Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 72


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Melihat ada kesempatan saat Rivan beranjak meninggalkan Nania duduk sendirian, orang itu segera melangkahkan kakinya mendekati sosok wanita cantik yang selama ini ingin di temuinya, sesekali ia melihat ke arah stand ice cream, memastikan bahwa Rivan masih berdiri di sana, cukup beruntung karena antrian di depan stand terlihat cukup banyak.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kini dia telah berdiri di dekat Nania yang asyik memainkan ponselnya. Ia menarin nafas dalam-dalam untuk menetralkan rasa gugupnya.


“Nia…”panggilnya dengan suara bergetar, namum cukup jelas di dengar, membuat Nania menolah ke arah orang yang memanggilnya.


Deg!


Nania terpaku di tempatnya duduk, rasa sakit beberapa tahun lalu kembali menyeruak. Ingin rasanya memaki wanita di hadapannya ini, namun lidahnya seakan kelu, tak ingin mengucapkan sepatah katapun.


“Nania…” ucap orang itu lirih,


“Akhirnya setelah sekian lama, ini beneran Lo Nan” orang itu mendekat Nania yang masih diam saja, menatap tajam sosok yang kini melangkah mendekatinya.


Tanpa di sangka, wanita itu langsung bersimpuh di hadapannya, membuatnya semakin melebarkan mata sipitnya.


“Maafin gue Nan, maafin gue” lanjutnya dengan uraian air mata. Tubuhnya bergetar karena tangis yang cukup keras. “Maafin gue Nan, ga seharusnya gue khianatin loe dulu, ga seharusnya gue selingkuh sama pacar lo, maafin gue Nan”


Nania masih membungkam mulutnya, tak juga meminta sosok yang bersimpuh di depannya ini untuk berdiri. Dia sendiri sedang mencoba menetralkan rasa terkejutnya melihat seseorang yang tak ingin dia lihat. Pengkhianatan itu nyatanya masih menyisakan rasa sakit di hatinya, meskipun kini ia telah berbahagia dengan suaminya.


Nania pun berdiri dan bergeser ke samping, membuat Diva mendongak dengan deraian air mata.


“Mau apalagi sih lo? kenapa lo harus muncul di depan gue lagi sih?” ucap Nania akhirnya meski dengan nada bergetar


“Gue ingin minta maaf Nan, gua ngaku, gue salah, ga seharusnya gue lakuin itu ke lo”


“cih, Baru sadar setelah gue lihat dengan mata kepala gue sendiri? Hah? Kalau aja dulu gue ga mergokin kalian langsung, mungkin sampai saat ini loe akan tetap menjalin hubungan di belakang gue.”


Diva tak berkutik, dirinya tak mampu menjawab ucapan yang terlontar dari bibir Nania, membenarkannya, mungin saja jika dulu dirinya tak kepergok saat sedang berduaan dengan kekasihnya saat ini dirinya masih mengkhianati sahabat baiknya ini. Rasa iri akan perhatian dan kasih sayang dari kekasihnya membuatnya gelap mata, namun ia lupa bahwa itu bukan haknya.

__ADS_1


“Pergi lo dari sini, jangan ganggu hidup gue lagi!” tak ingin emosinya semakin meledak, Nania meminta mantan sahabatnya itu untuk pergi.


Disaat bersamaan Rivan telah berdiri di samping sang istri dengan mebawa 2 box ice cream. Saat dirinya akan membayar ice cream pesanan sang istri, ia mendengar pekikan dari wanita yang sangat disayanginya, sontak membuatnya menolah ke arah sang istri duduk, dan benar saja ia melihat 2 wanita tengah bersitegang.


“Dek!” panggilnya lembut pada sang istri, membuat Nania menoleh dan segera memeluk sang suami.


“Mau apa lo ke sini Va?” tanya Rivan yang mengenali sosok wanita yang masih bersimpuh di hadapannya.


“Gue mau minta maaf ke Nia, Van.”


“suruh dia pergi mas” ucap Nania lirih, terlihat matanya memerah menahan air mata.


