Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Operasi (1)


__ADS_3

***


Papa Sasa sudah sedikit tenang, ia pun mulai mendudukkan dirinya di kursi depan ruang rawat. Begitu pula Mama Sasa ikut duduk di dekat suaminya. Kedua adik Sasa masih mondar-mandir di depan pintu ruang rawat. Sedangkan Rafi dan Anggi duduk di kursi berhadapan dengan kedua orang tua Sasa.


Mereka pun diliputi keheningan. Namun, tak lama itu berlangsung. Dokter keluar dari ruang rawat Sasa.


Apakah keluarga saudari Sasa sudah datang. ucap Dokter melihat sekeliling


Saya dok Papa Sasa dan ini Mama Sasa. ucap Papa Sasa berdiri dan memperkenalkan dirinya


Bisa ikut saya, saya perlu mengecek darah kalian. Sasa semakin kritis, dia membutuhkan donor darah dari kalian. ucap Dokter menuju ruangan pemeriksaan


Papa dan Mama Sasa kemudian mengangguk dan mengikuti Dokter.


Rafi hanya bisa terdiam dan menunduk.


Anggi yang melihat kesedihan Rafi juga ikut sedih. Ia hanya bisa berdiam disini sampai Sasa di operasi.


Kak, mending kita ke musholah rumah sakit. Dengan kita disini tidak akan mengubah apa-apa. Setidaknya dengan ke musholah kita bisa sholat dan mendoakan kesembuhan Sasa. ucap Anggi menepuk pelan bahu Rafi


Rafi kemudian mengangkat kepalanya dan mengangguk kemudian menuju musholah.


Anggi yang belum pergi memutuskan untuk mengajak kedua adik Sasa.


San, Sin kita ke mushollah yuk. ajak Anggi


Santi dan Sinta yang mendengar namanya disebut akhirnya mengarahkan pandangannya ke arah Anggi. "Hem, ayok kak". ucap kedua adik Sasa kemudian mengikuti Anggi menuju mushollah.


Sesampainya di musholah, mereka menuju ke tempat wudhu masing-masing kemudian melaksanakan sholat dengan khusyuk.


Ya Allah Ya Rabb engkaulah yang Maha penyanyang, Maha pengasih. Hamba mohon ya Rabb, tolong berilah kesembuhan untuk Sasa. Hamba tak sanggup melihat ia seperti sekarang. Kembalikanlah ia ke sisi hamba ya Rabb. Sesungguhnya hanya kepadamu kami memohon dan meminta. Tolong kabulkanlah permohonan hamba ya Allah, Aamiin. doa Rafi khusyuk sambil meneteskan air matanya.


Setelah melaksanakan sholat, ia tak langsung pergi tapi ia terlebih dahulu membaca al-Qur'an dengan tartil.


Suara Rafi ternyata sangat merdu membuat Anggi, Santi dan Sinta yang mendengarkan tak percaya dan membutnya terharu atas bacaan ayat-ayat yang dilantunkan Rafi.


Suara kak Rafi bagus banget yah. ucap Sinta tetap fokus ke arah dimana Rafi berada


Ya, aku setuju. ucap Santi


Kalian tau tidak. ucap Anggi belum selesai


Tidak kak. potong kedua adik Sasa membuat Anggi mendelikkan matanya


Makanya jangan asal potong ucapan orang dong. kesal Anggi


Baiklah kak, silahkan ceritakan. ucap Sinta terkekeh


Kak Rafi itu sangat mencintai kakak kalian. ucap Anggi mengingat kedekatan Sasa dan Rafi


Oh yah?? aku kira mereka hanya sekedar teman. ucap kedua adik Sasa tak percaya


Makanya kalian harus bantuin kakak kalian buat dapat restu dari Papa dan Mama kalian. ucap Anggi menatap kedua


Tapi kak gara-gara kak Rafi, kak Sasa jadi seperti sekarang. ucap Santi sedih


Dengerin kakak, tidak ada orang yang tau kapan mereka akan mati, menikah, begitu juga dengan kecelakaan. Itu semua sudah diatur oleh Allah, emang kalian pikir jika kak Rafi tau bahwa dengan ke pantai akan membuat Sasa kecelakaan tentu saja kak Rafi tidak akan pergi. Tidak ada yang menginginkan Sasa kecelakaan, ini adalah ujian untuk kita semua. Jadi kalian tidak boleh menyalahkan kak Rafi yah. nasihat Anggi

__ADS_1


Iya juga yah kak, oke deh aku dan Santi akan membantu kak Sasa dan kak Rafi mendapat restu dari Papa dan Mama. ucap keduanya sambil tersenyum


Beberapa menit berlalu, mereka pun kembali ke ruang rawat Sasa. Disana kedua orang tua Sasa sudah kembali, berarti mereka sudah mendonorkan darahnya.


