang masalah perkebunan. Setelah berbincang-bincang, Nando menghampiri adiknya yang ada di klinik depan rumah Calista.


"Dek, Kakak mau tanya sesuatu." Ujar Nando duduk di hadapan Calista terhalang meja kerja.


"Ada apa?"


"Kenapa kamu tidak memberitahukan kepada Kakak kalau suaminya Bella sudah meninggal?"


Calista mendongak, dia yang tadinya menulis obat-obatan yang akan di beli terdiam tak melanjutkan kegiatannya. Calista sendiri bingung harus mulai dari mana membicarakan hal ini.


"Kenapa kau diam? kenapa kalian menyembunyikannya dari Kakak?" desak Nando berharap dapat jawabannya. Calista menghelakan nafas.


"Kami sudah berusaha menelpon Kak Nando untuk memberitahukan kepergiannya Alex, tapi Kakak sendiri selalu sibuk dengan pekerjaan sampai no ponselpun tidak dapat di hubungi."


Nando terdiam, memang benar jikalau dirinya sedang sibuk mengurus usahanya dan sibuk melupakan kenangan bersama dua wanita yang ia cintai namun lebih dominan ke Bella. Perasaan yang berusaha ia kubur, perasaan yang ingin di hilangkan, pura-pura menerima di depan semua orang nyatanya tak membuat perasaan itu hilang. Justru, setelah Mentari tiada, perasaan terhadap Bella kembali ada mencuat ke luar tanpa di minta dan tanpa ada aba-aba.

__ADS_1


******


Bella menyuruh ketiga anaknya membersihkan diri, dan menjalankan shalat asar secara berbarengan.


Di atas sejadah, wanita cantik nan ayu meski tak muda lagi itupun mencurahkan rasa yang ia rasakan. Rasa sesak harus kehilangan orang yang di cintainya, rasa sakit melihat putra bungsunya berucap rindu mendiang suaminya, rasa rapuh belum bisa ikhlas atas apa yang terjadi kepada keluarganya.


"Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah kelapangan hati bagi hamba agar bisa menerima takdir ini. Berikanlah hamba kekuatan untuk bisa melewati ujian darimu. Hamba tahu jika ini adalah yang terbaik bagi kami namun, hamba juga memohon agar kami di berikan ke ketabahan, keikhlasan hati agar kami bisa menerima takdir ini dengan berlapang dada, aamiin yarobbal'alamiin."


Di dalam ibadahnya, Bella melantunkan ayat-ayat Allah, membaca Alquran yang bisa membuat hatinya tenang.


Lain halnya dengan Nando yang sedang memberanikan diri untuk mampir ke rumah Bella ingin memastikan kembali bahwa wanita yang ia cintai dalam ke adaan baik-baik saja. Di dalam langkahnya, dia mendengar suara merdu dari samping rumahnya. Niat hati ingin mengetuk pintu justru langkah membawanya ingin mengetahui suara merdu itu.


Nando perlahan mencari suara indahnya seorang wanita yang sedang melantunkan ayat-ayat Allah ke samping rumah. Dia pun menemukannya bahkan bisa melihat Bella menggunakan mukena sambil mengaji. Sungguh terlihat semakin cantik, sejuk, adem, sampai Nando tidak bisa mau berpaling melihatnya. Sekian lama tak pernah bertemu membuat Bella jauh lebih baik dan itu semakin membuat jantungnya tak menentu.


"Bella, banyak sekali perubahan di diri kamu. Penampilan, suara, dan akhlak, semua itu membuatku semakin tertarik padamu. Bella, bolehkah aku memperjuangkan mu untuk sekali lagi? Alex, bolehkah aku membahagiakan istrimu dengan caraku? aku masih mencintainya, Lex. Izinkan aku menjadi pelipur duka yang mereka rasakan ketika kehilanganmu, Lex." Gimana Nando dalam hati sembari memandang lembut wanita yang ada di dalam.


"Wanitanya cantik ya?"


"Kenapa Om mengintip Mamaku? Beliau sedang mengaji, tidak boleh di ganggu!"


"Om tidak ingin mengintip, tapi mata dan kaki Om tidak bisa di kompromi untuk tidak melangkah dan melihat kemari. Sungguh, jantungku berdebar lebih kencang. Om jatuh cinta sama Mama kamu." Nando tersenyum tipis masih memandangi wanita di dalam.


Bella yang mendengar keributan di luar menolehkan kepalanya ke samping sampai kedua netra mata dia dan Nando bertubrukan.


"Nando? ngapain dia di situ? Ferdi juga ngapain berdiri di samping Nando?" Bella menyudahi bacaannya, menyimpan Al-Qur'an nya di atas kasur kemudian berjalan ke arah jendela membuka. Nando sampai belum menyadarinya saking terpesona dan terhipnotis akan suara dan wajah cantik, ayu nya Bella.


"Kalian ngapain di situ?"


"Mengintip," jawab kedua lelaki beda usia itu.


Eh...

__ADS_1


Bella mengernyit, dia menjentikkan jarinya sampai berbunyi dan barulah Nando tersadar dari keterpesonaannya.


Eh....


"Be-Bella..!" pria itu sungguh malu ketahuan mengintip.


"Kamu ngapain mengintipi kamar wanita? mau jadi pencuri?" ujar Bella dengan tabgan bersidekap di dada.


"Pencuri?" Nando mengernyit, karena kepalang basah akhirnya dia tak bisa mengelak. "Ingin mencuri hati kamu."


"Hmmmm Mama, katanya, Om ini jatuh cinta sama Mama. Mama cantik, katanya," celetuk Ferdi.


Eh..


Nando tersentak baru mengetahui ada Ferdi di sampingnya. "Sedang apa anak ini di sini? apa mungkin dia dari tadi di sini?" batin Nando.


Bella memandang Nando tanpa ekspresi dengan sejuta pertanyaan dan perasaan yang berkecamuk tidak menentu. Dia tidak mungkin percaya pada omongan Nando. "Sudahlah, Ferdi kamu main lagi ya, dan kamu Nando, kalau ingin bertemu anakmu berlaku sopan lah di rumah orang! Jangan asal mengintip, nanti bintitan." Bella menutup kembali jendelanya, menggeser tirainya.


Nando yang ketahuan mengintip tersenyum malu kala mata Ferdi menatapnya. "Ngapain kamu disini?" sungguh malu dan ingin rasanya Nando bersembunyi di lubang semut.


"Harusnya aku yang nanya, ngapain Om di sini?"


"Eh...hmmm anu," Nando bingung. "Om mau ketemu Kak Hasna."


"Lalu, kenapa belok ke samping mengintip Mama? bukannya bertemu Kak Hasna malah mengintipi wanita. Sebenarnya yang ingin Om temui Kak Hasna atau Mama?" sindir Ferdi seakan mengerti.


Nando menggaruk tengkuknya, menunduk malu ketahui mengintip.


"Bhuhahahaha... wajah Om merah. Cieeee malu-malu tapi mau..." ledek Ferdi melangkah mundur memicingkan mata penuh ledekan.


"Kalau Om suka sama Mama, perjuangkan!" pekik Ferdi berlari menjauhi Nando mematung malu dengan sejuta pertanyaan.

__ADS_1


Nando mengernyit, "perjuangkan?" seketika senyumnya mengembang seolah mendapatkan lampu hijau dari putra bungsunya Bella. "Lex, aku izin untuk memperjuangkan kembali Bella."


__ADS_2