“Bangun lo Va, pergi dari sini, jangan ganggu Nania lagi”


“Gue cuma ingin minta maaf Van, gue sadar gue salah”


“Baguslah kalau loe sudah menyadarinya, bangun dan pergi dari ini”


“Gue ga akan bangun sebelum Nania maafin gue, gue bener-bener nyesel Nan, gue salah, loe itu sahabat terbaik yang gue punya, gue tau gue orang yang pantas lo benci, gue ga pantes nerima kebaikan lo selama ini, tapi tolong maafin gue, gue sudah berubah Nan, gue sadar, tolong maafin gue, orang tua gue juga sudah terima dampak dari apa yang gue lakuin ke lo Nan, maafin gue” ucap Diva dengn terisak,


Rivan tau sebenarnya istrinya begitu menyayangi mantan sahabatnya ini, karena kesalahan yang begitu fatal membuatnya harus menghindarinya, ia tau hati sang istri yang begitu lembut, hingga tersakiti karena pengkhianatan orang terdekatnya.


Ketiganya menjadi bahan tontonan beberapa pengunjung, bahkan ada yang berbisik-bisik membicarakan mereka. Namun tak membuat Diva bangun dari simpuhnya, dirinya sungguh menyesali perbuatannya.


“Dek, lakukan sesuai kata hatimu” bisik Rivan di telengi istrinya, karena melihat ada keraguan di mata sang istri, ada rasa marah, kecewa, namun juga rasa sayang yang terpancar di sana.


Nania mengangguk, kemudian mengurai pelukannya, menghadap mantan sahabatnya yang kini masih bersimpuh di depannya.


Huff


“Gue maafin lo Div, berdirilah” ucapnya mencoba tenang, namun tetep tak beranjak dari sisi suaminya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Nania seperti mendapat angin segar di tempat yang begitu panas, begitu menyejukan. Hati yang begitu sesak terasa lebih lega. Diva berdiri dengan perlahan menatap mantan sahabatnya yang dulu begitu baik padanya.


“Cukup sekali lo berbuat kaya gitu Div, jangan jadi orang ketiga lagi di antara hubungan orang lain, apalagi sahabat lo sendiri,”


Diva hanya mengangguk tersenyum senang, karena kembali mendengar nasihat dari orang yang begitu disanyanginya.


"maafin gue Nan”


“Gue maafin lo, pulang lah, jangan ganggu gue lagi”


“Tak bisakah kita kembali bersahat lagi Nan?” tanya Diva ragu, pasalnya ia tau kelakuannya begitu menyakitkan.


“Maaf Va, gue ga bisa, pulanglah, gue akan bilang papa untuk hapus blacklist lo dari perusahaan di dekat rumah loe, jangan kecewakan bokap nyokap lo lagi”


Diva mengangguk, di maafkan saja sudah merasa bersyukur, tak ingin mengecewakan wanita yang dua anggap sahabatnya ini, Diva akan mengikuti kemauannya.


“Terimakasih Nan, terimakasih”


“Hmm, pergilah, gue juga sudah bahagia dengan suami gue, jadi jangan ganggu kami lagi” ucap Nania lalu berbalik pada sang suami yang tersenyum padanya, bersamaan dengan sang sopir yang telah tiba.


“Maaf pak, bu, saya terlalu lama?”


Keduanya menoleh, lalu tersenyum pada sang sopir yang tampak mengatur nafasnya,


“Gapa pak, tolong bantu bawakan belanjaan kami ya pak, kami akan pulang” jawab Rivan masih dengan merengkuh pinggang sang istri.


“Baik pak”


Pak Didi segera meraih kantong belanjaan yang di tunjuk bosnya. Rivan pun menyerahkan kantong berisi 2 box ice cream kepada istrinya, karena ia juga akan membawa beberapa kantong belanjaan mereka.


“Pergilah Div, kami akan pulang” ucap Nania lalu berbalik merangkul erat lengan sang suami, meninggalkan mantan sahabatnya yang masih terpaku karena sikap romantic keduanya.

__ADS_1


Menebak dalam hati apakah tadi tidak salah dengar? Mereka sudah menikah? Sedetik kemudian ia tersenyum lebar, karena kini mantan sahabatnya telah berbahagia, meski bukan dengan mantan kekasihnya.


Tbc


__ADS_2