
"Apa yang kau lakukan kepadanya, Kak?" pekik Calista tiba-tiba.
Bella menajamkan pendengarannya, "Calista." Diapun langsung berjalan menghampiri dimana asal suara Calista berada.
"Dek, kamu kenal dia?"
"Kak Bella salah satu pasien aku. Apa yang Kakak lakukan sampai Kak Bella ketakutan seperti ini?" Calista menatap tajam Kakaknya.
"Dia....dia...." Jhon sulit memberitahukan perihal Bella.
"Dia telah menculikku, aku tidak mengenalnya, tolong antarkan aku pulang!" pinta Bella meraba tangan Calista dan memohon.
Jhon memperhatikan setiap pergerakan Bella. Dia mematung menatap tak percaya akan kondisi Bella.
"Kita istirahat saja ya, Kak. Ini rumahku dan nanti aku akan telpon Dimas untuk menjemputmu." Calista menuntun Bella dan membawanya ke dalam rumah melewati Jhon.
Calista juga sudah menelpon Dimas memberitahukan keberadaan Bella. Gadis cantik berwajah cabi itu menarik tangan Jhon membawanya ke atas. "Apa yang Kakak lakukan, apa Kakak telah menculiknya?"
"Apa yang terjadi kepadanya, Dek? kenapa dia tidak bisa melihat?" bukannya menjawab, Jhon malah balik bertanya.
Calista menarik nafasnya kemudian menghembuskan secara kasar. "Kak Bella tertabrak saat menolong temanku dan akibat kecelakaan itu, Kak Bella tidak bisa melihat. Dia juga dinyatakan mengalami Amnesia."
"Amnesia yang di alami kak Bella merupakan Amnesia retrogade jenis Disosiatif (Psikogenik)
Amnesia retrograde satu ini mengakibatkan syok emosional pada penderitanya, namun kasus ini tergolong langka."
"Kerusakan pada otak bukanlah penyebab utamanya, melainkan respon psikologis terhadap trauma yang dialami."
Kejadian-kejadian traumatis seperti menjadi korban kriminalitas adalah faktor penyebab amnesia ini dan biasanya hanya bersifat sementara."
"Ingatan Kak Bella seolah menolak peristiwa yang menyakitkan. Dia hanya ingat peristiwa yang membuatnya bahagia dan hanya mengingat orang-orang yang ia sayangi dan baik terhadapnya," jelas Calista menatap Bella dari atas.
Jhon mematung tak bisa berkata, hatinya seolah tercabik melihat keadaan Bella yang sekarang. Dadanya terasa sesak di kala Bella tak mengingatnya.
"Bella, kenapa kamu sampai bisa ada di sini? aku mencari kamu dan untungnya Calista menelpon ku bahwa kamu ada di sini. Kalau aku tidak menemukanmu apa yang akan aku katakan kepada Mamamu dan Hasna?" cerca Dimas khawatir dan memegang kedua tangan Bella.
Keduanya di perhatikan oleh Calista dan Jhon. Jhon semakin sesak di saat ada pria lain yang begitu khawatir dan perhatian terhadap Bella.
"Maafkan aku, Dim. Tadi aku sempat tersesat dan seseorang menolongku," jawab Bella tidak mau membuat Dimas tambah khawatir.
Tersemat senyum ketulusan dari bibir Bella untuk Dimas. Jhon terus memperhatikan keduanya begitupun dengan Calista. Calista sampai lupa tujuan pulang kerumah dan lupa mengenai pertanyaan nya.
****
"Nek, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Hasna duduk di pangkuan Elsa sembari memainkan boneka Barbie nya.
"Boleh, sayang. Emangnya Hasna mau tanya apa?"
__ADS_1
"Kenapa Ayah tidak pulang kerumah kita? kemana saja selama ini Ayah pergi? apa benar kalau Ayah bekerja untuk kita?" cerca gadis kecil berambut panjang.
Elsa mengusap-usap rambut Hasna memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab setiap pertanyaan dari cucunya.
"Mungkin Ayahnya lagi sibuk ngumpulin uang buat sekolah kamu."
"Nenek bohong..!" Hasna tiba-tiba turun dari pangkuan Elsa. "Ayah tidak pernah bekerja untuk kita, kalau Ayah bekerja Mama tidak mungkin sampai harus bekerja keras untuk Hasna, Nek."
"Ayah pasti melupakan kita atau Ayah tidak menyayangi kita sampai Ayah pulang pun tidak mau bertemu kita bahkan Ayah tidak mengenaliku," ucap Hasna mengeluarkan yang ada di pikirannya.
Keadaan membuat Hasna belajar dewasa, keadaan dan otak yang cerdas membuat Hasna bisa pandai bicara.
Elsa bingung mau menjawab apa, dia tidak mungkin bilang kalau Ayahnya menolak kehadiran dia. "Kata siapa Ayah tidak mengenalimu? pasti Ayah akan mengenali Hasna di saat kalian bertemu nanti."
