Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 46


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Setelah sekian hari memendam kerinduan hari ini tiba lah di hari-hari yang di tunggu kedua keluarga. Sedari pagi buta kediaman Rahardian telah ramai orang yang berlalu lalang, dari pihak catering, WO bahkan semua anggota keluarga telah hilir mudik di rumah besar dan mewah itu.


“Dek, sudah mandi?” tanya Linda yang berniat memberitahu sang adik bahwa petugas make up yang di pilih pihak WO sudah datang dan akan mulai merias sang adik terlebih dulu.


“Sudah kak, kenapa?”


“MUA nya suah datang, kamu bersiap di rias dulu ya, ganti bajumu dengan yang kancing depan agar nanti mudah melepasnya saat mau ganti gaunnya”


“Iya kak, kakak ikut duduk di sini saja kan?”


“iya dek, mau ke mana juga, mau bantu-bantu yang lain juga di larang, kakak mu itu sangat over protectif ke kakak” cebik Linda, mencurahkan kekesalannya pada sang suami yang melarang ini dan itu dengan dalih agar tak kelelehan.


Nania yang mendengar curcol alias curhat colongan sang kakak hanya tertawa merasa lucu dengan tingkah sang kakak ipar, “ya bagus dong kak, itu semua untuk kebaikan kakak dan baby, iya kan baby? papa kan pengen mama ga capek ya?” lanjut Nania sembari mengelus perut sang kakak yang sedikit menyembul.


“Ih kok udah menonjol kak?” girang Ninia saat merasakan perut sang kakak yang tak lagi rata.


“iya, udah agak kelihatan”


“Ih, ga sabar nunggu baby keluar!! hallo baby, sehat-sehat di perut mama ya, aunty tunggu kamu lahir, nanti aunty ajak beli es krim yang banyak sama uncle Rendra ya” Nania terkikik senang mengajak sang keponakan yang masih berada di perut kakak iparnya.


“hush!! Kamu ini, jangan ajakin anak kakak kaya kamu dan Rendra yang bandel makan es krim ga tau batas ya” omel Linda mendengus kesal yang di balas Nania dengan tawa tanpa dosanya.


“Sudah, kamu ganti baju sana, kakak akan minta MUA nya ke sini”


“Iya kak”


Sementara itu di kediaman sebelah rumah Rahardian yang tak lain adalah kediaman Erlangga, mama Dahlia dan Hasan sedang membantu Adrivan bersiap,


“Nanti kalau mas Rivan sudah ndak kuat tangan kirinya bilang ya, nanti pakai lagi sling arm nya” pinta Hasan setelah mengganti perban di lengan Adrivan.


“Iya, ini sudah jauh lebih baik kok”


“San, kamu bantu Rivan pakai bajunya ya, saya mau keluar dulu melihat persiapan yang akan di bawa ke rumah besan”


“Iya dok”

__ADS_1


Dengan telaten Hasan membantu Adrivan mengganti pakaiannya dengan setelah tuxedo yang warnanya senada dengan gaun yang akan di kenakan Nania untuk proses akad nanti.


“Kamu sudah menikah kan San?” tanya Adrivan di sela sang perawat membantunya berganti pakaian.


“Sudah mas, saya bahkan sudah punya anak”


“Bagaimana perasaanmu waktu mau akad dulu san?”


“Maksud mas gimana ya?”


“Aku sangat gugup San”


Hasan pun tersenyum, “wajar saja mas, saya dulu juga gugup, bahkan saya sampai di ancam bapak waktu itu, kalau sampai salah saat mengucapkan ijab qabul sampai 3 kali jangan harap bisa mengulanginya lagi”


“kamu jangan nakut-nakutin saya dong San”


“saya ga nukit-nakutin mas, saya cuma cerita waktu saya mau akad nikah dulu, Alhamdulillahnya sih, saya lancar dalam satu kali mas, jadi tak perlu mengulang.”


“Saya bener-bener gugup San”


“Tarik nafas yang dalam mas, nanti sebelum ke rumah mb Nia, baiknya mas wudhu dulu”


“Terimakasih ya San”


“sama-sama mas” ucap Hasan yang secara bersamaan telah selesai membantu putra semata wayang dari pemilik klinik tempatnya bekerja mengenakan tuxedonya.