Santi dan Sinta segera menuju orang tuanya.


Ma, gimana??? Mama udah donor darahnya?? tanya Santi menatap Mamanya


Udah, doakan semoga saja operasi kakak kalian berjalan lancar. ucap Mamanya tersenyum terpaksa


Mama Sasa yang melihat kedatangan Anggi dan Rafi setelah kedatangan Santi dan Sinta jadi penasaran dari mana mereka semua.


Mama Sasa kembali melihat kedua anaknya yang masih setia berdiri di hadapannya.


Kalian dari mana?? tanya Mamanya to the point


Aku, Sinta, kak Anggi dan kak Rafi dari mushollah Mah, kita semua berdoa buat kesembuhan kak Sasa. ucap Santi tersenyum


Mama Sasa yang mendengar itu ikut tersenyum kemudian menatap dimana Rafi berada. Ia bersyukur anaknya bisa dekat dengan sosok laki-laki yang baik seperti Rafi. Ia sadar tak sepantasnya ia menyalahkan Rafi karena itu semua sudah kehendak Allah. Melihat sosok Rafi membuatnya merasakan kedekatan tapi entah apa itu, ia merasa sudah lama mengenal Rafi.


Lampu ruang operasi sudah mati berarti operasi pun sudah selesai, keluarga Sasa, Rafi dan Anggi yang melihat itu berharap operasi berjalan lancar.


Tak butuh waktu lama dokter dan suster sudah keluar dari ruang operasi tersebut.


Papa Sasa langsung berdiri di hadapan sang dokter. " Dok, bagaimana kondisi anak saya?"


Dokter kemudian menatap kedua orang tua Sasa yang berdiri di hadapannya." Operasi berjalan lancar". ucap dokter membuat keluarga Sasa, Rafi dan Anggi bernafas legah


Tapi... ucap dokter lagi


Tapi apa dok?? tanya Mama Sasa khawatir


Bagaiman bisa dok, anak saya selama ini terlihat baik-baik saja. bantah Papa Sasa


Mungkin saja saat pasien merasakan sakit pada kepalanya ia menyembunyikan ini dari kalian. jelas Dokter


Kedua orang tua Sasa sangat sedih mendengar itu semua, apa karena mereka terlalu sibuk hingga tak memperhatikan kondisi anaknya. Mereka merasa menjadi orang tua yang tak berguna. Keduanya pun meneteskan air mata.


Rafi yang mendengar penjelasan dokter ikut angkat bicara " beberapa hari yang lalu memang Sasa sempat pingsan di kampus dan merasakan sakit pada kepalanya. Saya pun membawanya ke uks, dokter sempat menyuruh saya untuk membawanya ke rumah sakit tapi melihat Sasa yang siuman membuat saya berpikir itu sakit kepala biasa, saya tak menyangka akan seserius ini". ucap Rafi serius


Kedua orang tua Sasa tak percaya, Rafi saja bisa tau tapi dirinya tak tau apa-apa. Mereka sadar mereka terlalu jarang menanyakan keseharian anaknya. Jika mereka memiliki waktu luang, mereka hanya bercanda dan tak membahas sekolah. Sasa pun selama itu terlihat baik-baik saja, membuat kedua tak pernah kepikiran dengan kondisi anaknya


Jika pasien belum sadar dalam beberapa hari, kita harus melakukan operasi pada otaknya. ucap Dokter


Baik dok. Apakah kami bisa melihat Sasa? ucap Papa Sasa menatap dokter


Silahkan. Tapi kalian bergantian saja yah, supaya pasien tak merasa terganggu. saran dokter


Baik dok. ucap Mama Sasa kemudian masuk kedalam ruangan Sasa disusul oleh Papa Sasa dan kedua adik Sasa


Dokter pun meninggalkan mereka dan menuju ruangannya.


Rafi dan Anggi kemudian kembali duduk sambil menunggu keluarga Sasa keluar, ia sangat ingin melihat kondisi Sasa tapi ia sadar ia bukan siapa-siapa, ia tak memiliki hak itu. Ia hanyalah orang yang sangat mencintai Sasa.


Didalam ruang rawat Sasa, Mamanya terus saja menangis melihat kondisi anaknya yang dipasang banyak kabel pada tubuhnya. Perban yang berada pada kepalanya dan beberapa luka pada wajah dan tangannya.


