Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 54


__ADS_3

đŸŒŒHappy ReadingđŸŒŒ


Obrolan tentang banyak hal itu mereka lakukan hingga waktu menjelang makan siang tiba, dan mama Dahlia bergegas menyiapkan makan siang untuk sang suami, karena papa Ryan meminta mama Dahlia mengantarkan makan siang ke kantor dengan alasan sang papa tak bisa pulang untuk makan siang di rumah lantaran akan ada pertemuan penting setelah makan siang.


“Mama tinggal dulu sayang”


Mama Dahlia yang telah selesai bersiap, mengambil kotak bekal di atas meja makan, lalu berpamitan pada menantunya yang tengah menyiapkan makan siang untuk putra semata wayangnya.


Nania menyalami sang mama yang hendak berangkat lalu ia meninggalkan ruang makan untuk memanggil sang suami yang ternyata sudah pindah ke ruang kerja bersama asistennya.


“Mas, makan siang dulu”


Kedua pria yang terlihat serius itu pun mendongak dan melihat ke arah pintu di mana gadis cantik itu berdiri dan tersenyum tanpa mendekat.


Riko pun melirik jam yang melingkar di tangannya dan memang sudah waktunya makan siang.


“Sebentar lagi dek, tunggu mas di ruang makan aja, 5 menit lagi ini selesai” jawab Adrivan dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


“Oke” tanpa banyak kata Nania kembali menutup pintunya dan menunggu mereka di ruang makan sembari membuatkan jus jeruk untuk keduanya.


***


“Mas, saya kembali ke kantor dulu” pamit Riko setelah mereka menyelesaikan makan siangnya,


“Ya, kabari saya jika ada hal penting lainnya”


“Siap mas,” Riko pun berdiri kemudian berpamitan kepada Nania yang tengah membereskan piring bekas mereka.


Setiap gerakan yang Nia lakukan tak luput dari penglihatan Adrivan yang masih duduk manis di sana, membuat hatinya begitu hangat karena sang istri begitu cekatan dan melayaninya dengan penuh perhatian.


“Mas istirahat dulu ya, Nia antar ke kamar”


Ucapan Nania menyadarkannya dari lamuman mengangumi sang istri, ia pun mengangguk dan meminta bantuan untuk pindak ke kursi roda untuk pindah ke kamar mereka. Ya kamar mereka, kamar pribadinya kini akan menjadi kamar mereka berdua, lagi-lagi hal itu membuat hati Adrivan semakin menghangat, ia mengangkat ujung kedua bibirnya membayangkan mereka kan terus bersama dan tidur di kamar bahkan di ranjang yang sama.


“Terimakasih sayang”


Setelah memastikaan sang suami duduk dengan nyaman di atas ranjang, Nania meraih kopernya dan bersiap untuk menata pakaian dan barang yang ia bawa.


“Meja riasmu akan datang besok dek, jadi untuk sementara taruh perlengakapan make up mu di meja mas”


Nania hanya mengangguk, dan kembali menata perlengkapannya, cukup bersyukur karena sang suami orang yang rapi jadi ia tak perlu mengatur banyak barang untuk meletakkan barang-barang pribadinya.

__ADS_1


“Kalau ada yang ingin di ubah dengan tatanan kamar bilang aja, mas ga keberatan, yang penting kamu nyaman di sini.”


“ga mas, biarkan gini aja”


Butuh waktu agak lama hingga ia menyelesaikan menata beberapa barangnya hingga saat ia keluar dari walk in closet, suaminya telah tertidur dengan pulasnya.


Ia gerakan kakinya mendekati ranjang, menaikan selimut yang menutup kaki sang suami hingga menutup perutnya, kemudian ia ikut membaringkan diri di sebelahnya, memberikan kecupan di kening, lalu memeluk pria itu erat, namun sebisa mungkin tetap menjaga dirinya agar tak mengenai luka di tangan dan kaki suaminya.


***


Waktu terus berlalu hingga tak terasa dua bulan telah terlewati setelah acara akad nikah Adrivan dan Nania di gelar.


