Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 35


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


“Welcome Home!!!” serempak orang-orang terdekat Adrivan menyambut kedatangannya saat tiba di rumah.


Riko mendorong kursi roda Adrivan memasuki ruang tamu yang terlihat penuh akan kehadiran beberapa orang.


“Bagaimana kabarmu Van?” tanya Nando yang duduk di samping sang istri.


“Alhamdulillah kak, sudah jauh lebih baik”


“Ya jelas baik lah mas, yang rawat aja calon istrinya” goda Riko yang masih berdiri di belakang bosnya.


Sontak ucapan Riko membuat semua orang di sana tertawa lebar, sementara Nania tersipu malu.


“oh ya, pantes saja wajahnya sumringah begini, tak terlihat sakit” jawab Nando ikut menggoda.


Adrivan ikut tersenyum lebar mendengar tawa dari semua orang yang hadir di sana. Kebahagiaan yang telah lama ia nantikan kini telah hadir di tengah mereka.


“Riko benar kak, adik kakak merawat Rivan dengan baik”


“Kalian ini suka sekali menggoda pasangan baru?” ucap papa Doni seolah tak suka dengan candaan mereka,


Semua orang menghentikan tawa mereka dan menatap papa Doni, menantikan kata yang akan di ucapkan selanjutnya.


“Lalu kapan kamu akan melamar putri papa secara resmi Van?” lanjut papa Doni dengan senyum menggodanya


“Yach….!!!” Semua orang bersorak mendengar ucapan papa Doni.


“papa sama aja!” Nando mencebik gemas,


“Loh! ya beda dong, papa kan minta kejelasan” papa Doni membela dirinya, tak terima di samakan ikut menggoda calon menantunya.


Adrivan yang di tanya pun menatap Nania yang bergelayut manja di lengan sang mama,


“Sebenarnya Rivan siap kapan pun siap pa, tapi kalau di perkenankan setelah kaki Rivan pulih, karena Rivan ingin jeda antara lamaran dan pernikahan tak terlalu lama” ucap Adrivan mantap setelah mengalihkan padangannya ke arah calon mertuanya. “Rasanya tidak mungkin menggelar acara dalam kondisi Rivan seperti ini”


“Wah, sudah pengen cepet-cepet tho aslinya” celetuk Nando di tengah suasana yang tiba-tiba menjadi serius itu.


“Ya iya lah Mas, kemarin di rumah sakit aja ndak mau di tinggal kok” timpal Riko kembali mencairkan suasana.


“Wah, bahaya kalau gitu, dek... mulai sekarang kamu harus di rumah terus, jangan deket-deket Rivan dulu” kini Linda ikut menggoda,


“Bener, Lia, karena putramu sudah di rumah, jadi setelah ini kami akan mengontrol pertemuan Rivan dan Nania” lanjut mama Nita menyetujui ucapan menantunya.


“Iya Nit, bisa bahaya sebenarnya kalau mereka sering bertemu”

__ADS_1


“Ih, mama kok ikut-ikutan sih, kalau gitu kita nikah secepatnya aja dek” kesal Adrivan karena semua orang menggodanya.


“tunggu-tunggu…..” Nando melongo mendengarkan panggilan Adrivan untuk adiknya, semua orang pun terheran karena biasanya mereka hanya memanggil nama masing-masing. “Dek??? Kamu panggil Dek?”


“Kalian sudah merubah panggilan kalian?” pekik Nando kembali


Sepasang kekasih yang menjadi sasaran godaan itu hanya mengangguk malu, bahkan Nania menenggelamkan wajahnya di lengan sang mama.


“Ah, akhirnya….” Nando merangkul calon adik iparnya dan menggoyang tubuhnya,


“Sssst…” Adrivan mendesis karena tingkah kakak iparnya, lengannya yang masih di perban merasakan nyeri akbitan goncangan keras sang kakak.


“Kak Nando,…. Rivan kesakitan itu!” pekik Nania saat mendengar desisan sang kekasih.


Mama Dahlia dan Nania pun mendekati Adrivan yang memejamkan matanya.


“Mana yang sakit Van?” tanya mama Dahlia setelah Nando melepaskan rangkulannya, wajahnya terlihat khawatir dan merasa bersalah.


Rasa senang dan gemasnya membuatnya lupa kalau saat ini calon adik iparnya belum sembuh sepenuhnya.


“Pening ma, tangan Rivan nyeri” ucap Adrivan pelan, dan masih memejamkan matanya.


