
***
Sesampainya di kamar, Sasa langsung membersihkan tubuhnya, rasanya tubuhnya saat ini saat lengket.
Setelah membersihkan tubuhnya, Sasa kemudian mengambil wudhu dan melaksanakan sholat magrib.
Baru saja mendudukkan bokongnya di ranjang, perut Sasa berbunyi sepertinya cacing-cacing di perutnya sudah berdemo meminta makan. Sasa pun bergegas menuju meja makan.
Di meja makan, tidak ada orang. Sasa berpikir mungkin semua sudah makan. Sasa pun melanjutkan mengambil piring dan mengisinya dengan berbagai macam makanan.
Akhirnya udah kenyang, perut kenyang hatipun senang. ucap Sasa bermonolog sambil terkikik
Orang rumah pada kemana yah? tanya Sasa pada dirinya sendiri
Mungkin mereka di ruang keluarga. jawab Sasa sendiri
Untung tidak ada yang melihat Sasa, bisa-bisa ia dikira orang gila. Sasa yang membayangkan itu bergidik ngeri kemudian bergegas menuju ruang keluarga.
Sasa pun melihat kedua orang tuanya dan kedua adiknya di sana sedang mengobrol serius, membuat Sasa penasaran saja.
Pada ngmongin apa nih, serius banget. Sampe Sasa dicuekin. ucap Sasa mendramatis
Ih kak, wajahnya nggak usah gitu banget napa. ucap Santi terkekeh
Terserah aku dong, wajah-wajah aku kok kamu yang sewot. ucap Sasa tak terima
Ih sensian banget, pms kak? ucap Santi semakin menjengkelkan
Sasa hanya memutar bola matanya malas menanggapi ucapan adiknya itu, bisa-bisa ia tinggi darah.😠😠😠😠
Sudah San, jangan membuat kakakmu itu marah. ucap Mamanya memperingati
Papanya dan adiknya Sinta hanya terkekeh melihat perdebatannya dengan Santi. Selalu begini, aku memang sering berdebat dengan Santi karena ia sepertinya sangat suka mencari gara-gara denganku, berbeda dengan Sinta yang pembawaannya lebih tenang.
Sasa kan tadi nanya lagi ngomongin apa, kok nggak ada yang jawab?? ucap Sasa mengingat pertanyaannya tadi
Nggak penting kak, biasa Santi menceritakan kejailannya di sekolah. jawab Sinta membuatku tak percaya. Tadi jelas-jelas aku liat mereka serius banget, kalau masalah Sinta mereka nggak akan sampai seserius itu. Tapi yaudahlah, terima aja jawaban Sinta.
Owh gitu. ucap Sasa singkat kemudian duduk didekat Sinta, ia sengaja tidak duduk dekat Santi yang nyatanya lebih dekat dengan tempatnya berdiri tadi karena takutnya akan menimbulkan perdebatan lagi nanti. Ia sudah cukup pusing dengan tingkah-tingkah adiknya yang tak terduga.
Sa, tadi waktu pulang dari toko buku dianterin siapa? tanya Papanya menatap Sasa
Dianterin kakak kelas Pa. ucap Sasa singkat menatap Papanya, tumben Papanya nanya biasanya kan enggak pernah nanya
Namanya siapa? tanya Papanya kepo
Rafi Pa. ucap lagi Sasa singkat
Kedua orang tuanya yang mendengar nama itu langsung terkejut pasalnya namanya itu persis dengan nama seseorang dari masa lalu Sasa yang sangat berarti dalam hidup Sasa, andai saja kecelakaan itu tidak terjadi mungkin saja Rafi dan Sasa saat ini semakin dekat.