“Sudah selesai ini mas, mas Rivan sarapan dulu, baru nanti saya bantu pakaikan sepatu setelah mas Rivan wudhu”


“sekali lagi terimakasih ya San”


Hasan pun tesenyum kemudian kemudian membantu Adrivan duduk di kursi roda dan mendorongnya keluar kamar.


“Wah, calon mantennya sudah cakep aja nih?” goda tante Hani adik ipar mama Dahlia saat melihat Sang calon pengantin mendekati ruang keluarga dimana semua orang tengah bersiap sebelum berangkat ke rumah Rahardian.


“Sumringah bener Van?” timpal sang paman, adik kandung mama Dahlia.


“Ya jelas dong bu, hari yang di tunggu telah tiba” timpal Riko yang dengan tanpa dosanya malah meledek sang atasan sembari melahap cemilan yang telah di sediakan di meja.

__ADS_1


“Jelas anak mbak ini ganteng dan bahagia dong, mamanya aja cakep begini kok anaknya jelek, dan lagi hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu” mama Dahlia menimpali godaan dari para adiknya.


Godaan demi godaan yang keluarga lontarakan membuat wajah Adrivan merona dan tersenyum malu, yang mana membuat anggota keluarga lainnya semakin ikut menggoda.


“San, tolong bantu Rivan sarapan dulu, obatnya sudah kamu bawa kan?” lanjut mama Dahlia


“Sudah dok”


“Anak papa sudah siap nih?” tanya papa Ryan yang baru saja bergabung setelah selesai bersiap.


“Insya Allah pa,” jawab Adrivan mantap.


“Bagus, Tarik nafas sebelum mulai ijab kabul nanti, minta kepada Allah agar dilancarkan semuanya”


“Iya pa”


“Setelah ijab kabul nanti terucap, maka tanggung jawab dari papa Doni selaku orang tua Nania akan beralih ke kamu, janji suci mu di hadapan Allah dan disaksikan semua orang bahkan para malaikat nanti adalah awal kamu menjadi imam dalam rumah tanggamu. Ingat pesan yang papa sampaikan kepadamu kemarin, jadilah suami yang bertanggung jawab dan siap membimbing istrimu.”


“Iya pa”


Setelah semua persiapan selesai, dan sudah masuk waktu sesuai kesepakan bersama, Rombongan keluarga Erlangga berangkat ke kediaman Rahardian yang hanya berjarak pagar.


Sambutan keluarga Rahardian terada begitu hangat saat keluarga Erlangga memasuki rumah besar dan mewah yang telah di dekor sedemikian rupa.


“Kamu bisa langsung duduk di sana Van” tunjuk Nando pada calon adik iparnya


Adrivan pun mengiyakan pinta calon kakak iparnya dan meminta perawatnya untuk membantunya beralih ke kursi yang telah di tata dimana proses ijab Kabul nanti di ucapkan.


Riko yang berperan sebagai saksi dari pihak mempelai laki-laki pun segera menempatkan diri dengan membawa kotak berisi mas kawin untuk mempelai wanita.


Setelah Hasan membantu Adrivan duduk dengan benar, dia pun beralih mundur ke belakang dan ikut duduk dengan rombongan keluarga Erlangga, meninggalkan Adrivan yang duduk dengan begitu tegang, sedari tadi dirinya berusaha meghafalkan kalimat ijab kabul yang akan ia ucapkan dan terus merapalkan doa agar tak salah mengucapkannya.


Meski ruangan tempat acara sakral itu berlangsung telah di pasang pendingin, nyatanya tak mampu mendinginkan tubuhnya yang semakin tegang saat penghulu dan ayah dari calon istrinya duduk di hadapannya.


“Sudah siap Van?” tanya papa Doni sebelum meminta penghulu memulai proses ijab kabul,


“siap pa” jawab Adrivan mantap meski dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Adrivan pun menghembuskan nafas panjang dan mencoba menekan gemuruh di dadanya, sungguhnya tangannya begitu terasa dingin dan keringat mulai mengalir dari pelipisnya.


tbc


__ADS_2