
Hati kecil Hasna bahagia bisa di gendong Ayahnya, ini yang sedari dulu gadis kecil itu inginkan. Hasna terus memandangi wajah Ayahnya tanpa mau berpaling ke lain arah.
Bahkan saat sedang sarapanpun, Hasna tidak ingin jauh dari Ayahnya dan Nando dengan senang hati mendudukan gadis kecil ini di pangkuannya. "Kamu mau nambah lagi makanannya? aaaa Om suapin?" Nando menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut mungil Hasna.
Dan Hasna selalu menerima suapan itu. "Makasih, Ayah."
"Hasna, jangan bilang begitu, Nak. Om Nando bukan Ayah kamu! Maafkan Hasna yang lancang menyebut Anda Ayah, mungkin dia sedang rindu Ayahnya sehingga siapapun di sebut Ayah."
Hasna menunduk sedih, "Maaf, Mah." lirihnya pelan.
"Tidak apa, Bel. Aku tidak keberatan Hasna menyebutku Ayah, siapa tahu aku bisa menjadi Ayahnya, iyakan Hasna?" balas Nando menatap wajah Hasna sekaligus meminta persetujuan ingin menjadi Ayah Hasna.
"Ayah, Om Ayahku!" Hasna mendongak menatap sedih wajah Nando.
"Hasna, Mama bilang tidak boleh seperti itu. Mana mungkin Om Nando Ayahmu? Mama sendiri tidak ingat siapa Ayahmu dan seperti apa wajahnya? Nenek bilang, Ayahmu sedang bekerja jadi jangan asal mengklaim orang lain sebagai Ayah!" Bella benar-benar tidak ingin Hasna terlalu mengharapkan Ayahnya yang tak pulang-pulang.
Nando memejamkan mata sejenak, dadanya tiba-tiba saja menjadi sesak saat Bella melarang Hasna memanggil dirinya Ayah padahal, hatinya terasa senang dan menghangat saat gadis kecil di pangkuannya menyebut Ayah.
"Om Nando Ayahku, Mah. Ayah udah pulang," lirih Hasna menahan tangis. Dia yakin Nando adalah Ayahnya karena setiap hari tanpa sepengetahuan Bella dia selalu tidur memeluk foto Ayahnya pemberian Elsa.
Deg...!"
Nando menunduk memandang intens wajah gadis kecil di pangkuannya. "Segitu yakinnya dia? segitu inginnya dia memiliki Ayah sehingga diriku terus di sebut Ayah?" batin Nando penasaran dan sedih.
Bella tidak tahu harus bilang apa lagi supaya Hasna mengerti, kepalanya terasa sakit jika ingin mengingat siapa Ayah dan seperti apa wajah Ayahnya Hasna.
"Apa kamu tahu siapa Ayahmu? apa kamu tahu wajah ayahmu, Nak?" tanya Nando kepada Hasna.
Hasna mengangguk, "Tahu."
"Siapa?" jantung Nando berdebar tak menentu.
"Jhon Vernando, wajahnya mirip seperti Om Nando, aku juga punya fotonya," jawab Hasna jujur.
Deg...!
Keduanya terpaku terkejut, Bella terpaku dan tiba-tiba sekelebat bayangan Jhon bermunculan di ingatan ya. Bella memegang kepalanya dengan kedua tangan berharap rasa sakitnya bisa berkurang.
Sedangkan Nando terpaku saat Hasna menyebut nama dirinya, "Apa mungkin dia?" batin Nando penasaran, takut, dan gemetar.
"Kak Bella," pekik Calista baru pulang dari tugasnya. Gadis itu langsung menghampiri Bella yang sedang menahan sakit di kepalanya. "Apa kepala Kak Bella sakit lagi?" Calista begitu khawatir.
"Mama," Hasna sudah menangis melihat Bella kesakitan.
"Bel, kamu kenapa?" Nando baru menoleh ketika Calista datang dan ia juga terkejut melihat Bella menjambak rambutnya.
__ADS_1
"Kepalaku sakit," lirih Bella.
Calista berupaya membuat Bella tenang dan ia mengambil obat dari tas Bella atas suruhan Bella. Tak lama kemudian sakitnya berangsur membaik.
"Are you ok?" tanya Nando berjongkok di hadapan Bella dan memegang kedua tangannya.
Bella melepaskan pegangannya, "Aku mau pulang!" pinta Bella dingin.
"Kakak istirahat di sini saja, ya?" pinta Calista khawatir.
"Tolong antarkan aku pulang!"
Nando menunduk, "Baiklah, aku antarkan kamu pulang sekarang juga." Dia tidak ingin membuat Bella merasa tidak nyaman berada di dekatnya.
Hasna terus merangkul tangan Mamanya takut sang Mama merasakan sakit lagi.
****
"Apa yang kakak sembunyikan dariku?" celetuk Calista saat melihat Nando melangkah masuk.
Nando menghampiri sang adik lalu duduk di samping nya menatap ke layar tv. "Tidak ada," jawabnya simpel.
