
Hari ini telah tiba, hari dimana Bella membuka perban operasi penerimaan donor mata dari orang yang belum di ketahui siapa orangnya.
Saat di beritahukan ada donor mata, mereka menunggu 2x24 jam untuk bisa melakukan operasinya karena itu prosedur dari rumah sakit sendiri guna memastikan kelayakan dan kesehatan untuk si penerimanya.
Secara perlahan, Calista mulai membuka perban yang melilit di mata Bella. Semua orang sudah harap-harap cemas takut operasi nya gagal.
Elsa dan Hasna berdiri di samping kiri Bella, Calista dan satu Suster di samping kanan Bella, lalu Alex berdiri di hadapan Bella.
Calista sudah membuka lilitannya dan kasa yang ada di setiap kelopak mata Bella. "Coba Kakak buka matanya pelan-pelan!" titah Calista.
Bella pun mengikuti instruksi Calista, dia membuka kelopak matanya secara perlahan. Matanya terasa sedikit sakit saat cahaya masuk dan iapun memejamkan kembali matanya.
"Pelan-pelan saja kak!" ucap Calista seolah tahu apa yang di rasakan Bella.
Bella kembali membuka pelan-pelan matanya, perlahan namun pasti ia berhasil. Dia sempat tertegun menatap ke depan tak dapat berkata apapun.
"Bee, apa kamu bisa melihatku?" tanya Alex cemas dan tentunya khawatir.
"Mama, apa Mama bisa lihat Hasna?" gadis kecil yang ada di samping Bella juga merasakan khawatiran.
Bella masih tak menjawab, hanya air mata menetes membasahi pipinya.
"Dokter, apa yang terjadi kepadanya? kenapa Istriku tidak bicara apapun?"
Calista juga khawatir takut gagal. "Kak."
"Aku bisa melihat lagi," lirihnya menatap Alex, Hasna, dan Elsa secara bergantian. Dia juga melihat ke arah Calista.
"Pasti kamu Dokter Calista adiknya Jhon?" tanya Bella. Dia belum mengetahui rupa Calista karena dia mengenal Calista saat setelah kecelakaan yang menyebabkan nya buta dan Calista lah yang menjadi dokternya.
Calista mengangguk terharu, ia ikut senang Ibu dari keponakannya bisa melihat lagi.
"Bee," ucap Alex langsung memeluk istrinya. Tak ada yang membuat ia bahagia selain Istrinya baik-baik saja.
"Syukurlah, operasinya berhasil." ucap Calista dan Elsa.
"Mama," ucap Hasna ikut menangis.
Alex melepaskan pelukannya. "Sayang, Mama udah bisa lihat lagi, sekarang kita bisa bermain lari-larian bersama," kata Alex memangku Hasna.
Bella mengusap pipi putrinya, ia memeluk kedua orang yang ia sayangi kemudian beralih memeluk Elsa.
__ADS_1
Tak ada yang membuat Bella bahagia selain orang-orang terdekatnya yang begitu menyayangi dan mencintai dirinya tanpa melihat siapa ia dulu.
Kepindahannya ke kota M membuat kehidupan Bella jauh lebih baik lagi. Di kota yang sekarang, tak ada satupun yang mencela dirinya melahirkan tanpa suami.
Justru, orang-orang di kota M menurutnya begitu ramah, sopan, tak ada yang berbuat jahat kepadanya yang pasti solidaritas nya sangat bagus.
Disaat suasana haru tersebut, pintu masuk di ketuk seseorang. Merekapun mempersilahkannya masuk.
Calista tersenyum melihat siapa orangnya dan ia menghampiri kemudian mengambil alih mendorong kursi roda sang Kakak.
"Ayah...." pekik Hasna ingin turun dari gendongan Alex. Alex pun menurunkan Hasna, ia tidak melarang Hasna bertemu Ayahnya walau bagaimanapun Nando Ayah biologis Hasna.
Nando tersenyum. "Apa kabar putri Ayah yang cantik?" tanya Nando membalas pelukan Hasna.
"Aku baik, Ayah. Aku senang Ayah udah sehat, dan aku juga senang Mama bisa melihat lagi. Apa Ayah tahu, aku selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian. Kata Bunda, kita sebagai anak harus mendoakan orang tuanya dimanapun mereka berada, sesalah apapun mereka harus memaafkannya." Tutur Hasna riang mengingat salah satu ucapan Bundanya yaitu Syafira.
"Dan itu sebabnya doa kamu di kabulkan oleh Tuhan sehingga membuat Ayah, Mama, dan kita semua selalu dalam lindungannya," sahut Dimas mengusap kepala Hasna.
