
Bella menatap sedih putrinya di balik kaca ruang perawatan. Hasna sedang di periksa oleh Calista.
Hati ibu mana yang senang melihat anaknya sakit, hati ibu mana yang tenang anaknya terbaring lemah, hati ibu mana yang tidak khawatir di saat anaknya berjuang hidup dan mati.
"Kamu yang kuat, Bel. Hasna kuat, putri kita pasti sembuh," Nando juga ikut memperhatikan Calista serta suster yang sedang melakukan berbagai pemeriksaan.
"Keadaan Hasna semakin lemah, aku tidak tenang sebelum putriku sembuh." Ucap Bella menangis diam.
"Masih ada cara supaya Hasna bisa cepat sembuh. Yaitu donor sumsum tulang dari saudara kandungnya," tutur Nando.
Bella menoleh ke samping, begitupun dengan Elsa yang ikut menatap penasaran ke arah Nando.
"Adik kandung nya, Calista bilang, saudara kandung cenderung menjadi donor yang paling cocok. Kemungkinannya 1 banding 4 sel-sel saudara kandung sangat cocok."
Tanpa mereka sadari pembicaraan ketiganya di dengar oleh sepasang telinga.
*****
"Mama, Hasna haus," lirih Hasna terbangun dari tidurnya.
"Kamu tidur saja, sayang!" Nando segera mencegah Hasna bangun kemudian mengambilkan minuman dan memberikannya kepada Hasna.
"Sayang, kamu sudah bangun, Nak?" Bella mengarahkan tangannya menuju ranjang Hasna. Dia duduk di bibir ranjang kemudian meraba kening Hasna, ternyata suhu badannya mulai kembali normal.
"Mama, Ayah, Hasna senang kalian ada di sini." Senyum manis di bibir mungil Hasna terlihat tulus dan tenang.
"Kami akan selalu ada menemani Hasna sampai Hasna dewasa, sekarang Hasna harus sembuh supaya bisa terus sama-sama, ya."
"Iya, Ayah. Tapi Ayah juga jangan kerja jauh lagi seperti dulu!" tangan mungil Hasna menggenggam salah satu tangan Nando mendekapnya di dada. Ia juga mengambil tangan Bella yang ada di kepalanya untuk ia dekap.
"Aku ingin kita seperti ini, aku tidak ingin Ayah jauh lagi, aku akan senang kalau Mama ada yang jaga." Hasna menatap silih berganti wajah kedua orang tuanya.
Bella tertegun, ia melepaskan genggaman tangan putrinya. "Sekarang Hasna makan, ya!" Bella mengalihkan pembicaraan Hasna, ia enggan membahas masalah hubungan dia dan Nando. Dia segera mengambil makanan yang ada di sampingnya membuka tutup makanan dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Nando memperhatikan raut wajah Bella yang tidak bisa di baca. "Kenapa Bel? Bukankah Hasna menginginkan kita bersama? kalau gitu menikahlah denganku! Wujudkan keinginan Hasna demi kebahagiaanya! Aku tahu kamu juga masih mencintaiku, iya, kan?" tanya Nando menggenggam tangan Bella memberhentikan tangannya.
Jawaban Bella juga di tunggu oleh seseorang yang mendengarkan di balik pintu masuk. Dia tidak jadi masuk saat Hasna meminta Ayah dan Ibunya bersatu. Dia ingin mendengar Bella menjawab apa.
Bella terdiam, dia tidak tahu apakah ia masih mencintai Jhon atau tidak? ia tidak tahu hatinya masih menginginkan Jhon atau tidak? ia juga tidak tahu apakah ia ingin kembali bersama Jhon atau tidak.
Sampai seperkian detik Bella tak menjawab.
"Mama," tangan Hasna memegang tangan sang Mama menyadarkan Bella dari lamunannya.
Dia kembali bungkam dan melanjutkan niatnya menyuapi Hasna.
Bungkamnya Bella membuat orang yang ada di balik pintu menunduk lesu. Dia beranggapan bahwa Bella menerima Nando lagi di hidupnya. Begitupun dengan Nando yang juga sama beranggapan bahwa Bella masih mencintainya.
