
🌼Happy Reading🌼
Beberapa hari berlalu kondisi Adrivan kian membaik, luka-luka di tubuhnya telah mengering, meskipun belum bisa beraktivitas normal, namun Adrivan sudah di ijinkan pulang.
Setelah memastikan sang putra bisa mendapatkan perawatan di rumah, mama Dahlia segera mengurus proses kepulangan sang putra, sementara papa Ryan telah kembali ke rumah beberapa hari lalu, tepatnya 2 hari setelah putra mereka sadar, karena harus mengurus pekerjaan yang ditinggal sang putra.
“Sayang, tolong bantu bereskan perlengkapan kita, siang ini kita akan pulang ke rumah” pinta mama Dahlia pada Nania yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit.
“Baik ma, mama bisa makan siang dulu, Nia akan bereskan barang-barang Rivan”
Mama Dahlia pun menoleh ke arah meja di mana Nania meletakan 2 kotak makan siang.
“Kamu belum makan sayang?” Heran mama Dahlia karena melihat 2 kotak makanan di sana, sementara Nania pergi ke kantin cukup lama.
“Tadi di kantin Nia sudah makan bakso ma, hehe” Nania memperlihatkan gigi putihnya, merasa tak enak karena makan siang terlebih dulu di kantin.
“Baiklah, mama makan dulu, kamu lanjutkan beres-beres, setelah selesai kamu harus makan nasi ya”
“Iya ma”
Disisi lain kamar, Adrivan yang telah bangun dari tidurnya melihat kedua wanita kesayangannya berinteraksi layaknya ibu dan anak sesungguhnya, ia pun tersenyum senang dan bersyukur mama Dahlia mendukung hubungannya dengan pujaan hatinya.
“Kamu sudah bangun?” Nania melihat sang kekasih telah membuka matanya dan terus menatapnya.
“Hmm, sudah dari tadi, dan melihatmu membereskan semua barang-barang, sungguh calon istri idaman” puji Adrivan pada calon istrinya,
Ucapan Adrivan membuat Nania tersipu malu, lalu ia pun melanjutkan mengepak semua barang Adrivan ke dalam tas dan meletakkannya di sofa.
“Makan dulu Nan” ucap mama Dahlia yang telah menyelesaikan makan siangnya bersamaan dengan Nania yang telah selesai membereskan barang-barang mereka.
“Nia masih kenyang ma, Rivan masih dapat makan siang tidak sih ma? Kalau tidak biar Rivan saja yang makan?”
“Sepertinya tidak, karena mama sudah urus semua administrasinya dari pagi, kalaupun dapat paling hanya cemilan saja”
“Ya sudah biar Rivan saja yang makan” Nania mengambil kotak makan siang di atas meja dan membawanya ke ranjang di mana Adrivan masih terbaring.
“Makan dulu mas”
Deg!
__ADS_1
Panggilan baru Nania, membuat Adrivan terpaku, baru kali ini ia mendengar sang kekasih memanggil dengan sapaan ‘mas’.
“Kamu bilang apa?”
“Makan dulu” Nania membuka kotaknya dan bersiap menyuapi sang pujaan hati.
“setelahnya tadi kamu panggil aku apa?’
“Mas… apa tidak suka?”
“suka! Sangat suka” Adrivan menjawab dengan cepat dan tersenyum lebar, dirinya terus memandang sang kekasih,
“Rasanya tak sopan kalau Nia memanggil calon suami Nia dengan nama saja, meski kita seumuran”
“Sebenarnya aku tak keberatan dengan panggilan nama saja, tapi aku sangat senang kamu memanggilku ‘Mas’ ada rasa yang berbeda dan aku benar-benar tersanjung akan hal itu“
"sudah selayaknya aku menghormati mu mas, jadi aku akan memanggil dengan sebutan mas mulai sekarang"
"terimakasih dek" jawab Adrivan ikut mengubah panggilannya.
Nania tersenyum mendengar ucapan sang kekasih, ia pun melanjutkan mengarahkan tangannya untuk menyuapi Adrivan hingga makanan dalam kotak habis tak bersisa.
***
“Bagaimana perkembangan proyek Resortnya Ko?”
