
"Gue ingat, dia orang yang gue pukul di Cafe."
"Loe yakin dia orangnya? dan apa loe tahu siapa dia?" tanya Dimas memastikan dan penasaran.
"Gue yakin, soalnya waktu gue pukul wajahnya ia menoleh ke samping dan gue sempat lihat tato di tengkuk dia. Kalau enggak salah, dia pernah ke rumah Adik gue bareng temannya Calista yang bernama Mira."
"Bentar, bentar, kalau tidak salah dia Aditya salah satu manager keuangan di SC and R. Kita cari ke rumahnya!" Baik Dimas maupun Nando segera beraksi mencari keberadaan Adit untuk memastikan kecurigaan mereka.
****
"Kita akan membawa dia kemana, Ti?" tanya Adit sedang mengendarai mobil sesekali matanya melihat Bella yang sedang terbaring lemah di belakang.
"Ke tempat terpencil jauh dari kota dan jauh dari keramaian. Yang pastinya mereka tidak akan bisa menemukan Bella karena tempat tersebut merupakan tempat para penjahat berkumpul sehingga tidak akan ada orang yang berani kesana dan mereka tidak akan mengira kalau kita membawa Bella ke tempat itu," jawab Tiara memejamkan mata menikmati keberhasilannya menculik Bella.
"Kamu bermasalah sama Ibunya, tapi kenapa malah Bella yang menjadi sasaran kekejaman kamu? kau sudah tahu Bella tidak tahu apapun mengenai Ibumu, namun kau malah membawa dia dalam masalah dirimu dan Elsa," Adit heran dengan pikiran Tiara yang menjadikan Bella tawanannya.
"Karena dia anak semata wayang Elsa. Maka dari itu aku akan membuat Elsa menderita dengan tiadanya Bella. Aku akan membalaskan kematian Ibuku, itu tujuanku."
"Jangan gegabah, Ti. Bisa saja kamu salah paham, dan Elsa tidak bersalah. Bella kakakmu, anak dari Ayahmu," nasehat Adit masih fokus mengendarai mobil Tiara.
"Sudahlah, Dit. Jangan menasehati ku mengenai siapa dia, aku tidak akan percaya semua ucapan pembantu itu. Aku melihat sendiri Ibu mati di depan Elsa!" sentak Tiara, kupingnya terasa panas mengenai ocehan Adit yang tidak ingin ia dengar.
"Terserah kau saja, dan jangan pernah menyesal kalau nanti kau kena karmanya."
"Gue tidak percaya karma, sampai sekarang gue tidak pernah mendapatkan itu di karma. Hidup gue baik-baik saja, uang gue banyak, badan gue sehat-sehat saja. Jadi, loe tidak usah menasehati gue, paham!" sentak Tiara menunjuk wajah Adit menatap tajam matanya.
"Gue sumpahin loe kena sakit keras!" batin Adit sudah muak mengikuti Tiara. Kalau bukan karena tidak mau rahasianya terbongkar, Adit tidak akan mengikuti kemauan Tiara. "Sabar, Dit. Sebentar lagi loe akan bebas dari rubah betina ini!" batinnya menyemangati.
****
Nando dan Dimas sudah sampai di depan kediaman Adit, keduanya segera turun ingin segera menanyakan keberadaan Bella.
Dimas menekan tombol bel beberapa kali, dan muncullah Mira dari balik pintu mengenakan pakaian susternya. Seperti nya Mira sudah siap berangkat bekerja shift sore.
__ADS_1
"Kak Dimas, Kak Nando, tumben mampir, ada apa?"
"Apa Adit ada di dalam?" tanya Dimas sedangkan Nando memantau sekeliling tempat mencari Adit.
"Dari kemarin kak Adit belum pulang, Kak. Aku juga tidak tahu dia kemana karena tidak biasanya dia pulang telat. Memangnya ada perlu apa ya? nanti aku sampaikan kepadanya kalau dia sudah pulang."
"Tidak ada apa-apa, kami hanya ingin menawarkan pekerjaan tambahan dan kami ingin bertemu dengannya langsung. Karena tidak ada, lain kali kami mampir lagi ya!" ujar Dimas sekalian pamit undur diri.
"Dia tidak ada di rumahnya? lalu kemana lagi kita mencarinya?" tanya Nando ketika keduanya sudah di dalam mobil.