******
Alex merebahkan tubuhnya di pos tempat Dimas mangkal. Dia menutup matanya menggunakan pangkal lengan.
"Woy, Lex. Kenapa kau? lesu amat seperti orang patah hati saja?" Dimas menggeplak betis Alex dan duduk di sampingnya.
Dia juga menerima Bella apa adanya, terlebih dari masa lalu yang Bella alami. Dia juga menerima kehadiran Hasna dan sudah menganggap Hasna sebagai putri kandungnya.
Tapi, sampai saat ini hati Bella masih sama, masih terpaut kepada satu laki-laki yang dulu menyakitinya.
"Alex, loe kenapa? gue tanya tak di jawab."
"Patah hati," jawabnya simpel.
Dimas mengkerutkan alis. "Cewek mana yang sudah berhasil menaklukan seorang Alex Ramadanu si dingin sedingin ice beku ini?"
"Bella, sepertinya dia akan kembali bersama Nando," ujarnya bangun dan menyilakan kakinya.
"Loe suka sama Bella?! sejak kapan? kok gue tidak tahu, ya?"
__ADS_1
"Gue tidak tahu kapan perasaan ini muncul. Yang gue tahu, gue bahagia melihat dia tertawa bahagia, gue sedih melihat dia menangis, gue sakit melihat ia sakit, jantung gue berdebar saat bersamanya, gue ingin melindungi dia dan putrinya Hasna. Tapi, sepertinya perasaan gue bertepuk sebelah tangan. Dia masih mencintai Nando yang jelas-jelas telah menyakitinya terlalu dalam."
"Cinta memang rumit, dia datang secara tiba-tiba dan pergi secara tiba-tiba. Di saat kita ingin serius justru dia bukan jodoh kita. Lalu apa yang akan loe lakukan?" Dimas ikut menyilakan kakinya menatap awan biru yang terlihat cerah.
"Gue akan mundur demi kebahagiaan dia dan Hasna," ucap Alex tak yakin. Dimas menolehkan kepalanya, ia bisa melihat kesedihan di mata sang kawan.
"Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kalian," ucap Dimas menyemangati Alex.
******
Club malam
Tiara terus memesan minuman tanpa henti, ia frustasi dan bingung harus tinggal di mana lagi. Beberapa mobilnya sudah di sita bank, dan hanya tinggal satu mobil dan itupun mobil bekas milik Adit.
"Sialan kau Adit...Kau Ambil seluruh hartaku dan sekarang kau pergi entah kemana?" racaunya.
"Hidupku sudah hancur gara-gara Elsa. Kalau seandainya Elsa tidak membunuh Ibuku, mungkin saat ini aku tidak akan sengsara seperti ini. Aaaaaaa," jeritnya mengacak rambut frustasi.
"Elsa, kau harus membayar atas apa yang terjadi kepadaku. Aku akan menghabisi putrimu setelah itu aku akan menghabisimu, Elsa! Tak akan ku biarkan kalian bahagia di atas penderitaan ku," janjinya meminum kembali alkohol yang tersedia di atas meja.
*****
Taman rumah sakit, seorang wanita terus menatap kosong ke arah depan melamunkan permintaan putrinya. Hatinya kembali bimbang antara menerima dan menolak.
Dan sudah beberapa hari ini ia merindukan Alex dan ingin menumpahkan setiap perasaan bercampur aduk kepada lelaki yang selalu ada untuknya dan juga Hasna sedari dulu Hasna dalam kandungan.
"Alex kamu kemana? sudah dua hari ini kamu tidak menemuiku dan Hasna." Tak terasa air mata menetes, hatinya mendadak merindukan Alex. Hatinya selalu berharap Alex ada di dekatnya.
"Alex apa kamu sudah menyerah? apa lagi sekarang ada Nando, pasti kamu akan mundur untuk memperjuangkan hatiku." Hatinya kembali sakit tak terima kalau Alex menjauhinya.
Tak sengaja telinga Bella mendengar perkataan orang yang ada di belakangnya.
"Bee, aku ingin bicara sama kamu."
__ADS_1
"Alex...!"
Bersambung....