Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 80


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Kebersamaannya dengan keluarga membuat Nania begitu nyaman, dan melupakan rasa takutnya. Hingga ia bisa begitu menikmati liburan ke pantai kali ini.


Keduanya melangkah meninggalkan kedua mama mereka, menuju warung makan yang terbuat dari papan kayu itu, tangan mereka saling bertaut, melangkah begitu santai sembari menikmati sepoi angin yang menyejukan.


“Kita ga bisa lebih lama di sini ya mas?”


“Ga bisa sayang, mas sudah harus kembali ke kantor, pekerjaan akan semakin menumpuk, maaf ya ga jadi liburan lebih lama”


“Hmm, gapapa, Nia ngerti”


“Makasih sayang, kalau kerjaan udah agak longgar nanti kita agendakan ke sini lagi” jawab Rivan sembari mengecup punggung tangan sang istri yang berada dalam genggamannya.


“Iya mas, semoga aja saat ke sini sudah ada baby di perut Nia” Nia menatap sang suami dengan senyum lebarnya, sembari mengusap perut ratanya.


“Aamiin” Rivan meng-amin-kan harapan sang istri. Meski umur penikahan mereka baru hitungan bulan, namun tak dapat di pungkiri kalau hatinya juga menginginkan bayi mungil yang hadir di tengah mereka.


“Mau pesan apa mas? Mb?” ucapan pemilik warung saat keduanya telah sampai di depan warung makan yang mereka tuju.


“Ada ikan bakar bu?” tanya Rivan, sementara sang istri mengamati makanan yang tertata di etalase warung.


“Ada mas, mau berapa?”


“Saya pesan 20 ekor ya bu, minta tolong antar ke sana” tunjuk Rivan pada sang mama yang berteduh di bawah payung.


“Oh baik mas, pakai nasi tidak?”


“Pakai bu, komplit”


“Baik mas”


“Es degan juga mas, Nia mau itu” sela Nania setelah melihat tumpukan Degan hijau yang berada di sudut warung.


“Es Degan utuh nya 10 ya bu” lanjut Rivan setelah mengiyakan permintaan sang istri.


“Baik mas, nanti kami antar”


Setelah membayar pesanan mereka, keduanya kembali melangkah ke tempat anggota keluarganya berada. Hari yang masih pagi dan tak begitu ramai membuat mereka bisa menikmati suasana pantai yang indah.


Sembari menunggu makanan mereka datang, pasangan suami istri itu memilih kembali duduk di atas tikar yang mereka sewa bersama kedua mama mereka.

__ADS_1


“Dari mana Van?” tanya sang mama Dahlia yang menyadari kalau putra dan menantunya pergi beberapa saat yang lalu


“Pesen makan ma, laper”


"kok cuma bentar, makan apa?"


"ikan bakar ma, Rivan minta antar ke sini kalau sudah siap nanti"


“Kenapa ga makan di warung aja, nanti repot kalau di sini”


“Ga lah ma, anginnya ga kenceng juga, aman lah”


“Ya semoga saja lah”


***


Setelah puas menikmati liburan dadakan mereka, kedua keluarga pun kembali ke resort untuk bersiap-siap kembali ke kota asal mereka.


Kalau pagi mereka berangkat dengan suasana sejuk, perjalanan kembali ke resort kali ini mereka merasakan panas yang begitu terik.


“Jam 4 kita ke berangkat ya Yan” ucap papa Doni pada besannya saat mereka turun dari mobil, “Tomy sudah standby di bandara”


“oke Don, kita siap-siap dulu”


“Mas mandi dulu, Nia akan kemas barang-barang kita dulu” pinta Nania pada sang suami saat keduanya telah masuk ke dalam kamar.


“hmm” Rivan mengangguk kemudian meraih baju yang di sodorkan sang istri padanya.


Selama Rivan membersihkan dirinya, Nania segera mengemas barang-barang mereka dalam satu koper. Tak banyak barang yang mereka bawa, hanya beberapa helai pakaian dan barang yang ia beli kamarin saat jalan-jalan.


