Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 76


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Matahari telah naik dari peraduannya, menemani setiap insan melaksanakan aktivitasnya. Namun wanita yang masih dalam keadaan ketakutan itu kembali terlelap setelah sang mertua memberikan obat penenang. Sementara sang suami kini sibuk dengan ponselnya di ruang depan menelpon pengacaranya.


“Jadi benar dia sudah dibebaskan pak?”


“Benar mas, baru 2 hari yang lalu ia bebas dengan jaminan”


“dia meneror istri saya pak”


“kami akan bantu selidiki mas, yang penting untuk saat ini mbak Nia selalu dalam penjagaan mas”


“Kalau itu pasti pak, tanpa ada kejadian ini pun kami akan selalu menjaganya”


“Baik mas, secepatnya saya akan info ke mas Rivan kalau ada perkembangan”


“Baik pak, terimakasih”


Rivan masih terlihat begitu khawatir, sedari tadi ia tak dapat duduk dengan tenang, pikirannya hanya terpusat pada kondisi sang istri, padahal ada hal yang harus ia urus untuk peresmian resort besok pagi.


“Van duduklah, mama pusing dari tadi melihatmu mondar-mandir”


Sepasang suami istri yang masih terlihat gagah dan cantik itu duduk di sofa dan melihat anak semata wayang mereka mondar- mandir di depan mereka.


“Rivan ga tenang ma”


“Mama tau, tapi setidaknya duduklah, tenangkan dirimu sendiri, agar bisa berpikir jernih”


“Hubungi mertuamu, dan sampaikan apa yang terjadi, mereka perlu tau”


Rivan mengangguk, kemudian kembali mengotak-atik ponselnya, mencari nomor sang papa mertua dan segera menekan menu panggil untuk menghubunginya.


“Assalamu’alaikum pa”


“Wa’alaikumusalam, kenapa Van, tumben pagi-pagi telpon papa”


“Hmm, maaf pa, papa sedang sibuk tidak?”


“Papa baru mau sarapan Van, ada hal serius?” tanya papa Doni yang menangkap gelagat aneh sang manantu, tak biasanya ia menanyakan dirinya sedang sibuk atau tidak saat menelpon.


“Hmm, iya pa, maaf….” Ucap Rivan dengan lirih,


“Kakakan, papa masih di kamar, tak ada siapapun di sini”


Rivan menghambuskan nafas kasar, membuat lawan biacaranya di seberang telpon mengerutkan dahi, semakin bertanya-tanya.

__ADS_1


“Maaf pa, bisakah papa ke sini siang ini?”


“Apa yang terjadi?”


“Nia mendapat teror pa, Raymond sudah lepas dari tahanan”


“b****k, bagaimana bisa?” geram papa Doni mendengar berita yang di sampaikan menantunya.


“Bebas dengan jaminan pa, kalau bisa Rivan mohon papa segera ke sini”


Papa Doni pun menyanggupi permintaan sang menantu, kemudian memberikan arahan untuk memperketat penjagaan pada Nania ataupun keluargannya. Tak lupa ia pun menelpon adik iparnya untuk membantu mengawasi Raymond di negaranya.


***


Hingga siang hari Nania baru mengerjapkan matanya, ia mengedarkan padangannya ke sekitarnya dan tak menemukan seorang pun di sana.


Cklek!


Terdengar pintu kamar terbuka, dan terlihat sesorang wanita yang begitu di kenalnya masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas susu.


“Mama!” pekik Nania pelan, karena melihat sang mama telah berada di sini, ‘bukankah seharusnya nanti malam baru tiba, kok sudah di sini? Apa ini sudah malam? Atau ini hanya mimpi?’


Nania tampak linglung dan mencoba untuk bangkit dari tidurnya, sementara sang mama meletakan nampan di atas nakas.


“Bagaimana kondisimu sayang?”


“Lalu harus di mana sayang?” tanya mama Nita dengan lembut, karena mendengar pertanyaan sang putri.


“Apakah ini sudah malam? Aku tidur selama itu kah?” Nania mengedarkan padangannya dan melihat ke arah luar jendela yang tertutup gorden.


