
"Tunggu...!" suara seorang wanita mengalihkan pertengkaran mereka. Sudah banyak para warga yang penasaran akan keributan yang terjadi di rumah janda beranak satu, Riska.
Semuanya menoleh guna melihat siapa yang menghentikan mereka. Nando terbelalak melotot sempurna seakan matanya mau copot kala melihat wanita yang ia kenal ada disana. [ Bella! Kenapa dia ada di sini? jangan buat dia marah dan membatalkan pernikahan kita. Ya Allah, hamba tidak ingin lagi kehilangan wanita yang hamba cintai. Tolong lindungi hamba dari mereka yang berbuat zolim, aamiin. ]
"Siapa kau sudah berani menghentikan kami?" hardik Bayu kesal. Namun, ia tak dapat memungkiri kalau pesona Bella membuat hatinya seketika berbunga-bunga. [ Cantik sekali dia. Seperti bidadari jatuh dari surga. ]
Bella melangkah anggun mendekati orang-orang yang hendak menyeret paksa Nando. Dia juga menatap tajam pria yang baru saja melamarnya. Nando tak kalah membalas tatapan itu dalam keadaan tenang tak sedikitpun takut. Tapi, jantungnya tidak bisa berbohong kalau dia merasakan gugup.
"Kenapa kamu ada disini, Mas? siapa wanita ini? kenapa kamu dipaksa bertanggungjawab? kesalahan apa yang telah kamu perbuat sampai banyak warga menyeret kamu untuk bertanggungjawab?" cerca Bella dengan rentenan pertanyaan yang membuat Nando terkesiap terkejut takut Bella percaya pada ucapan mereka.
"Dia sudah berani melecehkanku, Mbak. Aku tidak terima itu," sergah Riska menangis melancarkan ektingnya.
[ What! Mbak? hei.. aku tidak setua dirimu sampai kau harus memanggil aku Mbak. ]
"Hhssssstttttt...." Bella mengangkat tangan kanannya mengacungkan jari telunjuk di depan Riska seraya menatap Nanndo. "Saya tidak bertanya kepada ondel-ondel sepertimu. Saya bertanya kepada pria yang ada di hadapan saya, Jhon Vernando."
[ What! Saya wanita tercantik di kampung sini di panggil ondel-ondel? sialaan nih perempuan. Tapi... Cantikan dia sih. ] Riska menelisik penampilan Bella yang terlihat modis, elegan, dan juga cantik.
Orang-orang mengulum tawa supaya tidak mengeluarkan tawanya. Sebab penampilan Riska memang terlihat seperti ondel-ondel. Bibir merah semerah darah, pipi di merah-merahin namun terlihat seperti orang yang sedang menahan pup, mata di warnai merah, jingga, kuning, macam pelangi. Rambut di cat pink. Baju udah kayak lemper, ngetat. Kulit eksotis bagaikan kedelai hitam. Sungguh perpaduan jelek binti tengik.
"Tadi aku hanya mengantarkan Devi untuk memperingati orangtuanya supaya bisa mendidik lagi anaknya lebih baik. Eh, Riska malah berusaha merayuku." Ucap Nando membela.
"Bohong. Dia mencoba melecehkan Ibu saya."
"Hssstttttt... diam! Bocah tengik seperti mu diam saja! Jangan ikut campur urusan orang dewasa. Kecil-kecil sudah pandai berbohong." Sergah Bella menoleh menatap tajam Devi.
"Jangan banyak drama lagi, kita nikahkan saja pria itu dengan Bu Riska," sahut tetangga.
"Iya bener, Pak Nando harus bertanggungjawab atas apa yang telah di lakukan kepada Kakak saya."
__ADS_1
"Saya bilang tunggu dulu! Kalian ngoceeeeeh mulu tanpa mau mendengar dan melihat kenyataannya seperti apa. Apa mau aku laporkan ke polisi atas tindakan main hakim sendiri, hah?" teriak Bella menyetop suara-suara mereka menatap silih berganti para warga.
"Apa yang harus di jelaskan lagi, Bu. Dia jelas-jelas salah," ujar Riska menyedihkan dengan riasan yang sudah meleber kemana-mana.
"Kau yakin dia melakukan pelecehan terhadapmu? ataukah dirimu yang berusaha menggoda Nando?" tanya Bella berdiri tegak melipatkan kedua tangannya di dada.
"Saya yakin."
