
🌼Happy Reading🌼
“Kenapa denganmu Van?” tanya sang papa saat melihat wajah putra semata wayangnya ditekuk, padahal beberapa saat yang lalu terlihat bahagia karena lamarannya telah di terima,
“Rivan dan Nia beneran di pingit ya pa?”
“hmm, jadi karena ini kamu jadi mewek kaya gini?” papa Ryan menahan tawa melihat wajah sang anak begitu tersiksa, seperti saat dirinya dulu saat akan menikahi wanita yang telah memberikan putra yang begitu tampan untuknya.
“tentu saja, itu sudah tradisi keluarga, papa dulu juga menjalani pingitan” lanjut sang papa setelah melihat sang putra mengangguk membenarkan alasannya begitu murung.
Sontak saja jawaban dari papa Ryan membuat ketiha sepupu Nania yang masih duduk santai di sana tertawa terbahak-bahak.
“Ayuh kita pulang, biarkan Nania istirahat” ajak sang papa
“Bye-bye bang Rivan!” ucap kompak ketiganya sembari melambaikan tangan.
“selamat menahan rindu! abang tenang aja, kak Nania aman bersama kami kok” timpal John sekali lagi meledek calon kakak sepupunya.
Riko pun tersenyum dan bersiap mendorong kursi sang atasan sementara Nania menyalami calon papa mertuanya, lalu berjalan di samping sang papa untuk mengantarkannya sampai depan pintu.
Terlihat calon mama mertuanya sudah berdiri menunggu suami dan anaknya di temani mama Nita dan papa Doni.
“Nah ini dia mereka” ucap mama Dahlia saat melihat dua pria kesayangannya mendekat “kalau begitu kami pulang dulu Don, Nit, terimakasih atas jamuannya, dan untuk persiapan esok kita bagi tugas sesuai yang kita bicarakan tadi” lanjutnya.
“Iya, Ya, semoga acaranya berjalan lancar”
“aamiin,” mama Dahlia pun berlaih kepada calon menantunya untuk merangkulnya dan berpamitan sebelum meninggalkan kediaman Rahardian.
“Istirahat di rumah Van, ingat mulai besok kalian sudah di pingit, “ mama Nita memberikan perintah pada sang calon menantunya saat laki-laki tampan yang duduk di kursi roda itu berpamitan padanya
“iya ma” jawab Adrivan dengan lesu.
Setelah semuanya berpamitan keluarga Erlangga pun benar-benar meninggalkan kediaman Rahardian.
“Makan dulu Nan, baru istirahat” pinta sang mama pada putri bungsunya.
__ADS_1
“Iya ma”
***
Keesokan harinya Nania disibukan dengan persiapan untuk acara sakral yang di laksanakan kurang dari 7 hari lagi, meskipun acara yang akan di laksanakan sederhana, tapi tetap butuh persiapan yang matang termasuk semua berkas untuk pendafataran pernikahan.
“Kak Nia, besok kalau udah nikah sama bang Rivan ga tinggal di sini lagi?” tanya Rendra disaat mereka bersantai setelah makan siang bersama.
“Iya dong dek, kakak akan tinggal sama bang Rivan,”
“yach, kalau Rendra ke sini ga ketemu kak Nia lagi dong, ga ada yang ajakin Rendra beli es krim nanti”
Anak bungsu dari uncle Bram yang baru saja menginjak bangku SMP itu memang sangat menyukai es krim, dan setiap kali pulang ke kediaman Rahardian ini Rendra akan di traktir Nania di kedai es krim favorit mereka.
“Ya tetap bisa dong dek, kan rumah bang Rivan cuma di sebelah, jadi kalau Rendra pulang ke sini bisa ke rumah bang Rivan juga”
“oh iya, lupa, rumah bang Rivan cuma di sebelah” anak yang baru beranjak remaja itu menepuk jidatnya yang membuat semua orang yang ikut duduk di ruang keluarga tersenyum melihat tingkah lucunya.
“Dek, ada telpon dari mas Nando nih, katanya telpon kamu tapi tak di angkat?” Linda mendekati adik iparnya yang tengah bersandar di sofa sembari menonton tv.