“Riko antar Rivan untuk berbaring di kamarnya”


“Baik bu” Riko pun segera mendorong kursi roda atasannya itu menuju kamar Adrivan dengan Nania yang setia mengekori sang kekasih.


“Tak apa-apa Nan, tak ada yang serius, efek obatnya memang sudah habis, sudah waktunya Rivan minum obat lagi.” Mama Dahlia meraih tasnya dan mengikuti sang putra menuju kamarnya sementara semua orang terdiam dan menenangkan Nando yang masih terlihat khawatir.


“Maaf pa,” cicit Nando pada orang tuanya.


“sudahlah Nan, lain kali harus lihat situasi dulu” tegur sang papa dengan lembut.


“Iya pa, saking senengnya Nando lupa kalau Rivan masih belum sembuh”


“jangan khawatir Nan, mamanya akan menanganinya” timpal Ryan yang melihat anak dari sahabatnya itu menundukan kepala.


Mereka pun terdiam dan menunggu mama Dahlia menangani Adrivan yang telah di baringkan di kamarnya.


“Bagaimana ma?” tanya papa Ryan saat melihat istrinya keluar dari kamar sang putra,


“gapapa pa, sekarang Rivan tertidur, mama sudah kasih obat anti nyeri, ini memang sudah waktunya Rivan minum obat”


“Tak ada yang serius kan tan?”


“Tidak Nan, Rivan baik, karena sudah sedari siang juga Rivan duduk , sepertinya sudah menahan sakit sedari tadi saat perjalanan, dan tak kuat saat kamu merangkulnya tadi”

__ADS_1


“Maafkan Nando tan”


“Tak apa Nak, semuanya baik-baik saja”


Sementara itu di kamar Adrivan


“Saya permisi juga mb” ucap Riko yang berpamitan setelah membantu Adrivan berbaring dengan nyaman.


“Terimakasih Ko”


Adrivan telah memejamkan matanya, rasa nyerinya membuatnya tak sanggup untuk terus terjaga, di tambah dengan obat yang telah diminumnya membuatnya semakin enggan untuk membuka mata.


“Cepet sembuh Mas” Nania menggenggam telapak tangan Adrivan dan mengecupnya pelan sebelum beranjak meninggalkan kamar.


Semua orang kini beralih ke ruang keluarga dan tampak ada pembicaraan serius antar orang tua setelah melihat ketergantungan Adrivan pada Nania saat merasakan sakit tadi.


“Apa sebaiknya kita nikahkan mereka dulu Yan?”


“Apa maksudmu Don?”


“Sebenarnya aku masih belum rela untuk melepas putri ku satu-satunya, tapi melihat kondisi Rivan saat ini dan mungkin sebaiknya mereka kita nikahkan dulu, hanya untuk menjaga marwah Nania”


Semua orang terdiam, mencerna ucapan kepala keluarga Rahardian yang tengah berbicara serius.


“Aku yakin mereka bisa menjaga diri, tapi hanya untuk berjaga-jaga saja. Meskipun Rivan masih sakit, tapi dia masih bisa melakukan Akad” lanjutnya.


Deg!


Nania yang baru saja tiba di ruang keluarga, seketika menghentikan langkahnya, mengerutkan dahinya dan mengamati semua orang yang tengah terdiam menyimak perkataan sang papa.


‘Akad, papa bicara bisa melakukan akad? Siapa yang akan melakukan akad?’ gumam Nania karena tak mendengar keseluruhan ucapan papa Doni.


“Papa ada benarnya juga, kalau Nia mungkin bisa menjaga diri, tapi aku tak yakin dengan Rivan om” Nando ikut menguraikan pendapatnya,


“Mama setuju pa, saat di rumah sakit kemarin saja Rivan begitu manja dengan Nania, dan benar-benar tak mau di tinggal, dan lagi kondisi saat ini membuat Nania akan terus berinterkasi dengan Rivan, kecuali kalau Rivan mau di rawat yang lain, jadi bisa membatasi pertemuannya dengan Nia” mama Dahlia ikut menyampaikan pendapat.


“Tapi kalian dengar sendiri tadi, kalau Rivan ingin menikah setelah kondisinya pulih”


Tbc


Hallo semua nya, 🤗🤗🤗


terimakasih atas dukungan semuanya,🤩🤩


jangan lupa likenya ya, biar othor semakin semangat update 🤗

__ADS_1


Love you All….😍😍😍


__ADS_2