
🌼Happy Reading🌼
Drrt! Drrt!
Ponsel yang berada di atas meja bergetar dan menampilkan nama seseorang dalam layar ponselnya. Keasyikannya menyaksikan acara televisi terganggu dengan getaran ponsel yang tak kunjung berhenti. Ia pun meletakkn toples cemilannya kemudian mengambil ponselnya.
“Hallo..” sapanya terlebih dulu setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
“John…!!” panggil seseorang di seberang sana
“Iya kak,”
“Kalian itu ya!!! kenapa tak ada yang mengabari kakak?” pekik pria di seberang sana marah
“maaf kak” Jawab John diikuti dengan kekehan ringan karena melupakan sang kakak yang berada di lain negara.
“Lalu bagaimana kondisi kak Nia dan Abang?”
“semuanya baik bang, kakak tau?”
“apa? Kamu belum bicara apa-apa bagaimana kakak tau?” jawab William dengan nada ketusnya.
Ya, pria yang menghubungi John sedari tadi adalah William, kakaknya yang kini sedang mengurus kasus yang menimpa sang kakak sepupu, princess satu-satunya keluarga Rahardian.
“hehe…” John kembali terkekeh menggoda sang kakak,
Sudah beberapa hari tak menggoda sang kakak, membuatnya merindukan pekikan kesal yang di lontarkan sang kakak.
“Kak Nia akan menikah dengan bang Rivan kak”
“What’s???!!! Seriously??!!”
“Iya, Kak Nia sudah terima lamaran abang”
“Ah, Alhamdulillah, kapan mereka akan menikah?”
“Masih belum tau kak, kondisi bang Rivan masih belum begitu baik kak, tulang kakinya ada yang patah tertimpa runtuhan bangunan kemarin, jadi mungkin menunggu pulih dulu”
“hmm, baiklah, semoga abang segera pulih”
“Iya kak, dan kondisi kak Nia saat ini juga sudah baik-baik saja, tidak terpuruk seperti beberapa waktu lalu”
“Syukurlah….” William tersenyum lega “Kalau begitu cepatlah pulang!!! Kalian tak kasian dengan kami hah?!” William meninggikan suaranya.
John tertawa bahagia mendengar ucapan sang kakak yang terdengar sangat kesal dan merana.
“John betah di sini kak” kembali John tertawa terbahak-bahak.
“Bilang mama untuk cepat pulang, kasian papa…” William memelankan suaranya dia akhir kalimatnya, nyaris seperti desisan, sungguh ia sangat merindukan perempuan yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
“Kasian papa atau kakak merindukan mama?” goda sang adik
“Haish… kau ini!!! Cepat pulang, papa kasian sendirian tiap malam, “
Bentakan yang William lontarkan malah terdengar seperti rengekan, membuat John semakin terpingkal mendengar keluhan sang kakak. Membayangkan bagaimana situasi di rumahnya saat sang mama tak ada. Papa Ferdinand akan melampiaskan kesepiannya kepada putranya untuk menemaninya bergadang hingga lelah, dan itu membuat sang putra akan merasa jengkel sepanjang malam karena sang papa akan mengajak mereka bermain catur hingga pagi menjelang.
“Papa pasti sangat bahagia kak, tiap malam bisa main catur tanpa di tegur mama”
“John!!!!” William semakin kesal karena terus di goda sang adik,
“Kakak menyusul ke sini saja, urusan dengan Raymond sudah selesai kan?”
“Seenak j****mu apa? Kau tidak tau urusan Abraham Corp begitu banyak? Hah?”
“Sesekali liburan lah kak” John masih tergelak, "jangan bekerja terus"
“Lalu biaya kuliahmu dari mana kalau kakak dan papa tidak bekerja? Hah? Kau mau berhenti kuliah?”
Glek!!
John seketika berhenti tertawa dan menelan ludahnya kasar,
“Ya jangan dong kak, sayang kuliah John sudah mau selesai, tinggal menyelesaikan skripsi saja”
“Makanya cepet pulang dan selesaikan skripsimu, lalu bantu kakak di Abraham Corp!!!”
“Haishh… kak, John masih ingin di sini kak” John malah ikut kesal.