"Aku sudah bertemu Ayah, Nek. Ayah tidak mengakui ku anaknya, Ayah melupakan aku dan Mama," lirih gadis kecil itu meneteskan air mata kesedihan.
"Hasna...!" Elsa sampai terkejut mendengar pengakuan cucunya. "Benarkah kamu sudah bertemu Ayahmu?" Elsa bertanya menarik tubuh mungil cucunya ke dalam pelukannya.
"Benar, Nek. Tapi Ayah tidak mengenaliku," ucapnya menangis.
Elsa berkaca-kaca, ia berharap putri dan cucunya mendapat kebahagiaan meski tanpa Jhon dan Hasna bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah.
****
Bel rumah berbunyi, Calista pun beranjak membukakan pintu rumahnya dan ternyata Mira beserta Kakak yang datang.
"Dia ada di dalam, ayo masuk!" ajak Calista ramah.
"Kak, Bella." Mira langsung saja menghambur kepelukan Bella. Semenjak kecelakaan itu, Mira, Calista dan Bella menjadi akrab. Mira merasa memiliki Kakak perempuan begitupun dengan Calista yang menyukai kepribadian Bella.
Menurut kedua gadis itu, Bella sangat baik, ramah, tidak pernah sedikitpun menjahati orang lain.
"Hei, kenapa kamu manja sekali? di sini banyak orang, lho." Bella mengusap tangan Mira yang sedang memeluknya.
"Aku kangen Kak Bella. Makanya aku sengaja mampir ke sini untuk bertemu dengan Kak Bella," ucap Mira manja.
Kakaknya Mira terus menatap Bella, ada rasa sedih dan rasa bersalah melihat keadaan Bella. Bella seperti itu ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Lista, Kak Bella harus pulang."
"Biar aku yang antar," ucap ketiga pria dengan kompak.
Ketiga pria saling lirik satu sama lain, begitupun dengan para gadis muda saling bertanya lewat mata.
"Aku yang antar karena Bella keluar bersamaku," kata Dimas.
"Aku aja yang antar, sebab Bella kemari bersamaku jadi aku harus tanggungjawab," sahut Jhon.
__ADS_1
"Saya saja yang antar sekalian bareng mau pulang," timpal Adit.
"Aku saja."
"Aku saja."
"Saya saja."
"Stoooooop..!!! jangan berebut lagi! Kak Bella akan pulang bersamaku bareng Mira!" pekik Calista memberhentikan perebutan ketiga pria itu.
"Aku ikut Calista saja," sahut Bella tegas.
Dan semua pria terdiam tak berani lagi memaksa Bella ikut mereka. Akhirnya Bella di antarkan oleh Calista dan juga Mira sekalian kedua gadis itu mau menuju ke rumah sakit.
Kemudian mereka semua membubarkan diri dari rumah Calista ke tujuannya masing, terkecuali Jhon yang diam-diam mengikuti mobil adiknya.
****
Rumah Adit
"Adit," panggil seorang wanita dari arah ruang tamu dan menghampirinya.
Adit memberhentikan langkahnya dan enggan menoleh. "Ngapain kamu kesini?"
"Ingin memastikan bahwa kamu tidak akan tergoda oleh wanita murahan seperti Bella. Kau ingat bukan perjanjian kita?" dia mengusap-usap dada Adit secara halus.
"Aku ingat, sayang. Aku tak akan melupakan itu," balas Adit memangut bibir Wanitanya secara kasar.
"Kau harus buat Bella jatuh cinta padamu setelah itu kamu tinggalkan di saat lagi sayang-sayangnya. Kalau tidak, aku akan melaporkanmu ke penjara atas kasus tabrak lari satu tahun yang lalu." Ancamnya penuh peringatan.
Adit menghelakan nafasnya, "Baiklah, aku mengerti dan jangan kau laporkan masalahku, aku takut di penjara."
Tiara menyeringai, "Bella, Elsa, sampai kapanpun aku tak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang. Aku akan terus membalas kematian Ibuku," batin Tiara berada di pelukan Adit.
****
Jika ada yang bertanya, kok banyak pemainnya sih Thor? kok ceritanya bertele-tele tidak langsung kepada intinya?
Sebelumnya aku minta maaf.
Baik dunia novel atau dunia nyata, kita membutuhkan peran pendukung, dan peran pendukung ini lah yang akan menambah warna dalam cerita hidup seseorang. Jadi, disini aku menambahkan beberapa pemain dan semua pemain akan bersangkutan dengan Bella dan punya pikiran serta tujuannya masing-masing.
Untuk itu apabila ada kesalahan dalam setiap kata ataupun merasa bertele-tele dan kurang seru, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kemampuanku hanya segini.
Terima kasih sudah setia bersamaku, semoga kalian selalu di berikan kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang semakin berlimpah aamiin yarobbal'alamiin 🤲🤲😊
Aku tak akan berhenti berdoa untuk kalian-kalian yang senantiasa bersedia mampir ke keceritaku.😊😊
__ADS_1