
🌼Happy Reading🌼
Sayup-sayup terdengar suara kumandang adzhan ashar membangunkan kedua insan pasangan pangantin baru yang tengah berbaring dengan saling berpelukan,
Nania pun mengerjap dan merasa begitu nyaman dalam dekapan pria yang beberapa jam lalu menghalalkan dirinya,
“Astaghfirullah.. mas!!” pekiknya lalu menegakan tubuhnya, membuat pria yang terbaring di sampingnya itu mengerjapkan mata.
Ia lihat tubuh sang suami dengan penuh kepanikan,”mas”
Beberapa saat sebelum adzan terdengar, Adrivan telah terbangun namun begitu enggan untuk membuka mata dan mengurai pelakan sang istri. Namun pekikan Nania membuatnya harus mengumpulkan kesadarannya
“hmm kenapa dek?” jawab Adrivan dengan suara serak khas bangun tidur.
“Tubuh mas sakit tidak? Maaf Nia nindih mas ya?”
Adrivan yang telah tersadar sepenuhnya itu pun tersenyum, bersyukur karena untuk kali ini dan seterusnya wanita cantik yang baru saja ia halalkan itu akan menjadi orang pertama yang selalu dia lihat saat membuka mata.
“Mas kok malah diem, badannya sakit ya?”
“Ndak kok dek, kamu tidurnya anteng, ga buat badan mas sakit kok”
“Pasti tangan mas pegal karena meluk Nia lama?” Nania masih tak percaya dengan ucapan sang suami, raut kekhawatiran masih terlihat dari wajah bantalnya.
“Ga sayang, malah mas nyaman, bisa tidur pules”
Adrivan mencoba untuk bangkit dari tidurnya, dengan sigap sang istri membantunya untuk duduk bersandar.
“Kamu tau dek, berhar-hari mas ga bisa tidur tenang, masa pingitan kemarin benar-benar menyiksa mas, ga boleh hubungin kamu, ga boleh ketemu, sungguh membuat mas uring-uringan juga dek”
“Kan emang ga boleh sama orang tua mas”
__ADS_1
“iya, dan mungkin memang ada baiknya, rasa rindu yang mas rasakan sudah terbayar lunas karena mas bisa dekap kamu kapan pun, setelah bangun tidur wajah kamu yang akan selalu mas lihat, bahkan sebelum tidur pun hanya kamu yang mas lihat”
Nania tersenyum mendengar ucapan yang begitu tulus dari sang suami, kemudian ia pun mendekat dan mengecup kening sang suami, menyalurkan rasa sayang yang begitu membuncah dalam hatinya. Kedua nya pun memejamkan mata, menikmati setiap momen mesra yang mereka lakukan.
“Sudah sore mas, kita mandi lalu bersiap”
Adrivan pun mengangguk tanpa banyak protes, Nania pun dengan sigap membantu sang suami bangun dan mengantarnya ke kamar mandi.
“gapapa kan Nia yang bantu mas mandi? Atau perlu Nia panggilkan Hasan?” Nania merasa tak enak hati dengan suaminya karena biasanya sang perawatlah yang membantunya membersihkan diri.
“Tidak perlu dek, kamu sudah jadi istri mas, tak ada yang perlu mas tutupi dari kamu” kata Adrivan ambigu,
Nania mengangguk, dan dengan penuh perhatian, Nania pun membantu sang suami membersihkan diri, kemudian membantunya mengenakan pakaian dan menyiapkan sajadah untuknya menjalankan ibadah wajibnya.
Setelah sang suami sudah duduk di atas sajadah ia pun keluar kamar yang mereka tempati saat ini menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya.
“Dek, kok bajumu basah?”
“Iya kak, habis bantu Mas Rivan mandi, ini Nia mau mandi dan shalat dulu”
“hmm” Linda pun mengangguk “ya sudah, segera mandi, nanti ajak suamimu ke teras belakang, semuanya lagi kumpul di sana”
“Iya kak”
***
Suasana sore yang begitu cerah dan tak terlalu terik membuat semua anggota keluarga Rahardian duduk berkumpul di teras belakang dengan nyamannya. Menikmati pemandangan taman yang begitu terawat sembari menyantap cemilan yang telah di buat asisten rumah tangga menambah kehangatan keluarga mereka. Sesekali candaan dan ejekan terdengar mambuat suasana begitu riuh dan ramai.
