Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 65


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


“dia menyentuhku” ucap Nania masih dalam isak tangisnya.


“Tidak sayang, tak ada yang menyentuhmu, hanya mas yang menyentuhmu”


Nania pun mengusap kasar seluruh tubuhnya, dan merasa begitu kotor akan dirinya, dan itu membuat sang suami memandangnya begitu pilu.


Segala bujukan dari ucapan Rivan tak membuat Nania semakin tenang, hingga akhirnya Rivan mendekap sang istri begitu erat, kemudian mengecup seluruh wajahnya, dan membisikan kata-kata bujukan dan kata cinta untuknya.


Meski Nania terus meronta, Rivan tetap berusaha memberikan kenyamanan pada sang istri, hingga akhirnya keduanya melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sejak awal menikah, hal yang selayaknya suami istri lakukan pada umumnya, hal yang bisa mengeratkan hubungan keduanya sebagai wujud bukti cinta mereka.


Keduanya terengah-engah, setelah keduanya menuntaskan rasa cinta yang menggelora, Rivan tersenyum menatap wajah penuh peluh sang istri , ada rasa puas, ada rasa bangga karena kini sang istri telah menjadi miliknya seutuhnya, dan dia lah yang medapatkan apa yang di jaga sang istri selama ini, dialah yang pertama, dan akan menjadi satu-satunya.


“Terimakasih sayang” kecupan panjang Rivan daratkan di kening sang istri yang sudah dalam keadaan tenang, meski masih berat dalam mengatur nafasnya.


Rivan pun bangkit dan menggendong sang istri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri mereka.


“Mas!!!” peki Nania karena sudah tersadar sang suami menggendongnya tanpa mengenakan apapun untuk menutup tubuh keduanya.


“Ga ada orang sayang” ucap Rivan senang, dan meletakkan tubuh sang istri dalam bathup.


“Kamu berendem dulu, biar lebih rileks”


Sekali lagi Rivan mendaratkan kecupan di ekning sang istri, kemudian mengisi air dengan air hangat.


Lalu ia pun segera membersihkan dirinya di bawah shower sementara sang istri menikmati sesi berendamnya.


***


“Terimakasih ya mas” Nania menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, tak lupa keduanya tengah berpelukan erat sembari menyandarkan tubuh mereka di headboard ranjang mereka.


“Mas yang harus berterimakasih ke kamu sayang, kamu menjaganya untuk mas, jadi jangan khawatirkan apapun lagi, hanya mas yang menyentuhmu, oke?”


Nania mengangguk, dan mengeratkan pelukannya, “Maafkan Nia ya mas”


“Tidak ada yang perlu di maafkan sayang, jangan berpikir macam-macam, hmm”


“Oh ya, tadi pak Rahman katanya mau jemput mas, mas sudah kabarin belum? Takutnya menunggu di Resto mas”


Seketika Nania teringat sopir keluarga suaminya yang akan menjemputnya, namun dia telah pulang bersama sang suami.

__ADS_1


“Sudah sayang, Riko sudah mengurusnya” Jawan Rivan membuatnya begitu lega, lalu hening sesaat hingga Nania menatap kaki sang suami yang di luruskan tanpa tak tertutup selimut


“Kaki mas baik-baik aja?”


“awalnya tadi sakit dek, tapi setelah dapat hadiah terindah dari kamu ya mas anggap gapapa lah, kamu tau mas selalu menahan diri karena kondisi mas dek, akhirnya mas bisa nuntasin juga” Rivan tertawa pelan kemudian mengecup wajah Nania berkali-kali, hingga membuat pipi Nania merona.


“Nia merasa jadi cewek yang ga bener mas” Nania menghembuskan nafasnya panjang, tak berani menatap wajah sang suami yang mengerutkan dahinya.


“Kenapa sayang?”


“Nia pernah dengar dari kak Nando kalau mas juga pernah nyelametin Nia dari kebejatan David, Nia jadi merasa jijik sama tubuh Nia sendiri mas”


“Ga ada yang perlu di khawatirkan sayang, nyatanya mas yang pertama merasakannya kan? jadi jangan overthinking, dan tak perlu mengungkit masa lalu, oke?”


Nania mengangguk, kemudian menimbang, memberanikan mengatakan sesuatu hal yang menurutnya begitu penting.


“mas, Kalau Nia mau berhijab apa mas mengijinkan?”


