
🌼Happy Reading🌼
“Bagaimana kejadian tadi bisa terjadi?” kini sang papa bertanya setelah merasa lega karena kondisi menantunya baik-baik saja.
Rivan pun menceritakan bagaimana mereka tiba di restoran hingga pertemuan sang istri dengan sang mantan kekasih, lalu pertengkaran mereka hingga kondisi Nania yang terbangun dengan kondisi histeris. Semuanya tak terlewatkan meskipun Rivan hanya menceritakan garis besarnya saja.
“Kau tak menghubungi mertuamu?”
“Belum ma, Rivan belum berani menceritakan pada papa Doni, takutnya akan membebani mereka, dan lagi kalau hal ini sampai di ketahui papa Doni atau kak Nando, Rivan yakin mereka akan mengirim bodyguard bayangan lagi, kan mama dan papa tau semenjak Nia menikah dengan Rivan bodyguard papa Doni sudah tak mengawal Nia lagi”
“Iya, papa tau, tapi ada baiknya besok ceritakan hal ini juga kepada mertuamu, agar mereka juga bisa memberikan hukuman untuk keluarga Prasetya”
“Nanti Rivan tanyakan ke Nia dulu pa, kondisi Nia juga sudah baik, tak histeris seperti tadi”
“Syukurlah kalau sudah bisa tenang, mama hanya khawatir dengan psikologisnya, yang dulu saja selalu menyalahkan diri sendiri, berpikir bahwa dirinya begitu kotor”
“Rivan akan ubah pemikiran itu ma, jangan khawatir?” kata Rivan dengan santai dan jangan lupakan senyum yang terbit dari bibirnya, sekilas mengingat kejadian tadi siang saat dirinya menenangkan sang istri.
“kenapa dengan wajah mu itu ha?” tanya papa Ryan menatap aneh sang putra, di saat kondisi istrinya seperti itu, tapi dia malah terlihat senang.
“Haish, papa ih, emang Rivan kenapa?” elaknya lalu beranjak dari sofa,
“Heh, wajahmu itu aneh tau Van?”
“papa aja yang ga mikir Rivan aneh, udah ah, Rivan mau balik kamar, takur Nia bangun dan cariin Rivan”
Tanpa mendengarkan jawaban kedua orang taunya, Rivan berjalan cepat ke kamarnya, seolah kakinya sudah benar-benar sembuh.
“Anak papa kok jadi aneh gitu sih?” tanya mama heran, namun masih menatap punggung sang putra yang terlihat semakin menjauh.
“Anak mama juga, tapi sepertinya ada kabar bahagia ma”
“Apa?” mama Dahlia menatap sang suami, sembari mengerutkan dahinya, tak paham maksud ucapan sang suami.
“Ih, mama kok kaya ga pernah muda aja ih, tak lihat gelagat aneh Rivan?”
“Apa sih pa? mama dari tadi khawatir ga begitu perhatikan”
“Sepertinya kita tak lama lagi bakal punya cucu?”
Mama Dahlia melongo, kemudian senyum lebar terbit dari bibir tipisnya, setelah paham dengan maksud sang suami yang menatapnya penuh arti.
“Ah jadi maksud papa, mereka sudah melakukan itu?’
__ADS_1
“hmm” papa Ryan mengangguk,
“Ah, pantas saja tadi putra papa itu bilang kalau ia akan mengubah pemikiran Nia yang menganggap dirinya kotor, aduh, mama kok jadi telmi gini sih” gumam mama Dahlia dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
“Kalau gitu papa juga pengen ma, ayuh ke kamar?”
***
Keesokan harinya Nania terbangun dengan tubuh lebih segar, semalam ia dapat tidur dengan nyenyak dalam dekapan suaminya.
Ia pandangi sang suami yang masih menutup matanya, tersenyum dengan penuh rasa syukur, memiliki suami yang begitu perhatian dan tulus menjaganya.
“Mas, bangun ih” kecupan ringan Nania daratkan di seluruh wajah Rivan yang masih memeluknya, membuat sang empunya terbangun mengerjapkan matanya.
