Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 67


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Suasana sarapan pagi ini terasa lengkap karena pasangan paruh baya pemilik rumah telah kembali dari perjalanan dinas mereka.


“Pa, sepertinya Rivan harus ke resort besok, untuk melihat persiapan peresmiannya”


“bukannya sudah di handle sama Riko?”


Rivan pun menjelaskan tujuannya berangkat lebih awal, karena ingin melihat secara langsung sekaligus untuk membuat Nania merasa lebih nyaman, barangkali dengan refreshing Nania akan semakin stabil, meskipun sekarang sudah terlihat baik-baik saja.


“Baiklah kalau gitu, terserah kalian saja, nanti papa mama akan menyusul malam sebelum peresmian, sekalian sama mertuamu”


“Oke pa” Rivan beralih menatap sang istri yang masih menikmati makan paginya “Dek, nanti siapkan pakaian untuk beberapa hari ya”


“Iya mas, oh ya berarti besok minggu ga bisa fitting baju?”


“Kita fitting setelah pulang dari resort aja ya? gapapa kan?”


“Iya, gapapa, nanti Nia bilang sama mama juga kalau gitu”


“Kita kan juga cuma beberapa hari di sana dek, ga sampai satu minggu juga”


“Iya mas”


Setelah sarapan selesai, dua pria Erlangga beda usia itu melangkah menuju perusahaan dengan satu mobil yang dikemudikan Pak Rahman.


Sepanjang perjalanan Rivan mengajak diskusi sang papa mengenai masalah yang terjadi kemarin, dan kemungkinan masalah yang akan timbul karena ia meninggalkan agenda meeting yang begitu penting untuk menyelematkan sang istri.


“Kita coba hubungi beliau nanti Van, mau bagaimana lagi kondisi Nania juga sangat penting, papa pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu. Kontrak kerjasama itu tak akan berarti jika istri papa terluka”


“Iya pa, maafkan Rivan”


“Kamu tak salah nak, kamu sudah lakukan yang terbaik, papa bangga padamu, keluarga adalah yang paling utama nak, apalagi istri, wanita yang akan selalu mendukungmu baik di waktu susah atau senang mu, kamu lihat sendiri bagaimana Nania begitu sabar merawatmu selama kamu sakit kamarin”

__ADS_1


“Iya pa, rasanya perhatian dan pengorbanannya tak bisa dibandingkan dengan harta apapun pa”


“Ya, kau benar, jadi keputusanmu sudah benar, papa juga tau meskipun pak Randi adalah orang yang begitu tegas dan disiplin, namun beliau adalah orang yang begitu hangat dengan keluarganya, orang yang begitu mencintai anak dan istrinya, jadi semoga saja nanti beliau memaklumi alasanmu meninggalkan meeting kemarin.”


“Iya pa, setelah makan siang, Rivan akan coba datang ke perusahaannya untuk meminta maaf secara personal”


“ya, begitu lebih baik, buat janji dulu sama sekretarisnya agar bisa langsung masuk nanti”


“Iya pa”


***


“Cerah bener Ko?” tanya papa Ryan saat keduanya telah sampai di depan ruangan dan melihat asisten sang putra terlihat begitu bahagia.


“Ya jelas dong pak, Riko sampai susah tidur semalam?”


“kamu dapat pacar baru?” tebak Rivan


“Sembarangan,!” Riko mencebik kesal “Nih, pelajari dulu lalu tanda tangan”


Tanpa duduk Rivan membuka map itu dan membaca sekilas judul berkas yang kini sudah berada di tangannya.


“PT. Angkasa Jaya? Pak Randi?” Rivan begitu terkejut, dan menatap sang asisten yang tersenyum lebar sembari mengangguk.


“Kita bicara di ruangan papa saja” ajak papa Ryan pada dua putranya itu.


“Bagaimana ini bisa Ko?” tanya Rivan heran setelah ketiganya telah duduk berhadapan di sofa ruangan papa Ryan.