"Jangan bohong! Sedari awal aku udah lihat kalau Kak Nando begitu memperhatikan Kak Bella. Kakak juga sering buat kak Bella ketakutan dan tadi bikin kak Bella kesakitan. Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian? jawab yang jujur!" Calista menatap tajam Kakaknya meminta penjelasan.
Nando memejamkan mata, menyenderkan punggungnya ke kursi. "Dia wanita yang dulu pernah Kakak sakiti? Dek, apa kamu mau membantuku?" Nando menegakkan tubuhnya menatap mohon pertolongan sang adik.
"Tolong kamu lakukan tes DNA kepada Hasna!" pinta Nando serius.
"Tunggu, tunggu, tunggu, aku belum mengerti maksud Kakak?"
Nando menyerahkan beberapa helai rambut Hasna. Tadi dia mendapatkannya ketika mengelus rambut Hasna dan kebetulan ada beberapa helai yang rontok. "Tolong lakukan tes DNA terhadap rambut ini dan cocokan dengan punya Kakak!" pinta Nando serius.
Calista mematung, ia menatap silih berganti tangan dan wajah Nando. "Ja jangan bilang ka kalau Kak Nando Ayah biologis Hasna?" ucap Hasna gemetar.
"Maka dari itu Kakak minta bantuan sama kamu untuk mendapatkan hasilnya seperti apa! Ka Nando mohon, Dek!" pinta Nando memohon.
"Tolong bantu Kakak!" pinta Nando memohon.
Perlahan Calista mengambil helai rambut Hasna. "Aku akan segera mencari tahunya," balas Calista yakin dan penasaran siapa Ayah Hasna Karen hati kecilnya Hasna sangat mirip Nando dan berpikir kalau Nando Ayahnya.
****
Toko baju
"Permisi, apa Bella nya ada?"
__ADS_1
Penjaga kasir menatap Adit, "Ada di ruangannya, Pak.'
"Bisa tolong kamu panggilkan dia sebentar saja!" pinta Adit memohon.
"Anda boleh duduk di sana Tuan! kami akan memanggilnya." Intan mempersilahkan Adit duduk terlebih dulu.
"Ada apa ya, manggil ku?" tanya Bella menghampiri Adit.
Adit menoleh dan langsung saja berdiri, "Aku mau mengajakmu makan, mau ya!"
"Hmmm gimana, ya. Sebelumnya aku ucapin terima kasih, tapi mohon maaf tidak bisa menerima ajakan kamu. Masih banyak kerjaan yang harus ku lakukan. Maaf ya."
"Sebentar saja, ada yang ingin aku sampaikan sama kamu. Di Cafe depan saja, tidak jauh dari sini, aku janji." Bujuk Adit untuk bisa mengajak Bella makan.
Bella berpikir, "Hanya sebentar, kan?"
"Iya, sebentar. Janji!"
"Baiklah, ayo!" akhirnya Bella mau.
Adit sering mengunjungi Bella di toko bajunya dan terhadang sering mengirimkan makanan atau memberikan hadiah-hadiah kecil. Bella mengenal Adit saat Adit membeli baju ke tokonya dan dari situ Adit sering mampir untuk belanja dan sekalian ngobrol.
Adit menuntun Bella untuk duduk di tempat yang di sediakan. Sudah terdapat beberapa hidangan makanan di atas meja.
"Silahkan makan dulu!"
"Terima kasih," ucap tulus Bella.
Beberapa saat telah berlalu. "Bel, aku ingin mengungkapkan isi hatiku sama kamu. Sejujurnya aku sudah menyimpan perasaan ini sudah lama dan baru sekarang aku berani mengutarakannya kepadamu. "Adit memegang kedua tangan Bella.
Tingkah keduanya di perhatikan oleh sepasang mata yang merasa panas melihat kemesraan keduanya.
"Bella, aku menyukaimu, maukah kamu menjadi pacarku?"
Bella terkejut dan langsung melepaskan tangannya dari Adit. "Maaf, aku tidak bisa menerima mu."
"Kenapa? apa kurangnya aku selama ini sama kamu? aku bahkan sering memberikan hadiah-hadiah kecil untuk kamu, aku bahkan sering memberikan mainan untuk anak kamu. Apa selama ini aku kurang baik?"
"Jika kamu tidak ikhlas memberikannya aku akan mengembalikan lagi kepadamu. Maaf aku harus balik ke toko!" Bella sudah berdiri ingin pergi namun malah di cekal Adit.
"Jangan sok jual mahal, Bel. Aku tahu kamu wanita seperti apa, kamu hanya seorang wanita bayaran yang akan memberikan tubuh kamu hanya demi uang. Jadi, jangan pernah sekalipun kamu menolakku karena aku tidak suka penolakan!" ucap Adit tegas dan lantang.
Wanita bayar, uang, memberikan tubuh, semua kata-kata itu kembali terngiang di kepala Bella. "Aku bukan wanita bayaran," pekik Bella ingin melepaskan cekalan Adit.
"Kau itu wanita murahan, dulu kau seorang pel*cur yang menjajakan tubuhnya untuk uang jadi...."
__ADS_1
Bugh.....
Bersambung....