“Mas, Nia siapkan bajunya di atas ranjang, Nia mau ke dapur dulu bantu bibi masak”


Teriak Nania dari dalam kamar pada suaminya yang tengah mandi, semenjak tangannya pulih beberapa waktu lalu Rivan mencoba untuk melakukan sendiri aktivitasnya, dan ada kabar baiknya karena hari ini gips di kakinya akan di lepas.


“Iya!! Makasih sayang!” jawab Adrivan yang masih mengguyur badannya, meski ia harus masih duduk di bangku.


Setelah mendengar jawaban sang suami Nania pun beranjak ke dapur untuk membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga. Kebetulan pagi ini mama Dahlia ada jadwal praktik di kliniknya, jadi akan berangkat lebih pagi dan tak bisa memasak untuk sarapan.


“Pagi bi” sapa Nania dengan wajah cerianya ada bi Nur, asisten rumah tangga yang bertuga memasak,


“Pagi mb”


“Ibu minta di buatkan ayam kecap mb, sama bibi mau masak capcay”


“oke bi, Nia urus ayamnya bibi yang masak capcaynya”


“siap Mb”


Dua bulan tinggal di kediaman Erlangga membuat Nania bisa membaur dengan cepat dan menyesuaikan tugasnya sebagai seorang istri. Tak sungkan Nania terjun langsung ke dapur untuk memasak atau bahkan membantu membersihkan rumah serta kegiatan rumah tangga lainnya.


Tak butuh waktu lama keduanya telah selesai menghidangkan menu sarapan pagi ini di atas meja, tak lupa Nania menyiapkan potongan buah dan 2 gelas susu untuk suami dan papa mertuanya, serta jus melon kesukaan sang mama mertua.


“Bik, Nia ke kamar dulu ya, mau siap-siap, tolong bibi selesaikan”


“Beres mb,” jawab bibi dengan sumringah, merasa senang akan keramahan dan sikap baik menantu majikannya.


“Loh mas, kok belum siap sih?” tanya Nania saat melihat sang suami masih duduk bersantai di atas sofa memainkan ponselnya, masih mengenakan handuk kimononya.


“Bentar dek, habis balas email dari Riko”

__ADS_1


“Ya kan bisa di balas habis ganti baju mas, ga dingin emang?” spontan Nania mengambil pakaian yang telah disiapkannya dan membantu sang suami mengenakan pakaiannya.


“ga dek” Adrivan tersenyum mendengar ucapan sang istri, merasa dirinya begitu diperhatikan meskipun harus mendengarkan omelan panjangnya.


“Hari ini kan waktunya mas ke rumah sakit, kata mama mungkin gipsnya mas akan dilepas kan,”


“Iya sayang, ga sabar kakinya bebas dari gips ini, berat dek”


“Iya, tapi mas juga masih belum bisa aktivitas bebas, masih ada fisioterapi juga”


“Iya, tapi setidaknya perban keras itu lepas dari kaki mas”


“sudah, mas duduk dulu, nanti sama Nia aja ke ruang makannya, Nia mau mandi dulu”


“Oke sayang”


Adrivan menurut lalu duduk kembali sembari memainkan ponselnya menunggu sang istrinya membersihkan dirinya.


Tiga puluh menit kemudian Nania sudah siap dengan dress di bawah lutut yang di kenakannya, tak lupa cardigan panjang berwarna abu-abu juga ia kenakan untuk menutup lengannya.


Setelah menyiapkan tas dan berkasnya untuk dibawa ke rumah sakit, Nania memapah sang suami menuju rung makan.


“Pagi ma, pa” sapa keduanya bersamaan,


“Pagi sayang, jadi ke rumah sakit hari ini?”


“Jadi ma, abis sarapan kita berangkat” jawab Nania sembari melayani suaminya mengambil makanan yang akan ia santap.


“Maafkan mama tak bisa mengantar”


“gapapa ma, pasien mama juga butuh mama”


“Iya, mama sudah hubungi dokter yang menanganimu, nanti langsung saja ke ruangannya”


“siap ma”


Setelahnya suasana tenang menemani mereka menyantap menu masakan yang telah di hidangkan di atas meja.


Tbc


Terimakasih atas dukungannya đŸ€©đŸ€©đŸ€©

__ADS_1


Love you all 😍😍😍


__ADS_2