Rafi? tanya Mamanya memastikan
Iya Ma. Emang kenapa sih, Mama nanya gitu? Emang Mama kenal? tanya Sasa bingung dengan tingkat kedua orang tuanya setelah mendengar nama Rafi
Owh nggak, Mama cuman mastiin takutnya Mama salah denger. ucap Mamanya berbohong
Hem, dia baik banget loh Ma. Dia sampai ngajakin Sasa makan juga tadi. ucap Sasa antusias membayangkan perlakuan Rafi padanya
Oh yah?? seperti apa sih orangnya, Mama jadi penasaran nih. ucap Mamanya tersenyum penuh makna
Dia itu ganteng, tinggi, pintar, baik. Intinya dia itu idaman banget deh Ma. ucap Sasa tak sadar
Wah, sepertinya anak Mama ini sedang jatuh cinta. ejek Mamanya
Uhhuiii kakak akhirnya move on juga. ejek Santi membuat Sasa salah tingkah
__ADS_1
Kakak itu udah move dari dulu yah, kamunya aja yang enggak tau. ucap Sasa membela diri
Pasti Rafi ini lebih segalanya yah dari Fatan, karena dia bisa membuat kakak kita ini sangat cepat menyukainya. ucap Sinta membuat Sasa diam karena memang Rafi lebih segala-galanya dari Fatan. Tapi bukan karena Rafi lebih ganteng atau apa itu yang membuat Sasa suka padanya tapi Sasa merasa ia dan Rafi sudah kenal lama sehingga membuat Sasa merasa terlindungi jika dekat dengan Rafi.
Papa cuman mau ngingetin Sa, jangan sampai kejadian 3 tahun yang lalu terjadi lagi. Dimana kamu menyukai seseorang sedangkan orang itu tak menyukaimu. ucap Papanya memperingati
Iya Pa, Sasa tau kok. Sasa akan hati-hati. ucap Sasa meyakinkan
Sasa tau betul bahwa orang tuanya sangat mengkhawatirkan dirinya, setelah kejadian 3 tahun lalu, orang tuanya selalu mewanti-wanti dirinya untuk tak sembarang menyukai seseorang tanpa mencari tau orang itu dulu. Sasa bersyukur orang tuanya selalu mengingatkannya dan Sasa merasa tak sendiri pasalnya kedua orang tuanya dan kedua adiknya selalu ada mendampinginya di saat ia bersedih.
Kak namanya kakak kelas kakak itu kok sama yah dengan nama seseorang waktu itu. ucap Santi penasaran
Seseorang siapa San? tanya Sasa penasaran dengan pertanyaan adiknya itu
Itu loh k...ak. ucap Santi singkat karena melihat kedua orang tuanya mengkode agar tidak memberitahu Sasa, Santi yang sadar telah kelewat batas akhirnya tidak menyelesaikan perkataannya
Siapa San? bikin penasaran aja deh. ucap Sasa kesal dengan adiknya yang bertele-tele
Itu loh kak, tukang bakso langganan Santi. ucap Santi berbohong sambil tersenyum agar kakaknya itu percaya dengan perkataannya
Jadi maksud kamu, senior kakak itu tukang bakso. ucap Sasa bertambah kesal sambil melototkan matanya kepada adiknya
Santi nggak ngomong gitu yah kak. Santi terkikik membuat orang tuanya bernapas lega
Ih kamu ini yah. kesal Sasa kemudian berlalu mengejar Santi yang sudah meninggalkan tempatnya
Sasa dan Santi pun saling kejar-kejaran di ruang keluarga membuat kedua orang tuanya bahagia melihat keakraban anak-anaknya.
San sini kamu. teriak Sasa mengejar Santi
Nggak mau, wleeeeee. ucap Santi menjulurkan lidahnya ke arah Sasa kemudian melanjutkan larinya membuat Sasa semakin kesal dengan adiknya itu
Awas kamu yah. ucap Sasa mempercepat larinya
Sa, udah. ucap Papanya tegas
Tapi kan Pa, dia tuh bikin Sasa kesel mulu. ucap Sasa tak terima
Nggak ada tapi-tapian Sasa. putus Papanya membuat Sasa menghentakkan kakinya menuju kamarnya
Pa, nggak usah gitu juga kali. Sasa kan jadi ngambek. ucap Mama Sasa menegur suaminya
Nggak papa Ma, sekali-kali agar dia bisa bersikap lebih dewasa. ucap Papa Sasa tersenyum melihat kepergian Sasa
Sinta susul kak Sasa dulu yah Ma, Pa. pamit Sinta kemudian menyusul kakaknya
Papa dan Mamanya hanya menganggukan kepalanya kemudian keduanya pun menuju kamar untuk beristirahat setelah seharian bekerja.