“Masih ngantuk dek”
“Sudah subuh mas, ayuh shalat jamaah”
Rivan membua matanya, melihat jam dinding yang sudah menunjukan waktu shalat subuh, bahkan sayup-sayup terdengar kumandang adzan.
“hmm, kita shalat dulu sayang” Rivan bangkit dan memberikan peregangan untuk kakinya, sebelum melangkah ke kamar mandi.
“Kakinya masih sakit mas?’
Tak lama kemudian keduanya duduk bersimpuh di hadapan sang pencitpa memohon pengampunan dan mengucap syukur atas nikmat yang telah diberikan kepada mereka selama ini.
Setelah keduanya selesai berdo’a, Rivan membalikan badan ke arah makmumnya lalu mengangkat tangan kanannya, dan Nania pun menciumnya dengan takzim, Rivan pun mengecup kening sang istri dan membisikan doa untuknya.
Hari yang masih gelap membuat Rivan duduk kembali di atas ranjang, setelah mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, sementara Nania bersiap untuk ke dapur menyiapkan sarapan sang suami.
“Aku ke dapur dulu ya mas?”
“Kamu sudah tak apa dek?”
Nania menggeleng sembari tersenyum yang akhirnya menular pada sang suami, bersyukur kerena sang istri sudah kembali seperti biasanya.
“Hmm, baiklah, mas akan periksa email sebentar, nanti mas nyusul ke dapur”
“Oke mas” Nania berlalu meninggalkan sang suami yang telah duduk manis di sofa dengan menyalakan laptop kesayangannya.
“Mba Nia?!” pekik bibi merasa senang karena sang majikan baik-baik saja. “Mb Nia gapapa?”
“gapapa bi, Nia baik-baik aja”
__ADS_1
“Syukurlah, bibi seneng mb sudah sehat, kemarin mas Rivan panik banget mb, waktu Mb Nia pingsan, bibi juga ikut panik”
“Terimakasih ya bi, maaf sudah membuat khawatir” Nania pun tak segan untuk merangkul asisten rumah tangganya itu.
“yang penting mb Nia sudah sehat, bibi sudah seneng”
“Iya bi, ayuh kita masak, nanti setelah bantu beres-beres rumah bantu Nia tata bunga yang kemarin di beli bi”
“Siap mb”
Kedua wanita beda usia itu pun akhirnta berkutik dengan alat masak dan bahan makanan yang telah mereka ambil dari lemari pendingin.
Saat keduanya tengah asyik memasak, pekikan dengan nada lega begitu melengking di dapur yang tak cukup besar itu.
“Nia!!!!”
Sang punya nama pun menolah dan ketika tubuhnya terasa di rangkul seseorang.
“Ma… sudah pulang?” Nania pun berbalik dan kembali memeluk sang mama mertua.
“Iya sayang, mama sangat khawatir sayang”
“Bi tolong lanjutkan,” Nania mengurai pelukan sang mama, lalu mengajaknya duduk di kursi ruang makan yang masih terhubung dengan dapur.
“Nia baik-baik aja ma, maaf membuat mama khawatir” ucapnya lagi setelah keduanya duduk.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, mama benar-benar merasa takut, kalau menantu mama ini akan kembali terpurun seperti beberapa waktu lalu”
“iya ma, Alhamdulillah kali ini Nia tidak seperti itu, Mas Rivan benar-benar membantu Nia kemarin ma”
“Alhamdulillah, mama seneng sayang, semalam mama mau lihat keadaan kamu, tapi kata Rivan kamu sudah tidur”
“Iya ma, Nia tidur awal semalam, setelah shalat isya langsung tidur”
Mama Dahlia mengangguk dan mengusap pipi sang menantu yang duduk di sampingnya. Ia pun melihat tanda merah samar di leher Nania, merasa semakin senang karena apa yang di ucapkan suaminya semalam sepertinya benar.
“Mama mau di buatkan jus?” tawar Nania pada mertuanya yang terus memandangnya dengan senyum aneh menurutnya.
“Nanti saja sayang, mama mau panggil papa dulu saja, sebentar lagi waktu sarapan.”
“Baiklah kalau begitu ma, Nia akan bantu siapkan sarapannya dulu”
Tbc
__ADS_1