Rivan langsung memandang wajah kekhawatiran sang istri,


“Apapun yang membuatmu nyaman sayang, kalau boleh jujur mas akan sangat senang kalau kamu berniat menutup auratmu, dan hanya mas yang boleh melihat, tapi semua itu kembali lagi ke kamu dek, mas ga mu, nanti kalau sudah berhijab, ujung-ujungnya di lepas lagi, karena belum siap, atau tak nyaman” tangan kekar itu mengusap pipi sang istri yang masih bersandar dalam dekapannya.


“Kenapa ga berani? justru hal baik kaya gitu kalau bisa malah di segerakan dek, mas akan selalu dukung kamu kalau hal itu positif”


“Terimakasih mas”


“hmm” keduanya mengeratkan pelukan mereka, menikmati sore yang begitu syahdu dengan langit yang berwana jingga keemasan terpampang begitu indah.


***


Pada malam harinya, mama Dahlia bergegas turun dari mobil dan setengah berlari dari menuju kamar sang putra.


Tok! Tok! Tok!


“Van, buka pintunya Nak” teriak mama agar sang putra segera membukakan pintunya, karena saat ingin membuka pintu ternyata terkunci dari dalam.


Sungguh ia merasa begitu khawatir sejak sang putra menelponnya tadi siang, dan hingga saat ini tak mengabari kondisi sang menantu.


“Sudah tidur kali ma” suara yang begitu tegas namun penuh keembutan terdengar dari belakang tubuh mama Dahlia yang masih mengetuk pintu kamar sang putra.


“Tapi mama khawatir pa, dari tadi Rivan ga kasih kabar, Irma juga ga ngabarin hasil pemeriksaannya pada Nia”

__ADS_1


Setelah sang putra menelpon tadi siang, mama Dahlia langsung meminta pada sang suami untuk mengakhiri perjalanan bisnisnya dan segera kembali ke rumah, tak lupa ia pun menceritakan kondisi sang menantu dan peristiwa yang di alaminya.


Setelah mendengar penjelasan sang istri, tanpa pikir panjang papa Ryan segera meminta sang asisten untuk mengurus kelanjutan kerjasama dengan clientnya dan segera meminta sopir untuk mengantarkan mereka pulang.


Kondisi jalan yang cukup ramai dan jarak tempuh yang cukup jauh, membuat mereka sampai di rumah lewat jam makan malam. Rumah sudah tampak sepi saat mobil berhenti di depan teras, belum juga mesin kendaraan di matikan, sang mama telah turun dan bergegas menuju kamar sang putra.


“Kita tanya bibi ma”


Mama Dahlia mengangguk, lalu berbalik untuk menuju kamar sang bibu, namun belum juga melangkah terdengar pintu terbuka.


Cklek!


Sepasang suami istri paruh baya itu menolah dan menatap siapa yang membuka pintu. Tampak sang putra mengeluarkan kepalanya menatap kedua orang tuanya.


“Ma, Pa!” Rivan keluar kamar dan menutup kembali pintu kamarnya perlahan, lalu menyalami kedua orang tuanya.


“Gimana kondisi menantu mama Van?”


“Sudah baik-baik saja ma, kita bicara saja di ruang keluarga, Nia sudah tidur ma” ajak Rivan yang memimpin kedua orang tuanya untuk beralih ke ruang keluarga yang tak begitu jaauh dari kamarnya.


“Kenapa ga ngabarin mama dari tadi hmm?”mama Dahlia masih memperlihatkan raut khawatirnya, takut akan kondisi sang menantu kembali terpuruk seperti beberapa waktu lalu sebelum menikah dengan putra semata wayangnya.


“Hehe, maaf ma” Rivan nyengir memperlihatkan gigi putihnya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal,


Sikap santainya membuat kedua orang tuanya mengerutkan dahinya, mereka heran kenapa Rivan tak memperlihatkan raut khawatir seperti mereka, apakah Nania benar sudah baik-baik saja? Kenapa Rivan terlihat tenang saja, bahkan terlihat lebih ceria? Begitu lah benak pasangan paruh baya yang masih terlihat gagah dan cantik itu.


“Nania sudah baik-baik aja?”


“Sudah ma, mama tak perlu khawatir lagi, maafkan Rivan yang tak mengabari mama”


“Bagaimana kejadian tadi bisa terjadi?” kini sang papa bertanya setelah merasa lega karena kondisi menantunya baik-baik saja.


Tbc


Hallo semua, 🤗🤗🤗


Maafkan othor yang baru bisa update lagi,🙏🙏🙏


terimakasih atas dukungannya,..🤩🤩🤩


Love you All…😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2