"Kita cari Adit ke kantor SC and R. Siapa tahu dia ada disana." Nando mengangguk mengikuti kemana Dimas pergi karena ia tidak tahu siapa Aditya.
****
"Huaaaa Mama, Nenek aku mau Mama. Mama kemana, Nek?" Di rumah Hasna masih menangis. Elsa terus menggendong cucunya mengusap-usap punggung dan menimang-nimang sang cucu berharap Hasna berhenti menangis.
"Kita berdoa semoga Mama baik-baik saja, ya. Hasna nya jangan nangis, kalau Hasna nangis terus Mama akan lama pulangnya." Bujuk Elsa menenangkan Hasna.
"Secepatnya, semoga Mama secepatnya pulang. Hasna minta sama Tuhan supaya Mama selamat dan baik-baik saja, ya, Nak!"
Hasna mengangguk, ia menengadahkan kedua tangannya. "Ya Tuhan, tolong engkau jaga Mama Hasna dimanapun dia berada, pulangkan lah Mama secepatnya ke Hasna, aamiin." doanya mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah.
Elsa memeluk sayang cucunya.
"Nyonya, apa mungkin Non Tiara yang membawa Non Bella?" celetuk Bi Sri yang dari tadi ikut berpikir dan juga panik.
Elsa menoleh ke arah Sri, "Mana mungkin Tiara melakukan itu? dan kenapa juga dia sampai menculik Bella? lagian Tiara berada di kota J bukan di sini."
"Kemarin saya bertemu dengannya di dekat Salon, Nya. Saya juga menceritakan mengenai siapa dia yang sebenarnya supaya tidak terjadi kesalah pahaman lagi. Saya tidak ingin Tiara berulah akibat dendam tak beralasan."
Elsa memikirkan perkataan Sri, dia sudah tahu niat Tiara mendekati Bella sedari dulu. "Apa mungkin ini ulahnya untuk membalaskan kematian Ibunya?" batin Elsa bertanya.
****
__ADS_1
"Ini tempatnya?" tanya Adit sudah sampai di perkampungan kecil dan tempatnya terlihat menyeramkan.
"Iya, sekarang bawa dia masuk!" titah Tiara dan Aditpun membawa Bella masuk ke dalam salah satu rumah yang ada di sana.
Saat sudah di baringkan, Tiara mencipratkan air ke wajah Bella. Perlahan Bella mulai sadar dari pingsannya.
"Enak ya yang jadi Putri tidur? dari tadi kita yang capek gotong kamu sana sini," ucap Tiara sinis.
Adit mengernyit, "Lah, gue yang gendong, gue yang capek, bukan loe jubed," batin Adit.
"Tiara...?! jadi kamu yang membawaku dengan beralasan Nando menunggu di depan?"
"Iya, akulah orangnya. Sekarang kamu tidak akan bisa lari dari sini. Dit, tinggalkan dia di sini sendirian biar dia di mangsa para penjahat!" Tiara berbalik arah meninggalkan Bella dan Aditpun mengikuti Tiara.
Bella berdiri meraba setiap tempat mencari cela untuk bisa kabur dari sini. Dia memegang cincin pemberian Syafira dan menekannya tiga kali. "Semoga kalian bisa menemukanku."
****
Nit nit nit nit
Dimas menepikan dulu mobilnya kala mendengar bunyi handphone tanda darurat.
"Ada apa, Dim? kenapa berhenti di sini? bukankah kantor masih jauh, ya?" Nando heran.
"Bentar, ada panggilan darurat," Dimas membuka handphone nya. "Bella..!" ucapnya terkejut.
"Bella?!" Nando panik, ia sampai menyampingkan duduknya menatap Dimas.
Dimas kembali melajukan mobilnya menuju dimana Bella berada. "Bunyi tersebut merupakan panggilan darurat di saat keadaan terdesak. Syafira mendesain alat tersebut bagi kita semua. Dan bunyi tersebut memberitahukan keberadaan Bella, dia sekarang ada di tempat terpencil lebih tepatnya di sebut kampung penjahat."
"Kalau begitu buruan kita ke sana! Gue takut Bella di apa-apain orang jahat," titahnya ketakutan.
Bersambung....
__ADS_1