Selama beberapa di rumah sakit, mama Dahlia tak mengijinkan putranya menghandle pekerjaannya dengan alasan agar bisa fokus dengan kesembuhannya. Jadilah semua urusan proyek ini di pegang Riko sepenuhnya.
“Sudah kembali berjalan mas, material yang jauh dari standart sudah di ganti, para pekerja yang terluka juga sudah mulai pulih”
“Syukurlah, terimakasih atas kerja kerasmu Ko” Adrivan merasa lega, kemampuan asisten pribadinya ini memang tidak diragukan lagi. Selalu bisa di andalkan.
“Saya hanya menjalankan sebisa saya mas, tapi mohon maaf karena saya tak bisa meminimalisir kerugian yang ada”
“Tak apa, kerugian yang ada bisa di tutup dengan proyek lain kedepannya, yang penting semua pekerja aman dan Client tetap mau bekerjasama, dan pastikan manager itu mendapat hukuman yang setimpal”
“Baik mas, semuanya sudah berjalan sesuai permintaan Pak Ryan mas”
“Bagus, terimakasih”
__ADS_1
Setelah sekian menit menempuh perjalanan, mobil yang dikendarai Riko telah memasuki area bandara, dan mereka telah di sambut orang-orang yang bertanggung jawab akan proyek yang mereka kerjakan.
“Semoga lekas pulih pak” ucap sang mandor yang telah sembuh dari lukanya.
“Terimakasih pak, dan mohon tetap pantau pembangunan dengan baik”
"siap pak!" jawab sang mandor dengan tegas.
Mereka bersyukur dengan kejadian ini manager yang melakukan penyelewengan itu dapat tertangkap dan proyek pembangunan bisa berjalan dengan semestinya meskipun banyak yang terluka.
"jangan sampai hal ini terulang lagi pak!" kali ini ucapan Adrivan ditujukan kepada penanggung jawab pembangunan.
"tidak pak, kami pastikan pembangunan akan selesai tepat waktu dan sesuai standar perusahaan"
"Bagus" Adrivan mengangguk, "terimakasih atas kerja keras kalian"
Karyawan Adrivan mengangguk senang akan ucapan bos mereka, mereka sangat bersyukur mempunyai bos seperti Adrivan, yang meskipun di kenal dengan sikap tegas dan galaknya, ia tak akan segan mengapresiasi kinerja para karyawan. Tak akan segan megucapkan terimakasih kepada semua karyawan yang telah membantu semua proyek yang dikerjakan.
Setelah melakukan pembicaraan singkat, rombongan Adrivan segera menuju pesawat dengan Riko setia mendorong kursi roda sang bos, sementara kedua wanita beda usia mengikuti mereka dari belakang.
"Alhamdulillah, akhirnya pulang" pekik Adrivan senang saat mereka telah di pesawat dalam perjalanan ke rumah.
"iya mas, Alhamdulillah dan saya senang masalah di sini juga beres"
"kamu benar Ko, setelah ini bantu aku mengurus pernikahan ku" Adrivan melirik ke arah sang kekasih yang asyik mengobrol dengan mama tercinta.
"siap mas"
"rasanya tak percaya Ko, kami benar-benar akan menikah"
"tak ada yang sia-sia mas, ini hasil dari kesabaran mas selama ini"
"kalau saja kaki ku tak seperti ini, rasanya sampai rumah ingin segera menggelar akad nikah"
"sepertinya mas harus lebih bersabar lagi" Riko terkekeh dengan gerutuun sang majikan yang sudah tak sabar menghalalkan kekasihnya.
"iya Ko, begini saja aku sangat bersyukur"
"ada hikmah dari setiap kejadian mas, dengan musibah yang menimpa mas, mba Nia akhirnya menyatakan perasaan kepada mas"
__ADS_1
Adrivan tersenyum penuh syukur, membenarkan ucapan sang asisten. Ia pun telah mendengar sehari sebelum musibah tempo hari menimpa dirinya, Nania sudah merasa gelisah karena dia tak menjawab pesannya. Seperti sudah ada ikatan batin di antara mereka.
Tbc