“iya, iya, Nanti John bicara sama mama dulu kak”
William mengakhiri panggilan telponnya dan berharap sang mama juga menyejutui untuk segera pulang ke rumah.
***
Sore harinya, Nania sudah tampak segar setelah membersihkan dirinya. Kedua mama nya masih sibuk mempersiapkan apa saja yang akan di bawanya ke rumah sakit, sementara dirinya ikut bersiap.
“Sayang, malam ini papa dan mama akan pulang ya, kau mau masih di sini atau ikut pulang?” ucap mama Nita saat mereka berada di dalam mobil yang dikendarai John dalam perjalanan ke rumah sakit yang tak jauh dari Hotel tempat mereka menginap.
“Boleh Nia di sini dulu ma?”
“Tapi harus jaga kondisi, jangan seperti kemarin lagi”
“Iya ma”
“John juga ikut pulang ya tan, Kak William tadi telpon, sepertinya John dan mama harus segera pulang ke rumah juga” timpal John yang masih fokus mengemudi,
“Tak bisa lebih lama lagi John?” tanya Nania
“Maaf kak, tidak bisa, John akan ke sini lagi nanti saat pernikahan kakak nanti”
__ADS_1
Jawaban John membuat Nania tersipu malu, rasanya sungguh sulit di percaya, ‘benarkah Nia akan menikah? dengan Adrivan?’
“Hmmm baiklah, Terimakasih ya John”
“sama-sama kak”
Mobil yang di kendarai John telah sampai di parkiran rumah sakit, mereka pun segera masuk ke area ruang rawat VIP dan menemui ketiga pria yang masih berada di ruangan itu.
“Assalamu’alaikum” sapa keempat orang itu saat memasuki ruangan.
“wa’alaikumusalam”
Setelah menyalami kedua papanya Nania pun mendekati sang kekasih yang masih terbaring sembari menatapnya dengan senyum lebarnya.
“Hai..” sapa Nania dengan senyum malunya, sungguh tingkahnya membuat Adrivan semakin tersenyum lebar.
“Bagaimana kondisimu?” Nania duduk di kursi yang berada si samping ranjang dan menggenggam telapak tangan Adrivan yang masih menatapnya.
“jauh lebih baik, kenapa baru kemari? Hmm”
“Aku tadi tidur sampai sore, maaf ya…”
Adrivan tersenyum, ia lihat wajah sang kekasih lebih segar dan terlihat berseri, tidak seperti tadi pagi yang terlihat lelah dan matanya yang bengkak.
“Aku yang minta maaf karena kamu pasti lelah menunggui ku semalam”
Nania menggelengkan kepalanya, tatapan keduanya tak putus, dan senyum mengembang menghiasi wajah kedua nya.
Disisi kamar ruangan, tepatnya di bagian sofa, para orang tua duduk sembari menggelengkan kepala.
“Lihatlah mereka Don, mereka kaya anak ABG saja” ucap Ryan sembari terkekeh senang melihat sang putra terlihat bahagia,
“Benar, aku bersyukur Nia mampu melewati masa terpuruknya dan sekarang bisa tersenyum kembali.”
“Kau benar, Terimakasih Don”
Para mama pun telah selesai menghidangkan makan malam yang mereka bawa di meja makan, lalu mengajak para papa untuk menyantap makanan mereka.
“Kak Nia, makan dulu, senyuman Bang Rivan ga akan membuat kakak kenyang” pekik John dari sofa tempatnya duduk, dia dari tadi sudah gemas ingin menggoda sang kakak yang sedari tadi sedang kasmaran.
Teriakan John membuat semua orang dalam ruang tersenyum begitupun Nania dan Adrivan yang tampak salah tingkah.
“Makan dulu sana” pinta Adrivan lembut pada sang kekasih.
“hmm,” Nania berdiri dan melangkah ka arah sofa
“Bilang aka kamu iri John!” Balas Adrivan, saat melihat calon adik iparnya itu terkekeh karena berhasil membuatnya malu.
“Sorry bang, karena di sini masih ada yang di bawah umur, jadi di larang umbar kemesraan, ok?”
__ADS_1
“Di bawah umur apaan?” desis Adrivan kesal membuat semua orang kembali tertawa.
Tbc