“ga tau, biacara saja sendiri” Linda mengangkat kedua bahunya sebelum ikut duduk di sofa.
“Hallo kak,” sapa Nania setelah menempelkan ponsel sang kakak di telinganya
“Dek, berkas-berkas yang di minta pak RT kemarin sudah siap kan?”
“sudah kak, sudah semuanya, tinggal kasih ke pak RT aja”
“Oke, berkasnya kasihkan ke John, biar di antar John kepada Pak RT, barusan kakak di telpon untuk segera mengumpulkan berkasnya”
“Oh, iya kak, Nia kasihkan ke John berkasnya”
***
Hari-hari berikutnya Nania dan keluarga disibukan dengan persiapan lainya seperti fitting baju akad, memilih menu hindangan dan bertemu dengan pihak WO yang akan menghandle acara sakral itu.
__ADS_1
Kedua keluarga pun bersepakat akad akan dilaksanakan di dalam rumah dan hanya mengundang kerabat dekat dan tentangga saja, mengingat kondisi Adrivan yang masih dalam tahap pemulihan.
Acara akan berlangsung tertutup dari media dan hanya fotografer pilihan keluarga yang akan mengabadikan momen penting penyatuan dua keluarga pengusaha yang cukup besar itu. Mereka ingin mejaga privacy dan kehikmatan saat acara sakral berlangsung.
Selama beberapa hari menjelang hari H, Adrivan pun di awasi begitu ketat oleh keluarganya bahkan Riko sang asisten pun ikut mengawasi sembari bekerja di kediaman Erlangga, meskipun Hasan sang perawat.
“Ko, tolong hubungi Nania sih” rengeknya pada sang asisten yang kebetulan sedang menemaninya makan siang,
“Maaf mas, tidak bisa tahan sebentar lagi apa mas?, tinggal lusa kan mbak Nania akan ikut tinggal di sini” tolak Riko dengan nada halusnya.
Sedari tadi ia menahan diri untuk tak tertawa melihat tingkah atasannya seperti anak kecil yang di tinggal ibunya pergi bekerja, merengek terus menerus, sungguh sikap itu tak pantas ditunjukan oleh atasannya yang super tegas saat bekerja.
“ck, kok kamu jadi ikutan mama papa sih Ko, kamu itu asistennya siapa sih?” geram Adrivan karena sedari permintaannya tak di turuti
“Maaf mas, saya asistennya mas Rivan, tapi yang juga tak bisa menolak perintah Pak Ryan dan Bu Dahlia”
“ck” Adrivan hanya bisa berdecak kesal kemudian menghabiskan makan siangnya.
Setelah makan siang ia akan minum obat lalu tidur, berharap saat bangun nanti hari sudah berlalu.
Adrivan pun merasa heran pada dirinya mengapa setelah hubungannya dengan gadis pujaan hatinya diresmikan, dirinya tak bisa menahan diri, rasa Rindu dalam dadanya selalu menggelora dan rasa ingin bertemu ingin segera dituntaskan,
‘Ah, Nia, sungguh apa yang kamu lakukan padaku sih? kenapa aku bisa tergila-gila padamu’ gerutu Adrivan dalam hati yang begitu frustasi.
“Sabar ya mas tak akan lama kok” ucap Riko akhirnya tak bisa menahan tawanya.
“Awas kamu ya Ko, jangan harap cutimu aku acc untuk bulan depan” ancam Adrivan akhirnya,
“Eh, ya jangan dong mas, rencana cuti saya bulan depan kan sudah dari jauh-jauh hari, kasian ibu saya dong, ga jadi liburan gara-gara anaknya ga di acc cutinya” Riko mulai memperlihatkan kepanikannya, membuat sang atasan tersenyum smirk.
“Ya itu kan nyokap lo yang mau liburan, ya bisa aja dong nyokap lo liburan sendiri, atau sama bokap lo” ucap Adrivan dengan bahasa tidak formalnya saking kesalnya.
“ya jangan dong mas, saya kan juga pengen liburan” Riko memperlihatkan wajah memelasnya.
Tbc
__ADS_1