
***
Seperti biasanya Sasa sudah bangun sejak tadi, beberapa tahun ini ia sudah membiasakan bangun untuk sholat tahajjud. Ia sadar bahwa dulu ia tidak peduli tentang akhirat. Yang ia pikirkan, biarkan saja seperti ini, ikuti alur kehidupan. Namun, setelah sakit hati yang dirasakannya ia mulai semakin mendekatkan diri pada sang pencipta. Mungkin ia mengalami itu semua karena ia terlalu berharap pada makhluk ciptaan-Nya. Bukankah Allah itu pencemburu, hendaklah kita hanya berharap kepadanya. Saat ini ia sadar cinta yang dulu dirasakannya mungkin hanyalah cinta monyet yang sering dikatakan teman-temannya. Sekarang ia bahagia karena telah dipertemukan dengan seseorang yang sangat dicintainya, semoga saja ia berjodoh dengan Rafi. Hanya Allah yang tau.
Sasa menghampiri mamanya yang sedang menyiapkan makanan," Pagi Ma". ucap Sasa dengan tersenyum manis
Pagi sayang. ucap Mamanya tersenyum tak kalah manisnya
Oh ya, Papa dan sikembar mana Ma? tanya Sasa yang tidak melihat kehadiran mereka
Papa kamu udah berangkat, buru-buru katanya. Sampai-sampai nggak sempet sarapan tapi Mama tetap kasi bekel kok. Kalau adik-adik kamu itu kan ikut persami, gimana si kamu masa lupa. ucap Mamanya kemudian ikut duduk di depan Sasa
Oiya yah. ucap Sasa menepuk dahinya sambil menyengat lebar
Keduanya pun memakan makanan masing-masing dalam keadaan hening.
Ma, Sasa berangkat yah. ucap Sasa setelah menyelesaikan makannya dan telah membawa bekas piringnya ke dapur
Oke sayang, kamu hati-hati yah. ucap Mama Sasa mengusap kepala anaknya
Sasa senang karena orang tuanya begitu perhatian padanya, meski sudah besar tapi Sasa selalu merasa bahagia diperlakukan seperti anak kecil.
Oke deh Mama cantik, Sasa pergi dulu. Assalamualaikum. ucap Sasa menyalimi tangan Mamanya
Waalaikumussalam. ucap Mamanya
Sasa pun menuju kampus dengan senyum bahagia, ia berharap semua berjalan lancar.
Beberapa menit perjalanan, Sasa pun sampai di kampus, ia kemudian memarkirkan mobilnya.
Baru saja keluar dari pintu mobil, seseorang memanggilnya.
Sasaaaa. teriak Anggi
Sasa pun berbalik, "Eh, Nggi".
Ayo kekelas. ucap Anggi setelah berdiri di sebelah Sasa
Ayooo. Sasa berjalan memasuki kampus
Mereka pun menuju kelas dengan senyuman tak luput dari wajahnya.
Sa, kak Rafi tuh. ucap Anggi menatap lurus ke depan
Hha?? Dimana?? Sasa mulai mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya hingga pandangannya bertubrukan dengan mata Rafi membuat Sasa meneguk ludahnya dan tidak bisa ia pungkiri ia sedikit salah tingkah mendapat tatapan teduh dengan senyuman manis dari Rafi
Sasa dan Anggi pun segera menuju dimana Rafi berada. Disana Rafi ternyata tak sendiri pasalnya selang beberapa menit Andra dan Rani sampai di hadapan mereka.
Fi kalau jalan tuh pelan-pelan dong. keluh Rani
__ADS_1
Iya nih, akhir-akhir ini Rafi sedikit berubah yah Ran. ejek Andra
He'em tau lah Ndra, Rafi kan baru jatuh cinta setelah sekian lama menutup diri. kekeh Rani
Apaan sih kalian, daripada kalian disini, kalian ke kelas gih. perintah Rafi
Yehh mentang-mentang mau berduaan aja. Tapi kok Anggi nggak di suruh pergi sih, Fi jangan bilang kalau kamu mau dua-duanya. ejek Andra membuat Rafi kesal, bisa-bisanya sahabatnya itu berkata demikian. Bukannya ia tak mau menyuruh Anggi pergi tapi dari ketiganya memang Anggi yang paling peka. Nggak di suruh pergi pasti ia akan pergi sendiri, intinya dia ngerti suasana banget deh. Nggak kek Andra dan Rani yang sukanya ngerecokin orang.
Ndra please. ucap Rafi jengah dengan tingkah sahabatnya tapi meski Andra sering membuatnya kesal, Andra jugalah yang selalu menemaninya. Rafi sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Andra
Oke-okey, yok Ran ke kelas. ucap Andra sambil menarik Rani menuju kelas
Rani yang terkejut dengan tarikan dari Andra segera menarik tangannya, "Eh, kamu lupa atau gimana?? Kita itu beda kelas". Rani memutar bola matanya
Raniku sayang, Abang Andra tau kok tapi kan kelas kita searah yaudah bareng aja, kalau perlu aku anterin sampai kelas. ucap Andra terdengar manis tapi bagi Rani perkataan Andra terdengar menjijikkan
Sayang-sayang pala lu peyang. Rani kesal sambil memukul kepala Andra
Isshhh sakit tau Ran, belum apa-apa udah kdrt. Kekeh Andra sambil mengusap kepalanya
Mana ada kdrt, kdrt itu untuk yang sudah menikah. ucap Rani meninggalkan Andra
Andra kemudian menyusul Rani dengan senyuman khasnya berbeda dengan Anggi yang melihat adegan keduanya membuatnya sakit hati, pasalnya selama ini ia sudah berusaha memendam rasa itu namun mengapa semakin ke sini rasa itu semakin besar. Apakah ia harus mengungkapkannya atau tetap memendamnya?? Anggi jadi pusing sendiri, melihat adegan keduanya, Anggi jadi tau bahwa Andra memiliki rasa untuk Rani dan jika sudah seperti itu ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia bisa saja mengatakan perasaannya tapi ia masih waras untuk itu, ia tidak mau merusak hubungan orang. Ia berharap rasa yang dimilikinya segera hilang.