Riko pun menceritakan bagaimana ia melihat clientnya berdiri mermperhatikan kejadian yang menimpa Nania, baku hantam antara Rivan dan mantan pacar istrinya. Kemudian Riko menyapa dan mengatakan bahwa Nania adalah istri dari Rivan sekaligus putri bungsu dari Doni Rahardian, dan tanpa di sangka pak Randi meminta berkas kontrak kerjasama dan akan di kirim keperusahannya hari ini untuk di kasihkan ke sekretarisnya.


“Ya Allah, Alhamdulillah banget ini” pekik Rivan girang, karena proyek besar ini berhasil mereka dapatkan, meski ada insinden kemarin.


“Iya mas, saya juga bingung kemarin, lalu ingat beberapa desas desus yang mengatakan bahwa pak Randi sangat menjunjung tinggai rasa cinta untuk keluarganya, terutama untuk anak istrinya, mungkin bisa jadi karena itu, waktu mas Rivan melindungi mb Nia kamarin membuat beliau mempercayakan proyek ini kepada mas Rivan”

__ADS_1


“Papa rasa apa yang Riko ucapkan benar, bersyukurlah karena rasa cintamu pada istrimu membuatmu mendapatkan proyek besar ini”


Rivan mengangguk dan sesekali membuka berkas kerjasama yang ia taruh di atas meja, mempelajarinya dan langsung membubuhkan tanda tangan di sana.


“Kamu saja yang ke sana Ko kalau begitu, kamu titipkan pada sekretarisnya, aku akan handle yang di sini”


“Baik mas, oh ya, untuk tiket besok, penerbangan sore mas sesuai permintaan mas”


“Oke, terimakasih”


Ketiganya pun berpisah untuk melaksanakan tugas masing-masing. Berita pagi yang sangat membahagiakan bagi perusahaan ini karena proyek besar akan segera mereka tangani.


***


Saat makan siang telah tiba, kali ini Nania tak mengantarkan makan siang untuk sang suami, setelah membantu membereskan rumah ia pun menata berbagai tanaman bunga yang kemarin di belinya, hingga siang hari saat waktu makan siang barulah selesai mempercantik kamarnya.


“Ih, jadi lebih adem ini kamar Nan, mama suka” mama Dahlia yang belum ada jadwal di kliniknya ikut membantu sang menantu yang menata taman kecil di teras kamarnya.


“Iya ma, sudah lama Nia pengen beli bunga, baru bisa kamarin ini, untung aja kamar mas Rivan di bawah ma, jadi lebih gampang natanya”


“Iya, dari dulu dia itu ga mau tidur di lantai atas, katanya pengen dekat kolam renang, lihat aja nih teras sudah langsung terhubung sama kolam.


“Iya ma, tapi kemarin kelihatan kosong sama taman juga agak jauh, jadi Nia kasih ini deh”


“Iya, mana mau anak itu penuh kamarnya, kamu lihat kan dalam kamar aja ga banyak barang, agak heran juga mama sama tuh anak, biasanya anak cowok kan banyak ya nyimpen perlengkapan anak-anak cowok di kamar, lhah ini ndak lho”


“Tapi ada untungnya juga sih ma, Nia ga ribet beresinnya” Nania terkekeh “Mungkin Nia yang bakal penuhin kamar dengan barang-barang Nia”


“Atur kamu ajalah sayang, buat senyaman mungkin, kalau tatanan rumah ada yang kurang sreg, kamu juga boleh atur, ini juga rumah kamu sayang. Meski kalian sudah berumah tangga, mama minta kalian tetap tinggal di sini untuk kedepannya, Rivan anak mama satu-satunya, kalau kalian ndak tinggal di sini mama akan sangat kesepian”


“Iya ma, Nia sudah bicarakan ini dengan mas Rivan juga kok, kami akan tetep di sini, lagi pula sama rumah orang tua Nia deket banget”


“Terimakasih sayang” mama Dahlia merangkul menantunya dari samping menampilkan senyumnya yang begitu lebar,

__ADS_1


Tbc


__ADS_2