Sin, tungguin akuuuu. teriak Santi mengejar kembarannya
toktoktoktok
Kak ini aku, aku boleh masuk. teriak Sinta meminta izin
Masuk aja, nggak dikunci kok. teriak Sasa
Sinta dan Santi pun duduk di hadapan Sasa. Sinta yang melihat kakaknya itu diam membuatnya merasa bersalah. Beginilah persaudaraan mereka Sinta dan Santi selalu bertengkar tapi tak lama berbaikan lagi. Lucu yah😄
Kak aku minta maaf ya soal tadi. ucap Santi menunduk
Sasa terdiam membuat Santi semakin merasa bersalah.
Kak aku minta maaf, please maafin aku yah. ucap Santi sedih
Sasa yang sudah mati-matian menahan tawanya akhirnya tertawa membuat Santi merasa dipermainkan.
__ADS_1
Ih kak, aku kirain marah beneran. Eh ternyata kakak ngerjain aku. ucap Santi kesal
Hahahahha sorry-sorry. Kalian kesini cuman untuk minta maaf? tanya Sasa kepada kedua adiknya
Nggak dong kak. ucap Kedua adiknya
Terus? tanya Sasa mengangkat kedua alisnya
Siapa tau kakak mau curhat atau apa gitu, kita siap mendengarkan. ucap Sinta menawarkan diri
Hemm gitu, emang kalian nggak punya tugas sekolah? tanya Sasa takut kedua adiknya melupakan tugasnya
Masalah itu kakak tenang aja, semua udah beres, iya nggak San. ucap Sinta bangga
Yoi Sis. ucap Santi
Yaudah kalau gitu kalian pasang telinga kalian baik-baik, kakak akan menceritakan sesuatu yang fantastis. ucap Sasa terkekeh
Seperti apa itu kak? tanya Santi penasaran
Hari ini kakak melihat sesuatu yang terjadi yang nggak pernah kakak sangka akan terjadi. ucap Sasa membuat kedua adiknya tambah pusing saja
Apa terjadi gempa? tsunami? atau yang nggak mungkin terjadi sebelum kiamat seperti matahari jatuh ke bumi mungkin. ucap Sinta panjang lebar membuat Sasa nggak percaya, mengapa adiknya bisa berpikiran kesana, ada-ada saja pikirnya.
Emang kalian merasakan itu? tanya Sasa kembali
Enggak sih kak. ucap Sinta bertampang bodoh
Kalau nggak rasain berarti nggak terjadi seperti itu. ucap Sasa mendelikkan matanya
Terus kakak melihat apa? ucap Sinta mengetuk kepalanya dengan telunjukkan seperti sedang berpikir
Kakak enggak nyangka. ucap Sasa ambigu menggelengkan kepala membuat kedua adiknya gregetan
Ih kakak bilang aja sih langsung, nggak usah berbelit-belit gitu. kesal Santi
Oke-oke sabar napa. ucap Sasa terkikik melihat kekesalan kedua adiknya
Yaudah ngomong cepet. ucap Santi menahan amarah
Kakak nggak nyangka kalau dia akan satu kampus dengan kakak. ucap Sasa merubah mimik mukanya terlihat sedih
Whatt?? kemarin ketemu di alfamart, itu masih mending mungkin kebetulan. Tapi yang sekarang satu kampus, bukan kebetulan. Jangan-jangan dia emang sengaja pengen dekat lagi dengan kakak. ucap Sinta serius
Entahlan Sin, bahkan kakak satu kelas. ucap Sasa menghembuskan napas pelan
Wah lebih parah ini. Kakak nggak usah ladenin lah. ucap Santi mengingatkan
Maunya gitu, tapi dianya aja sering ngikutin kakak. Kakak kan nggak tau mesti ngapain kalau udah begitu. ucap Sasa pasrah
Jalani aja kak. Kakak kan udah punya kak Rafi, Fatan mah masa lalu. ucap Sinta tersenyum mengingat kakaknya itu dengan Rafi
Hem semoga aja semuanya baik-baik saja. ucap Sasa berharap
Yaudah kak, kakak tidur aja. Kami kembali ke kamar. pamit kedua adiknya
Oke. ucap Sasa memperbaiki tempat tidurnya
Beberapa menit berlalu akhirnya Sasa masuk ke alam mimpi.
***
Jangan lupa vote & comment❤❤
Kami hanya penulis amatir, vote & comment kalian akan sangat membantu kemajuan tulisan kami.
__ADS_1