Setelah sang suami keluar dari kamar mandi, Nania pun segera membersihkan dirinya agar mereka tak terlambat untuk berangkat ke bandara. Meskipun pulang dengan menggunakan pesawat pribadi, namun segala perijinan terbang sudah di tentukan dan tak ingin membuat penerbangan lain terganggu karena keterlambatan mereka.


Tepat pukul 4 sore, semua keluarga telah memasuki mobil masing-masing untuk berangkat ke bandara. Kali ini Riko tak mengemudikan mobil yang di tumpangi keluarga Erlangga, melainkan ikut duduk manis di samping sang driver dari pihak Resort yang mengemudikan mobil mereka.


Setelah menumpuh 1 jam perjalanan mereka tiba di bandara dan segera mamasuki pintu pemeriksaan dan gate VIP untuk segera menuju pesawat papa Doni yang telah siap untuk lepas landas.


“Terimakasih ya Don sudah mau datang, dan malah di kasih tumpangan pulang begini” ucap papa Ryan pada besannya itu saat mereka sudah mengudara di dalam pesawat. Meskipun sama-sama kaya namun keluarga Erlangga tak memiliki pesawat pribadi. Mereka lebih senang bepergian dengan pesawat komersil.


“Santai saja Yan, kita kan sudah menjadi keluarga, jadi tak perlu sungkan begitu”


Kedua pasangan paruh baya itu pun mengobrol sepanjang perjalanan, sementara kedua pasangan muda memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka, apalagi bumil cantik menantu Rahardian langsung terlelap beberapa menit setelah pesawat lepas landas. Rasa lelah yang ia rasakan membuatnya tak bisa menahan kantuk dan segera memejamkan matanya.

__ADS_1


Begitu pula dengan pasangan pengantin baru yang memilih duduk di pinggir di belakang. Mereka memilih menikmati kebersamaan mereka tanpa ingin mengganggu obrolan orang tua.


"capek dek?" tanya Rivan pada sang istri yang menyandarkan kepalanya di bahunya,


"hmm" Nania mengangguk pelan dan sesekali memejamkan matanya, "mas ga capek?"


Kali ini Rivan menggelengkan kepala, rasa lelahnya tak begitu terasa, apalagi dengan sang istri yang bersandar di sampingnya membuatnya merasa nyaman dan melupakna lelah yang melanda.


"sampai rumah nanti langsung istirahat ya"


"iya, mau ke mana juga, udah malam mas"


"ya siapa tau dek, kamu kan hoby kalau jalan-jalan malam" gemas Rivan sambil menoel hidung mancung sang istri.


Tak terasa mereka telah tiba di bandara, dan segera bersiap untuk pulang ke rumah yang berada di kompleks yang sama.


Mereka pun bersama-sama keluar dari pintu kedatangan, kedua pasangan muda itu masih saja bergandengan tangan seolah pamer kemesraan.


"mas, nia ke toilet dulu ya" ucap Nia tiba-tiba merasakan ingin buang air.


"mas antar ya?"


"ga usah, itu toiletnya di sana" Nania menolak tawaran sang suami sembari menunjuk toilet yang tak jauh dari posisi mereka berdiri.


"hmm, cepatlah kalau gt"


Nania mengangguk, kemudian melangkah cepat ke toilet dengan di temani pandangan sang suami yang terus menatap punggungnya.


"Nia mana Van?" tanya papa Ryan saat akan mengajak anak dan menantunya masuk ke dalam mobil karena Pak Rahman sudah sampai.


"toilet pa"


Di sisi lain, setelah Nania menyeselaikan hajatnya ia pun bergegas keluar dari salah satu bilik dan menuju wastafel di depan cermin besar yang terpajang di dinding.


"Hallo cantik!"


Tbc


Hallo semua 🤗🤗


Terimakasih atas dukungannya 🤩🤩

__ADS_1


Love you All 😍😍😍


__ADS_2