“Wah ini dia nih pengantin barunya” celetuk uncle Ferdinand yang melihat pasangan pegantin baru itu mendekat ke arah mereka.
Sontak semua orang menoleh, memandang pasangan yang baru saja mengesahkan hubungan mereka beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
“Cie,… cie!!!” semua sepupu Nania bersorak menggoda mereka.
Suit... Suit!
Sesekali mereka birsiul kencang menambah semarak riuh teras belakang kediaman Rahardian.
“Seger bener bang?” celetuk William yang memperhatikan raut wajah Adrivan yang begitu segar dengan senyum lebarnya.
“Ya iya dong, bangun tidur lihatnya bidadari cantik gini ya seger lah” ucap Adrivan dengan lantangnya membuat semua orang tersenyum bahagia.
“Sini kakak bantu dek” Nando pun dengan sigap mengambil alih pegangan kursi roda dari tangan sang adik dan mendorongnya ke arah sofa di mana semua orang telah duduk bersantai di sana, Nania pun ikut duduk di samping para wanita Rahardian.
Momen yang begitu langka terjadi ini benar-benar terasa begitu hangat, biasanya mereka akan berkumpul bersama saat lebaran saja, atau bisa berkumpul lebih sering tetapi dengan formasi yang tidak lengkap, namun kali ini saat pernikahan Nania di gelar semua anggota keluarga Rahardian bisa berkumpul semua, membuat Nania begitu merasa bahagia, dan bersyukur di momen pentingnya semua anggota keluarganya dapat meluangkan waktu untuk datang.
“Maaf ya kak, kondisi Rivan kaya gini malah jadi merepotkan” Adrivan merasa tak enak hati karena kakak iparnya malah repot ikut membantunya.
“Haish, kamu ini ngomong apa sih Van, kakak sama sekali tak merasa tak di repotkan, sikap kakak ini tak ada apa-apanya dengan perlakuan kamu yang telah menjaga Nania selama ini”
“Benar Van tak usah merasa sungkan, kami semua tak merasa di repotkan justru kami senang kamu sudah menjaga putri mama” timpal mama Nita yang tak ingin menantunya merasa insecure.
“Kalau perlu, minta bantuan adik-adikmu ini juga Van, mereka pasti juga akan siap membantu mu” timpal uncle Bram yang duduk di samping Nando.
Dan semua orang pun mengangguk memberikan persetujuan,
“Bener bang, Rendra juga siap bantu abang” celetuk Rendra dengan polosnya
Sontak semua orang tersenyum lebar mendengar ucapannya,
“Tuh, dengar yang mereka bilang Van, sekarang kamu telah menjadi anggota keluarga Rahardian, sudah seharusnya kita saling membantu dan mensuport, jadi tak perlu merasa sungkan, dan ini juga kan tak terlepas dari keinginan papa, kalian menikah secepatnya meskipun kondisi mu saat ini belum pulih” timpal papa Doni. “Dengan ikatan halal di antara kalian, kalian akan lebih leluasa untuk saling menjaga, dan keluarga besar pun tak perlu merasa sungkan juga atas batasan yang ada sebelum adanya ikatan pernikahan. Lagi pula kondisimu kan bukannya cacat, hanya sakit sementara dan bisa pulih secepatnya jika kamu mematuhi anjuran dokter, jadi ini malah kesempatan bagus untuk Nania gantian menjagamu dan belajar menjalankan perannya sebagai seorang istri”
“Iya pa, terimakasih atas semuanya pa” Adrivan pun mengangguk setelah mamahami ucapan sang papa mertua, bahkan semua anggota keluarga pun tersenyum dan menyetujui apa yang di sampaikan pria paling tua di keluarga Rahardian.
__ADS_1
Tbc