Kenapa Sasa yang harus mengalami ini semua Pa. ucap Mama Sasa tersedu-sedu

__ADS_1


Mama tak sanggup melihat kondisi anak kita Pa. ucap Mama Sasa memeluk suaminya


Sudah Ma, kita doakan saja Sasa semoga ia cepat pulih. ucap Papa Sasa mengeratkan pelukannya pada istrinya


Kedua adik Sasa pun mendekat ke brangkar kakaknya.


Ka...k bangun dong kak, kita kangen sama kakak. ucap Santi sambil menggenggam tangan kakaknya


Kakak emang nggak kangen gitu sama kita. Maafin kita yah kak kalau selama ini kita sering buat kakak marah, jengkel atau kesal. Janji deh kak kalau kakak udah bangun kami akan menuruti apapun keinginan kakak. ucap Sinta bermonolog menatap kakaknya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit


Mereka tak mampu menahan air matanya, air mata itu pun keluar dengan sendirinya dan membuat mereka semua menangis tergugu.


Yaudah kita keluar yuk. Pasti Rafi dan anggi juga pengen liat Sasa. ajak Mamanya sambil berdiri dari duduknya


Papa Sasa dan kedua adik Sasa pun mengikuti Mama Sasa keluar dari ruang rawat Sasa. Namun, sesampainya di luar ruang rawat, ternyata Papa Sasa belum bisa memaafkan Rafi.


Silahkan kalian masuk. ucap Mama Sasa ramah


Rafi dan Anggi pun segera berdiri dan mulai bergerak untuk menuju ruang rawat Sasa.


Kecuali kamu. tunjuk Papa Sasa pada Rafi


Rafi yang ditunjuk pun merasa tak enak hati. Tapi bagaimana pun juga jika Papa Sasa melarangnya maka ia harus menurutinya. Karena secara tidak langsung semua ini ia adalah penyebabnya. Rafi hanya bisa menghela nafas dan kembali duduk.


Pa, biarin Rafi masuk. ucap Mama Sasa menatap suaminya


Papa Sasa pun menghela napas kemudian duduk di kursi, jika istrinya sudah meminta maka ia hanya bisa menuruti. Ia memang selama ini selalu berusaha menuruti istrinya itu, pikirnya jika ia masih sanggup mengapa tidak.


Silahkan masuk Rafi. ucap Mama Sasa dengan tersenyum kearah Rafi membuat Rafi merasa Mama Sasa sudah memaafkannya. Rafi pun memasuki ruang rawat Sasa bersama Anggi.


Rafi dan Anggi pun menuju sisi ranjang yang berbeda.


Sa, maafin aku yah. Ini semua gara-gara aku, andai aja aku nggak ngajak kamu buat jalan. Mungkin saja ini semua nggak terjadi. ucap Rafi menggenggam tangan Sasa dengan air mata yang mulai menetes


Kak Rafi nggak boleh nyalahin diri sendiri, ini semua udah kehendak tuhan. Kakak coba pikir, jika Sasa melihat kakak bersedih seperti ini apakah ia akan senang?? tentu saja tidak bukan. Jadi kakak harus kuat dan selalu menyuport Sasa agar ia bisa pulih secepatnya. ucap Anggi menyemangati


Keduanya pun diliputi keheningan tanpa ada yang membuka suara lagi. Mereka sama-sama terus menatap Sasa yang terbaring lemah.


Beberapa menit berlalu, mereka pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang rawat Sasa.


Sebelum pergi Anggi dan Rafi tak lupa mengucapkan sepata kata kepada Sasa.


Sa, cepat sembuh yah. Aku akan selalu merindukanmu. ucap Rafi mengusap kepala Sasa yang tertutup jilbab


Iya Sa, aku akan kangen banget sama kamu. Kangen berangkat kampus bareng, kangen ejek kamu pastinya. Anggi tetawa sedih


Di luar ruangan rawat Sasa disana keluarga Sasa masih berada pada tempatnya masing-masing. Berhubung ini sudah hampir magrib, Rafi dan Anggi pun pamit untuk pulang.


Tan, Om kami pamit yah. ucap Rafi dihadapan kedua orang tua Sasa


Mama Sasa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya sedangkan Papa Sasa hanya menatap datar Rafi.


***


Jangan lupa vote & comment❤❤❤


Penasaran dengan kondisi Sasa selanjutnya??? lanjutkan part berikutnya.

__ADS_1


I love you guys😘😘😘


__ADS_2