Nando tersenyum, ia menoleh ke arah depan. Matanya tak sengaja bertubrukan dengan Bella. Ia menatap penuh penyesalan namun ia berusaha untuk mengikhlaskan.
Alex yang melihatnya langsung merangkul Bella seolah menunjukan bahwa Bella sekarang miliknya. Dan Bella pun mendongak tersenyum ke arah Alex.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nando pada Bella.
"Mas," lirih Bella tidak enak hati atas kejutekan suaminya. "Aku baik, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya baliknya.
"Seperti yang kamu lihat, sekarang aku duduk di kursi roda," jawan Nando tersenyum getir.
"Semoga kamu cepat sembuh dan cepat menemukan pengganti Bella," celetuk Alex menyindir halus perasaan Nando.
"Untuk merayakan kepulihan kalian, bagaimana kalau kita mengadakan acara barbeque di rumah Alex?" usul Dimas mengalihkan suasana yang sedikit memanas.
"Kok di rumah Mas Alex? emangnya dia punya rumah?" tanya Bella bingung, ia belum mengenal siapa Alex, yang ia tahu Alex adalah anak buah Syafira.
"Aku pernah ke rumah, Papa. Rumahnya besaaar seperti rumah Bunda di sini dan di kota J," timpal Hasna dan tangan mungilnya di rentangkan seolah menunjukan rumah sang Papa besar.
"Kok kita tidak tahu, ya?" ujar Elsa.
Begitupun dengan yang lainnya tidak tahu siapa Alex.
"Lah, kalian belum tahu siapa Alex?" tanya Dimas mengernyit heran.
__ADS_1
"Belum," jawab semua orang. Dimas semakin bingung ketika semuanya menjawab tidak tahu.
"Astaga..! Jadi loe menyembunyikan siapa loe dari mereka, Lex?" tanya Dimas pada Alex.
Alex malah tersenyum. "Belum sempat memberitahukan mereka, Dim."
"Hadeuuhh, aku kasih tahu ya, dia itu pemilik rumah sakit AR HOSPITAL ini. Dia juga pemilik pabrik konveksi pembuatan tas-tas wanita maupun pria yang tasnya sudah terkenal ke berbagai kota," ujar Dimas memberitahukan siapa Alex yang sebenarnya.
"Apa?! jadi dia pemilik ruamh sakit ini?" Bella, Elsa, Calista, terkejut karena mereka tidak tahu.
"Jadi dia juga yang menjadi pemasok tas ke toko ku?" tanya Bella.
"Iya, dia orangnya. Dia juga tahu siapa yang telah mendonorkan mata untukmu," balas Dimas.
Semua orang menatap Alex meminta penjelasan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Alex ngeri melihat tatapan mereka.
"Mas, kasih tahu aku siapa orangnya. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada dia," pinta Bella.
"Dia sudah meninggal, Bee. Tapi aku bisa menunjukan makamnya."
******
Keluarga Bella sudah tiba di salah satu pemakaman umum.
Bella, Hasna dan Alex berjongkok di sebelah kiri dan Elsa sendiri di bagian sebelah kanan.
Bella mengusap pusara bertuliskan nama Aditya. Dia menunduk sedih atas apa yang telah terjadi kepadanya.
"Adit, terima kasih atas mata yang kamu berikan kepadaku. Aku memaafkan setiap kesalahan yang kamu perbuat kepadaku. Semoga kamu di berikan tempat terindah di sisinya, dan karena matamu, aku kembali bisa melihat lagi dunia."
Orang yang telah mendonorkan mata adalah Aditya, pria yang tanpa sengaja menabrak Bella sampai menyebabkan Bella buta. Lebih tepatnya Adit merupakan kekasih dari Tiara.
Adit meninggal akibat kebanyakan minuman minuman keras. Sebelum meninggal, ia sempat berpesan kepada adiknya untuk mendonorkan mata kepada seseorang yang ia tabrak.
Adiknya pun mengabulkan permintaan terakhir dari mendiang kakaknya sebagai permintaan maaf atas apa yang telah di lakukan oleh Kakak nya dulu.
Bersambung....
Mohon maaf kalau ada keterlambatan dalam up bab-bab berikutnya, dan mohon maaf jika kurang memuaskan.
__ADS_1
Mohon doanya supaya keluargaku di berikan ketabahan dan keikhlasan atas wafatnya nenekku lebih tepatnya ibu dari Mamaku tadi pagi pukul 04: 20
Dan jujur, saat ini pikiranku sedang kacau dan sedikit malas menulis namun aku akan usahakan untuk bisa tetap up meski satu bab perhari demi kalian.🙏🙏🙏😔 😔😭😭😭