Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 84


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Setelah beberapa saat menyalurkan rasa rindu, keduanya mengurai pelukan mereka dan bersiap ke ruang keluarga di mana kedua orang tua mereka menanti mereka untuk meminta penjelasan.


Meski sebenarnya tanpa cerita mereka pun, mereka akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Pasangan pengantin baru itu pun keluar dari kamar dengan bergandengan tangan, tubuh mereka terlihat lebih segera setelah tersiram air dingin.


Rivan pun menjelaskan apa yang terjadi kepada orang tua mereka, ia pun juga menjelaskan bagaimana Raiz yang menyelamatkan sang istri dari tembakan yang di lontarkan oleh pria yang menyekap Nania.


“Tolong ibunya Raiz pa, dia terpaksa melakukan ini pada Nia” pinta Nania setelah sang suami selesai menjelaskan detail kejadian beberapa jam lalu.


“Papa akan memikirkannya nanti”


“Pa…” rengek Nania karena ia merasa papa tak akan membantu orang yang telah mengkhianatinya apapun alasannya.


“Dia telah mengkhianati papa dek, dia sudah buat putri kesayangan papa ini di culik dan mengalami kejadian seperti ini”


“Tapi dia terpaksa pa, dia juga sudah menyelamatkan Nia, kalau tak ada Raiz mungkin saat Nia yang terbaring di rumah sakit atau bahkan sudah tak bernyawa lagi”


“Nia!!” pekik papa Doni yang tak suka dengan kalimat terakhir sang putri.


Nania yang mendengar pekikan sang papa pun segera mendekat sang papa dan memeluknya erat, menyadari bahwa ia salah bicara.


“Maafkan Nia pa”


“Jangan bicara seperti itu lagi dek, jangan berpikir untuk meninggalkan papa”


Nania menggelengkan kepala, kini keduanya berurai air mata. “Maafkan Nia pa”


“Papa sayang sama adek”


“Nia juga sayang papa”


Kini suasana haru menyelimuti ruang keluarga kediaman Erlangga, semuanya terharu melihat ayah dan anak itu saling mengungkapan rasa sayangnya.


***


Setelah setelah membicarakan banyak hal akhirnya papa Doni memutuskan memaafkan pengawalnya yang mengkhianatinya. Dia pun akan meminta pertanggung jawaban pengawalnya itu untuk terus mengabdi kepada keluarga Rahardian. Dan secara pribadi Nania memintanya untuk menjadi pengawalnya, untuk membuktikan bahwa sebenarnya Raiz tak bermaksud mengkhianati papanya.


Namun permintaan itu di tolak oleh sang papa, ia akan menugaskan Raiz untuk menjaga Nando dan istrinya, tidak lagi mengawasi putri bungsunya.


Tengah malam pun Nando mendapatkan kabar bahwa ibunda dari Raiz juga berhasil di selamatkan, dan kini sudah di beri penjagaan, sementara Raiz sendiri sudah membaik setelah kedua peluru yang menembus punggungnya berhasil di keluarkan.


Pagi ini semua aktivitas di kediaman kedua keluarga tampak berjalan normal. Nania juga sudah tampak seperti biasa, tak terlihat sedih atau tegang pasca kejadian yang menimpanya kamarin.


“Dek, hari ini jangan kemana-mana dulu ya, orang yang menyuruh menculikmu masih belum tertangkap, jadi situasinya masih belum aman.”

__ADS_1


“Iya mas, Nia juga tak ingin kemana-mana”


“Mas akan ke rumah papa Doni untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut, kamu mau ikut atau di rumah saja?”


“Nia ikut aja kalau gitu mas, nanti Nia sama kak Linda aja”


Rivan mengangguk, kemudian mengajak sang istri yang telah bepakaian tertutup untuk keluar dari kamar.


Saat sampai di ruang makan, papa Ryan dan mama Dahlia telah duduk di sana sembari menikmati teh dan jusnynya.


“pagi pa”


“Pagi ma”


Sapa keduanya pada kedua orang tua mereka, sebelum ikut duduk bersama mereka.


“Pagi sayang”


“Bagaimana tidurmu sayang? Nyenyak?” timpal mama Dahlia yang masih merasa khawatir dengan kondisi sang menantu.