Sedangkan Rafi dan Sasa tak bisa menahan tawanya melihat adegan keduanya tanpa sadar perubahan raut wajah Anggi.
Kepergian Anggi yang tiba-tiba membuat Sasa bingung pasalnya tak biasanya Anggi langsung pergi tanpa berkata apa-apa, jika ia ingin pergi pasti mengatakan terlebih dahulu padanya. Namun, Sasa berusaha berpikir positif. Ia berharap semuanya baik-baik saja.
Reina. ucap Rafi sambil menepuk pundaknya membuat Sasa terkejut
Hem yaa?? Sasa menatap Rafi
Kamu kenapa? Kok diem, ada masalah?? tanya Rafi penasaran dengan apa yang membuat Sasa terdiam
Nggak papa kak. ucap Sasa tersenyum manis untuk menutupi segalanya
Masih lama nih masuknya, ke roftop yuk. ajak Rafi menggenggam tangan Sasa
Yaudah. Sasa segera menuju ke roftop
Namun baru beberapa langkah, Sasa menghentikan langkahnya pasalnya Rafi menariknya untuk berhenti.
Kenapa kak? tanya Sasa bingung pasalnya tadi Rafi sendiri yang mengajaknya terus Rafi juga yang menghentikannya
Jangan berjalan di depanku. ucap Rafi mensejajarkan dirinya dengan Sasa
Kok gitu kak? Sasa masih bingung dengan maksud Rafi
Karena aku bukan pengawalmu dan jangan juga berjalan di belakangku karena kamu juga bukan pengawalku tetapi berjalanlah di sampingku karena kamu adalah calon pendamping hidupku. ucap Rafi masih menatap lurus kedepan meski tak tersenyum seperti biasanya tapi perkataan itu membuat Sasa semakin yakin dengan pilihannya, ia berharap semoga saja itu baik.
__ADS_1
Kakak bisa aja deh gombalnya, jangan-jangan kakak sering gini nih, soalnya sepertinya kakak ahli banget gitu bikin cewek terbang. ucap Sasa memicingkan mata curiga
Kamu yang pertama dan terakhir. ucap Rafi membuat Sasa salah tingkah tak bisa menyembunyikan rona merah dari wajahnya
Tak mendapat respon dari Sasa membuatnya segera mengalihkan pandangannya ke wajah Sasa, " itu muka kenapa?" ejek Rafi membuat Sasa kesal
Nggak usah ngejek. Sasa meninggalkan Rafi
Rafi terkekeh kemudian menyusul Sasa yang sudah beberapa meter di depannya.
Aku kan udah bilang kita itu harus berjalan sejajar. ucap Rafi setelah mensejajarkan dirinya dengan Rafi dengan tangannya yang sudah satukan dengan tangan Sasa
He'em. gumam Sasa untuk menutupi gugupnya
Keduanya pun menuju roftop, tempat yang sering mereka datangi.
Beberapa menit berlalu keduanya pun sampai di roftop, roftop kampus ini memang merupakan salah satu destinasi yang diminati mahasiswa karena disini kita akan melihat gedung-gedung yang berjejer di kota ini, mobil-mobil yang berlalu lalang, tak lupa angin sepoi-sepoi yang membuat kita sangat nyaman berada disini. Namun, di jam seperti sekarang biasanya mahasiswa jarang banget yang ke roftop paling banyak biasanya kalau pulang kampus.
Sambil menikmati keindahan dari atas roftop ini, Sasa membuka suara," Kak aku mau ngomong". Sasa mengalihkan pandangannya kemudian menatap Rafi
Ngomong apa? ucap Rafi sambil mengangkat alisnya
A...ku. ucap Sasa terputus karena gugup yang melanda dirinya saat ini🤣🤣🤣
Aku apa Reina. Rafi penasaran hal apa yang akan diucapkan Sasa
Sasa kemudian menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskanya pelan-pelan, " Akuterimalamarankakak" ucap Sasa cepat
Untungnya Rafi fokus dengan perkataan Sasa jika tidak mungkin ia tidak akan mengetahui apa diucapkannya.
Kamu ngomong apa? tanya Rafi berusaha mengerjai Sasa
Nggak ada pengulangan. ucap Sasa mendelikkan matanya
Yah padahal aku nggak denger loh. ucap Rafi pura-pura sedih
Nggak usah bohong kak. ucap Sasa mengerucutkan bibirnya
Rafi pun terkekeh kemudian mengusap kepala Sasa, " Makasih yah". ucap Rafi tulus
Sasa menatap Rafi tersenyum manis," Sama-sama kak".
***
Jangan jadi pembaca yang pasif yaa, jadilah pembaca yang aktif🤗
Jangan lupa vote & comment ♥️ ♥️♥️
Vote & comment kalian akan sangat membantu kami😉😉😉
__ADS_1