"Lalu, kenapa bagian baju belakang Nando terlihat sobek sedangkan kau masih utuh. Cuman riasan mu doang yang ancur berantakan karena ulah air mata biawakmu ini." Tunjuk Bella mengusap pipi Riska menggunakan telunjuknya. "Luntur."
"I-itu.."
"Itu karena dia menarik paksa saya dari belakang. Saya ingin keluar tapi di mencegahnya sehingga kami saling tarik-menarik membuat kemeja bagian belakang saya robek."
"Itu tidak cukup kuat di jadikan bukti, Pak Nando. Sudahlah, jangan mengelak lagi."
"Sepertinya kalian harus saya kasih pelajaran. Sudah ku katakan aku tidak salah. Dia telah memfitnah saya. Baiklah, dari pada terus bersandiwara seperti ini akan ku seret kalian ke kantor polisi. Kalau perlu semuanya." Nando sudah kesal semakin di pojokan.
Plak...
Tamparan keras ia layangkan cukup keras membuat sudut bibir Riska berdarah.
"Heeei..." Bayu berteriak.
"Diaaam! Jangan lagi bersandiwara di depan saya. Saya tahu apa yang Kakakmu rencanakan. Kau pikir saya bodoh bisa kalian tipu." Sebelum acara seret paksa, Bella sempat mendengar dan melihat bagaimana Nando berusaha menghindari Riska sampai membuat Riska berteriak minta tolong. Lalu, dia bersembunyi kala Bayu datang dan ia mendapatkan kabar tentang Hasna lewat telpon.
Di saat itu pula datanglah beberapa orang polisi menangkap paksa Bayu dan Riska. "Permisi, saudara Bayu dan Riska kalian kami tangkap atas tuduhan mencemarkan nama baik dan kasus narkoba. Ikut kami ke kantor polisi."
"Apa-apa ini, kami tidak salah. Lepaskan saya!" teriak Bayu mencoba kabur.
__ADS_1
"Yang salah itu dia, bukan saya. Dia telah melecehkan saya, lepaskan saya!" pekik Riska berontak.
"Pak jangan tangkap ibu saya. Yang salah itu mereka, Pak." Cegah Devi.
"Devi, kau mau dipenjara juga atas kasus pencemaran nama baik terhadap Hasna?" sergah Bella dingin penuh ancaman. Seketika Devi terdiam takut. Devi mengerti maksud ucapan Bella.
"Bawa saja mereka semuanya. Dasar pembuat onar." Pekik Devano tiba-tiba datang menghampiri diantarkan sopirnya.
Mereka menoleh. "Devano?!" tentu Devi terkejut kenapa anak itu ada di sana.
Polisi membawa paksa Bayu dan Riska sedangkan beberapa warga mulai membubarkan diri. Mereka cukup terkejut jika Bayu dan Riska seorang bandar narkoba.
Devan mendekat memutari Devi. "Kau maupun keluargamu tidak akan mampu menyakiti keluargaku. Apapun yang kau lakukan tak akan berhasil melakukannya. Yang ada kau sendiri yang akan hancur. Booom... meledak bagaikan bom menghancurkan segalanya." Bisiknya di telinga Devi menyeringai.
Devi menunduk semakin ketakutan. Ia tidak menyangka akan berurusan dengan orang semenyeramkan Devan. Saat ini, Devano terlihat kejam dan menakutkan.
Bella menghelakan nafasnya secara kasar. Inilah sisi lain dari seorang Devano, berdarah dingin. Apa yang Papanya miliki semuanya turun ke anak-anaknya dan akan terlihat menyeramkan ketika ada yang mengusik ketenangannya. Bella menjewer telinga Devan.
"Dasar bocah semprul, beraninya kau pulang di jam sekolah, hah? ngapain kamu pakai acara menakut-nakuti orang lain?"
"Aaawww aawww awww sakit, Mah. Devano tidak kabur tapi memaksa guru memulangkan Devan. Kan aku hanya ingin melindungi kalian saja." Vano cemberut mengusap telinganya yang terasa panas.
Seketika Bella memeluk putranya. "Makasih sudah melindungi Mama. Tapi, kamu tidak perlu memaksa orang lain juga."
Bella melepaskan pelukannya, matanya tertuju pada Devi. "Kamu harus mendapatkan hukuman dari saya."
"Benar, Mah. Kasih hukuman agar dia sadar."
"Penjara suci, itu hukumannya." Ucap Bella dan Devano bersamaan.
__ADS_1
Nando yang masih ada di sana tersenyum. Dia semakin mantap untuk menjadikan Bella pendamping hidupnya.