“Baik ma, Nia bisa tidur nyenyak”


“Alhamdulillah”


“Mama tenang saja, anak mama ini sepanjang malam memeluk Nia, jadi Nia merasa aman dan nyaman” jawab Nania sembari tersenyum ke arah sang suami, yang juga tersenyum hangat kepadanya.


“Ah, syukurlah sayang, mama seneng banget dengernya”


“Rivan dan Nia akan ke rumah papa Doni habis ini ma, tak perlu menyiapkan untuk makan siang nanti”


“Hmm…. Ya mama juga ada jadwal di klinik, hati-hati kalian”


“Iya ma,… Rivan minta maaf ya pa, harus meninggalkan kantor lagi”


“hmm, keselamatan Nia juga penting Van, segera tangkap orang yang ingin mencelakai menantu papa”


“Iya pa, terimakasih”


***


Ketiga pria berbeda usia terlibat dalam pembicaraan serius di ruang kerja papa Doni. Semuanya tak ingin terlewatkan, apalagi mengenai keselamatan keluarga mereka.


“Oncle Ferdi sudah memberi kabar Pa?” tanya Nando di tengah pembicaraan serius mereka.


“kabar tarakhir ya kemarin, uncle kalian bilang kalau Raymond tidak berada di neraganya”


“Apakah mungkin yang menyuruh pria itu menculik Nania adalah Raymond?”

__ADS_1


“Ya, mungkin saja,tapi pria itu mengaku, pria yang menyuruhnya bukan bernama Raymond”


“Apa mungkin Raymond bekerjasama dengan orang lain pa?”


“Bisa jadi, papa masih menyelidikinya, siang ini Aris akan memberi kabar ke papa”


“Semoga saja mereka segera tertangkap pa, Nando harap masalah ini selesai sebelum acara tujuh bulanan anak kami”


“Hmm, papa harap juga begitu”


Sementara di sisi lain, para wanita Rahardian tengah menikmati waktu bersama mereka dengan menonton film kesukaan sang mama.


“ya Allah kak, so sweet banget sih mereka”


“Heem, lihat tuh cowoknya, care banget sama istrinya”


Sementara sang mama malah terisak karena terharu dengan adegan film yang mereka tonton.


Isakan tangis dari sang mama membuat kakak beradik itu menoleh kemudian saling pandang,


“ih, mama kenapa?”


“Kasian itu istrinya, kok ya harus di kasih sakit kaya gitu sih? hu…hu…”


Sontak saja jawaban dari mama Nita membuat keduanya tertawa, tak menyangka mamanya benar-benar menghayati cerita film yang mereka tonton.


“Aku yang hamil kok mama yang sensitive sih” celetuk Linda yang sudah sangat akrab dengan sang mama mertua.


“Ga tau ini, lihat tuh film bawaannya mama pengen nangis terus” jawab mama Nita sembari tersenyum akan ketawa meski isakan tangisnya masih terdengar.


“Ganti filmnya aja kalau gitu” celetuk Nania kemudian mengganti film yang akan mereka tonton.


“Dek, putar film horor aja, udah lama kaka ga nonton film horor”


“kakak ga takut apa?”


“ih, kamu itu kan tau dek kalau kakak suka film horor, kalau ada kakakmu itu mana boleh kakak nonton film horor”


“Eh iya, kak Nando kan penakut mb” celetuk Nania nanaia, kemudian melihat kiri kanan, memastikan kakaknya itu tak mendengar ucapannya,


“dia itu berani kalau hadepin penjahat, tapi kalau hantu dia itu takut nya kebangetan kak” lanjutnya lagi setelah merasa aman,


“Makanya dek, kakak itu heran badan segedhe gitu takut sama hantu”


“Mama tuh juga heran, sama tuh anak, dari dulu kalau di tinggal di rumah sendiri ga pernah mau”


“iya ma, kata kakak ada hantu di rumah ini, jadinya takut” celetuk Nania yang teringat ucapan sang kakak waktu masih jaman sekolah dulu.

__ADS_1


“siapa yang takut?”


Tbc


__ADS_2