“Belum sayang, baru jam 11 siang, tapi kamu sudah melewatkan sarapanmu, karena kamu sudah bangun sebaiknya kamu makan dulu ya”


Nania menggeleng, kemudan menatap kembali sang mama, “Mas Rivan mana ma?”


“sedang bicara sama papa”


“Mama kok sudah di sini?”


“iya, papa sama papa juga baru sampai”


“ayuh makan dulu” lanjut mama Nita bersiap menyuapi sang putri, namun dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Ayuh sayang, dari tadi kamu belum makan”


Nania kembali menggelengkan kepala, menolak suapan sang mama, hingga terdengar seseorang melangkah masuk mendekati mereka.

__ADS_1


“Sudah bangun dek?” tanya pria yang baru saja masuk, yang tak lain adalah Rivan.


“Kamu bujuk istrimu Van biar makan”


“iya ma, maaf ya ma” Rivan mengambil piring yang di sodorkan mertuanya dan duduk di samping sang istri, di mana mama mertuanya tadi duduk,


“Makan dulu ya dek”


Sekali lagi Nania menggelengkan kepalanya, menolak untuk makan membuat Rivan meletakan kembali piringnya di atas nakas, kemudian mendekap erat sang istri yang masih terlihat pucat.


“Masih pusing?”


Nania hanya menggeleng, dan berbalik membalas pelukan sang suami. entah mengapa Nania begitu rapuh dan ingin selalu berada di sisi sang suami.


“Kamu akan semakin sakit dek kalau ndak mau makan, hmm, nanti mama makin khawatir” Bujuk Rivan lalu menatap seklias ke arah mama mertua yang masih berdiri tak jauh dari mereka dengan raut penuh rasa khawatir.


“Mama udah siapin buat kamu, makan ya? mas suapin?”


Nania terdiam kemudian mengangguk pelan, mambuat sang mama tersenyum lalu keluar kamar membiarkan sepasang suami istri itu untuk melanjutkan kemesraan mereka.


Rivan mengurai pelukannya dan bersiap menyuapi sang istri,


“Aku mau ke kamar mandi dulu mas”


“baiklah” Rivan kembali meletakan piringnya di atas nakas dan membantu sang istri untuk ke kamar mandi terlebih dulu.


Tak berapa lama mereka kembali duduk di atas ranjang dengan wajah Nania yang tampak lebih segar setelah mencuci muka. Perlahan Rivan menyuapi sang istri, hingga makanan di atas piring habis tak bersisa, membuat Rivan tersenyum lega.


“Mas…” panggil Nia dengan lirih


“hmm, kenapa?”


“Nia mau pakai jilbab mulai hari ini, boleh?”


Rivan tersenyum memandang sang istri yang menundukan kepala, seolah takut untuk di marahi,


“tentu saja dek, kapanpun kamu siap, mas tak akan melarangnya dek, justru mas akan sangat senang karena kamu mau menutup auratmu, dan hanya mas akan yang melihatnya”


Nania mendongakan kepala menatap sang suami yang tersenyum penuh kelembutan padanya. Sorot mata yang tajam namun meneduhkan itu selalu membuatnya merasa tenang, hingga senyum sang suami itu akhirnya menular kepadanya.


“Terimakasih mas, Nia sebenarnya sudah siapkan baju itu lama”


“Iya sayang, mas tau kamu juga bawa beberapa potong baju muslim di koper kita”


Nania mengangguk membenarkan ucapan sang suami, ia pun merasa senang karena keinginannya di dukung. Ia tak ingin mendapatkan pelecehan dalam bentuk apapun lagi, ia ingin memperbaiki diri, ingin menjaga dirinya dan tak ingin mengundang lawan jenis untuk mendekatinya ataupun menginginkannya, pengalaman tak baik yang ia alami menjadikannya semakin bertekat untuk menghindari hal seperti itu lagi, apalagi sekarang ia sudah mempunyai suami. Meski terlambat, namun ia benar-benar ingin memperbaiki diri.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2